ARINDRA

ARINDRA
Chapter 40



Sejak peristiwa malam itu, Hans selalu berusaha membuat Syara bahagia. Ia dan Syara kini sering tidur berdua di kamar Arindra. Semua usaha untuk menaklukan Syara ia lakukan, dari makan malam romantis, jalan-jalan layaknya pasangan muda yang jatuh cinta, nonton film di bioskop rumah miliknya.


Tak hanya itu, sekarang Hans sudah bisa memasak. Tak jarang ia memasakkan masakan untuk istri tercintanya itu. Ia tak pernah lagi pulang larut. Hans juga mulai berubah dalam hal ibadah, kini ia rajin mengaji, sholat wajib tak pernah ia tinggalkan, ditambah sholat disepertiga malam.


Membuat Syara semakin jatuh cinta pada suaminya itu. Ia tak lagi menolak saat Hans tiba-tiba memeluknya, mencium pipi kanan kirinya, keningnya, menggodanya, dan tidur bersama dengan pelukan erat yang menyertainya. Inget ya hanya tidur tok ☝️😜.


Ia tak lagi protes saat Hans bermanja dengannya, tidur di pangkuannya. Menggelitiknya, dan berbagi ia tak sungkan lagi berbagi cerita. Ia bagai istri lainnya, mematuhi perintah suaminya, menyiapkan segala keperluan, dari bangun hingga tidur kembali. Menyiapkan mandi, pakaian, memasangkan dasi, memakaikan jas, menyiapkan sarapan, mengambilkannya bahkan tak jarang makan sepiring berdua.


Iya, mereka diliputi kebahagian meski Syara belum menyerahkan dirinya seutuhnya sebagai seorang istri. Sudah tiga bulan berlalu, Hans begitu sabar menunggu waktu Syara siap. Ia terus mencobanya, menunggu, mencobanya lagi, menunggu. Begitulah yang ia lakukan.


Malam itu, saat Hans masih di ruang kerjanya. Suara dering ponsel menyadarkannya dari lamunan karena lagi-lagi ia ditolak saat meminta haknya pada Syara.


"Assalamualaikum Dad"


"Walaikumsalam, apa kabarmu nak"


"Baik Dad, ada apa malam-malam begini telpon Dad, adakah sesuatu dengan Mom?"


"Tidak, kami baik-baik saja. Daddy hanya ingin mengabarkan padamu. Besok Arindra dipindahkan lagi ke rumah sakit. Jadwal caersar Arindra telah ditetapkan 2 minggu ke depan. Daddy ingin yang terbaik untuk cucu Daddy, untuk perawatan dan persiapannya"


"Kenapa Daddy baru bilang malam ini, kenapa tidak membicarakan dengan Hans dari kemarin-kemarin"


"Daddy tau kamu sibuk nak, bukankah bulan ini bulan tersibuk perusahaanmu"


"Ya, perusahaan sedang naik Dad. Banyak sekali tender yang masuk. Minggu depan Hans juga harus ke Luar negeri untuk projek peninjauan kerjasamanya dengan perusahaan Co. Dan itu memakan waktu setidaknya sepekan"


"Ya, Daddy mengerti. Daddy akan bantu perusahaan yang di sini. Aldo juga pasti sibuk bukan?"


"Ya, Aldo sedang ditugaskan mengurus projek teluk Jakarta dengan perusahaan Adam"


"Kau bekerjasama dengan perusahaan Adam, kau tau mereka busuh bebuyutan Daddymu. Mengapa bisa?"


"Kerjasama sudah berjalan tiga bulan ini Dad, Hans dan Aldo sudah menyelidiki. Tenang saja Dad, mereka tidak berani macam-macam dengan kita, dan sejauh ini aman"


"Tetap saja, kau harus hati-hati. Mereka itu licik, oh ya bagaimana hubunganmu dengan Syara. Jika mendengar cerita Mommy dan Hana, sepertinya kalian sangat bahagia"


"Iya Dad, hubungan kami membaik"


"Bagus kalo begitu, oh ya Daddy sudah membelikan tiket Honeymoon untuk kalian. Maaf jika Daddy baru melakukannya saat ini"


"Tapi Dad, Hans sedang sibuk-sibuknya bekerja. Nanti saja Dad jika sudah waktunya longgar"


Hans sebenarnya enggan, bagaimanapun Syara masih menolak. Bagaimana mau honeymoon jika Syaranya saja masih enggan, dicium bibir saja nolak, membuatnya berfikir untuk menyerah.


"Sudah ikuti saja, toh Honeymoonnya juga ke negara sama. Kalian sudah sembilan bulan menikah, ayolah beri cucu yang ke dua untuk kami. Daddy sudah atur, tenang saja"


"Tapi sebentar lagi kan jadwal Caesar Arindra Dad, Hans ingin selalu bersamanya"


"Sudah, toh jadwalnya masih dua minggu lagi. Kau masih bisa mendampingi saat operasi. Ada dr Dea dan team dokter yang sudah Daddy persiapkan. Hana juga Daddy minta ke beberapa dokter luar negeri untuk mendapatkan informasi akurat penanganan lahiran pasien koma dan perawatan pasca melahirkan. Agar semua bisa baik-baik saja seperti keinginanmu dan juga kami tentunya"


"Daddy sedang tidak merencanakan sesuatu kan?"


"Daddy merencanakan apa nak, jangan selalu berprasangka buruk pada Daddymu ini"


"Baiklah, tapi jika Daddy melakukan sesuatu pada Arindra. Daddy takkan pernah mendapatkan maaf dari Hans. Ingat itu Dad"


"Ya..ya.., Daddy mengerti. Asal kau ingat selalu nak. Daddy sangat menyayangimu dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian. Ingat itu, Daddy tutup dulu. Besok ada beberapa dokter dan perawat akan datang ke rumahmu"


"Baiklah Dad, Assalamualaikum"


Namun tiada sahutan dari sebrang saja, karena telpon sudah dimatikan. Hans yang tetap curiga pada Daddynya, menelpon Aldo.


"Hallo Do"


"Duhh gila loe boss, tengah malam gini ganggu orang tidur aja"


"Besok Mbak Arindra dipindahkan ke rumah sakit, tambahkan orang-orang untuk menjaganya. Apalagi seminggu ke depan, loe dan gue tidak di negara ini, begitu juga dengan Hana dan Syara. Jadi pastikan tempatkan orang-orang kepercayaan kita buat mengawasi mereka terutama Mbak Arindra"


"Dipindahkan besok, kenapa?"


"Untuk persiapan operasi Mbak Arindra dua minggu ke depan"


"Hah, baiklah"


"Bagaimana dengan Jhon?"


"Ingat tetap waspada"


"Kapan loe berangkat ke perusahaan Adam"


"Besok boss rencananya, dan gue juga harus mengecek langsung ke perusahaan yang di luar, buat mastiin projek kita tetap aman, loe bukannya jalan juga boss besok ke Jepang. Syara ikut Hana juga boss?"


"Tidak, dia ikut gue"


"Duh yang lagi bucin, ke mana-mana di bawa tuh istri"


"Gue tutup Do, Assalamualaikum"


Tanpa menunggu jawaban Aldo, Hans menutupnya. Ia kembali ke kamar melihat Arindra, menatapnya dengan dalam, menggenggam erat tangan istrinya itu. Seolah-olah, malam ini adalah malam terakhir kebersamaannya dengan Arindra.


"Mbak, seminggu ke depan kita tak bisa bertemu. tapi aku akan berusaha tetap menelponmu vidio call lewat suster Hani. Maaf, bukan tidak mau tapi ada urusan perusahaan yang tak bisa aku tinggalkan"


Hans yang tak pernah memeluk Arindra, malam itu ia peluk tubuh koma dengan erat. Berulang kali ia ciumi wajah dan perut wanita itu. Syara yang tak bisa tidur karena Hans meninggalkannya. Ia tau suaminya marah, meski tak mengatakan apa-apa. Namun tampak sekali, wajah Hans memerah, tangannya terkepal dan pergi begitu saja meninggalkan Syara.


Lagi-lagi, Syara menolak menyerahkan hak suaminya untuk ke sekian kali. Kemarin-kemarin saat Hans meminta, meski ditolak. Hans tak meninggalkannya dan tetap memeluknya erat. Syara gelisah, untuk pertama kalinya sejak makan malam romantis mereka tak pernah sekalipun tidur terpisah.


Syara sudah kecanduan mencium aroma tubuh suaminya yang membuatnya tenang dalam tidur di setiap malamnya. Ia yang berusaha memejamkan matanya kembali, namun tak bisa. Akhirnya ia bangun, dan melihat Hans menciumi wajah Arindra.


Lagi-lagi pemandangan biasa itu mengiris hatinya.


"Ya Allah, dia berhak melakukannya. Ia istrinya "


Syara berusaha menguatkan hatinya, dan menghapus air mata. Ia belum rela Hans menyentuh wanita lain, meskipun itu Arindra.


Syara mendekati Hans, kehadiran Syara menghentikan aksi Hans.


"Kak, jangan lampiaskan pada Mbak Arindra"


"Aku bukan orang gila Ra, yang melampiaskan nafsuku pada istriku yang koma. Aku melakukannya karena seminggu ke depan tak bisa berada di sampingnya"


"Hah, kakak mau pergi, ke mana?"


Syara malu karena telah salah paham pada suami tampannya itu.


"Ke Jepang, besok berangkat. Oh ya, besok juga Mbak Arindra akan dipindahkan ke rumah sakit"


"Lho kenapa, bukannya jadwal lahirannya masih dua minggu lagi?"


"Lebih cepat lebih baik, untuk persiapan melahirkan sekaligus kontrol perawatannya lebih mudah"


"Jadi aku akan sering ke rumah sakit kalau begitu"


"Seminggu ke depan kau juga tidak ke rumah sakit, ikut denganku ke Jepang"


"Benarkah, Mbak Arindra bagaimana, Hana juga sedang ke luar negeri?"


"Sudah ada dokter Dea dan team. Kau tenang saja, Insyaa allah setiap hari aku akan kontrol lewat Vidio Call lewat Suster Hani"


Syara bahagia, setidaknya Hans meski marah ia masih mengajaknya pergi bersama. Lalu ia berjalan mendekati Hans dan memeluknya. Hans terdiam tak seperti biasa ia senang dan membalas pelukan itu, kini dia hanya diam saja.


"Maafkan Syara Kak, maafkan tolong jangan marah. Hati Syara sesak melihat kakak pergi ninggalin Syara dengan wajah menyeramkan begitu"


"Sudahlah, lupakan. Maaf, tak bisa menutupi rasa kecewaku padamu. Entah sampai kapan kau terus menolakku Ra. Maaf jika, aku membuatmu kecewa"


"Maafkan Syara kak, Syara janji jika sudah siap. Syara yang akan mempersiapkan malam terbaik buat Kakak"


"Sudah, jangan memberi harapan lagi Ra. Jujur aku sudah mulai menyerah dengan sikapmu yang terus menolakku. Aku laki-laki normal yang tak tahan jika hanya sekedar tidur, dengan wanita apalagi berstatus istri. Harusnya kau paham itu Ra"


Hans melepaskan pelukan Syara, dan berjalan ke kasur. Ia merebahkan dirinya dengan posisi berbaring memunggungi Syara, berusaha memejamkan matanya. Syara maklum akan sikap suaminya itu, dan sedih melihat wajah frustasi Hans. Ia sadar akan kesalahannya, namun ia juga belum bisa menghempaskan perasaan ragu di hatinya.


Syara ikut tidur di sisi ranjang, memeluk erat punggung suaminya dan berkata maaf untuk kesekian kalinya. Mereka berdua mencoba terlelap dalam tidur dengan perasaan masing-masing.


############


Alhamdulillah Chapter 40 done.


❤❤❤❤❤