
Hans berjalan mengendap-endap, diletakkannya tangannya kanan dan kirinya di samping kanan kiri Syara, sedang tubuhya dirapatkan pada punggung Syara.
"Allahu Akbar, kakak ngagetin aja sih. Ini kenapa lagi, lepasin. Aku lagi masak"
"Aku lihat kamu masak"
Hans berbicara dengan santainya, ia menjulurkan kepalanya melihat apa yang sedang dimasak istrinya itu. Jelas saja mudah, Syara dan Hans tingginya jauh berbeda. Tinggi Syara hanya sebatas dada Hans.
Syara yang diperlakukan seperti itu risih, apalagi detak jantungnya yang sudah tak terkendali. Hidungnya sudah membaui wangi tubuh laki-laki yang menganggunya ini. Membuatnya tak lagi konsentrasi.
"Kak, lepaskan. Dari kemarin suka banget sih ganggu"
Syara berusaha mendorong tubuh laki-laki besar itu dengan punggungnya, namun Hans malah melingkarkan ke dua tangannya di perut.
"Kak, masakan aku gosong nanti"
"Aku enggak ganggu kok, lanjutin aja"
Bisik Hans berusaha santai, ia juga menyadari detak jantungnya sudah berjoget-joget ria di sana.
"Enggak nyaman kayak gini, aku injek lagi baru tau rasa lho"
"Coba aja kalo berani, aku akan menghukummu"
Hans makin mengeratkan pelukannya, ia membalik tubuh kecil Syara untuk menghadapnya. Menatap manik mata sang istri yang telah membuatnya jatuh cinta untuk ke dua kalinya. Tangan kanan mematikan ke dua kompor tanpa mengalihkan pandangannya. Tangan kiri mengeratkan pelukan.
Syara terdiam, berusaha memberontakpun percuma, kalah tenaga bro. Tangan kanan Hans membenamkan kepala Syara di dadanya, namun Syara memalingkan wajah hingga pipinya saja yang menempel di dada.
"Kita mulai dari awal Ra, aku akan membuatmu jatuh cinta. Aku janji Ra, tolong buka hati kamu buat aku. Kita jalani ini sama-sama ya"
Hans mengecup puncak kepala Syara, terdengar Syara menghela nafas berat.
"Aku enggak bisa Kak, aku..."
Kata-katanya terpotong, karena Hans langsung bersuara.
"Aku akan sabar menunggu sampai kau sendiri bilang, kau mencintaiku. Sampai saat itu tiba, biarkan aku membuktikan jika kau sudah menguasai hatiku Ra, aku berusaha menjadi suami yang seperti impianmu. Tolong Ra, bantu aku, agar layak buat kau cintai dan mendampingimu"
"Kak..."
"Aku tau, tapi ijinkan aku tetap berusaha. Jika kau tak jua jatuh cinta padaku saat itu aku melepaskanmu dengan ikhlas. Tapi biarkan aku berusaha dulu Ra"
"Kak...buburku enggak mateng kalo kayak gini"
Syar mencoba mengalihkan pembicaraan, jujur ia senang akan apa yang dia dengar dari Hans. Namun disisi lain ia masih sangat ragu, apalagi ia belum mendapatkan kepastian apapun tentang hubungan Hans dan Karina, atau Hans dan Arindra. Bagaimanapun ia masih berfikir kemungkinan-kemungkinan Arindra bangun dan tak menerimanya, jelas ia akan menjadi lebih terluka jika ia memupuk cinta untuk Hans.
"Kau ini, suami bicara serius malah makanan"
Hans kesal melepaskan pelukannya dan melihat wajah istrinya itu.
"Hehee abisnya aku lagi pengen banget makan bubur hijau campur ketan hitam, dari kemarin tapi belum sempet masaknya"
"Kenapa enggak minta Mbok Nah yang masak?"
Hans mendudukkan dirinya di bangku dekat dapur, ia duduk sambil memperhatikan istrinya itu menghidupkan kompor kembali.
"Aku pengen masak sendiri"
"Ra..."
"Hemm"
"Ra..."
"Apaan sih Kak"
"Manggil aja, soalnya kamu fokus banget ngaduk-ngaduk santan"
"Biar enggak pecah kak, kakak suka bubur enggak?"
"Enggak"
"Mau coba?"
"Boleh, asal kamu yang masak. Aku bakal coba walaupun enggak suka"
"Duhh pagi-pagi, dah kayak gombal dijemurin"
"Lho kok gitu"
"Iya, jadinya garing hehee"
"Kamu ini, Ra, kapan-kapan kita jalan-jalan yuk"
"Dosa lho nolak suami"
"Jurus baru agaknya nih"
"Beneran Ra, kakak ngajakin kamu jalan-jalan. kamu mau suka negara mana?"
"Aku punya tugas pokok Kak"
"Tugas pokokmu itu menyenangkan suami"
"Mbak Arindra mau taro di mana Kak?"
"Ada Hana, dr Dea, suster Hani. Tenang aja masalah itu bisa di atasi. Kamu mau ya, apa kita perlu ke Italia?"
"Ngapain?"
"Jalan-jalan Ra, sambil nonton bola ke Allianz Stadium, ada Ronaldo di Juventus lho keren banget dah. Siapa tau bisa foto bareng Ronaldo, dan minta tanda tangan di jersey aku hehe, seneng banget pastinya. Dari situ kita bisa ke menara pisa atau colloseum atau besok-besok temenin aku nonton bola ya bentar lagi mulai nih, Juve lawan samdoria seru banget deh, aku fans Juve sejati lho"
Ucap Hans bangga menepuk-nepuk dadanya.
"Aku enggak mau kak"
Syara masih fokus ke masakannya, Hans tak menyerah masih mencoba mengajak bicara istrinya itu.
"Ya udah kita ke Spanyol, lihat Messi main di Barcelona atau lihat Zidan adu taktik sama Ronald Koeman. Bis itu ke istana Al Hambra, atau Masjid Cordoba meski sudah diubah jadi katedral sih, bagaimana?"
Syara melirik suaminya itu, ia agak tertarik dengan jejak Islam di Eropa. Melihat Syara yang mulai tertarik Hans tersenyum.
"Enggak mau juga, ya udah kita ke Prancis negara yang lagi heboh karena jadi negara yang perkembangan islamnya terpesat di Eropa, ke Menara Eiffel dan lihat aksi Kyilan Mpabbe dan Neymar di PSG. Syukur-syukur bisa foto bareng, keren kan, Mpabbe itu pesepakbola muslim lho"
Hans tersenyum melihat istrinya geleng-geleng kepala.
"Ra.."
"Hemm"
"Jawab dong"
"Aku enggak mau kak"
Syara sebenarnya tertarik, namun jalan-jalan hanya berdua dengan Hans rasanya ia susah bernafas.
"Masih enggak mau, kemarin kakak lihat lho di vidio di jalanan Inggris, tuh yang mau antri sholat dan dipinggir-pinggir jalan banyak cewek Inggris rapi banget pada pake jilbab. Anak-anak sekolah kayaknya sih, soalnya masih muda-muda banget. Abis itu kita nonton bola ke stadion Liverpool lihat Muhammad Salah main, dia pemain muslim juga lho dari Mesir. Keren banget dia mainnya, sekalian lihat Pep Guardiola pelatih kepala plontos punya Man City, tuh pelatih gacor abis lho. Keren Banget lah pokoknya, mau ya?"
"Kakak mau ngajakin jalan-jalan apa nonton bola sih"
Syara kesal, karena ujung-ujungnya Hans mengajak nonton bola yang sama sekali ia tak mengerti.
"Ya kan sambil menyelam, minum air Ra. Ibarat pepatah, sekali menyelam dua tiga pulau terlewati gitu"
"Adanya keselek kak, kebanyakan minum air. Apalagi tuh mana ada menyelam biasa bisa ngelewati pulau. Adanya mati duluan kak"
"Kan pribahasa Ra, sekalian gitu. Apa mau jalan-jalan di indonesia aja?"
"Enggak Kak, sekali enggak tetap enggak"
"Ke labuhan Bajo Ra, bagus banget itu tempatnya. Ke Pantai Krui di Pesisir Barat Lampung itu juga bagus pake banget. Masih asri, bebatuan besar-besar masih alami, murah dan gratis lagi. Atau ke Liwa Ra, deket sama Krui tuh bisa sekalian. Lihat negeri di atas awan di Puncak Gerdai, di sana juga dingin banget Ra, sekalian bisa dingin-dingin dan anget-anget. Tenang aja, enggak ngajakin nonton bola kok, soalnya Gajah Lampung belum masuk ke Liga 1 masih Liga 2. Jadi kita bisa fokus buat jalan-jalan aja oke, bagaimana, sekalian proses baby juga ok banget tuh
"Kakak ini ya, makan aja nih buburnya. Awas kalo enggak habis, Syara enggak mau masakin lagi"
Syara meletakkan semangkuk bubur panas, di depan suaminya. Ia kesal dari tadi Hans membahas jalan-jalan tanpa memberinya jeda untuk mengatakan keinginan jalan-jalan ke tempat-tempat yang dia sukai.
Jadi intinya Syara kesel, mau juga dia diajak jaalan-jalan ternyata hehee. Ahha malu-malu meong, auu ahh 😆😆
"Ehhh, aku enggak salah denger Ra, kamu mau masakin aku lagi, wah seneng banget aku dengernya. Boleh-boleh banget, makasih sayang, Istriku yang cantik dan sholehah hehe"
Syara yang tadi cemberut, berubah tersenyum membalikkan tubuhnya agar tak dilihat Hans. Jelas wajahnya bersemu merah saat Hans memujinya.
"Duhh beginikah rasanya dipuji suami, seneng banget. Padahal lagi kesel deuh, Syara sadar, sadar Syara. Hans bukan milikmu"
Syara menepuk-nepuk kepalanya untuk menyadarkan dirinya agar tak larut dalam lingkaran cinta Hans.
########
Alhamdulillah chapter 33 done
kuylah dikoment ya....
love muachhh❤❤❤