
"Shitt"
Ucap Jack saat membuka sebuah paket yang baru datang.
"Ada apa kak?"
Dio yang baru keluar kamar melihat Jack membuka sebuah paket tapi segera ditutupnya kembali.
"Bukan apa-apa, cepat buang"
Perintahnya pada salah satu bodyguard yang ada di sana. Jack duduk bersama Dio, di sofa panjang, Jenny masih berkutat dengan kesibukan membaca komentar netizen di soutube Dio, Alex sibuk dengan laporan perusahaan. Arindra, dia berdiri di balkon menatap kehidupan luar.
Mereka terkurung di apartemen beberapa hari ini, Jack yang meminta mereka untuk tidak keluar, karena masih khawatir akan keselamatan masing-masing personil.
Berita akibat konten itu menjadi heboh, Wijaya tak mampu menghentikan derasnya pemberitaan soal keamanan apartemen dan orang dibalik terbunuhnya Dea dan Jhon.
Meski tak menggoyahkan perusahaan secara besar-besaran, namun cukup membuat Wijaya menjadi bahan pergunjingan di kalangan pengusaha.
Membuat Wijaya murka dan gelap mata, hingga ia terus menerus meminta orang-orangnya meneror Arindra cs dengan mengirimkan berbagai paket yang isinya mengerikan. Ayam mati yang masih berdarah, tikus, atau binatang kecil lainnya.
Jack yang selalu berusaha untuk menyembunyikan itu akhirnya tak berkutik, teror itu terus berlanjut hingga ancaman pembunuhan via pesan, atau telpon orang-orang yang tak dikenal berkali-kali datang.
"Teror lagi.."
Tanya Alex di sela kesibukannya. Jack hanya mengangguk, agar tak terdengar Arindra. Arindra benar-benar tak dibuat tahu akan teror itu, dan hanphonenya juga di sita oleh Jack dengan alasan keamanan.
"Jika kita terus berdiam di sini, kita tinggal menunggu waktu Wijaya menghancurkan kita"
Lirih Alex, diangguki oleh ketiga lainnya.
"Jen, temani kak Arindra di balkon"
"Baik Kak"
Jenny menemui Arindra yang kemudian tersenyum melihat kedatangannya.
"Minumlah kak"
Jenny menyodorkan sebotol minuman dingin pada Arindra.
"Mereka sedang apa Jen?"
"Menunggu Paman, entah kenapa Paman tak datang-datang"
"Sudahkah dihubungi, soalnya kakak tak memengang hp?"
"Sudah Kak, tapi tak bisa-bisa"
Arindra balik ke ruangan, tak bisa dijegah oleh Jenny.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku, kenapa beberapa hari ini kalian seolah menyimpan rahasia padaku"
Arindra duduk diantara tiga pria itu, Jenny kemudian datang duduk di sampingnya. Alex, Dio melirik Jack, Jack mengerti dan menatap Arindra.
"Berjanjilah untuk tidak marah, atau merasa bersalah lagi. Semua ini terjadi bukan karenamu, dan bukan kamu penyebabnya"
"Sebenarnya ada apa Kak Jack, jangan seperti ini. Aku berhak tau, apa yang terjadi, kenapa Paman belum jua sampai di sini, padahal harusnya sudah datang beberapa hari lalu bukan"
"Maafkan kami Arindra, Paman saat ini sedang disekap oleh orang-orang Wijaya. Itulah alasan mengapa kami melarangmu dan Dio membuat konten lagi saat ini. Dan beberapa hari terakhir ini kita semua di teror berupa paket-paket dan ancaman baik chat maupun telpon. Itulah alasannya aku melarangmu memegang hanphone"
"Kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku, kalian fikir aku ini apa. Hanya orang yang bisa duduk diam saat orang lain yang menyayangiku mendapatkan ancaman, begitu"
"Kak, tenanglah. Kami sudah berusaha mencari keberadaan Paman, tapi sampai saat ini belum berhasil"
Ucap Alex mencoba memberi pengertian pada Arindra yang marah
"Lalu apa rencana kalian sekarang, hanya duduk diam tanpa ada pergerakan. Paman bisa jadi disiksa di sana, semakin lama kita diam semakin membuat paman terluka. Kalian sadar itu"
"Kami saat ini buntu Arindra. Lihat apartemen sebrang itu, ada seseorang yang selalu mengintai apartemen kita. Lihat di kanan dan kiri apartemen kita, mereka orang-orang Wijaya yang banyak bertugas sebagai security, cleaning servis, tukang taman dan lainnya. Kita terkunci di sini, maafkan kami"
"Kenapa kita tidak pindah tempat tinggal saja jika kita pergerakan kita terkunci di sini?"
"Tidak mudah Arindra, orang yang kuperintahkan mencari tempat tinggal kini tak ada kabar. Kekuasaan Wijaya itu besar Arindra, hingga banyak developer-developer menolak semua klausul pembelian kita. Di sisi lain kita juga memikirkan paman, Wijaya menyerang balik kita, dengan melaporkan Alex melakukan penipuan identitas saat bekerja di rumah sakit Wijaya.
Semua terdiam, meski kasus dokter Dea masih diberitakan. Namun tak membuat Wijaya berhenti, semua rencana tak berjalan sesuai ekspektasi mereka.
Wijaya memberikan perlawanan yang tak mudah hingga membuat mereka terkunci di apartemen mereka sendiri.
"Bagaimana perkembangan dengan projek Teluk jakarta Lex, sudahkah ada pencairan?"
Tanya Arindra,
"Belum ada Kak, aku juga tak tau bagaimana selanjutnya. Karena aku putus kontak dengan orang-orangku di sana. Kemungkinan Wijaya, mensabotase semua informasi yang kita punya"
"Kenapa kita tak mengirim bodyguard kita Lex?"
"Mengirim kemana kak, bodyguard kita tinggal empat. Maaf sebelumnya, keuanganku dan Kak Jack juga menipis. Kami sedang memikirkan cara lain, tapi sampai saat ini buntu kak"
"Kalian terlihat begitu frustasi, tapi seolah ingin menjadi pahlawan di hadapanku dengan mengatakan keadaan selalu baik-baik saja. Kalian mengesalkan sekali.."
"Kami tidak tau harus mengatakan apa pada Kakak, kami hanya tidak ingin Kakak berfikir terlalu berat. Bagaimanapun kami masih memikirkan kondisi psikis Kakak"
Jenny mencoba memberikan alasan agar Arindra tidak marah.
"Dio, bagaimana?"
"Kru yang membantuku mundur teratur Kak, dan beberapa teman-temanku juga menolak membantuku. Seolah mereka tahu, yang kita hadapi adalah Wijaya, jadi mereka lebih mencari aman Kak. Maafkan aku yang belum banyak membantu"
"Baiklah, jika memang kondisinya seperti ini, mereka pasti ingin diriku kan?"
Semua terdiam, tak ada yang berani bicara.
"Di mana tempat penukarannya, berikan alamatnya padaku?"
"Kak, kami tak kan membiarkanmu ke sana?"
Alex bersuara
"Benar Kak, bagaimanapun keselamatan kakak adalah yang utama"
Dio juga mencoba menahan
"Jika Jenny bisa, biarlah Jenny yang jadi gantinya. Tapi maafkan kami Kak, mereka tak menginginkanku"
Jenny sudah menangis, ingat Paman James.
"Kalian ini, jangan sampai ada korban lagi gara-gara mereka hanya menginginkan diriku. Aku sudah pernah merasakan maut, jadi biarkan kali ini aku melakukannya lagi"
Semua masih terdiam, Jack juga tertunduk.
"Kak..."
Ucap Arindra mulai geram melihat Jack yang
sejak tadi tak bersuara.
"Jika bisa nyawamu ditukar denganku, aku dengan senang hati melakukannya Arindra. Masalahnya tak sesederhana itu, kau datang bertukar dengan Paman James lalu masalah selesai. Kau mungkin tak terlalu banyak mengenal sepak terjang Wijaya. Aku dan Paman James sudah memantau Wijaya sepuluh tahun terakhir ini.
Jika kau datang, hanya dengan modal keberanian saja maka kita bisa kehilangan dirimu dan Paman James. Jika kau mati, Paman mati, lalu untuk apa kami berjuang sejauh ini. Kami sangat menantikanmu itulah alasan mengapa Alex ada di rumah sakit Wijaya menyamar sebagai dokter di sana.
Jika akhirnya akan begini, kami tak kan pernah mau melakukan sejauh itu. Sabarlah, tunggu kami akan melakukan yang terbaik. Kita bukan lawan yang mudah kalah begitu saja, kita akan menemukan solusinya"
Arindra terdiam setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari Jack. Ia paham, kondisi saat ini membuat mereka terjepit.
###########
Alhamdulillah chapter 73 done
seperti biasa
like, komen, voteee, poin, share dan Follow **Lesta Lestari.
Selalu author tunggu lhooo
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**