ARINDRA

ARINDRA
Chapter 67



Di kediaman Arindra dan kawan-kawan, Dio semalam mengurung diri, menangis. Alex, Jack, Jenny dan Arindra memahami dan membiarkan Dio menumpahkan segala perasaannya. Mereka juga terus berusaha menguatkan Dio, agar tidak berlarut dengan kesedihannya.


"Sudah bangun?"


Alex melihat Dio yang keluar dari kamar dengan mata bengkak, Dio hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.


"Minumlah, teh hangat ini sedikit bisa menyegarkanmu"


Arindra memberikan teh hangat untuk Dio.


"Hey Dio, bahkan aku tidak pernah membuat sarapan. Lihat karena dirimu aku membuat sarapan"


Ucap Jenny dengan sarapan roti tawar isi selai coklat.


"Hanya membuat sarapan roti tawar dikasih coklat aja bangga, sekali-kali masak kenapa Jen-Jen"


Jack meledek adiknya itu.


"Butuh perjuangan kak meski hanya menyiapkan roti tawar heheee"


Tingkah Jenny membuat yang lain tertawa termasuk Dio, yang tertawa namun ada air mata di sudut matanya.


"Terima kasih, sudah lama aku tak merasakan kehangatan keluarga. Di saat yang tepat, kalian hadir membuatku terharu"


Alex merangkul Dio,


"Hey, kami semua keluargamu. Itu Kakak Jack, si jomblo tak laku-laku, itu Kak Arindra wanita hebat yang luar biasa, itu Jenny seorang dokter hebat meski tak bisa masak"


"Hey kau mengataiku, beraninya ya"


Ucap Jack yang pura-pura marah, membuat suasana pagi itu menjadi hangat dengan canda, tawa mereka. Membuat Dio sedikit melupakan kesedihannya.


"Makanlah, Jenny akan marah jika kau tak sarapan. Ini habiskan, Jenny sudah memberikan yang spesial untukmu bahkan denganku pacarnya saja dia tak pernah melakukan hal semanis ini"


Alex berusaha membuat Dio makan, karena sejak kemarin Dio tak makan sama sekali.


"Iya Dio, Jenny bahkan selama ini hanya bisa menghabiskan makanan yang Kakak buat. Lihatlah dia paling cepat makan, jika Kakak sudah selesai memasak"


Ucap Arindra membuat Jenny memasang muka cemberut.


"Kakak, lihat Kak Arindra meledekku"


Adu Jenny pada Jack dengan tingkah manja


"Apa yang dikatakan Kak Arindra memang benar, itu fakta"


Jack membuat Jenny makin cemberut,


"Dasar korban bucin"


Ucapnya pada Jack, disambut gelak tawa lainnya.


"Apa Kak Jack dan Kak Arindra ada hubungan?"


Tanya Dio tiba-tiba, Alex dan Jenny hanya tersenyum sedangkan Jack, wajahnya sudah memerah dan salah tingkah.


"Dia kakakku Dio, meski tidak ada pertalian darah"


Ucap Arindra tenang sambil meminum tehnya, Jack yang mendengar itu seketika kecewa namun berusaha ia tutupi. Alex dan Jenny yang dari tadi senyum-senyum melihat tingkah Jack kemudian terdiam, melihat perubahan wajah Jack.


"Sudah lebih baik bahas yang lain, jika Dio sudah baik-baik saja, dan segera habiskan sarapan kalian"


Perintah Jack menghilangkan kecanggungan sesaat yang terjadi di antara mereka. Mereka berlima pun sarapan, dalam sunyi.


"Apakah kau akan ke makan Kakakmu lagi Dio?"


Tanya Arindra memecah kesunyian yang terjadi.


"Tidak kak, sepertinya kita langsung buat konten saja hari ini"


"Kau yakin akan baik-baik saja?"


Tanya Arindra lagi, bagaimanapun baru sehari pemakaman dokter Dea, seperti tak etis saja menurutnya.


"Kita memanfaatkan situasi Kak, berita kematian kakakku sedang banyak diberitakan di infotainment dan beberapa teman juga membahasnya dalam konten mereka. Jika aku saat ini berdiam diri dan tak mengatakan apa-apa, maka kita akan kehilangan momen"


Terang Dio diangguki yang lainnya tanda setuju.


"Benar kata Dio, apa yang dikatakan Dio mengenai kematian dokter Dea pasti akan menjadi sorotan, karena jarak berita penemuan mayat dan terungkapnya identitas dokter Dea yang berhubungan dengan seseorang terkenal akan menarik perhatian publik.


Di sini kita bisa menekan pihak-pihak terkait untuk menjadikan kasus dokter Dea agar tertangani dengan baik, dan mengungkap siapa pembunuh sebenarnya. Ditambah cerita dokter Dea yang akan menikah dengan kekasihnya, Kakak rasa ini akan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Ini akan menjadi bola panas meski kita tak menunjukkan bukti apapun"


Ucap Jack menambahkan analisanya.


"Kita akan buat konten berkelanjutan tentang kematian kakakku, dan soal keamanan apartemen akan menjadi bola liar yang tertuju pada Wijaya"


"Bagaimana Kak, apakah kakak masih ragu atau belum siap?"


Tanya Alex pada Arindra, yang ia tahu Arindra kemarin lemas saat melihat Hansel. Semua mata tertuju pada Arindra.


"Aku siap Kak"


Ucap Arindra memotong kata dari Jack. Semua tersenyum mendengar ucapakan Arindra. Arindra, meremas bajunya ia tahu ini tak mudah untuk melawan traumanya. Namun ia harus terus maju, jika ingin melihat putranya itu.


Jack yang melihat kecemasan Arindra sadar, jika Arindra masih dilanda ketakutan. Dibalik senyum itu, ada sorot gelisah yang tak bisa disembunyikan.


"Jadi kapan bisa dimulai syutingnya kak?"


Tanya Jenny melihat Arindra dan Dio bergantian.


"Siang ini bisa, pagi ini kita konsep. Aku akan panggil teamku kemari, untuk mempersiapkan segala sesuatunya, bagaimana Kak Arindra?"


Dio melihat Arindra, Arindra menguatkan hatinya.


"Bismillah, saya siap"


"Oke, kita bersiap-siap berarti. Alex kau tidak ke proyek kan?"


"Tidak Kak Jack, urusanku dengan proyek sudah selesai. Tinggal urusan Paman James untuk memastikan pencairannya saja pada perusahaan Wijaya"


"Bagus, jadi kita bisa fokus di sini semua. Jenny belanjalah kebutuhan bersama Alex, siapkan untuk seminggu. Agar kita tak banyak waktu di luar. Kau tau, Wijaya masih mengintai kita saat ini"


"Baik Kak, bawa pengawal boleh kan Kak?"


"Kau ingin merasakan seperti anak sultan?"


Tanya Alex pada Jenny. Jenny mengangguk sambil mengedip-ngedipkan mata pada kekasihnya itu.


"Bawalah, tapi jangan ada yang di sini. Suruh Alex menyiapkannya"


"Oke siap Kak Jack"


Arindra dan Dio hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Jenny yang manja. Alex dan Jenny setelah selesai sarapan, pergi bersama pengawal untuk berbelanja kebutuhan sesuai dengan perintah Jack.


Dio memberikan arahan pada Arindra, apa saja yang akan diucapkan dan dijawab Arindra. Kegugupan dan wajah cemas Arindra dalam pengucapan skrip konten membuatnya berulang-ulang melakukan latihan.


"Tenangkan dirimu, pejamkan matamu tarik nafas tahan, lalu keluarkan perlahan-lahan"


Arindra mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan Jack padanya. Setelah dilihat Arindra mulai tenang, Jack berbicara kembali.


"Ingat, yang dihadapanmu bukan musuhmu. Bukan siapa-siapa, dia cuma kamera yang akan hidup dengan ekpresi dirimu. Ingat hanya kamera, bukan yang lain. Kau paham?"


Diangguki oleh Arindra.


"Coba kita take Kak, latihan di kamera. Jika nanti Kak Arindra bagus takenya kita lanjut syut saat ini juga"


"Oke"


Ucap Jack, kemudian melihat Arindra lagi.


"Aku tidak ingin kau bergantung pada obat penenang. Kau harus lawan, rasa traumamu setidaknya kau harus menang dengan obat itu. Yang di sana...di sana..."


Jack menunjuk kamera yang sudah terpasang, dan kru Dio yang sudah siap.


"Itu hanya kamera, hanya kamera yang butuh dirimu untuk memberi mereka warna dan cerita"


"Iya Kak, Arin akan ingat itu"


"Bagus, Kakak yakin kau mampu melalui ini. Ingat, banyak orang yang menyayangimu"


Ucap Jack membuat Arindra tersenyum.


"Bahkan aku, sangat menyayangimu Arindra. Bahkan aku rela nyawaku dipertaruhkan demi melihatmu selalu tersenyum"


Namun kata-kata itu hanya suara hati Jack, belum pernah ia ungkapkan pada Arindra.


###########


Alhamdulillah Chapter 67 done


dand lupa


vote...


like


komen


share


poin


Follow


Lesta Lestari


❤❤❤❤❤❤❤❤😆❤❤❤❤