ARINDRA

ARINDRA
Chapter 101



Setelah pertemuan dengan Syara, keduanya menjadi akrab. Hari ini, Syara, Hana dan Hans mengunjungi Arindra. Tak lupa Fattah dibawa oleh mereka. Arindra tentu mengabari Jack dan kawan-kawan lainnya, membuat mereka senang mendengar kabar bahagia itu.


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Arindra datang, ia sejak bangun tidur tersenyum ceria. Tak sabar Arindra menantikannya, hingga ia segera menyiapkan semua hal untuk menyambut kedatangan mereka.


Shania yang melihat itu sangat bahagia, kakaknya kembali menjadi seorang yang ceria seperti dulu. Ia tak menyangka, kakaknya bisa menjadi wanita tegar setelah apa yang dilewatinya. Aldo pun sudah datang membantu dua wanita itu.


Arindra pun menunggu di teras rumah, tak lama orang-orang yang ditunggu-tunggu tiba. Hans turun dengan menggendong Fattah, Syara dan Hana di belakangnya.


Arindra segera menghampiri Hans, dan melihat Fattah. Matanya berkaca-kaca melihat bayi yang ia rindukan itu.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanyanya pada Hans, Hans mengangguk.


"Bismillah" Ucap Arindra, lalu segera menggendong dan memeluk Fattah. Ia menangis bahagia karena perjuangannya akhirnya terbayar.


Ia ciumi wajah Fattah yang hanya terdiam melihat Arindra. Arindra belai pipi gembul anaknya itu. Semua menatapnya haru, senyum dan air mata kebahagiaan mengalir tanpa permisi.


"Ayo masuk dulu semuanya, Kak Tiara"


Ucap Shania pada tamunya.


Arindra tersadar, lalu tersenyum pada mereka.


"Assaalamualaikum"


"Walaikumsalam, ayo masuk. Maaf ya maaf"


Ucap Arindra dan mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


Arindra lalu memangku Fattah dan ditidurkan dalam pangkuannya. Ia usap-usap kening Fattah, lalu sentuh dadanya, ia bacakan doa untuk putranya itu.


Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mengerjakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim ayat 40).


Ia tiupkan doa itu pada kening putranya, berharap Fattah menjadi orang yang selalu menegakkan sholat. Lalu ia membaca doa lagi.


Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan anak-anak kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan ayat 74).


Ya Allah, isilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang layak untuk menerima nikmat-Mu, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.


Ya Allah, jadikanlah anakku, anak yang sehat sempurna, Memilki akal cerdas, dan memilki ilmu dan suka beramal.


Ya Allah limpahkanlah barokah kepadaku dan anak-anakku, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, limpahkanlah kepada mereka taufik untuk taat kepada-Mu dan karuniakanlah kepadaku rejeki berupa bakti mereka.


Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. (QS. Ali Imran Ayat 38).


Ya Allah, limpahkanlah kebaikan yang banyak kepada anak-anak hamba, jagalah mereka dan jangan Engkau celakakan mereka. Karuniakanlah kepada kami ketaatan mereka".


Setiap kali ia membaca doa, ia tiupkan doa itu ke ubun-ubun Fattah lalu memegang dada putranya itu. Ia ciumi tubuh anaknya, dan membuat Fattah tertawa riang.


"Alhamdulillah, begitu sempurnanya Allah membentuk rupamu sayang. Semoga wajah tampanmu ini bisa membawamu pada kebaikan"


"Aamiin"


Seru mereka serempak yang terdiam, terharu menyaksikan kegiatan Arindra dan Fattah.


"Maaf, sampai lupa, silahkan di minum teh dan di makan makanannya, silahkan dinikmati. Maafkan kami jika menghidangkan seadanya". Ucap Arindra pada Hans, Hana dan Syara, sedangkan Arindra kembali bermain dengan Fattah.


"Mbak Arindra..."


Panggil Hana, Arindra menoleh.


"Oh Dokter Hana, mohon maaf. Terima kasih telah datang". Ucap Arindra lalu mengulurkan tangannya pada Hana tanpa melepaskan Fattah.


Lalu ia juga bersalaman dengan Syara dan memeluknya. "Terima kasih, sudah membawa Fattah kemari" lirih Arindra diangguki oleh Syara yang juga meneteskan air mata.


Lalu terhenti saat melihat Hans. Sejenak Hans menatap dengan Arindra sebelum Hans menangis lalu tertunduk.


"Maaf" Lirihnya namun terdengar oleh Arindra. Arindea lalu mengambil tangan Hans dan mencium punggung tangan itu.


"Terima kasih, sudah datang dan membawa Fattah. Alhamdulillah, kau beri kebahagiaan tak terkira untukku".


Hans memandang wajah Arindra, ia kemudian menarik tubuh Arindra membawanya dalam pelukan.


"Maafkan aku, maaf"


Ucap Hans, Arindra melepaskan pelukan itu, lalu duduk kembali ke sofa. Syara yang memandang itu, tetap tersenyum.


"Ya Allah beri aku keikhlasan untuk menjalani semua ini. Mbak Arindra juga istri Kak Hans, dan mereka berhak melakukan lebih dari itu. Sabarlah Syara, ikhlaslah Syara"


Syara menangis dan diamnya, melihat adegan tadi. Hana yang tahu akan tatapan mata Syara, mengusap-usap pundaknya. Untuk memberi kekuatan dan sebagai kata ganti sabar.


Ucap Aldo berusaha membuat suasana ceria, Shania yang malu mencubit Aldo.


"Aduh jangan gitu dong sayang, malu sama kakak ipar kalo mau mesra-mesraan di sini"


Ucap Aldo membuat Shania cemberut


"Aldoooo..."


Panggil Shania dengan suara yang ditekan.


"Kalo kami serius cepet nikahin Do, nunggu apalagi. Biar Baby Fattah punya temen main ya, iya kan sayang".


Ucap Arindra pada Fattah dan menciumi putranya itu.


"Baaaaa, ci luk baaaa"


Baby Fattah tertawa, membuat yang lain tersenyum bahagia.


"Pinginnya Mbak, tapi nih adek loe susah banget di ajak nikah. Hans mah enak, istri dua akur semua. La ini calon bini satu aja diajak nikah, ntar mulu jawabannya"


Jawaban Aldo mendapat lirikan tajam dari Shania.


"Kenapa sayang, mata kamu sakit"


Ucap Aldo tanpa rasa bersalah. Shania kesal lalu beranjak ke taman belakang.


"Sayang, jangan marah dong. Cius deh nanti kita nonton yuk abis itu ke KUA, biar besok kita sah. Gimana, mau ya"


Aldo berusaha mengejar Shania dan berlari ke belakang.


"Maafkan tingkah Shania ya"


Ucap Arindra tak enak pada tamunya.


"Ga pa-pa Mbak". Jawab Syara.


"Oh ya dokter Hana, apa kabarnya. Maaf baru menyapa dan kita baru bersua"


"Panggil aja Hana Mbak, alhamdulillah aku baik. Maafkan Hana yang baru bisa datang menemui Mbak"


"Santai saja, aku tau kalian sibuk. Tapi aku sangat senang dan bersyukur akhirnya bisa bertemu kalian. Terima kasih ya sudah mau datang menemuiku dan mempertemukan dengan baby Fattah yang menggemaskan ini".


Arindra tersenyum dan menciumi bagian perut Fattah, membuat Fattah tertawa.


"Kami yang berterima kasih, karena Mbak menerima kami dengans sangat baik. Sungguh Hana malu menemui Mbak, setelah apa yang dilakukan Daddy. Mohon maafkan keluarga kami Mbak".


"Seperti yang aku bilang sama Syara, lebih baik lupakan kepahitan masa lalu, jadikan pengalaman dan pembelajaran. Masa lalu adalah masa lalu, yang hanya akan menjadi kenangan.


Dari awal tak ada dendam tertanam di hatiku, maafkan aku jua pada kalian. Yang membuat kalian kehilangan sosok Ibu, Aku turut berduka cita untuk itu.


Sekali lagi mohon maaf, dan kita belajar bersama untuk ikhlas melewati semuanya. Saling memaafkan dan merajut tali ukhuwah di antara kita"


Ucap Arindra tersenyum, dan disambut senyuman ke tiganya.


#############


"***Tiada kata yang paling indah, selain kata saling memaafkan atas segala kesalahan"


Semoga kita semua termasuk orang-orang yang membuka pintu maaf selebar-lebarnya.


Aamiin ya robbal alamin.


Alhamdulillah Chapter 101 done.


Akhir yang bahagia kan heheee


Bisa di end berarti kisah Arindra ya 🤭😁😁


❤😍❤❤❤❤❤


Terima kasih pembaca semuanya, oh ya


doa-doa buat anak diambil dari web wisatanabawi.com


koment, like,poin,vote,share dan follow lesta lestari


makasih semuanya 😍😁😍😍😍***