
Keesokan harinya, Arindra pagi buta sudah terbangun. Ia ingin ke kamar mandi, untuk buang air kecil. Ia bangun, mencoba turun dari kasur, ia menapakkan kakinya namun.
"Brukk"
"Kakak"
Jerit Alex yang terkejut mendengar suara benda jatuh, ia terbangun lalu melihat Arindra yang sudah terduduk di lantai. Alex menghampiri dan membopong mendudukkan kembali di kasur.
"Sudah kubilang panggil saja aku, jika kakak butuh sesuatu"
"Aku tak ingin mengganggumu, kau sudah sangat lelah telah mengurusku berbulan-bulan"
Merasa bersalah karena sudah membangunkan Alex yang tidur pulas.
"Itu sudah tugasku sebagai adik, jadi tolonglah sangat sungkan ya"
"Baiklah"
"Apa yang kakak inginkan?"
"Aku ingin ke kamar mandi Lex"
"Untuk?"
"Haruskah aku mengatakan padamu, hajatku di kamar mandi?"
Arindra jelas malu untuk mengatakan hajatnya pada laki-laki yang asing menurutnya.
"Gunakan saja ini sementara"
Alex mengambil pispot sodok menyerahkannya pada Arindra. Arindra menghela nafas, dan tertunduk.
"Kenapa?"
Tanya Alex, melihat Arindra tertunduk dan menggeleng.
"Hanya sementara, nanti aku akan carikan alat yang memudahkanmu, ayo aku bantu"
Alex mencoba melepaskan celana, tapi Arindra menolak. Arindra menganga melihat Alex yang begitu berani, reflexs ia menepis tangan Alex.
"Jangan Lex, hanya kakiku yang belum bisa berjalan, aku butuh kursi roda, dan aku bisa melakukannya sendiri"
Hatinya mengatakan, tak rela dirinya disentuh laki-laki dihadapannya ini.
"Baiklah, aku minta suster mengantarkannya"
Alex menyerah, ia ingin dekat dengan Arindra agar tak canggung antara ke duanya. Ia bener ingin terlihat sebagai adik, namun Arindra terus menolaknya. Tak berapa lama, seorang suster datang membawa kursi roda, Arindra kemudian dibantu suster itu duduk di atas kursi, dan menolak Alex membantu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi.
Arindra meski kesusahan namun ia berhasil melakukannya sendiri. Meski cukup lama membuat Alex khawatir. Setelah itu ia keluar dan melihat Alex yang berjalan mondar-mandir.
"Kau seperti setrikaan saja"
Arindra keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar.
"Aku hanya khawatir, kau bisa melakukannya sendiri?"
Tanya Alex, yang kemudian mengambil sisir dan memberikannya pada Arindra. Sedangkan suster pamit pergi setelah selesai membantu Arindra.
"Seperti yang kau lihat, tapi memang sedikit lebih lama. Tapi aku akan terbiasa, tenanglah aku akan berusaha sekuat tenaga untuk pulih dan bisa berjalan kembali, agar tak terlalu menyusahkanmu. Bagaimanapun aku sudah membuang banyak waktumu, kau menjagaku selama sembilan bulan ini bukan?"
"Ahh iya, aku yang selalu menjagamu selama ini"
Ucap Alex agak gugup tak menyangka mendapatkan pertanyaan itu dari Arindra. Arindra lalu menyisir rambutnya, terlihat rambut itu banyak yang rontok. Melihat itu, Alex iba.
"Mulai besok ada orang yang akan merawat rambutmu ini, dan membuat tubuhmu menjadi halus seperti sedia kala, dan aku juga sudah menyiapkan apapun yang kau butuhkan. Semoga saja kau menyukainya"
"Terima kasih, aku percaya padamu dan pastinya aku akan menyukai pilihan adikku. Kurasa dulu kita dekat, kau pasti tau bagaimana seleraku"
"Iya, tenang saja aku takkan salah memilih, karena aku tau benar seperti apa seleramu"
Lagi ada keraguan di mata Alex saat mengatakan itu, keraguan untuk kedua kalinya di waktu yang tak berapa lama. Arindra merasakan itu, saat ia mengatakan Alex yang menjaga dia selama sembilan bulan terakhir, dan selera berpakaian dirinya.
Alex akan mengangkat Arindra untuk dibawa ke kasur.
"Aku tidak mau, aku ingin duduk dekat jendela"
"Baiklah"
Alex akan mendorong kursi rodanya, lagi Arindra menolaknya.
"Aku bisa"
"Huh, baru sehari saja kau sadar membuatku serba salah"
Alex mengusap-usap dadanya, tak menyangka cukup sulit mengurusi Arindra, wanita yang sama sekali tak dikenalnya ini. Beberapa waktu lalu, ia meminta anak buahnya untuk mencari identitas asli Arindra. Namun sampai kini, tak ada satupun informasi yang didapatkannya. Setidaknya, dia ingin tahu ada hubungan apa Arindra dan keluarga Wijaya, sehingga begitu ketat penjagaan yang dilakukan oleh keluarga Wijaya pada Arindra.
Ia ingin mengorek pada dokter Dea dan dokter-dokter di sana ataupun orang-orang dari rumah sakit. Namun saat tak ada satupun informasi yang ia peroleh. Saat ia datang, ia hanya memperoleh informasi jika wanita yang ditabrak Hansel Wijaya ada di rumah sakit itu, itulah mengapa kemudian ia bertekad untuk mengetahuinya mencari bukti lewat wanita itu.
Namun saat ia tahu, wanita itu dijaga ketat dua puluh empat jam, dan pengamanan ketat membuatnya sulit mendekati wanita itu, jangan melihat rupa wajahnya, dekat ruangannya saja Alex tak bisa, meski ia mencoba menyamar jadi tukang cleaning servis, perawat, dokter namun semua usahanya gagal.
Apalagi setelah wanita itu kemudian dibawa pergi entah kemana. Hilanglah jejak, hingga ia sudah putus asa. Di tengah keputusasaannya itu, ada berita jika wanita itu dibawa lagi ke rumah sakit, membuat ia semangat kembali.
Ia yang sudah mendekati dokter Dea, dan memperhatikan gerak-geriknya membuat ia mudah dekat dengan dokter itu. Seakan mendapat durian runtuh, ia ditunjuk menjadi salah satu team dokter yang menanganinya wanita yang selama ini dicarinya itu. Meski banyak sekali prosedur, tanda-tangan dokumen dan ancaman yang diterimanya untuk menjadi salah satu team dokter Arindra ia tak peduli.
Bahkan beberapa hari ini, sejak Arindra dibawa ke Singapura nomor dokter Dea sudah tidak aktif. Praktis ia tak dapatkan informasi sedikitpun tentang sosok Arindra. Membuat ia bekerja keras, untuk menyakinkan Arindra bahwa ia adalah orang yang dekat dengannya selama ini.
Hari-hari berlalu, Arindra sudah bisa berjalan sepenuhnya. Arindra kemudian dibawa Alex ke rumahnya. Berbagai bukti untuk menunjukkan kebenaran cerita Alex telah diberikan, Alex dan Jenny dibuat pusing karena mereka tak menyangka seorang Arindra lebih kritis dari bayangan mereka.
Arindra yang mereka bayangkan adalah sosok polos yang mudah didikte, sebulan berjalan baik Alex maupun Jenny yang memang tak mengenali sifat Arindra dibuat geleng-geleng kepala.
Selama di rumah sakit, Arindra ternyata pemilih makanan, tak hanya itu ia juga menolak disentuh Alex atau laki-laki lain meski hanya sekedar memegang tangan, alasannya sungguh tak masuk akal bagi Jenny dan Alex.
"Perasaanku mengatakan aku tak menyukai bersentuhan dengan laki-laki"
Begitulah alasan konyol Arindra yang menolak disentuh laki-laki. Kerewelan itu berlanjut soal makanan.
"Makanlah kak?"
Alex memberikan sepotong daging steak yang terlihat lezat bagi orang yang menyukainya. Arindra mengeryitkan mata, Alex paham jika itu tanda Arindra tak menyukainya.
"Ini makanan kesukaan kakak, percayalah padaku. Kakak sangat menyukai daging ini"
Alex mencoba menyakinkan Arindra.
"Mana ada orang yang tak menyukai steak pikirnya"
"Kau yakin ini makanan kesukaanku?"
Tanya Arindra yang sudah meragukan Alex yang tau tentang dirinya karena sebulan ini ia merasa baik Alex maupun Jenny, tak tau apa-apa tentang dirinya.
"Iya Kak, aku adikmu, hidup lama bersamamu. Haruskah aku mengulang kata-kata itu berulang kali"
Ucap Alex yang mulai tak sabar menghadapi sikap Arindra yang begitu keras kepala menurutnya.
"Apa kau lupa, beberapa kali kau juga menawarkan makanan jenis yang sama tapi kau tau aku tak bisa memakannya"
Deg
"Bodoh-bodoh, mengapa aku begitu bodoh sampai lupa. Ini bukan pertama kalinya ia menolak makan daging"
Alex menepuk-nepuk keningnya pelan, membuat Arindra mengeleng.
"Aku bisa memakan buah, dan sayur. Tapi jangan tawarkan aku lagi untuk memakan daging"
"Apakah kau benar-benar tak memakan daging?"
Tanya Alex yang kesal, sambil memakan steak ditangannya. Arindra tersenyum mendapat pertanyaan Alex.
"Sepertinya kita cukup asing satu sama lain"
"Huk..huk.."
Alex terbatuk mendengar apa yang diucapkan Arindra. Ia baru sadar, ia terjebak oleh pertanyaannya sendir.
#########
Alhamdulillah chapter 50 done
duhh senengnya, author aja enggak nyangka bisa sampai chapter segini. Apalagi ini karya perdana author.
Makasih semuanya yang masih setia membaca karya seorang pemula.
Love ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍❤❤❤❤
buat kalian semua oke
tetap author mah ngingetin hehee
like, koment, vote, share, follow Lesta lestari, and beri poin. Makasih muachhh