
Aldo memaksa Hans pulang saat jam masih menunjukkan pukul lima sore, badan Hans yang masih belum fit, dan wajah terlihat pucat membuat Aldo Khawatir.
"Do, bawa aja aku ke dr. Dea. Aku ingin minta obat atau vitamin biar cepet sehat"
"Bini loe tu dokter, ada di rumah pula. Biarlah bini loe yang ngobatin, anggaplah ini pdkt loe bro"
"Gue takut Do, gue takut ditolak lagi kayak dulu"
"Hahaaaaa iya-iya gue inget, segitu marahnya loe di tolak tu anak masa putih abu-abu"
"Ya, loe tau dia satu-satunya yang nolak gue. Untung ada Karina yang buat gue cepet move on"
"Hans, sebagai sahabat gue cuma mau bilang ke loe. Dulu loe ditolak karena anak itu masih bocah, sekarang dia itu BINI loe, inget BINI loe. Nolak loe dosa kali men, dia tau itu"
"Gue enggak mau maksa, gue mau dia juga suka sama gue"
"Ya udah, gimana loe bisa buat dia suka sama loe, sedang loe aja ngehindar terus dari dia. Inget ya, apa loe mau cinta pertama loe di ambil tuh ma yang namanya Afdan"
"Syara cinta sama Afdan, begitu juga sebaliknya. Apa gue masih punya kesempatan"
"Ya Allah, nyebut kan gue jadinya. Baru kali ini seorang Hans be** disebabkan cinta. Otak loe yang pinter dikemanain?"
"Terus gue harus ngapain?"
"Gue pan dah bilang dari tadi, pdkt bro. Buat dia jatuh cinta ma loe"
"Caranya?"
"Beli bunga gih sono?"
"Buat?"
"Ya Allah, buat bini loe lah. Buat siapa lagi, ya buat Syara lah"
"Kalo ditolak?"
"Loe mah dah nyerah duluan sih"
"Loe enggak pernah ngerasain sih, ditolak cewek sakitnya tuh masih sampe sekarang tau"
"Loe kayak cewek aja cemen, udah sana ikutin aja saran gue. Urusan ditolak belakangan, yang penting loe usaha duluan"
"Beli bunga apaan, gue enggak tau dia suka bunga apa"
"Serah loe deh, tuh di depan ada toko bunga. Guh sono buruan beli"
"Badan gue lemes be**, dah sana beliin"
"Alasan aja loe, giliran susah aja gue, giliran seneng lupa loe ma gue"
"Mau gue pecat loe"
"Oke-oke gue beliin"
"Nih bunganya semoga bini loe suka"
"Thanks ya, loe emang terbaik"
"Gue gitu loe, Aldo Putra Pratama"
"Nyesel gue muji loe, udah buruan"
Sesampainya di rumah, Hans langsung mencari sosok Syara. Ia menuju kamarnya, Syara ternyata baru selesai membersihkan Arindra. Hans masuk membawa bunga yang disembunyikan dibelakang punggungnya. Debaran jantungnya semakin melaju kencang.
"Kenapa jadi gugup begini sih"
Hans menatap wajah itu yang masih fokus memeriksa denyut nadi dan selang infus.
"Ra"
"Kakak, tumben sudah pulang"
Tanpa mengalihkan fokusnya, Syara melanjutkan pekerjaannya.
"Ra"
Panggil Hans lagi, Syara menoleh dilihatnya wajah pucat Hans. Hans memberikan bunga itu pada Syara.
"Sebagai tanda maafku Ra, selama ini banyak salah sama kamu. Aku mau kita mulai dari awal, menjadi teman seperti dulu yang kamu tawarkan"
Syara tertegun melihat bunga yang terangkai indah itu, ia melihat wajah Hans. Wajah tampan itu memberikan senyuman yang sudah sangat lama tak terlihat.
Syara mengambil bunga itu dari tangan Hans, meletakkannya di samping wajah Arindra.
"Lho kok ditaro sana Ra"
"Mbak Arindra lebih berhak"
"Tapi kan bunga itu buat kamu"
Syara melirik sekilas wajah Hans, kemudian dia bangkit membereskan beralatan yang tadi dipakainya.
"Aku maafin kakak, tapi maaf aku enggak bisa terima bunganya"
"Tapi Ra..."
Syara berlalu meninggalkan kamar itu, Hans mengikutinya di belakang.
"Aku tau selama ini banyak salah sama kamu Ra, beri aku kesempatan buat memperbaikinya"
Syara meletakkan peralatan di ruang biasanya, berbalik melihat Hans yang masih berdiri mendekatinya. Hans hendak meraih tangan Syara, namun ditepis.
"Aku memaafkan kakak, tapi bukan berarti kakak mudah menyentuhku. Ingat perjanjian kita kak, hanya tinggal beberapa bulan lagi Mbak Arindra melahirkan"
"Ra, aku tau tapi setidaknya beri aku kesempatan buat berubah. Bertanggungjawab dan memulai lagi semuanya"
*Deg
"Kau membalikkan kata-kataku waktu itu Ra, sungguhkah tiada tempat lagi untukku*"
"Apakah benar-benar tiada harapan untukku Ra?"
"Maaf Kak"
"Hatiku sudah dipenuhi nama Afdan, maafkan aku kak, kemarin-kemarin aku mencoba membuka hati untukmu. Namun perselingkuhanmu tak bisa kumaafkan. Aku hanya membentengi diriku agar tak terluka makin dalam"
Hans tertunduk, ia kemudian berbalik menuju kamarnya, tanpa sepatah katapun diucapkan.
Hans kecewa untuk ke dua kalinya, ditolak oleh gadis yang sama membuatnya merasa kalah.
#######
Setelah sholat isya, Syara duduk di meja makan. Ia melirik ke atas, berharap Hans datang untuk makan. Bagaimanapun ia tetap mengkhawatirkan kondisi Hans yang masih pucat, namun ditunggu belum juga muncul.
Syara membawakan akhirnya membawakan makanan itu ke atas.
"Tok-tok, Kak, ini Syara"
Tiada sahutan dari dalam kamar, Syara masuk ia melihat sekitar. Ia letakkan nampan di nakas, dan mencari Hans. Hans terlihat sedang duduk di balkon dengan mer****.
"Kak makan dulu, abis itu minum obatnya. Kakak masih demam, angin malam tak bagus untuk kakak"
Ujar Syara tanpa menghampiri sosok laki-laki di depannya itu. Hans melihat Syara, mematikan puntung ro*** dan masuk ke dalam.
Ia mengambil makanan di nakas, meletakkannya di meja sofa.
"Syara keluar dulu kak"
"Temani aku makan"
"Tapi kak"
"Aku cuma minta kau temani, bukan yang lain. Haruskah kupaksa dirimu?"
"Hehhh, baiklah"
Syara duduk di sofa, di depan Hans.
"Suapi aku"
"Enggak bisa makan sendiri"
"Aku sedang sakit Ra, bukankah tadi juga kau menyuapiku?"
"Tadi beda kak, kakak tadi terkena demam makanya aku suapi"
"Bukankah sama saja, coba kau pegang keningku. Aku masih demam"
Hans menempelkan telapak tangannya ke keningnya.
"Pegang aja kalo enggak percaya"
Syara bangkit mengambil termometer, dan memberikannya pada Hans.
"Letakkan di ketiak tunggu dua atau tiga menit setelah itu berikan padaku"
"Kenapa tidak kau periksa langsung dengan tanganmu?"
Hans terlihat kesal, karena niatnya ingin berdekatan dengan Syara namun terancam gagal.
"Itu lebih akurat kak, dibanding tanganku"
"Aku tidak mau, aku ingin tanganmu yang menyentuhku bukan alat itu"
"Jangan kayak bocah deh Kak, cepatlah coba pakai ini"
"Aku tidak mau, aku juga tidak akan makan jika kau tak mau memeriksaku"
"Terserah kakak saja, aku lelah. Mau makan atau tidak, mau minum obat atau tidak bukan urusanku. Jika besok kakak semakin parah, akan aku panggilkan Hana atau membawamu ke rumah sakit"
"Yaaa, Kau ingin aku segera mati ya, supaya kamu bisa segera menikah dengan cowok sok alim itu"
Hans berteriak marah,
"Bisa-bisanya kau ini mendoakan suamimu sendiri sakit parah. Jika kau memang tak tahan, kenapa tak memberi racun sekalian pada suamimu ini hah"
"Kakak, aku tidak bermaksud seperti itu. Terserah kakak mau mengartikannya seperti apa, aku mau tidur"
"Hah brengsek"
Hans meninju sofa,
"Prang"
Suara gelas pecah terdengar oleh Syara yang tak membuatnya lantas berbalik ke arah suaminya. Namun segera ke kamar dan mengunci pintu.
#########
*Alhamdulillah sudah chapter 31 aja
kuylah di vote dong
di like
di komen
biar semangat upnya....
❤❤❤❤*