ARINDRA

ARINDRA
Chapter 46



Hans membawa bayi mungil dalam pelukannya, ia membaringkan putranya di atas kasur untuk tidur bersamanya. Syara yang melihat suaminya terbaring ikut terbaring sambil memeluk melingkarkan tangannya di perut rata suaminya.


"Kak, apakah kakak masih berusaha menyelidiki kematian Mbak Arindra?"


"Kenapa?"


Tanya Hans heran, ada nada ketidaksukaan yang ia dengar dari pertanyaan Syara.


"Tidak, hanya bertanya"


Jawab Syara yang mendengar jawaban ketus Hans


"Kau senang?"


Tanya Hans dengan melepaskan tangan istrinya dan duduk di sofa. Syara bangkit menghadap Hans yang menjauh.


"Kenapa kakak menuduhku seperti itu?"


Syara meraih ke dua tangan Hans, dan meletakkan kepalanya di kedua tangan itu.


"Matamu tak bisa berbohong Syara, kau senang karena tidak ada lagi yang membuatmu cemburu. Itu alasanmu kenapa selama ini kau selalu menolak untuk ku sentuh"


Ucap Hans, yang membiarkan Syara dengan segala tingkahnya. Syara menangkup wajah Hans.


"Kak, aku selalu cemburu, saat kakak bersama Mbak Arindra. Apakah aku salah, jika cemburu pada suaminya sendiri"


Ucap Syara dengan lembut, Hans menghela nafas berat. Ia harus bersikap tegas pada Syara, ia selama ini selalu membiarkan Syara dengan berkuasa dengan perasaannya.


"Tidak, tapi caramu salah"


"Kak, tidak ada wanita yang mau di madu termasuk aku"


Syara menempelkan wajahnya pada wajah Hans. Saat ini mereka beradu nafas, Hans tau Syara sedang cemburu.


"Kau seharusnya tau, aku takkan menikahimu jika bukan karena Arindra"


Hans mencoba lembut, mencoba memahami istrinya ini.


"Kak, kita sama-sama terpaksa awalnya. Tapi bukankah sekarang sudah saling jatuh cinta. Bisakah kita memulai dari awal, seperti yang selalu kakak bilang padaku"


Syara mencoba meraih bibir Hans, namun Hans memalingkan wajahnya, membuat Syara kecewa.


"Beginikah rasanya ditolak suami, sakit sekali ya Robb"


Syara terkejut untuk pertama kalinya, ia ditolak Hans. Hans bangkit menuju sofa yang lain, saat ini ia hanya ingin menjaga jarak dari siapapun. Rasa percaya yang selama ini ada pada orang-orang di sekitarnya berkurang itulah mengapa ia mengambil sikap seperti ini.


"Entahlah Ra, saat ini aku tak tau ke mana arah hatiku. Yang aku tau saat ini, hanya mencari kebenaran akan kematian Arindra. Bagaimanapun, dia menderita selama ini karenaku. Aku ingin mencari keadilan untuknya?"


Syara kecewa untuk ke dua kalinya, dijeda waktu yang tak terlalu lama melihat Hans menjauhi dirinya.


"Kenapa kakak sebegitu menggebunya mencari fakta kematian Mbak Arindra. Dia takkan hidup lagi Kak, tidak cukupkah rumah tangga kita yang menjadi fokus untukmu mulai sekarang?"


Syara yang kecewa ditolak, tak terima sikap Hans saat ini padanya. Ia sudah terbiasa dengan sikap Hans yang mengejarnya, memuja, dan memintanya.


"Yang mati memang tidak bisa hidup kembali, tapi dia juga istriku Ra, istriku ingat itu. Dan jangan pernah memintaku untuk tidak berfikir lagi tentangnya meskipun kini dia sudah tiada"


Tegas Hans pada Syara yang mulai menunjukkan kemarahannya.


"Apakah itu cinta ataukah rasa bersalah kakak yang besar padanya?"


Lagi, Syara tak menerima Hans yang masih berfikir tentang Arindra.


"Aku tidak peduli, cinta atau rasa bersalah. Yang kupedulikan adalah dia istriku sampai kapanpun dia istriku"


Jawab Hans dengan aura dinginnya, Hans mengeram menahan kemarahan di dadanya. Melihat Syara yang tak sabar akan rasa kecewa dan sedih dirinya akan kematian Arindra.


"Aku juga istrimu Kak, aku mencintaimu sungguh mencintaimu Kak"


Ucap Syara lagi setengah berteriak, membuat bayi mungil itu terbangun dan menangis. Hans bangkit lalu menggendong, putranya itu. Hans harusnya senang mendengar kata-kata yang selama ini ia tunggu-tunggu dari Syara. Namun entah mengapa, pernyataan cinta dari wanita di hadapannya itu terasa hambar.


"Tenanglah sayang, Papa di sini. Cup..cup anak Papa, Fattah sayang"


Syara yang melihat itu geram, ia ingin menumpahkan rasa kecewa akan perubahan sikap Hans yang tiba-tiba menurutnya. Namun ia tahan, dan terbaring di kasur, meninggalkan Hans yang tak melepaskan bayi itu dalam gendongannya itu.


$########


Dilain tempat, Alex berada di rumah sakit menunggui Arindra, siang itu Arindra mulai membuka menggerakkan tangannya kembali.


Ia segera memanggil dokter di sana, seorang dokter wanita datang.


"Sungguh sebuah keajaiban yang luar biasa, wanita ini bertahan hidup setelah apa yang dilaluinya"


Ucap dokter yang bernama Jenny itu pada Alex.


"Kau mendapatkan senjata yang tepat Alex, tak sia-sia selama ini kau menjadi penyusup di kerajaan bisnis seorang Wijaya"


Ucapnya lagi sambil tersenyum melihat Alex masih menatap wajah Arindra.


"Apakah besar kemungkinan ia akan bangkit?"


Tanyanya masih ragu, akan kondisi Arindra yang parah menurutnya.


"Dia akan bangkit, tunggu saja minggu ini. Percayalah, dia punya sesuatu yang membuat ia harus bangun. Tapi kau harus sabar, tak bisa langsung menggunakan senjata milikmu ini"


"Ya aku tahu, dia sudah terlalu lama koma. Bahkan secara biadab, Wijaya memaksa kami mengoperasinya pada saat ia mulai bangun dari komanya"


Alex geram mengingat kejadian itu, ia melihat jelas, mata Arindra yang mulai terbuka perlahan dipaksa tertutup kembali.


"Wijaya takkan selamanya menang, dia sangat tenang, namun mematikan. Kau juga harus mengumpulkan dan memainkan pion-pion yang selama ini mengitari Wijaya. Agar kelak, senjata utamamu akan lebih dahsyat saat waktunya dikeluarkan"


"Yah, kau benar Jen. Aku tak sabar menanti hari itu, hari di mana Wijaya tertunduk dan mengakui segala kesalahannya"


"Tidurlah di sana, kau pasti lelah. Aku akan menjaganya dengan baik, tenang saja aku akan membantu sebisaku"


Alex menuju kasur yang disediakan di sana, itu adalah permintaan Jenny. Agar Alex, bisa istrihat dengan tenang tanpa bolak-balik pindah ruangan.


#######


Aldo gelisah, ia berulangkali berusaha untuk memejamkan matanya, namun lagi-lagi ia terbangun. Ia menyadari ada sesuatu yang janggal pada proses kematian Arindra. CCTV memang menunjukkan tidak ada kejanggalan, namun jika membandingkan CCTV dan keterangan-keterangan yang ia dapat, ada sesuatu yang disembunyikan. Jika dicermati, vidio dan CCTV yang ada padanya jika jeli ada beberapa kejadian yang terpotong.


Jika bukan seorang ahli, karena potongan kejadian itu begitu rapi sehingga tak menimbulkan kecurigaan sama sekali.


"Ahhh apakah aku harus mengatakan ini pada Hans?"


Gumamnya,


"Katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak, katakan tidak katakan tidak..."


Terus ia mencoba bermain dengan jari jemarinya itu. Ia berhenti saat jari kesepuluh berkata tidak.


"Lagian juga, Hans sudah cinta mati ma Syara, Arindra sudah enggak penting lagi. Sudah meninggal juga, ngapainlan dipermasalahin. Harusnya kan Hans senang, tidak ada lagi penganggu dirinya untuk fokus pada Syara. Iya enggak sih"


Begitulah akhirnya Aldo memutuskan sendiri, karena baginya Arindra sudah mati. Toh, Hans juga tak mencintainya, jadi sudah cukup menurutnya perjuangan Hans untuk seorang Arindra.


##########


**Alhamdulillah sukses sampai 46.


Pegel-pegel deh jempol ketik langsung via hanphone.


Tali aku sih tak apa, yang penting up terus.


Semangat aja oke.


Like


komen,


vote


jangan lupa ya readers. love muachhhh❤❤❤❤❤**