
Jarum jam terus berputar, sejak satu hari kedatangannya Syara di rumah Hans, hanya hari itu ia berbicara dengan suaminya. Hans benar-benar menghindarinya, jangankan sarapan bersama, bertemupun sudah tidak dilakukan sejak tiga bulan terakhir.
Hans di beberapa kesempatan masih bercerita tentang apa yang dilakukannya pada Arindra di pagi hari sebelum berangkat, namun kemudian kebiasaan itu ia lakukan saat larut malam setelah ia pulang.
Hans benar-benar menghindari Syara, ia tidak ingin hatinya goyah. Berangkat pagi ke kantor, dan pulang larut malam, itulah yang Hans lakukan. Hans memerintahkan suster Hani yang menjaga Arindra hingga ia datang. Hari libur pun ia tak di rumah, berkeliaran di luar untuk menghabiskan waktu atau menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan.
Tak jarang, ia sengaja keluar kota untuk mengadakan pertemuan dengan beberapa kantor cabang. Hal yang tak biasanya Hans lakukan, membuat Hana uring-uringan.
Syara yang tadinya ingin peduli, berubah belajar menjadi tak peduli. Namun nasehat-nasehat pernikahan yang di dengar mengusik hatinya, ia bimbang antara bertahan sampai tiba waktunya, atau berusaha mencintai suaminya dan mempertahankan rumah tangganya.
Saat di rumah sakit, Ia sering mendengar curhatan Hans pada Arindra, dan bahkan beberapa hari setelah kedatangannya. Setidaknya ia tahu, apa saja yang dilakukan suaminya itu diluaran sana. Namun kini suaranya saja sudah tak terdengar olehnya.
"Umiii, Syara tak tahan lagi"
Ucap Syara sambil terisak malam ini, di kamar Arindra. Kebetulan malam ini, Suster Hani sedang pergi menemui anaknya yang juga sedang sakit. Sehingga ia ijin tak bisa menemani Syara.
"Rasanya sakit sekali Ya Allah, beginikah rasanya rumah tangga"
Syara meremas dadanya menunjukkan kesakitannya di pinggir ranjang Arindra.
"Mbak Arin, cepatlah bangun lihat dan rasakanlah Mbak, anak Mbak tumbuh di sini. Ia butuh sosok Mbak, bukan aku yang statusnya hanya pengganti. Mbak, aku mohon bangunlah, bangunnnnn....."
Syara mengoyang-goyangkan tangan Arindra, berharap tangan itu bergerak dengan sendirinya.
"Lihat Mbak, perut Mbak sudah membuncit. Anak ini tumbuh dengan baik, tidakkah Mbak ingin merasakannya. Mbak, sungguh aku tidak kuat jika terus begini, salahku apa mbak, hingga aku harus terjebak di pernikahan seperti ini"
Tangisan Syara makin pilu terdengar,
"Bangun Mbak, beri aku keputusan. Jangan membuatku bimbang seperti ini, aku harus meletakkan diriku seperti apa, bagaimana?. Di sisi lain aku seakan menjadi istri durhaka yang tak mau menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, di sisi lain aku harus menerima kenyataan jika pernikahanku hanya penutup aib suamimu.
Aku sakit, sakit sekali di sini. Aku ingin memiliki pernikahan impianku. Hidup bersama laki-laki yang mencintaiku, menjadi imamku menuntunku menjadi lebih baik. Mbak, sudah lima bulan mbak terbaring, tidak bosankah dirimu. Tidak inginkah kau melihat dunia indah ini.
Bukankah kau wanita kuat, ayo berjuanglah bangun. Beri aku kesempatan, untuk menjadi wanita bersuami sesungguhnya, merasakan indahnya rumah tangga dengan lelaki yang mencintaiku dan akupun mencintainya. Banguuuun Mbak, banguuuun"
Hans duduk lemas di balik pintu, mendengar rintihan, keluhan dan tangisan pilu seorang Syara. Selama ini yang ia tahu, Syara yang sangat dewasa, tegar dan sabar tak menyangka juga serapuh dirinya.
Malam itu dua insan terhanyut dengan perasaan masing-masing. Hans termenung dan menunggu, hingga suara isak tangis itu mereda dan hilang. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, artinya sudah dua jam ia terduduk bersimpuh di lantai yang dingin.
Hans bangkit, dan melihat ke dalam. Dilihat Syara tertidur lelah setelah menangis dengan posisi duduk dengan tangan menumpu kepala sebagi alas. Masih terlihat sisa-sisa air mata di pipi putihnya. Hans meletakkan jas, melepaskan dasi dan melepas sepatunya. Masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Selesai berpakaian, Hans keluar dan masih melihat Syara terlelap di sana. Hans kemudian mengangkat tubuh itu membawanya ke dalam kamar. Dibaringkan, dan diselimuti, ia menatap wajah itu. Tangannya tanpa sadar terulur membelai pipi istri yang dihindarinya ini.
Membersihkan sisa-sisa air mata, kemudian mengecup keningnya.
"Maaf, maafkan aku"
Ucapnya lirih, sorot mata memindai wajah cantik istri ke duanya itu.
"Kau selalu terlihat cantik"
Gumamnya sambil membelai pipi istrinya. Lagi dikecupnya kening Syara cukup lama.
"Eauhh"
Lenguhan dan gerakan Syara menyadarkannya, bibirnya tersungging senyum.
"Selamat tidur istriku"
Lirihnya dan bangkit menuju kamar Arindra.
Ia juga melakukan hal sama, mencium kening, pipi dan perut istrinya yang masih setia dengan tidur lelapnya. Lalu ia baringkan tubuh di kasur untuk melepas lelah.
########
"Apakah semalam aku bermimpi, Kak Hans mengecup keningku, berkata maaf dan menyebutku cantik?"
Syara mencoba mengingat-ingat, namun ia hanya ingat tertidur lelap setelah tangisannya.
"Jika benar mimpi, mengapa seperti sangat nyata, mengapa aku senang ahh ada apa denganku ini"
Syara segera bangkit, untuk mandi dan menunaikan tugasnya sebagai Hamba Langit. Meski masih mengantuk, ia tak membiasakan tidur pagi hari dan menuju dapur untuk membuat jahe hangat untuknya, membuat sarapan jika ia mau atau lari-lari mengelilingi taman rumah. Adalah aktifitas yang ia lakukan selama di sini sebelum melakukan tugas utama menjaga dan merawat Arindra.
Pukul tujuh ia sudah selesai seperti biasa, ia menuju kamar Arindra untuk mengecek dan memandikan Mbak Arindra. Yang ia tahu, Hans sudah berangkat, hingga tanpa mengetuk pintu Syara masuk ke kamar itu.
Namun ia terdiam sejenak, saat melihat Hans masih berada di kasurnya dengan bertelanjang dada.
"Tumben, biasanya sudah pergi"
Gumamnya dalam hati.
"Bangunin enggak, bangunin enggak?"
Syara bingung, hingga kemudian ia memutuskan keluar kamar dan menelpon Hana.
"Assalamualaikum Han"
"Walaikumsalam kakak ipar, ada kabar baikkah?"
"Kamu kesini enggak, suster Hani sedang ijin mungkin tiga hari baru kembali"
"Oh, aku enggak bisa kak, maaf. Di rumah sakit lagi sibuk-sibuknya. Nanti malem deh insyaa allah aku temenin. Apa Kak Hans masih sering pulang larut?"
"Iya"
"Insya allah ba'da isya aku dateng, minep sekalian curcol dah lama kita enggak curhat-curhat"
"Ya sudah, aku tunggu ya"
"Oke kakakku yang cantik, cepet kasih aku ponakan ya hehee"
"Assalamualaikum Han"
"Walaikumsalam Wr. Wb"
Ucap Hana di sebrang sana kemudian langsung dimatikan oleh Syara. Syara akhirnya meminta bantuan Mbok di dapur untuk membangunkan Hans. Karena tidak biasanya ia belum bangun ketika waktu sudah menunjukkan jam sarapan pagi.
Si Mbok Nah naik ke atas, mencoba membangunkan Tuan mudanya itu. Namun berulang kali ia bangunkan Hans tetap tak bergeming.
"Ya Allah Non"
Teriak Mbok Nah dari dalam sesaat setelah memengang tangan Hans. Syara yang masih di balik pintu pun masuk ke dalam.
"Kenapa Mbok?"
#########
***Alhamdulillah chapter 28 kelar juga...
hemmm
vote like komen, share poin apalagi ya....
tinggalkan jejakmu ya readers cintakuh❤❤❤❤❤***