
Shania melihat mata kakaknya sembab, menandakan jika kakaknya sudah melihat vidio di memory card yang ia berikan.
"Kakak sudah melihatnya?". Arindra mengangguk. "Tidak tidur semalam?". Kembali Arindra mengangguk lagi.
"Hahaaa kena sindrom baper ya, g nyangka Kak Hans bisa romantis begitu. Kakak sudah selesai nontonnya?".
Arindra menggeleng, "Sudah sampe day berapa?". Arindra angkat bahu, meski ia tahu ia sudah melihat vidio itu sampai day 20an.
"Udah cinta sama Kak Hans?". Arindra hanya tersenyum, dan bersiap ke rumah Hans untuk proses pemakaman Wijaya. Fattah dititipkan pada Sika, karena hari ini mau ke makan jadi tidak dibawa.
Dalam perjalanan menuju rumah Hans, Arindra memasang headshet pada audio mini yang ia bawa dan telah dipasang memory card yang ke dua. Ia memejamkan mata, membuat Aldo melirik kakak iparnya itu yang cenderung diam hari ini.
Aldo bertanya lewat lirikan matanya pada Shania "Lagi kena virus baper". Ucap Shania yang bicara pelan.
"Baper karena si Jack?". Tanya Aldo yang ia tahu Arindra dan Jack saling mencintai. Shania menggeleng, "Lihat vidio Kak Hans yang lagi ngerawat kakak saat koma".
Aldo membulat mengerti, ia tersenyum senang tak menyangka pekerjaannya dulu memiliki arti kemajuan dalam hubungan Hans dan Arindra.
Aldo mendapatkan vidio-vidio itu saat Suster Hani menyerahkan memory card pada Arindra. Ia memeriksa semua isi-isi memory card dan memilah, untuk diberikan ke kantor polisi. Sedangkan vidio perawatan Arindra yang berada di rumah Hans, ia ambil saat rumah itu di beri garis silang oleh polisi sebagai tanda tempat kejadian perkara.
Mereka tak jadi ke rumah Hans tapi langsung ke pemakaman. Beberapa wartawan masih berkerumun untuk melihat proses pemakaman seorang mantan orang terkaya itu. Sangat sedikit yang hadir di sana, hanya beberapa kolega bisnis Wijaya yang masih setia saja yang terlihat datang.
Selebihnya keluarga inti, Hans, Hana, Syara, Aldo, Shania, Jack dan Abi Hasan serta istrinya. Proses pemakaman tak berlangsung lama, dan orang-orang sudah terlihat berpamitan pulang setelah mengucapkan bela sungkawa pada Hans dan Hana.
Arindra sejak kedatangannya hanya menatap satu orang yaitu Hans. Hans kini duduk jongkok bersama Hana di pusara Daddynya. Abi dan Umi Hasan juga tak bisa berlama-lama, berpamitan pada anak menantunya karena di pondok sedang ada acara.
Jack juga hanya memandang ke satu arah, Arindra. Ia tak menyangka Arindra sama sekali tak menyapa dan menatapnya. Syara membimbing tangan Hana, Shania bersama kakaknya, Aldo dan Hans seolah tak terpisahkan. Sedangkan Jack sendiri menuju mobil masing-masing hendak pulang.
Di rumah Wijaya, Hans tanpa bicara apapun langsung masuk ke ruang kerja di ikuti Arindra sedang Hana masuk ke kamarnya di temani Syara.
Sedang Aldo dan Shania sedang menemani para tamu yang masih tersisa. Jack, sudah pergi sejak dari pemakaman. Di ruang kerja, Hans terduduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya.
Arindra mendekati Hans, dan memegang lengannya, Hans menoleh.
"Kau habis menangis, mengapa matamu bisa bengkak seperti ini?".
Arindra tersenyum dan meraih tangan itu untuk di bawa menyentuh area matanya.
"Ini tidak apa-apa, sudah seharusnya seperti ini".
"Kau sedih karena Jack menikahi Hana".
Arindra menggeleng, dan memeluk Hans. Hans terkejut, karena tak pernah Arindra melakukan ini padanya.
"Kau bersedih karena Daddy?".
"Hemm".
"Aku berusaha ikhlas, meski belum mampu melupakan. Bagaimanapun buruknya perbuatan Daddy, dia tetap Daddyku dan aku menyayanginya".
"Aku percaya, jika kau ingin menangis. Menangislah seperti biasanya, kali ini biarkan yang memelukmu".
Suasana hati Hans menghangat, seolah ia mendapat suntikan energi dari pelukan Arindra. "Terima kasih, tapi aku tak mau menangis lagi di hadapanmu. Karena aku malu mengapa begitu cengeng dan mudah menangis bila bersamamu".
"Menangis bukan berarti lemah, kau sedang mengungkapkan perasaanmu dan bebanmu. Jika dengan tangis bisa membuatmu lega, maka lakukanlah".
"Aku bersyukur jika kau merasakan itu, aku cukup senang bisa bersamamu".
"Benarkah, kau tak menolakku lagi?".
"Kau masih harus terus berusaha, membuat hatiku penuh terisi olehmu". Arindra tersenyum, lama mereka berpandangan di mata hanya sorot mata mereka yang berbicara.
"I love you humairaku". Lirih Hans, namun terdengar jelas oleh Arindra.
"Cup". Arindra mencium pipi Hans membuat Hans terbelalak. Tak lama Arindra tangan Arindra memeluk Hans erat. Membuat Hans tak percaya, dan mengeratkan pelukannya pada Arindra.
"Terima kasih". Lirihnya dan dijawab anggukan oleh Arindra.
#########
Di kamar Hana, Hana duduk di dekat jendela balkon di temani Syara. Tak ada suara dari masing-masing, kesunyian menyapa mereka.
"Han..."
Panggil Syara namun Hana tak mengubah arah pandangnya.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini Ra, Daddy dan Mommy sudah tiada. Dan aku menikah dengan laki-laki yang menjadi musuh Daddy. Apa yang harus kulakukan, apakah aku pergi jauh atau mengikuti suamiku yang jelas-jelas akan banyak menyakitiku".
"Kejadian-kejadian yang kita alami belakangan ini, memang di luar kuasa kita Han. Aku juga tak tau harus bilang apa, jika dulu Kak Hans yang menaklukan hatiku, mungkin kini kau yang berjuang menaklukan hati suamimu.
Kak Hans untuk mendapatkan diriku seutuhnya membutuhkan waktu hampir satu tahun, kuharap kau tak selama itu mendapatkan seutuhnya hati Jack.
Bedanya aku dan Kak Hans sudah mengenal, tapi kalian sama sekali tidak mengenal. Tapi kurasa bukan halangan jika kalian bisa membuka diri dan hati".
"Aku tak tau Ra, apakah bisa melakukannya atau tidak. Kak Jack sendiri yang kau tahu sudah mencintai Mbak Arindra. Yang tak lain Kakak iparku sendiri".
"Setiap orang memiliki jalannya, lihatlah Kakakmu bahkan sampai kini ia menolak menyerah untuk mendapatkan hati Mbak Arindra. Ku harap kau juga memiliki semangat yang sama seperti dirinya".
"Kau sekarang selalu memujinya".
"Karena dia pantas dipuji Han, dia sosok suami idaman banyak orang. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan sedikit orang yang mengakui, menyesali dan memperbaiki kesalahan itu. Dan Kakakmu termasuk orang yang sedikit itu".
"Kau tidak cemburu pada Mbak Arindra, jika kelak kemungkinan Kakak berhasil".
"Cemburu, kata itu pasti melekat karena aku mencintainya. Tapi aku sadar cemburuku kini akan dan Insyaa Allah bisa kukendalikan. Apalagi memiliki seorang Kakak seperti Mbak Arindra adalah impianku.
Dia tenang, bijaksana, pemaaf, ilmu agamanya juga baik baik dalam lisan maupun perbuatannya. Tak ada alasan untukku tak menyukainya saat ini. Sungguh aku beruntung, di saat-saat kita terpuruk seperti ini, ia hadir membantu kita bangkit dengan kata-kata motivasinya".
"Yah, kepahitan hidup yang ia jalani mengajarkan dia pada kedewasaan dalam bersikap. Semoga itu juga bisa menular padaku"
"Aamiin ya robbal alamin".
#############
Alhamdulillah chapter 118 done
😍😍🤲🤲😄