ARINDRA

ARINDRA
Chaptee 56



Hans yang sudah kembali ke kantor setelah sebulan lamanya meninggalkan pekerjaannya itu. Pagi hari ia membawa pulang Syara ke rumah, hubungannya dengan Syara juga sudah harmonis, dan sudah menempati rumah mereka kembali.


Hans berjalan menuju ruangannya, ia melihat Aldo yang tersenyum senang melihat bosnya datang. Ia menyambut bermaksud ingin memeluk, namun belum sampai tangannya menggapai tubuh bossnya.


"Bukk....Bukk..."


Dua kali pukulan Hans mendarat di wajah tampan Aldo, membuat ia mengeluarkan darah dari bibir dan hidungnya. Citra dan seorang wanita yang ada di belakang Aldo terdiam, mereka berbalik tak mau melihat apa yang terjadi antara dua pria yang berkuasa di perusahaan itu.


"Brengsek, sejak kapan loe jadi pengkhianat bodoh"


Ucap Hans menendang bokong Aldo, yang membuat Aldo kembali terjengkang.


"Gue kecewa sama loe brengsek, kenapa loe harus khianatin gue"


"Pukul, pukul gue kalo belum puas. Asal loe tau, loe sahabat gue, loe bukan cuma sekedar bos gue. Gue pengen yang terbaik buat loe, gue tau gue salah. Tapi apakah gue salah, jika ingin ngeliat loe bahagia"


Aldo bangkit, dan menyiapkan dirinya kembali untuk dipukul.


"Jangan sok tau loe, loe enggak tau betapa penting meski kecil sekalipun informasi tentang Arindra buat gue. Loe, dengan bodohnya mengambil keputusan sepihak tanpa loe tanya gue dulu"


"Gue tau mungkin gue egois dan salah di mata loe, tapi bagi gue apapun hasilnya Arindra udah tiada. Ada orang yang berhak loe buat bahagia, lihat setelah loe tau kejadiannya. Loe kembali terpuruk, sebulan loe hilang gara-gara loe tau kebenaran tentang kematian Arindra. Gue salah, gue salah yang mengharapkan loe bahagia. Salah gue?"


Ucap Aldo berapi-api, kemudian pergi meninggalkan Hans yang terdiam mencerna ucapan sahabatnya itu. Hans berbalik masuk ruangannya, duduk termenung di sana.


"Arindra, banyak orang mengatakan kau sudah tiada, bahkan aku juga rutin datang ke makammu setiap akhir pekan, tapi mengapa hati kecilku mengatakan kau masih hidup.


Ya Allah, berikanlah petunjukMu, jika Arindra benar yang ada di makam itu, maka biarkan hati ini ikhlas melepasnya, namun jika ia berada di tempat lain, jika hidup maka pertemukanlah aku dengannya, jika dia benar sudah tiada, tunjukkanlah di mana makam dia yang sebenarnya"


Hans memandang foto Arindra, yang masih terbaring koma, diambilnya sehari sebelum keberangkatannya ke Jepang. Ia membelai foto itu,


"Mengapa kau begitu mengusik hatiku, mengapa rasanya sakit hati ini saat kau tinggalkan. Kau tak pernah berkata apapun padaku, tapi mengapa kau mampu membuat hatiku begini?"


Hans mencium foto itu, dan kemudian membawanya dalam pelukan, ia memejamkan mata ingin merasakan kehadiran Arindra dalam mimpinya. Namun tak lama saat ia memejamkam mata, pintu ruangannya diketuk.


Aldo muncul dengan bengkak di wajahnya, dan luka yang sudah diobati di bibirnya.


"Masih mau marah loe sama gue?"


Aldo duduk di sofa, dan melihat Hans yang terduduk lesu.


"Masih kurang jatah apa kelebihan jatah loe sampe lesu begitu, atau tenaga loe habis gara-gara mukul gue segitu doang?"


Ucap Aldo yang meledek Hans, yang diledek membuka laptopnya dan memulai memeriksa email perusahaan.


"Ini laporan dari perusahaan Adam, pembanguan property sudah masuk tahap 60 persen. Artinya sebentar lagi, kita harus setor dana projek full ke mereka, gue juga kemarin sudah ninjau lokasi pembangunan. Sejauh ini pembangunan sesaui dengan harapan, dan bahkan mereka sudah launching iklan untuk pemasaran ke beberapa negara tetangga dan Asia Timur, sejauh ini respon cukup bagus"


"Tidak ada kendala lainnya"


Ucap Hans dingin, dan fokus memeriksa laporan yang diserahkan oleh Aldo.


"Sejauh ini aman boss, oh ya maaf kalo gue angkat seorang asisten. Terpaksa gue lakuin, soalnya gue kewalahan enggak ada loe sebulan ini"


"Tidak masalah"


Lagi Hans hanya menjawab singkat, membuat Aldo memegang dadanya.


"Sabar-sabar, ni boss lagi enggak dapet jatah"


Tak lama seseorang masuk, dia menghadap Hans dengan tertunduk.


Hans melirik sekilas lalu tangannya bergerak tanda mengusir keduanya. Aldo paham, lalu keduanya berpamitan pada Hans.


Hari itu, Hans disibukkan oleh dokumen-dokumen perusahaan, hingga ia merasakan perih pada perutnya. Ia melirik jam, sudah menunjukkan pukul lima, lalu kemudian membereskan dokumen-dokumen perusahaan lalu beranjak keluar menuju kafe langgangannya.


Dilain tempat, Arindra yang sudah bangun pukul empat sore. Setelah menunaikan kewajibannya pada sang khaliq. Ia menuju ke semua kafe dekat dengan apartemen, karena ia merasa lapar sejak pagi dia hanya menganjalnya dengan roti.


Ia datang kondisi kafe tak cukup ramai, ia memilih duduk di bangku pojok kafe itu.


Ia memesan salad buah, campur sayur, sepotong roti, dan orange jus. Sambil menunggu pesanan datang, ia mencoret-coret buku saku dan menuliskan kata-kata di sana.


Makanan datang, Arindra menyantap hidangan itu. Ia tak peduli orang-orang melihatnya, ia menyantap makanan di depannya setelah doa. Ia sudah sangat lapar.


Salad buah habis, ia menuju menu ke dua. Sepotong roti isi dengan ukuran cukup sedang habis dilahapnya. Tinggal menyisakan orange jus yang masih utuh.


Disaat itu, seorang laki-laki datang menjadi pusat perhatian para karyawan dan wanita di sana. Laki-laki berjas, rapi berkaca mata hitam datang duduk tak jauh dari Arindra dengan posisi berhadapan namun belum saling melihat. Arindra masih disibukkan dengan note-note yang dia buat, sambil sesekali minum orange jusnya. Sedangkan laki-laki itu sibuk dengan hanphone dan menu makanan yang dipilihnya.


Setelah selesai menghabiskan orange jus, dan note-notenya. Ia memanggil pelayan, segera membayar dan melangkah pergi. Laki-laki itu menoleh melihat Arindra, berjalan melewatinya. Sesaat ia termenung mengingat-ingat wajah wanita yang tak asing menurutnya. Cukup lama ia mengingat hingga makanan pesanannya datang.


"Arindra"


Pekiknya kemudian berlari keluar mengejar wanita yang melewatinya tadi. Ia berlari mencari ke arah parkir mobil, ke depan hingga ke jalanan.


"Arindra...Arindra "


Panggilnya berulang-ulang, hingga banyak orang yang melihatnya. Laki-laki yang tak lain adalah Hans itu terus berlari, namun sosok Arindra tak lagi terlihat.


"Apakah benar ia Arindra, benarkah Arindra masih hidup seperti suara hatiku selama ini. Ya Allah, jika benar dia Arindra, maka pertemukanlah aku dengannya?"


Lalu kemudian ia teringat sesuatu, segera ia berlari ke arah kafe dan mencari manager kafe.


"Anda memanggil saya Tuan?"


Ucap seorang laki-laki muda di depan Hans.


"Aku ingin melihat CCTV kafe, saat ini apakah bisa"


"Maaf Tuan, kami tidak bisa memberikannya"


"Kau yakin tidak bisa"


"Kami hanya menghargai privasi pelanggan kami Tuan"


"Baiklah, tunggu di sini"


Hans menelpon Aldo untuk meminta nomor pemilik Kafe itu. Tak lama, ia sudah terhubung dengan pemilik kafe. Lalu pemilik berbicara pada manager. Hans yang sudah tak sabar, segera menuju ruang CCTV diikuti oleh manager sebagai penunjuk jalan meski ada di belakangnya.


############


Alhamdulillah chapter 56 done


Hans ma Arindra ketemu ya, meski belum amprokan 😁😁😁


Sabarlah ya, prosesnya gitu dulu...


Like komen, vote, share,poin, follow Lesta Lestari hayyuklah....❤❤❤❤❤❤