
Hans meminta potongan vidio CCTV itu, ia berhatikan dengan seksama, tiba-tiba tubuhnya luruh jatuh ke lantai.
"Tuan, Tuan tidak apa-apa?"
Manager kafe bingung melihat seorang Hans duduk bersimpuh di lantai. Hans lemas, ia tak seakan tak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Ya Allah, benarkah itu dia. Inikah jawaban atas doa-doaku. Dia masih hidup ya Robbku, berilah hamba kesempatan untuk bertemu dengannya"
Hans kemudian meminta potongan vidio itu lalu mengirimkannya pada seseorang. Ia mengirim pesan chat pada orang itu.
"Selidiki wanita ini, besok saya ingin laporannya"
"Baik Tuan"
Balasan chat dari orang yang dikirimi vidio, lalu kemudian dia melihat orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Terima kasih, dan hapus CCTV yang ada wanita itu, baik di ruangan ataupun di depan. Jika kalian tak menghapusnya, kalian tahu apa yang terjadi pada kalian tentunya"
"Baik Tuan"
Para karyawan itu akhirnya tahu, jika mereka sedang berhadapan dengan Hansel Wijaya, maka mereka hanya mampu mengikuti apa yang diperintahkannya. Hansel keluar ruangan menuju parkir, sesampainya di mobil ia menghubungi seseorang kembali.
"Gali makam Arindra, ambil sampel untuk tes DNA. Pastikan tidak ada yang tahu"
Setelah itu ia meluncur pulang, tanpa makan apapun.
#######
"Tuan, sepertinya Tuan muda bertemu dengan wanita itu"
Lapor seseorang pada Tuan Wijaya.
"Selidiki apapun yang ia lakukan, dan cari di mana wanita itu berada"
"Baik Tuan"
##########
Alex yang mengkhawatirkann Arindra, bercerita pada pamannya, Jenny dan Jack. Mereka terkejut, dan mengambil kesimpulan jika Tuan Wijaya tahu Arindra masih hidup.
Akhirnya siang itu mereka berangkat menuju Jakarta menyusul Arindra. Arindra setelah makan, mampir dulu ke salah satu mart membeli kebutuhan. Lalu dia pulang ke apartemen.
Alangkah terkejutnya ia, melihat ada empat orang yang baru dia pamit tadi pagi sudah berada di depannya.
"Kau terkejut?"
Alex menghampiri Arindra yang berdiri diam, mengambil dan membawakan belanjaannya meletakkan ke dapur.
"Kalian luar biasa, sebegitu khawatirkah kalian padaku hingga belum sehari kalian sudah menyusulku"
Arindra duduk di samping Jenny.
"Kami mendapat kabar dari Alex jika kurir yang kau suruh tewas, maka kami langsung memutuskan kemari"
Ucap Paman Alex,
"Ya, kau baru saja pulih dari koma dan kau juga amnesia kami takut kondisi kejiwaanmu terganggu"
Jack menambahkan
"Sebenarnya kami khawatir, kakak ditemukan dengan cepat oleh Tuan Wijaya. Kami tak mau, Tuan Wijaya itu menang dengan mudah"
Jenny memelukku, membuatku terharu.
"Apakah kakak sakit kepala hari ini?"
Alex yang datang dari dapur, membawakan minum untuk Arindra. Melihat itu Arindra tersenyum senang.
"Aouhh manisnya adikku yang tampan ini. Terima kasih atas perhatian kalian semua. Tapi sejauh ini aku baik-baik saja. Apakah kalian akan menginap di sini?"
"Ya"
Kompak, mereka menjawab serempak membuat semua tertawa.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak untuk kalian"
"Tidak perlu kak, kami sebelum sampai ke sini sudah makan. Jadi saat ini perut kami sangat kenyang. Lebih baik kita semua istirahat, baru kemudian berdiskusi mengambil langkah yang tepat untuk melawan Wijaya"
"Ouh manisnya, pengertian sekali pacarmu ini Jen. Paman, Kak Jack segera nikahkan saja sejoli ini, rasanya aku tak sabar menggendong anak mereka"
"Hahaa, kau benar aku. Bagaimana jika kita besok nikahkan saja mereka, bagaimana Jack, kau setuju?"
"Aku setuju saja Paman"
Jawab Alex dan Jenny serempak, membuat yang lain tertawa.
"Kakak kau jangan jadi kompor, kau tau aku masih terlalu muda untuk jadi seorang ibu"
Rengek Jenny pada Arindra, membuat yang lain tertawa. Suasana hangat tercipta di ruangan apartemen itu sebelum Arindra pamit ke kamar, dan lain mengikuti bersih-bersih. Sedangkan Arindra bersiap untuk sholat magrib hingga Isya.
Baru setelah pukul delapan malam, mereka keluar kamar dan berkumpul kembali ke ruang tengah. Arindra menyiapkan buah-buahan yanh dibelinya tadi, dan minuman di bantu Jenny.
"Kak, kau yakin tak apa-apa?, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau tadi merasa sakit kepala hemm?"
Alex duduk di dekat Arindra, ia melihat wajah Arindra sedikit pucat.
"Aku tadi sempat sakit kepala, tapi setelah minum obat dan dibawa tidur sakitku reda"
"Saat kapan kau merasakannya Arin?"
Tanya Jack sambil memakan buah Anggur.
"Tadi saat diberi kabar jika kurir tewas"
Arindra menarik nafas dalam dan tertunduk sedih, semua melihat ke arahnya. Mereka tahu, trauma masih melekat dalam dirinya.
"Maka dari itu kami lekas kemari, bagaimanapun kini kita sudah satu keluarga. Jadi jangan sungkan jika kau memang membutukan kami, katakan saja"
"Terima kasih paman, kalian begitu peduli padaku"
"Bagaimana Jack menurutmu, apakah kita tunda semua rencana"
"Tidak paman, jangan tunda rencana kalian hanya karena kondisiku. Aku yakin, aku akan baik-baik saja"
"Bagaimanapun traumamu belum sembuh, dan Wijaya pasti mengincarmu saat ini"
Jack mengingatkan Arindra, akan bahaya yang sedang mengincarnya.
"Benar kata kak Jack, kita harus bersabar. Yang kita lawan bukan orang yang mudah"
Ucap Jenny diamini oleh empat orang lainnya.
"Untuk sementara, terlibatlah di belakang layar, kami juga belum memiliki rencana yang matang kak. Kami memang berhasil bekerja sama dengan mereka, tapi banyak poin kerjasama yang menguntungkan mereka. Dan posisi kita hanya pelaksana projek dan mengatur pembelian property.
Beberapa karyawan yang sudah masuk pun, belum menempati posisi strategis di perusahaan. Mereka benar-benar selektif dalam memilih karyawan. Jika menunggu karyawan kita yang ditempatkan di sana, maka kita akan memakan banyak waktu bisa bertahun-tahun"
"Apakah tak ada celah sama sekali dalam projek ini paman?"
Tanya Arindra, mendengar Alex yang belum memiliki rencana.
"Tidak ada jika melihat semua poin kesepakatan dalam kerjasama antar perusahaan. Perusahaan kita adalah perusahaan inferior karena kita yang butuh mereka yang superior, sebagai investor dan kuasa perijinan dalam pemuluskan projek ini"
"Bolehkah aku melihat perjanjian kerjasama itu paman, Alex. Aku tidak tahu bisa membantu atau tidak tapi ijinkan aku untuk membaca poin-poin kerjasamanya. Jika ada sesuatu yang kurasa baik, aku akan sampaikan pada kalian"
"Tentu, kita bisa membahas ini bersama-sama"
Paman, Alex dan Jack mengeluarkan laptopnya, dan mereka mulai membahas poin-poin yang ada dalam kerjasama itu. Mereka membahas hingga larut, membuat masing-masing akhirnya menyerah.
Alex sudah terlebih dulu masuk kamar, diikuti paman dan Jenny. Jack yang sudah beberapa kali menguap, menahannya melihat Arindra yang masih membuat note-note di buku sakunya.
"Tidurlah, aku tau kau lelah kak, kau belum istirahat setibanya di sini"
"Sebentar lagi Arin, aku temani sampai kau selesai atau kita lanjutkan ini besok"
"Jangan memaksakan diri Kak Jack, aku bisa ini sedikit lagi. Aku memang belum menemukan celah sedikitpun. Tapi biarlah aku membuat catatan kecil siapa tau berguna kelak"
"Baiklah, kakak tidur dulu. Kalo ada apa-apa panggillah. Lihat, sudah pukul satu, ingat juga kesehatanmu, kau baru pulih"
"Siap kak"
jack berlalu memasuki kamarnya, meninggalkan Arindra yang berjuang menemukan celah kecil dari perjanjian kerjasama antara perusahaan Adam dan Wijaya.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih, Arindra membereskan peralatan yang ada di meja dan merapikannya. Sesaat, Arindra merasakan bayangan hitam berada di belakangnya, saat ia meletakkan laptop di lemari kecil.
Seketika ia berbalik dan
"Aaaaaaa"
############
Alhamdulillah chapter 58 done
huhhhh yuklah semangat...yang baca and yang up hehe jejaknya ya ditinggalkan. biar semangat ok ❤❤❤❤❤❤❤