ARINDRA

ARINDRA
Chapter 75



"Lepaskan dia brengsek"


Jack marah, melihat wanita yang dicintainya disentuh oleh Hans. Ia membawa tubuh Hans keluar apartemen, diikuti Shania. Kemudian ia memerintahkan bodyguardnya untuk mengunci kembali.


Ia masuk ke dalam, ia melihat Arindra sudah tenang, tetapi masih duduk di sudut kamar.


"Arindra, ayo bangunlah"


Ajak Jack lembut, Jack mencoba meraih tangan Arindra namun refleks tangan Arindra menjauh.


"Arindra..."


Arindra terbangun


"Jangan mengambil kesempatan ya Kak, aku tak pernah mengijinkannya"


Arindra bangun dan tersenyum pada orang yang dianggap kakaknya itu.


"Kau"


"Bagaimana, aktingku bagus bukan.."


Arindra dengan santai mengambil minum di nakas, lalu duduk di ranjang dan meminum habis air yang ada di gelas itu. Mata dan wajah empat pasang mata itu terkejut.


"Kau sadar kan?"


Ucap Jack merasa tak percaya jika Arindra telah kembali.


"Sejak si brengsek itu datang aku juga sadar Kak, bahkan kakak menangis pilu seperti itu aku juga sadar"


"Jadi kakak..."


Tanya Alex dengan wajah terkejutnya.


"Maaf ✌, aku tadi hanya akting"


"Kakak.."


Jerit Jenny yang memeluk Arindra, sedang tiga laki-laki itu tertawa bahagia.


"Kau mengerjai kami ya"


Ucap Jenny lagi


"Tenanglah, aku tak selemah itu. Kak Jack sudah memberikan terapi luar biasa padaku sehingga rasa trauma itu sudah banyak berkurang hehehe"


"Dasar kau ini, membuat kami terkejut saja. Hebat benar akting kakak, bisa membuat seorang Jack menangis bombay seperti itu"


Ucap dio yang disambut gelak tawa dari lainnya.


"Huh, puas aku memukul seorang Hans. Terima kasih kakak, karena akting kerenmu aku bisa memukulnya leluasa hehee"


Arindra hanya terkekeh melihat Alex.


"Tapi kenapa kau tadi mau dipeluknya, sedangkan saat tanganku hendak memegang tananmu kau menjauhkannya"


Tanya Jack dengan wajah cemburunya.


"Ehmm ehemm"


Deheman Alex dan Dio bersamaan.


"Ada roman-roman cemburu nih"


Ucap Alex melirik Jack,


"Cemburu tanda cinta, bilang saja jika kau suka, sebelum kau terluka, ditinggal pergi dibawa lari"


Dio mendendangkan ucapannya itu asal membuat ia dilempar bantal oleh Jack, wajah Jack yang memerah membuat kembali gelak tawa diantara mereka.


"Kau benar-benar hebat kak, tak menyangka memiliki ide seperti itu"


Ucap Alex


"Aku hanya ingin tau reaksinya saja, aku fikir dia akan bahagia melihatku seperti itu, membuatnya merasa menang. Tak kusangka dia menangis dan berkata sayang padaku"


"Apakah hatimu tersentuh?"


Tanya Jack penasaran


"Jika hati kak Arindra tersentuh kenapa Kak, Kakak g suka gitu ya" Kekeh Dio


"Dio bisa diam tidak"


"Kenapa kakak menyuruh Dio diam, dia sama penasarannya dengan kakak. Makanya dia dia berkata seperti itu" Ucap Alex yang ikut meledek Jack


"Jangan marah Kak Jack, mereka hanya bercanda padamu"


"Sudahlah, saat ini aku tidak mengurus urusan hati. Aku hanya ingin secepatnya bertemu dengan Fattah. Namanya Fattah, itu putraku"


Ucap Arindra tersenyum, membuat yang lain diam.


"Ayo kita makan, aku lapar dari tadi teriak-teriak dan menangis hehee"


"Ayok"


Ucap mereka bersamaan menuju ruang makan.


"Jadi apa rencana kita selanjutnya Kak?"


Tanya Jenny di sela makannya


"Membuat konten" jawab Arindra


"Tapi bukankah itu akan membahayakan Paman James" ucap Dio


"Tidak, itu tidak akan membahayakan Paman. Justru itu kesempatan baik buat kita, membuat sasaran tembak yang tepat sasaran"


"Maksudnya Kak?"


Tanya Alex


"Kita buat konten berkenaan dengan teror yang kita alami selama ini, termasuk kabar kehilangan Paman James. Kita usahakan meraih simpati masyarakat sebanyak-banyaknya. Jika di awal konten kita hanya tak mampu mengoyahkan reputasi Wijaya, dengan bukti-bukti teror yang kita ungkap ke publik akan membuat publik makin percaya bahwa kita adalah korban.


Sikap publik akan mulai menganalisa, siapa pelaku yang ingin sekali membuat kita mati atau ketakutan. Maka jika Paman James meninggal dunia maka akan langsung kita arahkan ke perusahaan Wijaya.


Karena sampai saat ini bukankah pencairan dana proyek belum terlaksana. Itu bisa jadi alasan selain ada dendam permusuhan masa lalu antara pemilik perusahaan Adam dan Wijaya.


Mungkin kemarin mereka bisa lolos, namun konten kali ini buat mereka bertanggungjawab atas apa yang telah mereka lakukan pada kita. Di tambah, segera cari sosok penggiat lingkungan yang berani bersuara, suruh dua bodyguard keluar dari apartemen ini.


Manfaatkan momen saat...


(Arindra terdiam sesaat)


si brengsek itu datang, untuk pura-pura memecat mereka. Pukul atau apalah, sehingga mereka percaya bahwa dua bodyguard tadi bukan bagian keamanan kita lagi.


Jika kita diam dalam keterbatasan yang kita miliki, kita hanya akan mendapatkan kematian. Tapi jika kita berani mengambil resiko di tengah keterbatasan itu maka kita punya dua pilihan, menang atau menang.


Setidaknya orang yang bangkit dari keterpurukan sesungguhnya dia adalah pemenang meski nanti kita mengalami kegagalan lagi. Kita akan terus mencoba, sampai nafas di hidung kita ini menghentikan langkah kita. Bagaimana?"


"Ayolah, jika kakak sudah bicara panjang lebar begini. Kami pasti akan melakukannya dengan senang hati. Yuklah semangat"


Ucap Alex.


"Hupp yaa, tegakkan keadilan, cari pembunuh dokter Dea, hancurkan Wijaya"


Ucap Jenny membuat mereka semua tertawa.


"Kapan kita buat konten Kak?"


Tanya Dio


"Hari ini dong yo, lebih cepat lebih baik. Terlalu sayang waktu yang telah kita buang beberapa hari ini, membuat mereka merasa menang dan menganggap teror mereka sukses membuat kita ketakutan"


"Oke baiklah, tapi kita tak punya kru"


Ujar Dio lagi


"Ada Kak Jack, Jenny dan Alex tenang saja. Mereka punya banyak kamera tersembunyi di sini. Tanpa krumu pun, konten kita bisa jadi, manfaatkan keadaan dengan bijak hehee"


"Okelah mantap kalau begitu, ayo kita mulai?"


"Apa kalian tak butuh skrip?"


Tanya Jack


"Kita butuh garis besar yang kita mau bahas, biarlah tampil alami. Yang pasti kita siapkan saja bahan bukti yang akan kita tampilkan juga di konten. Biarlah kami berdua seperti orang mengobrol biasa namun tetap mengarahkan masyarakat berfikir Wijayalah di balik semua ini"


"Baiklah kalau begitu kami mempersiapkan dulu peralatan apa yang akan digunakan, dan kau dan dio berdiskusilah tentang apa saja yang akan kalian bahas dalam konten"


Ucap Jack


Alex, Jenny dan Jack mempersiapkan peralatan syuting darurat. Arindra dan Dio fokus pada tugasnya.


"*Permainan baru di mulai Wijaya, kau membuatku terpaksa melakukan ini. Bukan aku yang menghancurkanmu, tapi perbuatan burukmu yang menghancurkan dirimu sendiri. Kami takkan kalah dengan mudah, jika kau menyerang kami dengan gencar, maka kami akan melaksanakan serangan balik juga dengan gencar.


Hadinata Hansel Wijaya, tunggu juga permainanku, kau harus tau arti kehilangan, karena kau sudah menghilangkan mahkotaku dengan paksa, itulah janji seorang Arindra"


################


Alhamdulillah chapter 75 done*