
Sore itu Syara mengemas beberapa pakaian, Hans tak lagi di dalam kamar. Ia sudah keluar bertemu dengan Abi Hasan untuk bicara dan meminta maaf. Hana, menemani kakaknya yang duduk bersama Abi di ruang tamu.
Sedang di kamar, Umi Hasan melihat putrinya itu dengan sedih.
"Kamu yakin sayang, pergi meninggalkan Umi?"
"Umi, Syara enggak pergi ninggalin Umi. Insyaa allah Ara akan sering-sering menjenguk Umi dan Abi"
"Umi belum ikhlas nak"
"Umi, Ara juga sama tapi bagaimana lagi Ara sekarang statusnya istri Kak Hans. Saat ini yang bisa Ara lakukan ikut dengannya"
"Bagaimana dengan Afdan, Afdan kembali lagi ke sini sayang. Artinya ia masih mengharapkanmu nak"
"Umi, Ara saja baru seminggu menikah masa ia Ara langsung minta cerai. Oh ya bagaimana keadaan Afdan, apakah ia terluka parah"
"Afdan babak belur, tapi tak separah suamimu"
"Ara belum mengakui dia suami Ara umi, Ara masih sangat ragu. Ara terlalu kecewa Umi, Umi bolehkan Ara bertemu dengan Kak Afdan?"
"Untuk saat ini tidak memungkinkan nak"
"Tapi Syara sangat ingin melihat Kak Afdan, Umi. Ara sangat khawatir, bagaimanapun ia pasti sangat terluka"
"Umi mengerti sayang, tapi nanti saja ya Umi kirim kabar lagi ya sayang"
"Umii, titip Kak Afdan Umi"
"Titip apa sayang?"
"Jagain Kak Afdan untuk Syara"
"Maksudmu apa nak, kamu sudah punya suami sayang"
"Ara akan bercerai setelah satu tahun umi"
"Astaqfirullahaladzhim nak, pernikahan bukan mainan"
"Syara enggak mau jadi istri ke dua umi, Syara juga benci Kak Hans"
"Sayang, kenapa anak umi jadi begini hemm. Mana Syara anak Umi yang dewasa, mana anak umi yang sholehah nak"
"Umi juga setuju kan kalo Ara pisah dengan Kak Hans"
Umi Hasan memeluk putrinya itu, dalam hatinya ia menyetujui apa yang dikatakan putrinya. Namun nuraninya menentang bagaimanapun perpisahan bukan jalan yang terbaik.
"Berdoa saja diberikan jalan terbaik nak, kamu masih punya Umi dan Abi, jika di sana kamu merasa tertekan dan ingin kembali. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu sayang"
Sedangkan di pintu kamar, Hans berdiri di sana mendengarkan percakapan anak dan ibu itu dengan geram. Ia balik ke kamar berencana mengambil Jam yang tertinggal di nakas, namun urung masuk saat mendengar percakapan dua wanita di dalam.
Ia kemudian mengetuk pintu, membuat dua wanita di dalam kamar tersebut terkejut.
"Aku hanya mengambil jam di nakas"
Ucap Hans, segera mengambil jam itu dan berlalu begitu saja. Sore itu Hans duduk di kursi belakang, sedangkan Hana yang mengemudi, dan Syara duduk di samping Hana. Setelah berpamitan pada Umi dan Abi, disertai tangisan pilu Syara. Mobilpun melaju, meninggalkan rumah menembus jalanan.
Tak ada yang bersuara dalam perjalanan, Hans yang masih merasakan sakit di tubuhnya memilih membaringkan diri. Syara masih berkutat dengan pemikirannya, menatap jalanan. Hana, pada akhirnya memilih diam fokus mengemudikan mobilnya.
Satu jam berjalanan membawa mereka sampai ke rumah mewah Hans. Hana mempersilahkan Syara masuk ke dalam rumah, dan tukang kebun untuk mengangkat koper Syara ke dalam.
Hans tak yang tak peduli langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk segera mandi.
"Ayok Ra"
Syara yang masih memperhatikan sekeliling rumah merasa asing.
"Ini rumah Kak Hans, dan Mbak Arindra juga di rawat di rumah ini sejak enam hari yang lalu, ayok aku antar ke kamarmu"
Syara mengikuti Hana yang berjalan ke arah lantai dua, dan berhenti di depan sebuah pintu kamar.
"Di sebelah kamar ini, tepatnya kamar itu..kamar perawatan Mbak Arindra, dan setiap malam Kak Hans tidur di sana"
Hana menunjuk kamar persis di sebelah kamar yang saat ini mereka berdiri.
"Ayok masuk, barangmu sudah ada di kamar ini"
Hana menarik tangan Syara masuk ke dalam, dan alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat Hans keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Syara langsung berbalik sedangkan Hana tersenyum saja melihat Syara yang langsung berbalik.
"Ra, dia suamimu haha lucu sekali kalian ini, ya sudah aku tinggal dulu"
"Tunggu Han, kamu enggak salah kamar kan?"
"Kamu enggak salah kamar, saya akan tidur di sebelah. Nanti saya akan meminta Mbok untuk memindahkan barang-barang saya di kamar sebelah"
Ucap Hans yang segera memakai pakaiannya.
"Lho kalian berniat pisah kamar"
"Han, obati kakak di kamar sebelah"
"Kak Hans"
"Sudah cepat jangan bawel, lihat tanganku berdarah"
"Ya allah ini kenapa kak, perasaan tadi kepala doang tuh yang berdarah kenapa jadi tangan juga sih"
"Udah bawel, cepet ambilin obat"
Hans kesal melihat adiknya yang cerewet, pergi ke kamar sebelah.
"Ra, kamu enggak ada niat buat ngobatin tangan kak Hans?"
Hana melihat Syara yang duduk di pinggir ranjang.
"Maaf Han, Aku belum bisa"
"Hanaira..."
"Sabar kenapa sih sebentar kak, itu luka jauh juga dari nyawa"
"Pletak"
"Auuu, sakit kak kebiasaan banget sih jitakin kepala orang"
Mereka masuk kamar, dan duduk di sofa. Hana segera mengambil obat-obatan di kotak P3K.
"Abisnya kamu bawel banget, cepet obatin lama-lama darah kakak habis ini. Kamu jadi g punya Kakak sangat tampan ini rugi nanti"
"Duh pede banget, percuma tampan istri sendiri aja enggak tertarik"
"Ehh apa kamu bilang, mana ada cewek yang enggak tertarik sama kakak"
"Buktikan kalo gitu"
"Maksudnya"
"Buktikan, kalo kakak bisa naklukin hati Syara, istri kakak sendiri"
"Apa hadiahnya kalau kakak bisa?"
"Kakak bisa minta apa aja dari Hana"
"Termasuk menikah dengan Afdan"
"Hah"
"Kenapa ragu?"
"Kok kepernikahan sih Kak"
"Kamu kan tipe-tipe perempuan yang suka laki-laki kayak Afdan kan?"
"Ihh enggak semua kali Kak, Hana enggak mau kalau itu, lagian pernikahan itu bukan barang taruhan ya"
"Lha yang ngajakin duluan siapa"
"Ihhh, kan kakak yang kepedean katanya ganteng, enggak ada cewek yang bisa nolak pesona kakak. Ehh ditantang naklukin istri sendiri nolak. Dihh cemen"
Hans menonyor kepala adiknya itu, membuat Hana melotot.
"Ngomong suka banget sembarangan, Kakak sudah punya orang yang kakak cintai begitu juga Syara. Toh pada akhirnya kami akan bercerai saat anak kakak lahir"
"Maksud kakak, kalian buat perjanjian kontrak gitu"
"Bukan kontrak, hanya komitmen"
"Sama aja kakakku sayang, udah kayak novel-novel aja nikah pake perjanjian. Emang Syaranya mau apa"
"Kita enggak ada perjanjian tertulis, hanya omongan aja. Itu kakak lakukan agar Syara mau ikut ke rumah ini"
"Hah, jadi Syara yang minta. Mana mungkin kak"
"Bukan dia yang minta, kakak yang menawarkan dan dia setuju"
"Kalian ini, pada sholat taubat sana. Kalian pikir pernikahan itu mainan. Kalian pikir Allah senang yang ada tuh setan yang senang lihat kalian kayak gini"
"Udah sono-sono brisik aja, ceramah mulu kayak ustadzah. Di masjid sono kalo mo ceramah"
"Idih dibilangin juga, ntar nyesel lo. Syara itu kalo lagi lepas jilbab cantik banget loo kak, Aduhai deh"
"Hana, diam enggak. Kakak mau istirahat"
"Kak, beneran lho. Dia itu ibarat berlian, yang ditutupi dengan baik padahal aslinya berkilau. Coba deh kalo enggak percaya, istri sendiri lho"
Bisik Hana di telinga kakaknya yang tiduran di kasur.
"Hana..."
Teriak Hans melempar bantal pada Hana yang berlari sambil tertawa-tawa keluar.
"Hahaa enggak kena"
"Mandi sana bauu"
"Huh"
Ucap Hana sambil menutup pintu. Hans melangkah mendekati Arindra, mencium kening dan perutnya seperti biasa.
"Mbak, maaf saat ini aku lelah. Besok aku akan berjanji bercerita kembali padamu"
Hans menuju kasur dan membaringkan tubuhnya yang terasa sakit-sakit. Tak lama ia terlelap ke alam mimpi.
########
**ALHAMDULILLAH DONE CHAPTER 24
JEJAKNYA SKUY
LIKE
VOTE
KOMEN
POIN
AND
FOLLOW LESTA LESTARI
TARARENGKYU
❤❤❤❤❤🤲🙏**