ARINDRA

ARINDRA
Chapter 79



Arindra di dapur, mengambil gelas dan minum di bangku dapur. Saat ia minum, ia melirik Hans dan Jack yang menuju arah yang sama, ke dapur jua.


"Ayo mumpung masih pagi, kita ke makan kakaknya Dio dulu" Ucap Jack pada Arindra.


"Kau tak boleh pergi, karena orang yang akan menemui adalah yang sangat penting dalam hidupmu?" Ucap Hans tak mau kalah.


"Fattah kah yang ingin anda pertemukan dengan saya Tuan?"


"Bukan, tapi ini juga orang yang sangat penting dalam hidupmu"


"Jika aku tidak mau?"


"Maka kau takkan pernah tahu identitas aslimu, bukankah itu tujuanmu hingga kau muncul ke publik dan menjadi sorotan"


"Tidak"


Ucap Arindra membuat Hans terkejut.


"Bukankah itu tujuanmu?"


"Tuan Hansel Wijaya yang terhormat, aku Arindra Adam Smith, identitas asli atau bukan, nama itu yang kini aku pegang"


"Kau sama sekali tak ingin mengetahui identitas aslimu?"


"Tidak"


"Beginikah seorang Mutiara Arisha sesungguhnya, hanya karena dendam kau lupakan orang tua dan adikmu"


Ucap Shania yang datang diantara mereka bertiga.


"Orang tua, adik?, Mutiara Arisha?"


Ucap Arindra menatap Shania dengan penuh tanya.


"Iya Kak, kau kakakku. Kak Tiara yang selama ini kami tahu sudah meninggal dunia. Aku adikmu kak, Shania Arisha. Aku tau semua makanan yang kau sukai, makanya aku membuatkan dan membawanya padamu. Apakah kau tidak ingat sama sekali, Ayah, Ibu dan Aku kak?"


Shania tertunduk dan menangis, tangis yang ia coba tahan saat di meja makan.


"Benarkah kau adikku, wajahmu memang tak asing. Tapi mengapa kau mengatakan aku sudah meninggal, apakah kau tidak pernah tau selama ini aku koma ?"


Banyak pertanyaan dalam benak Arindra, kemudian ia langkahkan kaki menghampiri Shania.


"Namamu Shania?"


"Iya Kak, bolehkah aku memelukmu. Sungguh aku merindukan dirimu Kak"


Arindra tersenyum dan melebarkan ke dua tangannya, Shania tersenyum dalam tangis dan segera memeluk kakaknya dengan erat.


"Aku merindukanmu kak, sungguh aku tidak menyangka jika kau masih hidup. Enam bulan ini aku hidup sendirian, aku seperti kehilangan arah tanpa kakak, ayah dan ibu"


Tangis Shania makin deras di pundak Arindra, semua yang melihat itu terharu. Meski Arindra belum mengatakan apa-apa.


"Kak, berjanjilah jangan pergi lagi dan tinggalah bersamaku. Aku janji akan menuruti semua perkataanmu dan tidak nakal lagi. Sungguh aku rindu ocehanmu Kak, tiada yang menasehatiku lagi semenjak kau pergi"


Arindra melepas pelukan Shania, meski Shania enggan. Ia menghapus air mata Shania dengan jari tangannya. Ia tersenyum, dan membawa lengan Shania, menuntunnya berjalan ke sofa. Otomatis para pengawal yang lain ikut jua duduk di sofa. Di mana Jack dan Hans berebut tempat untuk duduk di dekat Arindra. Membuat yan lain terkekeh tertahan melihat tingkah konyol mereka.


"Sekarang ceritakan siapa aku, bagaimana aku dulu, dan mengapa bisa kalian tidak ada bersamaku saat sakitku. Dan aku butuh bukti untuk semua cerita yang kau katakan itu"


"Kenapa?, kakak meragukan aku sebagai adikmu?"


"Tidak, aku hanya tak ingin tertipu untuk kedua kalinya mendengar kisah sandiwara tentang hidupku"


Ucapan Arindra membuat Jack, Jenny, Alex dan Paman James menelan ludah paksa. Jelas ucapan itu ditujukan pada mereka.


"Tidakkah kakak bisa merasakannya, benarkah sedikitpun tidak kakak ingat tentang ayah, ibu ataupun aku?"


"Aku penderita amnesia anterograde, maaf jika sedikitpun tak ada yang kuingat tentang masa laluku selain ingatan perbuatan bejat dan sadis Tuan Hansel Wijaya"


"Maksud kakak, bukankah kakak orang yang tak sengaja ditabrak kak Hans kemudian koma, lalu kakak Hans bertanggungjawab atas perbuatannya dengan menikahi kakak dan merawatnya, sebelum Kak Hans ternyata dibohongi oleh dokter Dea yang mengatakan Kakak sudah meninggal dunia.


Sama seperti yang dialami oleh keluarga kita kak, yang dibohongi oleh pihak rumah sakit. Dengan mengirimkan jenazah ke rumah, mengatakan itu jika jenazah kakak"


Terang Shania membuat Hans dan Aldo menunjukkan wajah cemas.


"Jadi itu yang kau dengar dari orang yang mengaku kakak dan kau panggil Kak Hans?"


"Iya Kak, itu cerita dari Kak Hans dan Aldo"


"O"


Arindra melirik Hans yang cemas menatapnya, ia tersenyum.


"Kau mau dengar cerita sesungguhnya?"


"Iya Kak, agar tahu cerita yang sebenarnya"


"Dengar baik-baik, karena aku takkan mengulang untuk kedua kalinya"


Shania mengangguk,


"Ke dua laki-laki itu bohong"


Deg, Shania otomatis melihat Hans dan Aldo, ada sorot mata kemarahan di sana. Aldo hanya tertunduk dan Hans menatap Shania dengan rasa bersalahnya. Arindra jelas tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Hans dan Aldo.


"Katakan Tuan Hansel Wijaya dan Tuan Aldo Pratama, kebenaran cerita tentang kakakku. Apakah benar, kalian telah membohongiku?"


Aldo menyenggol lengan bossnya, jelas iya akan mendapat kemarahan dari kekasih hatinya itu.


"Kau harus bertanggungjawab boss, kau yang menyuruhku mengatakan itu pada Shania. Jangan buat hubunganku putus gegara dirimu boss. Ayo boss bicara, bertanggungjawablah"


Ucap Aldo dalam hatinya, ia hanya mencuri-curi pandang pada Shania, ia sangat menyadari kesalahannya itu.


"Kenapa diam, apakah diam kalian berarti jawaban jika yang dikatakan Kak Tiara itu benar?"


"Tidak semua salah Shania, kami hanya tak menceritakan bagian yang menurut kami tak penting untuk kamu tau?"


"Oh begitu, lalu bagian yang tak penting apa, yang tak perlu kuketahui tentang kakakku sendiri"


Arindra cs hanya tersenyum melihat dua laki-laki yang jadi penguasa di Wijaya group sedang diinterograsi oleh seorang wanita dengan kepala tertunduk, sangat lucu menurut mereka. Bahkan isengnya, Dio diam-diam merekam peristiwa langka ini menuturnya tanpa ada yang mengetahui.


"Boss, ayo ngomong. Jangan diem, gue g mau putus boss sama Shania. Katanya loe mau bantuin gue lamar Shania sama Mbak Arindra eh Kak Tiara. Kenapa jadi gini sih boss, g sesuai rencana ini mah"


Kesal Aldo yang melihat Hans diam saja, Aldo garuk-garuk kepala yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Shania. Jika ia bongkar, ia kena marah boss, g dibongkar kena marah pacar. Duhh kayak makan buah simalakama jadi Aldo.


"Kenapa Kak Hans, bukankah kakak yang maksa aku buat panggil kakak, bilang kak Hans kakak iparku. Jadi sekarang aku yang kau anggap adik ipar memaksamu untuk bilang kebenaran ceritamu.


Apa jangan-jangan, kau jua yang sebenarnya mengirim mayat itu ke rumah dan berpura-pura baik kemudian selalu mengirimi kami uang setiap bulan untuk menutupi fakta yang sebenarnya.


Apa jangan-jangan sesungguhnya kau jua yang sengaja nabrak, bukan g sengaja. Karena kak Tiara tahu sesuatu tentang rahasia perusahaan Wijaya, hingga kakak dengan sengaja menabraknya berharap kematiannya tapi nyatanya cuma koma.


Dan selama ini yang merawat Kak Tiara adalah mereka bukan Anda. Anda Tuan hanya berpura-pura baik untuk menutupi kesalahan anda dan keluarga anda sendiri begitu"


Shania melampiaskan kemarahannya karena sejak tadi baik Aldo dan Hans hanya diam.


############


Alhandulilkah chapter 79 done


Like,vote, komen, share, poin, follow **LESTA LESTARI.


Soo guys selalu ditunggu jejak-jejak terbaikmu 😆😁**