
Shania membuka galeri foto di hapenya, menunjukkan pada Arindra. Arindra melihat foto-foto itu, tersenyum dan kemudian menangis dengan sendirinya saat melihat wajah Ayah dan Ibunya.
Meski ia tak ingat apapun tentang ke dua orang tuanya, tapi melihat foto mereka, muncul kerinduan dan penyesalan di dadanya yang teramat sangat secara tiba-tiba.
"*Ya Allah, ampuni aku yang tak ingat apapun tentang ke dua orang tuaku, maafkan Tiara Bu, Ayah, maafkan Tiara bukan maksud hati melupakan kalian. Tapi sungguh Tiara tak ingat sedikitpun tentang kalian.
Jika Tiara bisa mengulang waktu kembali, maka saat ini Tiara ingin mencium ke dua kaki kalian dan membasuhnya. Meminta maaf atas semua kesalahan Tiara.
Ya Allah berikan tempat terbaik bagi kedua orang tuaku di sisiMu, jadikanlah mereka ahli surgaMu, pertemukanlah kami kelak di sisiMu dengan senyum kebahagiaan. Aamiin ya robbal alami*"
Arindra membelai wajah ke duanya, dan kemudian membawanya ke dalam pelukan. Shania yang melihat itu, menangis haru, Kakaknya kembali meski tak mengingatnya sama sekali.
"Ceritakan, ceritakan semua tentang Kakak Nia, tentang Ayah, Ibu dan kamu"
Pinta Arindra melihat adiknya yang menangis.
Shania menyeka air matanya, kemudian menyandarkan kepala di pundak Arindra.
"Saat Kakak tanpa kabar, kondis Ibu jadi drop, Ibu sudah sakit-sakitan karena penyakit struk yang dideritanya. Ayah terus mencari Kakak, dan melaporkan Kakak ke pihak kepolisian. Namun tak pernah ada kabar, Ayah sampai menginap di kantor polisi beberapa hari, berharap segera ada kabar dari Kakak.
Dua minggu setelah Kakak tanpa kabar, datanglah seseorang yang bernama Jhon ke rumah. Mereka bilang Kakak ada di rumah sakit dan mengalami koma. Ayah mendengar itu bahagia karena ada kabar tentang Kakak dan ingin datang ke sana melihatnya.
Namun Jhon tak memberitahukan di mana rumah sakit yang merawat Kakak. Ayah boleh melihat Kakak, jika Ayah mencabut laporannya pada pihak kepolisian. Ayah menolak setelah mendengar jika Kakak ternyata menurut Jhon tidak sengaja ditabrak oleh Kak Hans.
Berkali-kali Jhon datang, tapi Ayah selalu kekeh pada keputusannya. Tapi hari itu entah mengapa, Ayah ikut dengan Jhon. Dua hari kemudian kami tak menyangka dikirimi mayat yang sudah diikat kain kafan dari pihak rumah sakit. Aku melihat Jhon di sana, mengatakan jika itu adalah mayat Kakak.
Kami semua yang mendengar itu shock, dan proses pemakaman dilakukan oleh warga. Jhon memberikan sejumlah uang pada Ayah, setelah proses pemakaman selesai, namun Ayah tak menerimanya.
Ibu sejak itu sering meratapi kematian Kakak yang tragis menurutnya, Ia selalu memeluk foto Kakak, dan terus menangis. Melihat itu Ayah kemudian membakar habis foto-foto, dan barang-barang milik Kakak karena tak tahan melihat Ibu yang terus meratap.
(Arindra menangis terisak mendengar itu)
Dan dua hari kemudian sejak Ayah membakar habis semua kenangan tentang Kakak, Ibu meninggal dunia. Kondisi kami semakin terpuruk apalagi Ayah, Ayah sering melamun hingga dua atau tiga bulan kemudian Ayah bilang padaku tentang Kakak.
Bahwa Kakak tak sengaja ditabrak oleh Hans putra Wijaya group dan kemudian koma. Ayah menikahkan Kakak secara siri dengan Hans karena menurut Jhon saat itu kakak sedang hamil. Ayah tak percaya awalnya, tapi setelah mendengar keterangan dokter Dea, ia mempercayainya.
Ayah sangat kecewa pada Kakak yang bisa hamil di luar nikah, demi menutupi aib itu Jhon mengatakan Tuan Hans mau bertanggungjawab atas perawatan dan bayi yang ada dikandungan Kakak dengan syarat Ayah mencabut laporannya di kepolisian.
Makanya Ayah bersedia menikahkan kakak dan meminta mereka menepati janji jika akan memberikan perawatan terbaik untuk Kakak dan bayi di kandungan Kakak. Setelah menceritakan itu, Ayah sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia"
Shania menangis sesegukan bersama Arindra.
"Aldo datang setiap bulan ke rumah, dan memberikan uang meski selalu ditolak Ayah tapi dia tetap datang. Sejak itulah Shania kenal Aldo, dan ketika Aldo menawarkan pekerjaan sebagai asistennya, Shania menerimanya karena Nia saat itu sudah sendirian Kak.
Jadi sebenarnya, apa yang terjadi dengan Kakak, kenapa Kak Jack bilang Kak Hans yang memperkosa dan mencoba membunuh Kakak, sedangkan dilihat sikapnya saat ini dengan Kakak sungguh bertolak belakang?"
"Kakak tidak tahu Shania, kenapa dan bagaimana kejadian sebenarnya. Yang Kakak ingat saat itu, Kakak ada di sebuah hotel. Kakak lupa untuk apa Kakak ada di sana dan untuk urusan apa.
Saat Kakak keluar kamar hotel, dan baru berjalan beberapa langkah di lorong tak sengaja Kakak menabrak seorang laki-laki dan menumpahkan kopi di bajunya. Laki-laki itu sangat marah dan menyeret Kakak masuk kamar hotel yang Kakak tempati"
Arindra menarik nafas dalam, memejamkan mata sebelum memulai ceritanya kembali.
"Saat itulah kakak diperkosa dengan brutal oleh laki-laki yang kakak baru tahu bernama Hans"
Shania memeluk Kakaknya erat, perasaannya campur aduk mendengar fakta yang berbeda dengan apa yang Ia dengar selama ini tentang kakaknya.
"Kakak dibenturkan kepalanya di tembok, Ia tak menghentikannya meski Kakak berteriak kesakitan, bahkan ia makin brutal dengan memperkosa kakak dan memberi pukulan-pukulan pada tubuh kakak.
Setelah puas dia pergi begitu saja, Kakak yang shock, kemudian bangun. Kakak berlari ketakutan dan tak tentu arah hingga tak sadar menyebrang jalan. Entah sengaja atau tidak, pemilik mobil itu panik dan turun melihat Kakak. Sebelum Kakak memejamkan mata, Kakak melihat wajah yang sama dengan orang yang mengambil kehormatan kakak dengan paksa"
"Jadi selama ini mereka berbohong padaku kak, bohong pada Ayah dan Ibu. Mereka penyebab tak langsung Ayah dan Ibu tiada Kak. Mereka harus bertanggungjawab atas perbuatan mereka. Nia akan membuat perhitungan pada mereka, membantu Kakak membalas apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita"
Arindra mengusap air mata dan merapikan rambut adiknya itu.
"Semua sudah garisan Allah, semua takkan terjadi jika bukan karena ijinNYA, tak perlu menaruh dendam dan kebencian di sini"
Arindra menunjuk dada Shania dengan lembut. Arindra sudah menerima takdir akan dirinya, dan tidak ingin meratapi itu.
"Kakak datang bukan untuk balas dendam atau membuat perhitungan pada mereka. Kakak datang mencoba untuk membuat mereka sadar atas perbuatan kejam mereka. Tak hanya pada kita, tapi juga pada orang-orang yang tidak bersalah lainnya"
Arindra tersenyum menatap adiknya itu.
"Kakak melakukannya dengan cara elegan, tanpa harus melanggar hukum ataupun mengotori tangan Kakak dengan darah"
"Tapi mereka harus tetap di hukum, Shania tidak rela jika mereka bebas berkeliaran begitu saja tanpa rasa bersalah sedikitpun"
"Kakak sedang melakukannya, bukankah kau sudah melihat hasilnya hemm"
Shania mengangguk dan tersenyum, kemudian memeluk Arindra erat.
##############
Alhamdulillah chapter 81 done