ARINDRA

ARINDRA
Chapter 88



Arindra terbangun di sebuah kamar, ia melihat sekelilingnya. Semua nampak asing di matanya, ia bangun dan melangkah keluar kamar.


"Kak, sudah bangun" Ucap Shania pada Kakaknya.


"Bukankah Kakak...?"


Arindra mengingat kejadian yang dialaminya saat di lapas.


"Kakak beruntung, ada Kak Zaki. Dia yang membawa ke sini, katanya pingsan karena obat bius, dia menceritakan apa yang terjadi pada Kakak"


"Kakak ceroboh, tak mendengar apa yang dikatakan Kak Jack" Ucap Arindra dengan wajah menyesal.


"Sudahlah Kak, yang penting Kakak selamat. Kakak lapar, Nia sudah masak makanan kesukaaan Kakak lo hehe" Ucap Nia mencoba menghibur Kakaknya itu.


"Kakak mandi dulu ya, tapi pinjem baju"


"Siap, ambil aja di lemari ya"


Arindra bergegas ke kamar Shania, dan melakukan kegiatannya. Sedangkan Shania sudah memberi tahu Aldo dan mengatakan jika Kak Arindra sudah ada di rumahnya. Dan menyiapkan makan malam untuk mereka. Jelas Aldo mengatakan itu pada Hans, membuat Hans senang. Ia datang ke rumah Shania ditemani Aldo, setelah mengantarkan Syara, Fattah dan Hana ke rumah.


Sesampainya di sana, dua laki-laki itu masuk ke rumah dengan tak sabar.


"Assalamualaikum Shan?" Ucap Aldo.


"Walaikumsalam, cepet banget ke sininya" Ucap Shania melihat ke dua laki-laki itu.


"Di mana Kakakmu Shan?" Tanya Hans celingukan mencari Arindra.


"Ada di kamar, lagi bersih-bersih" Jawab Shania


"Kamarnya di mana?" Tanya Hans lagi


"Sebelah kanan, itu belok aja. Eh tapi Kakak mau ngapain?" Tanya Shania, tapi Hans telah berlari menuju kamar yang ditunjuk.


"Ehh Kak..."


"Udah biarin, mereka toh suami istri" Ucap Aldo yang memeluk Shania.


"Iya tapi Kakakku kan belum maafin Kak Hans" Ucap Shania mencoba melepaskan pelukannya.


"Aku kangeeen banget, biarkan gini dulu ya. Dan biarkan si boss berjuang" Aldo tak melepaskan pelukannya.


Shania akhirnya pasrah, sementara Hans sudah berada di kamar. Menunggu di samping pintu kamar mandi, Arindra ke luar dengan balutan baju handuknya.


"Greep"


Hans memeluk Arindra dari belakang setelah baru saja keluar dari kamar mandi.


"Auu lepaskan" Arindra memukul dan memberontak.


"Ini aku, Hans suamimu. Terima kasih, terima kasih telah selamat" Ucap Hans sambil mencium puncak kepala Arindra.


"Lepaskan Hans, aku perlu salin baju" Arindra mencoba melepaskan pelukan Hans. Tapi Hans tetap memeluknya erat. Arindra mengangkat Kakinya ke atas dan kemudian menginjakkan kaki itu ke telapak kaki Hans.


"Aduhh, kenapa diinjak sihh" Ucap Hans yang memegang kakinya.


"Kan sudah kuminta baik-baik, tapi kau tak mau lepaskan. Keluarlah..."


Ucap Arindra dengan wajah datar, dan memilah baju di lemari.


Hans tersenyum licik kemudian dia berjalan mendekati Arindra, dan membawa tubuh itu ke kasur, dan mengungkunginya.


"Hans..." Arindra memalingkan wajah dari Hans, yang begitu dekat dengannya.


"Kau sudah membuatku khawatir dan menginjak kakiku, saatnya memberi hukuman padamu" Ucap Hans dengan seringai liciknya, ke dua tangannya masing-masing menahan tangan Arindra di kanan dan kirinya.


"Jangan macam-macam Hans" Arindra mengucapkan kata dengan wajah datar.


"Tidak, aku hanya ingin melakukan satu macam saja denganmu, kali ini aku akan memperlakukanmu dengan lembut" Ucap Hans tersenyum.


"Silahkan lakukan, jika ingin melihatku jadi mayat esok hari" Ucap Arindra tetap dengan wajah datarnya menatap Hans wajah Hans yang terkejut mendengar jawabannya. Perlahan Hans melepaskan Arindra dan terbaring di sisinya.


"Jangan lagi berkata seperti itu, aku takkan pernah memaksamu, aku sangat mengkhawatirkanmu saat mendengar Kau dibawa anak buah Daddy" Hans menatap wajah Arindra yang hendak terbangun. Namun Hans meletakkan kepalanya di perut Arindra dan memeluknya erat.


"Hans lepaskan..."


"Biarkan seperti ini dulu, sungguh aku takut kehilanganmu untuk ke dua kalinya" Arindra mengalah, Ia biarkan Hans tetap pada posisinya.


"Kak, ...Ups maaf" Shania berbalik saat melihat kondisi Kakaknya yang sedang dipeluk Hans, mereka berduaa menoleh.


"Makan malam sudah siap Kak, Shania tunggu di bawah" Ucap Shania kemudian berlari ke luar dan menutup pintu.


"Huhh..kenapa tadi langsung buka aja sih, g sadar tadi kan Kak Hans masuk. Ih lagian kok Kak Tiara mudah banget gitu ditaklukin Kak Hans. Dasar playboy cap kecoa nih, bisa-bisanya kakak gue diduain. Awas aja ya gue buat perhitungan". Ucap Shania sambil mengepalkan tangannya.


Shania terbangun dan mengambil pakaian, berganti di kamar mandi. Hans membaringkan tubuhnya kembali sambil menunggu Arindra. Tak lama Arindra keluar lengkap dengan balutan jilbannya. Dan ia keluar tanpa mengajak Hans, Hans pun berlari mengikuti Arindra menuju ruang makan.


Shania menatap wajah Hans yang tersenyum-senyum sendiri, dan melihat wajah Kakaknya datar. Ia menendang kaki Aldo, membuat si empunya kaki meringis kesakitan.


"Kenapa loe Do?" Tanya Hans


"G tau nih Boss, kena tendangan gledek nih Kaki gue" Ucap Aldo yang mengelus kakinya.


"Shania..." Panggil Arindra


"Iya Kak"


"Di mana Zaki sekarang, kakak mau ngucapin terima kasih sama dia?" Ucap Arindra sambil memakan makananya.


Hans dan Aldo melihat ke arah Shania, Shania melirik Hans dengan wajah kesalnya.


"Tadi Kak Zaki abis nganter ke sini, setelah cerita langsung pergi lagi. Dia bilang Kakak dibawa oleh anak buah Wijaya saat di lapas"


"Terus.." Tanya Aldo yang penasaran dengan cerita Shania. Shania kembali melirik Hans tajam.


"Jadi Kak Zaki itu ternyata salah satu orang suruhan Wijaya, tapi dia ikut Wijaya cuma pura-pura. Kan pernah aku bilang waktu itu Kak, kalo dia itu pacarnya mantan Kak Hans, Karina. Jadi dia menjadi penyusup gitu deh di sana, niatnya mau balas dendam karena Karina sudah dibuat gila ma Wijaya"


Aldo dan Hans tersedak, Shania dan Arindra menatap keduanya.


"Terus..." Tanya Aldo setelah minum.


"Kak Zaki itu jadi sopir yang membawa Kakak. Kak Zaki kenal Kak Tiara, karena dulu Kak Zaki pernah naksir Kakak, tapi Kakak selalu nolak. Diperjalanan Kak Zaki berhenti membeli minum, termyata dia itu g hanya beli minum tapi obat tidur yang kemudian dicampurin ke minuman itu.


Dan minuman itu, diminum teman-temam yang ikut bawa Kakak. Jadi deh mereka tepar, Kak Zaki bawa ke sini. Pasti Kak Zaki sekarang jadi buruan anak buah Wijaya Kak"


Ucap Shania sedih.


"Kamu ada nomornya?" Tanya Arindra


"Nomornya dah g aktif Kak, terakhir kali Shania telpon"


"Do, tolong perintahkan salah satu orang kita untuk mencari Zaki, dan bawa ke rumah aman. Dan tempatkan pengawal di rumah ini malam ini juga" Perintah Hans pada Aldo dan mengakhiri makannya.


Ia berdiri dan melangkah agak menjauh, menelpon seseorang. Arindra dan Shania hanya saling tatap penuh tanda tanya.


############


Alhamdulillah chapter 88 done