ARINDRA

ARINDRA
Chapter 45



Hans sudah tenang, bahkan ia mengendong bayinya itu. Selepas sholat Isya, ia tak melepaskan bayi itu dalam gendongannya. Ciuman, bertubi-tubi ia berikan pada bayi yang masih sangat mungil itu. Bahkan ia mengabaikan orang-orang di sekitarnya.


Hana dan Tuan Wijaya beserta istri sempat pulang ke rumah untuk berganti baju, dan mereka kembali lagi ke rumah sakit. Suster Hani tak lagi berada di ruangan itu, ia kembali sibuk dengan tugas utamanya. Hanya Syara dan Aldo yang berada di sana.


"Boss, gue sudah tanya ke orang-orang kita. Apa yang terjadi pada Mbak Arindra di luar kuasa kita"


Ucap Aldo dengan ke hati-hati.


"Hemm"


"Tapi gue akan turun langsung menyelidikinya boss, tadi sudah cek cctv. Dan apa yang gue lihat itu benar boss"


Aldo yang memang melihat ada keanehan pada CCTV, tapi tak melaporkannya. Ia hanya berfikir, Arindra sudah tiada. Jadi Hans bisa fokus pada Syara dan anaknya. Ia tak ingin Arindra kembali menjadi fokus bossnya itu.


"Loe yakin dengan apa yang loe lihat?"


"Yakin boss"


"Kalo sampai loe salah, jangan harap loe dapet pengampunan dari gue"


Ucapnya penuh dengan nada ancaman.


"Panggil dr. Dea dan Suster Hani, loe introgasi dokter-dokter yang ikut terlibat di ruang yang lain. Gue ingin dengar langsung apa yang mereka katakan itu benar atau tidak"


"Baik boss"


Aldo menjalankan perintah bossnya itu, sedang Hans menunggu dr. Dea dan Suster Hani di ruangan yang berbeda. Ia tak bisa mengharapkan hal banyak dari ke dua orang yang dipanggilnya ini. Dia tau keduanya adalah orang-orang sangat setia pada Daddynya. Tapi ia berharap ada kesalahan bicara yang ia dengar. Sehingga bisa menjadi titik terang akan kejadian yang sebenarnya.


Dokter Dea dan Suster Hani datang, mereka duduk di hadapan Tuan Mudanya itu.


"Kalian tau mengapa kalian dipanggil kemari"


Tanya Hans tanpa basa-basi.


"Tau Tuan"


Ucap keduanya dengan tenang, membuat Hans geram ingin sekali ia memukul ke dua orang yang ada dihadapannya itu tapi Hans menahannya.


"Kenapa kalian melakukan operasi di luar jadwal seharusnya"


"Kondisi Nona Arindra drop Tuan, sehingga kami terpaksa melakukan operasi untuk menyelamatkan putra Tuan"


Jawab dokter Dea.


"Dokter Dea, dari pukul berapa Arindra drop?"


Hans membungkukan tubuhnya mendekat ke arah dr. Dea. Membuat dokter Dea, gugup, Ia tahu Tuan Mudanya itu juga tak kalah meyeramkan dari Tuan Wijaya.


"Jawab"


Teriak Hans di depan wajah dr. Dea.


"Sejak sore Tuan"


Jawaban dr. Dea membuat Hans melirik Suster Hani.


"Apakah benar Suster yang dikatakan dr. Dea?"


Suster Hani yang bertangan dingin mampu menguasai dirinya, sehingga ketenangan tetap terlihat dari dirinya. Meski ia tau, jawaban dr. Dea telah salah dan membuat Hans curiga.


"Benar Tuan, sore itu Nona drop kemudian malamnya Nona sudah membaik lagi saat Tuan menelpon. Namun tak lama setelah Tuan menelpon, kondisi Nona drop kembali Tuan. Sehingga terpaksa kami melakukan operasi untuk menyelamatkan salah satunya"


Dr. Dea yang terkejut mendengar Hans menelpon, cukup bersyukur dengan jawaban Suster Hani.


"Dia benar-benar pandai sekali berbohong, begitu tenangnya dia menghadapi seorang Tuan muda yang terkenal dingin ini. Benar-benar menakutkan orang ini"


Gerutu Dokter Dea dalam hatinya, melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh Suster Hana.


"Benarkah, kau sangat tau bukan Suster. Saat aku menelponnya, melihat wajah istriku itu sangatlah segar. Bahkan aku yakin, istriku itu akan sadar dari tidur panjangnya. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba drop begitu saja"


"Tuan bisa melihat CCTV, bagaimana kami berusaha menyelamatkan Nona. Berkali-kali alat pacu jantung digunakan, tapi nyawanya tak tertolong Tuan"


Jawab Suster Hani dengan tenang.


"Bagaimanapun Tuan, resiko melahirkan dengan keadaan koma yang cukup panjang, kemungkinan hidup sang ibu sangat kecil. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi mempertahankan nyawa bukan kuasa kami, itu bukan ranah kami Tuan"


Ujar Dokter Dea menambahkan.


"Benar, kemungkinan istriku hidup itu sangat kecil. Tapi sekecil apapun kemungkinannya tak seharusnya kalian memutuskan sendiri. Dia istriku, kalian seharusnya membicarakan ini padaku dulu"


"Kami sudah melaporkan keadaannya Nona pada Tuan Besar, dan Tuan besarlah yang memgambil keputusan ini Tuan"


Terang dokter Dea.


"Silahkan Tuan, kami siap bertanggungjawab jika benar kami bersalah"


Suster Hani dengan tenangnya menjawab Hans.


"Baiklah, untuk saat ini silahkan kalian keluar dan nikmati ketenangan kalian. Ada hari, kalian akan hidup dalam ketidaktenangan karena sudah meleyapkan nyawa orang lain"


"Itu terserah Tuan, kami permisi"


Lagi Suster Hani menjawab, membuat dokter Dea menganga tak percaya akan keberanian Suster senior itu.


"Usia dan mengalaman benar-benar diperlihatkan di sini"


Dokter Dea geleng-geleng kepala dan segera keluar mengikuti Suster Hani yang sudah pergi duluan.


Hans geram tapi sekarang ia belum bisa berbuat banyak. Ia menelpon Aldo orang yang sangat dipercayainya itu.


"Bagaimana Do"


Ucapnya tanpa basa basi


"Arindra memang drop boss, dan operasi dilakukan untuk menyelamatkan nyawa anakmu boss"


Hans kecewa mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya itu. Hatinya entah mengapa masih gusar, ia tak yakin Arindra meninggal dengan drop begitu saja hingga operasi darurat dilaksanakan.


"Jika Aldo tak mampu menyelidikinya, maka aku akan turun sendiri melakukannya. Arindra, tunggulah sayang, aku akan balas orang-orang yang memisahkan kita"


Tekad Hans dalam hati. Lalu ia keluar ruangan, menemui putranya. Ia melihat sudah ada Hana, dan ke dua orang tuanya di sana. Hans duduk, di samping orang tuanya menatap lurus ke duanya.


"Daddy dan Mommy yakin, tidak terlibat dalam kematian Arindra?"


Dengan dinginnya Hans bertanya pada keduanya, membuat Syara dan Hana menoleh pada Hans tak percaya.


"Apa yang harus Daddy katakan sayang, agar menghilangkan rasa penasaranmu?"


Jawab Tuan Wijaya begitu tenangnya, sedangkan Mommy Diana hanya melirik ke arah suaminya, takut jika suaminya itu salah bicara.


"Daddy tau apa yang Hans mau"


"Apakah harus Daddy menyerahkan diri ke polisi atas kematian wanita yang diluar kuasa Daddy sayang?"


"Penjara bukan tempat yang pantas untuk seorang Wijaya si tangan dingin"


"Lalu apa yang pantas menurutmu?"


"Anda pasti tau Tuan, hukuman apa yang pantas untuk semua yang anda lakukan selama ini"


Sorot matanya makin tajam menusuk mata Daddy itu. Mommy Diana tak menyangka, putranya ini menaruh kecurigaan yang begitu besar pada suaminya.


"Hans, bicara yang sopan, dia Daddymu nak. Jangan dibutakan oleh orang yang sudah meninggal. Orang yang sudah meninggal takkan kembali lagi"


"Mommy juga terlibat bukan?"


"Kak.."


Hana yang sedari tadi diam, geram mendengar kakaknya menuduh orang tua mereka.


"Diam Han, kau tidak tau siapa sebenarnya seorang Wijaya"


"Tau atau tidak, mereka adalah kedua orang tua kita. Tak pantas rasanya kakak berbicara seperti itu. Kita semua di sini bersedih, atas kehilangan Mbak Arindra, tapi bukan berarti ini menjadikan perpecahan di keluarga kita"


"Tak semua orang di ruangan ini sedih akan kehilangan Arindra Han, beberapa orang bahkan tertawa atas kematiannya"


"Kak..."


Hana kesal akan tuduhan Hans, pada ke dua orang tuanya.


"Sudah cukup, besok kita bicara lagi. Daddy dan Mommy pamit dulu. Hana ikut pulang, Daddy tau kau lelah istirahatlah di rumah"


"Tapi Dad..."


"Pulanglah Han, ada aku yang menjaga bayi ini, tenanglah"


Syara merangkul Hana, membuat Hana mengiyakan permintaan ke dua orang tuanya.


#########


Alhamdulillah chapter 45 done.


❤❤❤❤❤❤