ARINDRA

ARINDRA
Chapter 36



Pagi itu pagi pertama untuk dua insan suami istri sholat subuh berjamaah. Suasana syahdu sebagaimana lantunan suara murotal Muzammil Hasballah, mengalun merdu mendamaikan hati insan yang mendengarnya.


Untuk pertama kalinya jua, Syara mencium punggung tangan Hans yang tak dilakukannya saat ba'da akad nikah dulu. Untuk pertama kalinya, secara sadar dan ikhlas merasakan bibir suaminya mengecup keningnya lama disertai air mata.


"Maaf"


Itulah kata yang diucapkan Hans saat bibirnya masih dikening istrinya. Syara yang tersenyum, menarik tubuh Hans untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Maakan Syara kak"


Ucap Syara di dada suaminya. Hans menenggelamkan wajah sang istri dipelukannya. Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu, seolah enggan saling melepaskan dan menumpahkan kerinduan yang cukup lama terpendam.


"Tuntun aku Ra, untuk jadi suami yang baik untukmu dan Mbak Arindra. Ingatkan aku jika salah, bersamamu buat aku lebih mengenal Tuhan dan agamaku. Bisakah?"


Syara menghapus air mata di wajah suaminya, ia tersenyum dan mencium kening Hans untuk pertama kalinya.


"Insyaa allah kak, kita belajar sama-sama ya"


"Makasih Ra"


Mereka kembali mengeratkan pelukannya, tangan Hans menghapus air mata istrinya, memberikan senyum termanis padanya.


"Besok lagi kalau sholat wajib ke masjid ya"


Ucap Syara lembut dan terkesan manja.


"Kenapa, di rumah kan lebih enak bisa langsung meluk istri kalo udah selesai doa hehee"


Syara mengusap pipi suaminya,


"Boleh sholat jamaah di rumah, tapiiii..."


"Tapi apa hemm"


Hans menyatukan kening mereka


"Ganti jenis kelamin"


Bisik Syara membuat Hans terhenyak


"Lha...g bisa punya anak sama kamu dong kalo gitu"


"Ihhh kok ngomongnya gitu"


"Kan disuruh ganti kelamin, otomatis kakak bengkok dong"


"Kak, sholat di masjid wajib bagi laki-laki"


"Masjid di sini jauh sayang, lagian pagi-pagi gini dingin banget hemm mana tahaaaan"


Hans menggoda Syara suara mendesah dan ekspresi genitnya. Syara menarik hidung mancung Hans.


"Dasar genit"


"Genit sama istri sendiri emang g boleh hemm"


Hans mengangkat tubuh ramping dan mungil Syara ala bridal dan menjatuhkan tubuhnya disofa dengan Syara berada dipangkuannya.


Mereka saling menatap, Syara memainkan alis tebal milik suaminya.


"Jangan nggoda Ra, kalau belum bisa tanggungjawab"


"Hehee, Kak, Syara serius lho mengenai sholat di masjid"


Tanpa menghentikan tangannya yang menelusuri wajah tampan Hans


"Harus banget ya"


"Hemm"


"Memang kalau enggak ke masjid kenapa?"


Syara meletakkan tubuhnya di dada sang suami.


"Kak, dengar baik-baik ya, barangsiapa yang ingin ketika berjumpa dengan Allah esok dalam keadaan sebagai seorang Muslim, maka hendaknya dia menjaga shalat 5 waktu di tempat dikumandangkan adzan (yaitu di masjid). Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian jalan-jalan petunjuk. Dan shalat 5 waktu di masjid adalah salah satu di antara jalan-jalan petunjuk.


Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang tidak ikut shalat berjamaah ini, ia shalat di rumahnya, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian akan tersesat.


Dan sungguh aku melihat dahulu kami para sahabat, tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya. Dan sungguh dahulu ada sahabat yang dibopong ke masjid dan ditopang di antara dua lelaki agar bisa berdiri untuk shalat di shaf” (HR. Muslim no.654).


Aku enggak mau kak, kakak jadi bagian orang-orang munafik. Hanya mau mengambil islam di bab enaknya aja, sedangkan bab lainnya tidak diindahkan hanya karena tidak sesuai kepentingan"


"Syara bukan ustadzhah kak, tapi belajar memahami agama dan menjalankannya"


"Bagaimana islam mengatur kewajiban istri pada suaminya?"


"Hah, kenapa kakak mau bahas itu"


Syara melihat wajah Hans yang menyunggingkan senyum yang tak biasa.


"Ya kakak ingin tau, kewajiban istri seperti apa, suami seperti apa. Kan kakak belum tau sayang"


"Kakak tidak tau atau pura-pura tidak tau?"


"Kakak tidak paham sayang, beneran deh makanya ini mau belajar"


"Jangan dibahas sekarang ya?"


"Kenapa?"


Syara terdiam dan tertunduk, meski hatinya senang dan terharu akan perlakuan suaminya beberapa hari ini. Lagi-lagi ia masih ragu untuk menyerahkan sepenuhnya pada Hans.


"Tenang saja kakak tidak akan menuntut itu, sekarang kau sudah menerima perlakuan kakak seperti ini kakak sudah sangat senang. Artinya kakak punya kesempatan untuk mendapatkanmu seutuhnya"


Hans tersenyum meski dalam hati ia kecewa, ia sadar Syara masih menolaknya. Mata Syara berbinar mendengar Hans berbicara seperti itu.


"Biarkan semua mengalir bagai air hingga kau merasakan betapa kau membutuhkan seorang Hans, biarkan kakak selalu hadir bagai angin yang terhembus memenuhi rongga-rongga dadamu. Ingatkan kakak jika kakak mulai kehilangan kesabaran.


Kakak bukan Afdan seorang hafidz qur'an lelaki impian para wanita sholehah sepertimu, kakak hanya laki-laki ******** berlumur dosa yang belajar taubat dari kubangan dosa di masa lalu.


Kakak bukan laki-laki yang mempesona lewat bacaan alqur'annya yang indah, bukan jua seorang ahli ibadah, baik wajib maupun sunnah. Suamimu ini adalah laki-laki cacat agama, yang berusaha menembus surga dengan taubat-taubatnya.


Sayang, kan kuketuk namamu disepertiga malamku, kan ku ukir indah namamu dalam bait-bait doa yang kupanjatkan. Jika benar Allah mengijinkan kau menjadi pendampingku, menemani hari-hari hingga masa tuaku, maka sepenuh hati diri ini akan menjagamu. Namun jika tidak, jika memang kita tak berjodoh biarlah ini menjadi kisah kita, yang telah terukir di buku nikah dan berharap datangnya ikhlas dalam dada untuk saling melepas dengan rela.


Aku akan memperjuangkanmu, maka kuminta doa-doamu untukku, untuk pernikahan kita. Kesembuhan Mbak Arindra dan jalan terbaik menurutNYA di masa depan. Maukah?"


Syara yang terharu mendengar kata-kata indah suaminya mengeratkan pelukan di tubuh besar itu.


"Iya kak, tuntun Syara jadi istri yang sholehah ya"


"Iya sayang"


Hans mengecup puncak kepala Syara yang masih berbalut mukena.


"I love you"


Bisiknya


Damai itulah yang dirasakan oleh dua insan pasutri itu. Sudah lebih lima bulan menikah, baru kali ini mereka banyak bicara dan menghabiskan waktu bersama. Hingga ketukan pintu menyadarkan mereka.


"Tok-tok"


Syara bangkit, ia melihat jamnya


"Masya Allah kak, sudah jam tujuh pagi. Kakak enggak ngantor"


"Ngantor sayang, bentar kakak buka pintu dulu"


Hans membuka pintu, terlihat suster Hani membawa peralatan mandi untuk Arindra.


"Maaf Tuan Muda, sudah waktunya nona..."


"Ya saya mengerti, masuklah. Syara juga sedang bersiap"


"Baik Tuan"


"Pagi dokter"


Suster Hani melihat Syara sedang melipat mukena, dan membereskan sajadah. Sedangkan Tuan muda Hans, masih mengenakan sarung, Koko dan peci. Membuat aura berbeda dari sosok seorang Hans yang selama ini terkesan dingin.


########


Alhamdulillah done chapter 36.


**Tiada nilai sebuah kata atau tingkah laku jika bukan diniatkan karena Allah.


Bismillah mohon maaf author untuk semuanya🙏🙏🙏**


Hadist tentang sholat jamaah diambil dari sumber . https://muslim.or.id/52194\-shalat\-jamaah\-wajib\-di\-masjid.html