
Berbeda dengan Hans yang terlelap dalam tidurnya, Syara masih terdiam di dalam kamarnya, ia merasakan lapar karena sejak siang ia tak lagi makan apapun. Ia ingin menahannya, namun tak kuasa. Akhirnya ia melangkah ke lantai bawah, mencari-cari dapur.
"Nyari apa Ra"
"dr. Dea?"
Syara melihat dr Dea yang sedang duduk di meja makan.
"Dokter tinggal di sini?"
"Tidak, hanya malam ini saja baru menginap. Soalnya dr. Hana pulang, dan kamu masih lelah. Jadi aku diminta menginap di sini, kamu mau ngapain?"
"Oh aku lapar dr, sejak tadi siang belum makan"
"Itu dapurnya, aku kembali ke kamar"
"Iya, terima kasih dr"
dr Dea kembali ke kamar, sedang Syara membuka kulkas, ia sangat lapar sehingga ia mengambil telur, dan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Tak berapa lama nasi goreng siap, ia meletakkan makanannya di atas piring, segelas jus jeruk hangat mendampinginya.
"Kamu masak?"
Hans yang tiba-tiba muncul dengan wajah dinginnya duduk dan minum di hadapan Syara.
"Iya, maaf"
"Untuk apa"
"Karena menggunakan dapur tanpa ijinmu"
"Hahaa lucu sekali, kau istriku. Bebas melakukan apapun di rumah ini"
"Istri?"
"Sorry, apa makananmu masih ada?"
"Hanya ini"
Hans menganggukkan kepala, lalu ia menuju kulkas mengambil beberapa roti dan selai lalu membawanya duduk di meja makan.
"Aku lapar, makanya terbangun. Maaf tadi rak mengajakmu makan"
"Tak apa, sekarang aku sudah kenyang"
"Oh ya, sekalian aku akan membicarakan ini padamu?"
"Apa?"
"Kau tak perlu canggung atau malu, kau tetaplah menjadi Syara seperti sebelum ada ikatan pernikahan diantara kita, meski kita tak banyak bicara tapi setidaknya kau tak canggung padaku. Tetaplah menjadi sahabat adikku, ia sangat sedih melihatmu menjauhinya dan tak bicara padanya.
Kau bebas melakukan apapun di rumah ini, tugasmu sama seperti dulu, menjadi dr jaga bagi Mbak Arindra bersama Hana. Gajimu akan tetap di transfer, nafkah lahir dariku akan aku berikan. Anggap sebagai imbal jasaku selama kau menjadi istriku, seperti kesepakan kita sebelumnya, kau dan aku tak perlu saling melayani satu sama lain.
Aku takkan mencampuri urusanmu begitu juga dirimu. Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak ada"
"Bagus, kalau begitu lanjutkan makanmu"
Mereka melanjutkan makan dalam diam, hingga Syara selesai duluan dan permisi naik ke kamar. Sedangkan Hans, setelah mengisi perutnya ia duduk ke arah taman. Menghidupkan ro*** dan menikmatinya, Hans sebenarnya bukan seorang pero***, namun setelah kejadian Arindra ia menjadi pero***.
#######
Pagi hari, Hana sudah sampai di rumah kakaknya. Ia melihat sekeliling masih sepi, dan melihat kakaknya yang duduk di bangku dekat kolam renang.
"Kenapa lama sekali datangnya?"
Ucap Hans pada adiknya itu
"Ini masih jam setengah enam kak, ngapain juga sih nyuruh orang dateng pagi-pagi. Kalo Mbak Arindra kan ada dr. Dea dan suster"
"dr. Dea sudah pergi dari tadi"
"Pagi sekali, memangnya kemana dia"
"Ada urusan di rumah sakit, cepat obati wajah tampan kakak ini"
"Hah, bukannya ada istri, buat apa punya istri kak kalau begini saja minta aku pagi-pagi dateng ke sini. Biar aku panggil Syara saja?"
"Berani kau panggil Syara, besok kunikahkan kau dengan Aldo"
"Idih pake ngancem-ngancem segala. Lagian kenapa sih orang udah sah juga pake pisah kamar segala"
"Sudah diem bawel"
Hana mulai mengobati wajah kakaknya yang masih terlihat bengkak, dan membebat luka di tangannya.
"Kapan aku punya ponakan kalo kalian tidur terpisah"
Ucap Hana di sela-sela pengobatannya.
"Auu sakit Han, jangan keras-keras nekannya"
"Aih kakak aja enggak bisa nahan sakit"
"Ini sudah nahan Hana"
"Kak"
"Hemm"
"Kak, Afdan ternyata ganteng juga ya"
"Kenapa?"
"Jangan keganjenan sampai kapanpun kakak enggak restuin kalo kamu sama dia"
"Hah, Hana enggak diminta dinikahin Afdan kak, memang kakak mau Syara diambil Afdan"
"Sudah kakak bilang jangan sebut"
"Kenapa, cemburu"
Hana tersenyum melihat ekpresi kesal kakaknya itu.
"Jangan ngaco kamu, dia enggak selevel sama kakak"
"Yakin, buktinya Syara lebih cinta dia dari pada kakak"
"Dianya aja yang be**, kenapa juga suka sama cowok sok alim"
"Dia memang alim kak, hafidz qur'an lho"
"Fokus aja ngobati kakak"
"Haahahaa bilang aja cemburu, susah banget sih"
"Itu mulut kakak kasih aldo nanti biar tau ras"
"Kasihan kak aldo di bawa-bawa, makannya kesedak nanti lho"
"Udah belum ini ngobatinnya"
Kesal Hans yang selalu digoda adiknya ini.
"Sudah kalo wajah ma tangan"
"Sekarang punggung"
"Lho emang kenapa punggungnya"
Hans membuka bajunya, terlihatlah bekas lebam-lebam kebiruan di area punggung atasnya.
"Ya Allah Kak, kenapa enggak bilang sih dari kemarin, ini lebam-lebam banget ini, semalem bisa tidur enggak"
"Bisa, minum obat pereda nyeri yang kamu kasih"
"Ini kok bisa sih sampe pungung-punggung"
"Emang kamu enggak lihat kemarin"
"Enggak soalnya pas Syara lari ke tengah antara kalian, aku pejemin mata enggak berani lihat apa yang terjadi, tau-tau kakak ambruk jatoh di tanah"
"Si brengsek itu kalap, enggak liat-liat di depannya siapa mau maen tonjok aja. Jadinya kakak yang jadi tameng biar sahabat kamu itu enggak kena pukul"
Hana senyum-senyum mendengar cerita Kakaknya itu.
"Cie, udah ada rasa ternyata"
"Rasa apa, mangga jeruk apel atau stroberi"
"Rasa hatimu padanya hahaa"
"Ngaco aja kamu, sudah kakak mau ke kantor"
"Enggak bolek ke kantor kak"
"Wajah kakak masih jelek gitu, nanti orang kantor pada takut dikira ada alien turun ke bumi😆"
"Adanya mereka terpesona, aliennya tampan dan gagah"
"Beh pede banget, enggak boleh ke kantor. Inget aku ini dr. kakak sebelum digantiin oleh Syara, kalo sampe nekad telpon Daddy sama Mommy nih"
"Iya-iya bawel banget jadi orang"
Hans memakai kaosnya kembali, dan pergi menuju kamarnya. Sedangkan Syara terlihat menangis disisi yang lain, mendengarkan percakapan adik dan kakak itu.
"Kak Hans, terima kasih"
Ucapnya dalam hati, karena Hans memang sejak SMA banyak membantunya tanpa sepengetahuan Hana.
"Seandainya kau bukan pria yang tega berbuat keji maka dengan mudah aku jatuh cinta padamu kak"
Lanjut Syara dalam hati. Syara masih teringat, ketika ia sekolah, diganggu oleh preman yang memalaknya, Hans datang menolongnya. Beberapa kali juga ia ditolong, saat kesulitan keuangan, dan sulit mendapatkan tempat magang. Syara yang beberapa kali sempat jatuh sakit, Hans dan Hana yang datang menungguinya.
Syara kemudian tak menyukai Hans, saat melihat kondisi sepupunya terluka parah kemudian meninggal dunia akibat di bully oleh teman-teman Hans, yang Syara ketahui Hans lah ketua gengnya. Ditambah kasus Mbak Arindra yang membuat Syara semakin tak menyukai Hans.
###########
Alhamdulillah chapter 25 kelar juga.
like
komen
vote
follow lesta lestari
share and poin ditunggu ya readersku❤❤❤❤😍