ARINDRA

ARINDRA
Chapter 98



Satu bulan berlalu, baik Arindra dan Hans tak saling menghubungi dan bertemu. Arindra dan lainnya fokus pada keterangan sebagai saksi untuk persidangan Wijaya, Paman James dan Alex juga sudah menyelesaikan urusan dengan perusahaan Wijaya.


Hanya sekali-kali akan datang untuk memenuhi panggilan persidangan Wijaya. Ditambah keterangan dari Suster Hani, semakin memberatkan hukuman Wijaya, perusaannya Wijaya pun bangkrut karena buruknya citra Wijaya di mata masyarakat membuat para pemegang saham dan investor meninggalkan mereka.


Saat ini Arindra, Dio, Shania sedang dibandara, mengantar kepulangan Paman James, Alex, Jenny dan Jack kembali ke negara mereka.


"Kami sangat bersedih akhirnya saat ini tiba juga" Ucap Alex pada Arindra.


"Yah, sangat disayangkan kakak tidak ikut bersama kami lagi. Sungguh bahkan aku belum bertemu dengan Fattah" Ucap Jenny bersedih.


"Kau yakin tidak ikut kami?" Tanya Paman James pada Arindra.


"Maafkan Arindra paman, Arindra akan tetap di sini. Di sinilah tempat Arindra dilahirkan dan dibesarkan, dan Arindra juga belum bertemu dengan Fattah".


Ucap Arindra yang juga sedih akan perpisahan mereka, Shania mengusap-usap punggung kakaknya. Jack mendekati Arindra dan menatap dengan dalam, keengganan untuk pergi jelas terpancar dari sorot matanya.


"Berjanjilah untuk selalu menghubungi kami, dan juga jangan menyerah untuk mendapatkan Fattah. Kami nantikan kehadiranmu bersama Fattah di sana"


Ucap Jack dengan nada sendunya, yang lain sadar jika diantara mereka yang paling berat berpisah dengan Arindra adalah Jack. Meskipun yang lain juga merasakan hal yang sama namun mereka tak bisa mengubah keputusan Arindra yang memilih kembali ke negaranya dan memutuskan Jack hanya sebagai kakak meskipun Arindra yang mereja tahu juga memiliki rasa yang sama dengan Jack.


"Jangan lupa, obatmu hanya diminum saat kai benar-benar kesakitan. Jika habis katakan saja padaku, dengan senang hati aku akan mengirimkannya padamu. Jaga kesehatanmu, bagaimanapun kau belum terlalu pulih"


"Aku sudah sehat Kak, tenang saja. Aku adik yang sangat penurut, benarkan hehe".


Ingin sekali Jack mengusap kepala Arindra, lagi-lagi ia tak bisa melakukan itu. Mata keduanya saling bertemu, sebelum kemudian Arindra tertunduk dan berkaca-kaca.


"Kami jalan dulu, kalian hati-hati dalam perjalanan pulang" Ucap Paman James karena melihat jam sudah menunjukkan sebentar lagi keberangkatan penerbangan mereka.


"Kalian juga hati-hati ya, jangan lupa hubungi kami jika sudah sampai" Ucap Dio yang memeluk Paman James, Alex dan Kak Jack.


Arindra memeluk Jenny "Jenny pasti sangat merindukan masakan kakak" bisik Jenny di telinga Arindra.


"Datanglah, kakak akan selalu bahagia jika kau datang, dan kakak insyaa allah akan memasakkan makanan lezat spesial untukmu"


"Janji ya" Ucap Jenny mengacungkan jari kelingkingnya, dibalas anggukan dan penyatuan jari kelingking mereka.


"Insyaa allah" Ucap Arindra lagi, Arindra pun melepaskan pelukan Jenny, dan pelukan Jenny beralih pada Shania.


"Yah kita gagal jadi iparan"


Ucap Shania dengan tawanya, membuat yang lain tertawa. Kecuali Arindra dan Jack yang tersenyum getir.


"Ya udah, gue nunggu kalian datang lagi. Ntar gue telpon ya" Ucap Shania lagi


"Shania tolong jaga kak Arindra ya" Ucap Jack


"Siap komandan" Ucap Shania dengan menegakkan tubuhnya dan membuat gaya hormat. Membuat yang lain tertawa akan tingkah Shania yang selalu ceria.


"Kami pergi dulu"


Pamit mereka sambil melambaikan tangan dan mulai melangkah masuk meninggalkan Arindra, Dio dan Shania. Arindra menatap kepergian mereka hingga tak nampak lagi oleh indra penglihatannya.


Dio juga pamit, karena dia membawa mobil sendiri. Shania melihat Arindra yang tertunduk, lalu menggandeng tangan kakaknya membawa ke parkiran mobil mereka.


##############


Sedangkan di rumah Hans, Hans sedang menatap Fattah yang tertidur dengan pulasnya. Ia tak lagi sibuk seperti dulu, Aldo pun sudah tak lagi bekerja dengannya. Hanya tinggal tersisa rumah sakit yang kini dikelola oleh Hana.


"Kak"


Panggil Syara pada Hans, Hans menoleh.


"Maafkan Syara, selama ini Syara begitu egois "


"Aku mengerti Ra, mengapa kamu mengambil sikap seperti itu. Seseorang sudah menyadarkan Kakak, akan sikapmu. Dan kakak tidak menyalahkanmu atas sikapmu itu. Terima kasih, karena selalu menunjukkan ketulusan hatimu padaku, meski aku tahu aku selalu membuatmu menangis"


"Maafkan Syara sekali lagi dan terima kasih, kakak masih di sini sampai detik ini bersama Syara. Syara sangat mencintaimu dan Fattah Kak, Syara takut kehilangan kalian berdua"


"Kau perlu mengenal sosok Arindra, agar kau tau bagaimana dia dan tidak salah mengambil sikap"


"Apakah dia akan marah sama Syara Kak?"


"Dia bukan orang pemarah Ra, meski hanya beberapa kali kami mengobrol, dan hanya dua kali aku tidur di sana tapi dia tidak mau tidur denganku demi menghargaimu.


Bahkan ia selalu meminta dengan cara yang baik untuk bertemu denganmu, dan ia tak pernah meluapkan emosinya meski dia ingat akulah orang yang merusak masa depannya"


"Apakah dia tidak tau bahwa kakak suaminya?"


"Dia tau Ra, dia sama sepertimu dulu yang menolakku untuk ku sentuh, bedanya kau melakukannya karena rasa cemburu tapi dia melakukannya karena menghargaimu".


"Apakah dia juga mencintai Kakak?"


"Sulit mengatakan jika akan mudah jatuh cinta pada Kakak. Setelah apa yang dialami baik oleh Kakak sendiri ataupun Daddy. Hanya orang yang luar biasa luas maafnya mau menerima kakak sebagai suaminya"


"Jadi Kakak masih berharap hadirnya Mbak Arindra dalam kehidupan kita?"


"Aku tidak bisa berbohong Ra, jika hati kecilku menginginkannya. Tapi bahkan kini aku tak punya muka untuk menemuinya, setelah peristiwa percobaan pembunuhan yang dilakukan Daddy padanya"


Syara tertunduk, ia tahu Hans sangat mencintai Arindra. Bahkan setiap kali hendak tidur, Hans selalu menatap foto Arindra yang ada di hanphonenya. Syara memejamkan matanya, menahan rasa sakit akan fakta itu.


"Kak..."


Hans menoleh menatap Syara yang menatap dengan pandangan sedih.


"Aku ingin bertemu dengan Mbak Arindra, bolehkah?"


"Kau yakin ingin menemuinya, bukankah selama ini kau menolak bertemu dengannya".


"Seperti saran Kakak, aku akan mencoba mengenalnya. Jika memang dia..."


Syara terisak, Hans bangkit dan memeluk Syara. "Jika kau belum siap, tidak perlu dipaksakan. Arindra pasti mengerti jika kau jua butuh waktu untuk menerima semuanya"


"Sudah terlalu lama Syara menahannya Kak, Syara sakit sekali. Jika memang dia lebih baik dari Syara, Syara akan belajar ikhlas menerima semuanya termasuk jika Kakak mau menceraikan Syara"


"Ra..." Ucap Hans mengeratkan pelukan pada istrinya itu.


"Syara ingat nasehat Abi, Syara harus belajar ikhlas dan menerima keberadaan Mbak Arindra. Jika pun Mbak Arindra ingin kembali pada Kakak, dan menolak Syara tetap bersanding dengan Kakak maka Syara akan terima jika akhirnya berpisah. Meskipun Syara tidak pernah menginginkan itu"


Syara makin tergugu dalam tangis di pelukan Hans. Hans pun bingung untuk langkah yang akan dia ambil dalam menghadapi Arindra.


Sejujurnya ia sangat malu menghadapinya, malu akan perbuatannya dan Daddynya. Malu akan keegoisan dirinya yang juga menyakiti Syara.


###############


Alhamdulillah Chapter 98 done


Oh ya lupa


Bab berkenaan dengan sabar dan Sholat di dapat dari web. umma.com