
"Penemuan dua mayat tanpa identitas di Pantai Ancol Jakarta"
Judul headline sebuah surat kabar nasional pagi itu. Jack hanya mengeryit membaca berita di surat kabar yang banyak dipenuhi oleh pembunuhan, dan meletakkan surat kabar itu di meja. Sedangkan dua perempuan di rumah itu sedang menyiapkan sarapan pagi. Alex mengaduk kopinya dan duduk di depan Jack.
"Bagaimana proyeknya Lex, sudah hampir finiskah?"
"Oh sudah Kak, aku sudah membuat laporannya pada Paman, lusa proyek itu sudah final 60 persen"
Alex menyeruput kopinya dan mengambil surat kabar itu.
"Lalu bagaimana rencana dengan soutuber, apakah kau sudah menemukannya?"
"Belum Kak"
Alex terpaku pada foto mayat yang ada di surat kabar itu. Ia kemudian berdiri mencari hpnya, dan duduk kembali. Alex mencari-cari foto dalam galeri. Jack yang melihat wajah tegang Alex bertanya.
"Kenapa?"
Tanyanya mendekati Alex dan melihat apa yang dilakukan Alex lebih dekat. Alex terus mencari-cari foto dalam galerinya yang penuh, berulang-ulang namun foto yang dicari belum jua ditemukan.
"Ada apa?"
Tanya Jack lagi penasaran atas apa yang dikerjakan Alex.
"Sebentar Kak"
Lagi Alex memutar-mutar foto di galeri dengan cepat.
"Pelan saja, jangan terburu-buru"
Jack mengingatkan Alex yang sudah berulang-ulang memutar-mutar galery foto dengan cepat di hanphonenya.
"Iya Kak"
Ucapnya namun tetap fokus pada kegiatannya. Ke dua wanita yang memasak sudah selesai dan membawa makanan dan minuman untuk sarapan di meja di mana Jack dan Alex berada.
"Sarapan pagi nasi goreng spesial ala chef Arindra sudah selesai, ayo kita sarapan dulu mumpung masih hangat"
Arindra menyiapkan piring dan sendok untuk mereka berempat. Namun Alex dan Jack tak bergeming, membuatnya melirik Jenny, Jenny mengangkat kedua bahu tanda tak tahu kegiatan apa yang sedang dilakukan kakak dan kekasihnya.
"Ketemu"
Seru Alex membuat Jack, Arindra dan Jenny menatap tajam Alex yang meloncat kegirangan.
"Ada apa?"
Tanya mereka hampir bersamaan.
"Sebentar Kak"
Jawab Alex yang kemudian mengambil surat kabar itu, dan mencocokkan gambar tangan wanita dan foto dokter Dea di hanphonenya. Ia menzoom bagian tangan dari foto itu, lalu melihat foto tangan di surat kabar.
"Oh My Good"
Ucapnya terkejut, saat melihat ada kesamaan gelang di sana diantara dua foto itu.
"Ada Lex, jangan membuat kami jantungan"
Ucap Jack, diangguki dua lainnya.
"Pantas dokter Dea tak pernah menghubungiku. Ternyata dia mungkin disekap Wijaya dan mayatnya dibuang ke laut. Lihat ini"
Alex memperlihatkan foto tangan dr Dea di hanphonenya dengan foto tangan di surat kabar pada ke tiganya.
"Kau yakin Lex itu dokter Dea?"
Tanya Arindra, karena orang inilah alasan dia segera datang ke Indonesia. Jika orang ini meninggal maka dia tak tau, harus mencari informasi kemana tentang dirinya.
"Yakin Kak"
Kenyakinan Alex membuat tubuh Arindra melemas, Jack menyadari itu.
"Tenanglah, ini belum tentu dokter itu. Alex hanya mengambil kesimpulan sembarang. Jika cuma gelang seperti itu, kemungkinan banyak orang yang memakainya"
"Tidak, itu benar dokter Dea. Gelang itu kubuat sendiri. Tadinya mau kuberikan pada Jenny, tapi Jenny saat itu sibuk sekali sehingga aku tak sempat memberikannya. Akhirnya aku memberikan gelang itu karena saat itu aku sedang berusaha mengorek informasi darinya"
Terang Alex tanpa menyadari perubahan wajah Jack yang kesal. Jenny yang menyadari tingkah kakaknya melirik Arindra yang sudah lemas di lantai. Akhirnya Jenny mengerti, ditariknya tangan Alex dan matanya mengarah pada Arindra.
"Ups"
Ucap Alex lirih dan menepuk mulutnya dengan tangannya.
"Sudah, itu belum tentu dokter Dea. Nanti Alex dan Jenny akan kesana melihat mayat wanita itu untuk memastikan benar atau tidak mayat wanita itu dokter Dea. Kami semua berharap, jika apa yang diucapkan Alex salah"
Jack mencoba menenangkan Arindra.
"Benar Kak, setelah sarapan aku akan segera meluncur ke sana"
Alex melihat Arindra dan merasa bersalah.
Sedangkan Jenny memeluk Arindra dari samping, memberikan kekuatan dengan cara lain.
"Sarapanlah, aku ke kamar dulu"
"Tapi Kak, Kakak belum sarapan"
Jenny mencoba mencegah Arindra, yang berjalan gontai menuju kamarnya, kemudian terdengar kamar terkunci. Ketiga orang itu hanya mampu berpandangan dengan menghela nafas.
"Sarapanlah, nanti Kakak akan membujuk saat kalian sudah pergi"
Jack menengahi, Alex dan Jenny pun sarapan dalam diam. Sedangkan Jack terlihat sedang berfikir, tak menyentuh sarapannya sama sekali.
Setelah sarapan, Alex dan Jenny berpamitan, dan diangguki oleh Jack. Dalam mobil Jenny melihat Alex dengan wajah menyesalnya.
"Sudahlah, Kak Arindra hanya butuh waktu menerima penjelasanmu. Ia takkan terus bersedih, dia wanita hebat, tenang saja"
Jenny berusaha menengkan wajah kekasihnya itu.
"Aku merasa bersalah, bagaimanapun dokter Dea adalah kunci dan satu-satunya yang bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Kak Arindra. Jika benar ia meninggal, aku tidak tahu, apakah Kak Arindra akan berhenti atau tidak. Bagaimanapun ia pasti merasa bersalah atas kematian dokter Dea yang ia tahu, dokter itu menyelamatkan nyawanya. Kau masih ingat, saat empat kurir makanan itu tewas. Ia bahkan banyak melamun"
"Ya aku mengerti, tapi kita tak punya kuasa apapun atas hidup dan mati seseorang"
Ucap Jenny yang mencoba memahami keresahan kekasihnya itu. Sesampainya di rumah sakit, banyak sekali wartawan dan polisi. Alex menerobos barisan itu, dan bertanya pada dokter untuk melihat kondisi mayat wanita yang terduga dokter Dea.
"Dokter, saya sedang mencari saudara perempuan saya, yang sudah lama hilang. Bisakah saya melihat wanita itu dokter?"
Ucap Alex yang juga menunjukkan identitas kedokterannya. Dokter itu melirik ke arah polisi, dan polisi itu mengangguk.
Alex dan Jenny dibawa ke ruang mayat, di antar seorang polisi. Alex melihat ada seorang laki-laki di sana, laki-laki seperti seumuran dengannya. Alex mulai memeriksa mayat itu, wajah hancur, jari-jari tangan rusak. Banyak luka lebam dan bekas peluru di kaki dan kepala.
Membuat Alex bergidik ngeri membayangkan pembunuhan sadis yang diterima mayat itu. Alex lalu memeriksa pergelangan tangan, ia meraih hanphonenya dan kembali memastikan gelang di tangan keduanya. Ia juga menyentuh gelang itu, ada inisial nama J di sana.
Wajah Alex memucat, dan menatap Jenny. Jenny paham kemudian ia memeluk Alex untuk memberi kekuatan. Sedangkan laki-laki itu hanya memperhatikan, dan hendak keluar.
"Itu dokter Dea"
Lirih Alex namun terdengar oleh laki-laki itu dan ia berbalik menatap Alex.
"Bisa kita bicara di luar?"
Ucap laki-laki itu yang menatap Alex. Alex melepaskan pelukan Jenny dan memindai penampilan laki-laki di hadapannya sebelum ia mengangguk, menerima ajakan laki-laki itu.
###############
Done alhamdulillah chapter 63.
Yang suka-yang suka
tinggalkan like, vote yang banyak, komen, share, poin dan Follow Lesta Lestari...
Biar Karya kesukaan kalian nongol peringkatnya guys heheehee
love buanyak buat kalian semua❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤