ARINDRA

ARINDRA
Chapter 115



Proses pernikahan Hana dan Jack telah selesai, Tuan Wijaya sudah pergi kembali ke lapas. Dio dan beberapa orang yang dipanggil untuk menyaksikan pernikahan pun sudah kembali.


Abi Hasan mendekati Jack dan Hana dan menatap ke duanya.


"Abi tau masa lalu Jack dan Daddy Hana cukup buruk, tapi ingatlah pernikahan ini bukan permainan. Jack, kau telah mengubah keyakinanmu dan belajarlah memahami apa yang baru kau yakini. Perlakukan istrimu dengan baik, terlepas dari hal-hal yang buruk di masa lalu. Tatalah masa depan kalian dengan kebahagian. Belajarlah saling mengenal dan jauhilah ego yang bisa merusak pernikahan".


"Iya Abi". Ucap Jack dan Hana bersamaan. Kemudian Abi beralih pada Hans, Syara dan Arindra.


"Maafkan Abi dan Umi tidak bisa menginap, ada urusan di pondok yang tidak bisa Abi tinggalkan. Selalu terapkan husnuzhon itu akan membawa kebaikan, dari buruk sangka yang selalu membawa perpecahan. Abi yakin kalian tahu, apa yang harus kalian lakukan. Abi dan Umi pamit ya".


"Iya Bi, hati-hati di jalan dan terima kasih".


Ucap Hans memeluk mertuanya itu, Syara memeluk Uminya.


"Jaga cucu Umi ya, g boleh terlalu lelah ya".


"Iya Umi". Syara mengangguk dan tersenyum pada uminya itu. Lalu yang lain kemudian semua mengantarkan Abi dan Umi Hasan sampai di mobil. Setelah mengucapkan salam, Abi dan Umi Hasan meninggalkan rumah Hans.


Hans menatap Jack "Kita perlu bicara empat mata" Ucap Hans lalu membawa Jack ke ruang kerjanya itu. Jack berhenti sesaat di depan Arindra yang tertunduk.


"Kau baik-baik saja?". Tanya Jack dengan lembutnya.


"Baik Kak, Alhamdulillah".


"Syukurlah, aku takut hatimu terluka melihatku menikahi adik iparmu. Jadi aku tak perlu sungkan, menunjukkan kemesraanku bersama Hana di depanmu".


Ucap Jack yang membuat yang mendengarnya geram. Arindra hanya tersenyum kecut, bagaimanapun hatinya masih tersimpan nama seorang Jack. Hans mengepalkan menahan amarah.


"Sudah kubilang ayo kita bicara berdua, karena aku ingin tau tujuanmu bersedia menikahi adikku".


Hans menarik tangan Jack, Jack hanya tersenyum mengejek dan mengikuti Hans yang sudah berubah menjadi Kakak iparnya itu. Hana yang menyaksikan itu hanya terdiam, tak tau harus berbuat apa, cemburu, senang, bahagia, sedih.


Ia tak tau, wajah seperti apa yang harus ia tampilkan saat ini. Shania menatap Aldo, meminta ijin membawa Mbak Arindra pulang, Aldo mengangguk, tapi Aldo tetap di sini untuk berjaga-jaga untuk dua lelaki yang sekarang ada di dalam ruang kerja.


"Kita pulang Kak". Ajak Shania pada Arindra, namun ajakannya di tolak.


"Ini bukan waktu yang tepat Kak, buat Kakak tahu semuanya. Sekarang dia sudah jadi adik ipar Kakak, jadi Shania mohon ikutlah Shania pulang dulu. Ada Aldo di sini, dia akan cerita jika ada apa-apa ya".


"Ini bukan tentang cinta Kakak pada Kak Jack, Shania".


"Its okelah tentang apapun itu, tapi untuk saat ini ikutlah Shania dulu".


Arindra akhirnya mengalah, ia kemudian berpamitan pada Hana dan Syara. Setelah mengucapkan salam mereka pun pergi meninggalkan rumah Hans.


########


Sementara di ruang kerja Hans menatap tajam Jack yang tengah duduk santai di sofa.


"Kau mau marah?". Tanya Jack pada Hans.


"Apa maksudmu melakukan ini semua?".


"Memenuhi permintaan Ayahmu bukan".


"Jangan berbohong kepadaku Jack, aku yakin ada maksud lain dari tindakanmu ini".


"Aku, aku menyukai adikmu karena sedikit banyak tampilannya sama seperti Arindra".


"Bisa jadi iya, tapi kurasa kau tak perlu mencampuri urusanku. Aku pergi, aku ingin menikmati tubuh istriku hehehe".


"Jangan coba-coba kau menyakiti Hana, jika kau lakukan kau akan menerima akibatnya, paham".


"Uhhh, tapi sayangnya aku tak pernah takut padamu. Kau yang telah mengambil Arindra dariku, maka aku akan membuatnya kembali padaku. Setelah itu kutinggalkan adikmu yang cantik itu".


"Brengsek.."


Hans hendak memukul Jack, tapi ditahan oleh Jack. "Kau hanya akan menambah luka jika memukulku, jika aku luka maka Hana akan jauh lebih terluka. Jika kau beri aku satu goresan, maka aku akan beri Hana sepuluh goresan. Terserah padamu, aku takkan melawanmu. Pukul aku sesukamu, maka aku akan memukul adikmu sesukaku".


Hans mengeram menarik genggaman tangannya, dan wajah Jack yang tersenyum.


"Kenapa kau takut?". Jack berjalan memutari Hans.


"Aku baru tahu kelemahan seorang Hans tak hanya terletak pada anak dan istrinya, tapi juga pada adiknya. Wow aku mendapat jackpot kali ini". Jack tertawa girang.


"Aku takkan segan-segan melakukan apapun jika sampai kau menyakiti mereka terutama Hana".


"Oh ya, aku tunggu. Apakah kau juga akan melihat bagaimana aku menyiksa Hana di atas ranjang malam ini hem hehe".


Hans mengeram menatap tajam pada Jack yang masih dengan tawanya. "Aku senang jika kau bisa melihatnya langsung. Sungguh permainan yang sangat menarik bukan".


Hans mencoba berfikir jernih dan menahan emosinya, melawan Jack dengan kekerasan maka akan menghasilkan kekerasan.


"Baiklah, aku pergi dulu mempersiapkan malam pengantinku, by kakak iparku tersayang". Jack tertawa dan melangkahkan kaki meninggalkan Hans yang masih menahan amarahnya.


Ia melihat Aldo yang berdiri di balik pintu ruang kerja, dan hanya tersenyum mengejek. Jack melewatinya begitu saja dan mendekati Hana yang sedang tertunduk si samping Syara.


"Kemasi barangmu dan ikutlah denganku".


Ucap Jack pada Hana yang membuat Hana melihat ke arahnya.


"Dia tidak akan pergi ke mana-mana, dia akan tetap di sini sampai pernikahan kalian diresmikan oleh negara".


"Ouh baiklah, tapi aku tetap membawa Hana karena dia adalah istriku. Bukankah begitu Hana?".


"Bisakah malam ini saja aku tidur di sini, sungguh aku butuh waktu untuk sendiri saat ini". Ucap Hana pada Jack


"Kau akan punya tempat untuk menyendiri, jika kau tahu tugasmu sebagai seorang istri maka lakukanlah perintahku dan jangan membantah. Bukankah berdosa menolak permintaan suami, apalagi saat ini aku sudah tak sabar ingin meminta hakku padamu".


Ucapan Jack membuat Hana bergidik, Aldo yang sudah tak tahan mendengar semua perkataan Jack datang meninju wajah Jack.


"Jangan kau kira, setelah menjadi suami Hana kau bisa seenaknya memperlakukan Hana hah. Tinggalkan dia di sini hingga ia memutuskan dengan rela pergi dengamu atau diantara kita berdua mati".


Jack mengelap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah, Hana da Syara hanya bisa menjerit melihat Aldo yang memukul wajah Jack. Jack terbangun dan menatap Aldo.


"Aku fikir hatimu hanya untuk Shania, tapi tak kusangka di hatiku terselip juga nama Hana. Sungguh kalian..."


Jack menunjuk Aldo dan Hans "Dua laki-laki serakah dan brengsek". Ucap Jack kemudian memutuskan pergi.


############


Alhamdulillah chapter 115 done