ARINDRA

ARINDRA
Chapter 74



"Shania kamu sudah bersiap?"


Tanya Hans yang melihat Shania sudah membawa pesanan yang dia minta.


"Siap Kak"


Jawab Shania dan masuk ikut ke mobil Hans.


"Do, tolong loe urus rumah lengkap dengan bodyguardnya, bawa orang itu ke rumah itu"


"Siap boss, hati-hati"


Hans mengangguk dan masuk ke mobil, mengarahkan mobilnya ke sebuah apartemen. Shania hanya ikut saja, tak berani bertanya macam-macam pada Hans.


Sesampainya di pintu apartemen yang dituju, Hans menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Ia lakukan itu secara berulang-ulang. Setelah dirasa cukup, ia menekan bel pintu itu.


Seorang bodyguard membukakan pintu apartemen.


"Kak, ayo kita makan dulu, ini aku dah selesai masak"


Suara itu berasal dari dapur, dan kemudian wanita itu berjalan dan melihat siapa laki-laki yang ada di hadapannya.


Jack melihat wajah pucat Arindra, tangannya terlihat gemetar, sedang meremas bajunya sendiri. Meski matanya menatap laki-laki di hadapannya, tapi Jack tahu ada aura ketakutan yang sedang dilawan oleh Arindra.


"Jenny, bawa kakakmu ke kamar"


Perintah Jack pada Jenny, Jenny langsung meraih tangan Arindra yang sudah berkeringat ke kamar.


"Silahkan duduk Tuan, nona"


Laki-laki yang di hadapan Arindra adalah Hans. Hans termangu menatap wajah Arindra, matanya menyiratkan kerinduan. Ingin sekali ia berlari dan memeluk wanita itu. Namun sorot mata ketakutan itu membuatnya tetap berdiri tegak di tempatnya. Namun pandangannya tak pernah lepas dari sosok Arindra hingga sosok itu hilang di balik pintu.


Shania tak kalah terkejut melihat sosok yang dipanggil Arindra.


"Mirip banget sama Kak Tiara, tapi kan Kak Tiara sudah lama meninggal. Apa Ayah punya anak kembar ke pisah ya, tapi setau gue g ada"


Shania sama dengan Hans, menatap dalam diam tanpa memalingkan wajah pada sosok Arindra sebelum wanita itu tak terlihat lagi.


"Duduklah Nia"


Perintah Hans, pada Shania. Shania yang tak tau apa, dan kenapa dibawa ke sana hanya mematuhi mampu mematuhi perintah Hans.


Dio, Alex menatap tajam ke arah Hans. Jelas ada aura kemarahan di sorot mata mereka. Hans berusaha tenang, ia sadar menemui Arindra adalah pilihannya, dan dia harus menghadapi segala resikonya.


Jack masuk ke kamar, disusul Alex dan Dio yang khawatir dengan kondisi Arindra.


"Bagaimana Jen?"


Jenny menggelengkan kepala, Jack pasti tau apa arti dari gelengan kepala Jenny. Arindra sedang menekan ketakutan dan kemarahan yang menjadi satu dalam dirinya. Kepalan tangan yang kuat di keduanya, sorot mata marah, namun tubuh gemetar.


Jack menarik nafas dalam, Arindra sedang tak baik-baik saja. Ia yang sudah beberapa hari tak mengkonsumsi obat penenang dan obat pereda nyeri kepalanya membuat Jack kembali memberikannya.


"Jenny, ambil minum"


Perintah Jack pada Jenny. Jenny segera menuju dapur mengambil minum, sambil melirik ke dua tamunya yang duduk di sofa.


Hans gelisah, sudah cukup lama ia menunggu namun tak satupun penghuni rumah setidaknya menemani duduk untuk mengetahui tujuannya datang bertamu.


"Ini Kak"


Jenny menyerahkan air minum pada Jack.


"Jenny pegang lengannya"


Perintahnya pada Jenny.


"Arindra, minum obatmu dulu ya"


Ucap Jack lembut, namun sorot mata itu tak berubah.


Jack mencobanya lagi sambil menahan air mata tak tahan melihat kondisi wanita yang dicintainya itu. Apa yang ia takutkan kini terjadi dihadapannya.


"Arindra bangun, bangunkan dirimu jangan seperti ini. Lawan-lawan, kau bukan wanita lemah. Lihat bahkan dia berani mendatangimu, katanya kau ingin bertemu anakmu, katanya kau bermimpi bermain dengannya. Bangun, bangun, jika kau seperti ini, bagaimana bisa kau bertemu anakmu dan bermain bersamanya"


Jack berteriak membangunkan Arindra dengan air mata bercucuran di pipinya yang tak lagi mampu ia tahan. Saat ini, Arindra menjadi sosok yang hidup dengan dunianya sendiri.


"Jika kau ingin marah, kelaurkan jangan kau tahan. Jika kau ingin menangis keluarkan, jangan kau tahan, jika kau ingin menjerit maka menjeritlah, ayolah Arindra jika kau seperti ini mereka akan tertawa"


Alex geram melihat kondisi kakaknya itu, Dio hanya diam terpaku tak tau apa yang harus dilakukannya. Jenny juga sudah menangis, melihat kondisi Arindra.


"Brengsek kau, ********.."


Teriak Alex sambil memukul Hans bertubi-tubi.


"Kau buat kakakku jadi begini hah, kau...kau akan membayar mahal apa yang sudah kau lakukan padanya"


Alex menendang, meninju perut, wajah Hans. Shania menjerit meminta pertolongan, tapi tak ada satupun yang menolong.


"********"


Hans terkapar di lantai, bibirnya sudah pecah dan berdarah, ia tak melawan.


"Apakah kau sudah selesai memukulku, jika sudah ijinkan aku bertemu Arindra"


"Brengsek, kau mau menemui kakakku hah, tak akan kubiarkan. Rasakan ini bukk-bukk"


Lagi Alex, menghujani Hans dengan pukulan, Arindra yang mendengar benda jatuh seketika tersadar namun ia menjerit sekuat-kuatnya.


"Aaaaaaaaa"


Ke dua tangan ia letakkan di kedua telinga, dan ia berlari ke sudut kamar, menangis dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Jangan-jangan ku mohon. Hentikan, jangan-jangan pergi-pergi"


Ucap Arindra mencoba mengusir sosok dalam banyangannya. Alex yang mendengar jeritan Arindra menghentikan pukulannya.


Ia berlari ke kamar diikuti Hans dari belakang.


Jack sudah terduduk lemas di lantai, Jenny menangis terisak dan Dio terpaku berdiri di tempatnya seolah tak bisa bergerak.


Arindra menangis terus berusaha mengusir pergi orang yang tak ada di depannya, sambil berteriak teriak jangan, di sudut kamar. Tubuh Alex meluruh, ketakutan mereka akan kondisi Arindra terjadi sudah di depan mata. Shania mencoba melihat apa yang terjadi, Hans yang melihat itu merasakan sakit di dadanya, air matanya luruh jua disudut pipinya.


Ia menerobos barisan orang-orang yang sedang bersedih, satu yang ia tuju. Meraih tubuh Arindra dalam pelukannya.


"Arindra..."


Ia meraih tubuh itu dengan kuat, meski rontaan, teriakan, pukulan mengenai wajah dan tubuhnya. Namun Hans tak memedulikannya, ia tetap memeluk Arindra dengan erat.


"Maafkan aku, maafkan aku"


Lirihnya disela-sela pelukannya.


"Pukul aku, hajar aku asal kau bangun. Fattah butuh dirimu, jika kau ingin membalaskan rasa sakitmu padaku maka kau tidak boleh begini. Kau harus bangun, kau harus menjadi kuat agar kau mampu melawanku. Jika kau begini, aku menang, aku menang"


Hans menangis tersedu-sedu, dibalik pundak Arindra.


"Lampiaskan amarahmu padaku, bangun dan lawan trauma yang ada di dalam dirimu. Kau harus menang, aku harus kau kalahkan. Jangan siksa dirimu dengan cara seperti ini. Fattah sangat membutuhkanmu, dia rindu pelukanmu, dia putramu yang kau lahirkan.


Bangunlah sayang, bangunlah dan sadarkan dirimu"


Ucap Hans lembut, Arindra tak lagi melawan dan memberontak, ia terpaku mendengar suara Hans. Suara yang membuat hatinya bergetar, dan merasa tak asing di telinganya.


#################


Jreng-jreng Alhamdulillah Chapter 74 telah hadir.


Author sampe nangis ini buatnya, g tau deh kalo yang baca 😁😁😁😁