
Hans, melihat adiknya datang dan langsung menamparnya, saat ia tidur dengan memeluk pakaian Arindra.
"Plakk"
Tak terasa sakit memang, tamparan adik satu-satunya ini. Namun sukses membuat dia berpaling dan mengikuti arah mata Hana yang meminta ia duduk di sofa, tak cukup sebuah tamparan satu ember air ia siramkan pada tubuh Hans dan kemudian membanting ember itu tepat di depannya.
Hans tak pernah melihat Hana dengan kemarahan yang begitu menyeramkan menurutnya saat ini.
"Mau sampai kapan kakak begini hah"
Ucap Hana jengah marah dan kesal, ini untuk kesekian kalinya ia mencoba mengingatkan kakaknya yang sedang terpuruk.
"Kenapa Kakakku menjadi sangat bodoh karena urusan wanita, Kak sadar. Jodoh, rejeki, maut sudah ketentuan Allah. Kita tak bisa mengganggu gugat sama sekali. Kita semua bersedih atas kehilangan Mbak Arindra, tapi bukan begini caranya mengurung diri di kamar seperti ini, ini sudah sebulan Kak.
Tidakkah kau melihat, ada fattah di sana yang menantikan kasih sayangmu, itu putramu, putramu bersama Mbak Arindra. Berapa kali harus kubilang, Mbak Arindra tak meninggalkanmu, dia hidup bersama kita, dia ada di sini. Lihat Fattah, lihat baik-baik, Mbak Arindra ada di sini dalam diri Fattah"
Hana memberikan foto-foto lucu Fattah yang sudah berumur satu bulan ini. Ia melemparkannya begitu saja karena sudah kesal melihat kakaknya yang terus meratapi kematian Arindra.
"Kau Kakakku, tapi aku seperti tak mengenalmu. Mana Kakakku yang tengil, yang selalu bangga akan ketampanan dan pesonanya. Mana Kakakku yang penyayang, yang selalu bertanggungjawab atas apa yang diucapkannya. Kau memiliki janji, tapi Kakak selalu membuat orang itu menangis. Kau janji tak menyakitinya, membuatnya bahagia tapi Kakakku dengan tingkah bodohnya membuat ia tersakiti.
Namun lihatlah, dia bahkan menjaga putramu dengan baik, merawatnya penuh cinta. Tapi Kau, bahkan pada putramu sendiri kau ingkari janjimu. Bagaimana kau bisa memberikan kebahagiaan jika kau tak bangkit. Kak, Kakak punya masa depan, lihat ini, lihat.."
Hana menyetel sebuah vidio di mana Hans dan Syara makan malam romantis, kegiatan-kegiatan berdua lainnya dan vidio-vidio kegiatan Syara yang mengurus Fattah. Hans termenung, ia menangis melihat itu semua.
"Kakak, rindu Mbak Arindra Han"
Ucapnya disela isak tangisnya.
"Kami juga merindukan Mbak Arindra kak, tapi caranya tak seperti ini. Jika memang kakak begitu rindu padanya, angkatlah tangan kakak hadapkan pada langit, mintalah pada Allah. Untuk menyampaikan do'a-do'a terbaik untuknya, Mbak Arindra sudah tenang di sana Kak, ia tak rela melihat Kakak seperti ini.
Mengabaikan Fattah, jika Mbak Arindra melihat Kakak setidak bertanggungjawab seperti ini pasti membuat ia bersedih. Ia dalam keadaan koma selama mengandung Fattah, ia berjuang diantara kematian yang sewaktu-waktu merenggutnya. Kemungkinana tipis kehidupan untuknya dan Fattah, tak membuat ia menyerah.
Ia mampu melewati ini semua, hingga ia bisa melahirkan Fattah yang begitu tampan, menitipkan padamu Kak, untuk menemani hari-harimu. Ia tahu, betapa besar cintamu padanya hingga ia mau berjuang melahirkan putramu. Tapi Kakak mengabaikannya, apakah kakak fikir ia akan bahagia melihat Kakak mengabaikan orang yang diperjuangkan untuk menemani hari-harimu hah"
Syara sejak tadi di depan pintu, masuk membawa Fattah digendongannya. Ia memberikan bayi mungil itu pada Hans.
"Kak, jika memang aku tak bisa membuatmu bangkit, bangkitlah demi anakmu. Dia butuh sosok Ayah yang tulus mencintainya, dia butuh kakak yang menjaganya, demi Fattah aku mohon, bangunlah"
Hans melihat Syara yang berurai air mata.
"Maafkan Syara tidak bisa menjadi istri yang baik selama ini. Sekarang semua pilihan ada pada Kakak, Fattah kuserahkan padamu. Meski aku sangat mencintaimu dan Fattah, tapi jika terus melihatmu seperti ini. Aku menyerah Kak, terima kasih sudah memberikan cinta padaku, terima kasih sudah menjadikan aku istrimu. Sungguh aku tidak pernah menyesal, telah bersanding denganmu. Aku mencintaimu Kak, sangat mencintaimu"
Syara memeluk suaminya itu, kemudian mencium keningnya.
"Selamat tinggal, semoga Kakak selalu bahagia"
Bisiknya membuat Hans terhenyak, sesaat kesadarannya pulih, ia pegang tangan Syara. Memintanya tinggal lewat sorot matanya, namun Syara menggeleng.
"Di hatimu hanya ada namanya Kak, meski kau pernah berkata kau mencintaiku. Tapi melihatmu begitu terpuruk karena kehilangannya membuatku tak sanggup. Aku menyerah mengejar cintamu, aku kalah oleh orang yang bahkan tak bicara apapun padamu"
Syara bangkit, dan pergi meninggalkan Hans bersama Fattah dalam gendongannya, sedang Hana hanya menghela nafas berat. Ia tak mampu mencegah kepergian Syara, bagaimanapun ia tahu, terlalu banyak tangisan yang sudah dilalui sahabatnya ini.
"Sekarang semua terserah pada Kakak, kemarin Mbak Arindra yang meninggalkan Kakak karena sikap bodohmu, sekarang Syara meninggalkanmu jua karena kebodohanmu. Jangan sampai Kakak menyesal untuk kedua kalinya"
Hana melangkah pergi meninggalkan Hans yang masih duduk dengan pakaian basahnya, menggendong Fattah yang terlelap dalam tidurnya. Ia bangkit, dan meletakkan Fattah di tempat tidur.
"Maafkan Papa nak, maafkan Papa. Papa akan bujuk Bunda untuk tetap disamping kita"
Ucap Hans yang kemudian keluar memanggil baby sister, dan berlari mencari Syara. Namun Syara sudah pergi dengan Hana. Ia berusaha menelpon, namun telpon itu tak diangkat keduanya.
Hans panik, ia mencari kunci mobil dan berlari, mengejar Syara. Ia tak lagi peduli dengan baju basahnya. Yang ia tuju adalah rumah orang tua Syara. Benar saja, sesampainya di sana ia melihat Syara dan Hana juga baru turun dari mobil.
Ia bergegas turun, memeluk Syara dengan erat.
"Maafkan Kakak Ra, Maafkan aku. Maaf...mohon maafkan aku"
Syara menangis dipelukan Hans, begitu juga Hans yang juga menangis. Hana terharu melihat keduanya, Abi dan Umi Hasan yang sudah berada di luar menyambut keduanya tersenyum senang.
"Kamu mau maafin aku kan Ra?"
"Kakak janji tak seperti ini lagi"
"Kakak janji"
"Ehmm ehmmm"
Deheman Abi Hasan membuat keduanya tersipu malu.
"Abi, ganggu suasana aja"
Ucap Umi Hasan yang menghampiri putrinya itu. Abi Hasan hanya tersenyum mendengar protes istrinya. Melihat Uminya datang, Syara memeluknya.
"Kangenn umii"
Rengeknya manja, membuat semua terkekeh akan tingkah Syara.
"Duh enggak malu dilihat suami masih begini sama umi, kok hanya kalian bertiga Fattah mana. Umi lebih rindu sama Fattah nak ketimbang kamu"
Umi Hasan mencubit hidung putrinya,
"Iih umi, jadi enggak kangen lagi sama Syara begitu"
Syara mencebikkan bibirnya, dan masih memeluk erat tubuh Uminya.
"Assalamualaikum Umi, Abi"
Ucap Hans menyalami keduanya, disusul Hana dibelakangnya.
"Lho, baju suamimu basah begini. Bagaimana kamu nak, bisa mengurus suami apa enggak sih anak Umi ini"
"Umiii"
Syara melepaskan pelukannya pada Uminya, dan melihat Hans.
"Kenapa enggak ganti baju niat nyusul kesini?"
"Maaf, soalnya panik bundanya Fattah tiba-tiba ngambek pergi gitu aja"
Ujar Hans yang memeluk istrinya itu lagi.
"Ehmm ehmmm, udah enggak tau tempat ya sekarang. Enggak malu tuh ada Abi sama Umi liatin"
Hana tersenyum meledek keduanya.
"Syirik aja jomblo satu ini, ya udah kak, kita ke kamar"
Ucap Syara menarik Hans, sedangkan Hans hanya tersenyum malu-malu mengikuti istrinya.
"Mau ngapain ke kamar, malu sama Abi sama umi. Masih siang juga"
Hans mencoba menghentikan langkah istrinya, Syara tersenyum.
"Ganti baju Kak, baju Syara basah karena Kakak, kakak juga basah bajunya. Emang nyaman begini"
Hans mengerti, ia kemudian tak protes lagi saat Syara menyuruhnya mandi. Sementara ia juga ganti baju, ia menyiapkan pakaian Hans yang memang sengaja dibawanya karena berharap Hans kelak menyusulnya. Tak disangka Hans, lebih cepat menyusul dari yang dibayangkannya membuat Syara tersenyum bahagia.
##############
Alhamdulillah Chapter 51 done
Votee
like
koment
poin
share hehee
ngingetin doang biar semangat upnya
makasih readers❤❤❤❤❤❤❤