
Lagi-lagi Syara terisak, mata bengkak akibat tangis semalam belumlah selesai. Ditambah apa yang ia dengar dari Aldo membuat hatinya lagi-lagi terguncang.
"Jadi selama ini ia masih jalan sama kekasihnya, dia selingkuh dari aku sama Mbak Arin. Bener-bener cowok enggak punya hati, apakah pernikahan ini benar-benar permainan buat dia. Ya Allah mengapa pernikahanku seperti ini, kenapa sakit sekali ya Robb"
Syara lagi-lagi tertunduk dalam tangis diam, ia semakin bimbang haruskah ia mengajukan perceraian sekarang, lalu bagaimana nasib anak Mbak Arin jika lahir. Tapi jika bertahanpun ia sungguh tersiksa.
Ia hanya ingin, meskipun pernikahan ini kelak harus berakhir namun ia berharap tak ada perselingkuhan di antara mereka. Ia benar-benar tak rela, pernikahannya di kotori oleh hal-hal seperti itu. Apalagi ucapan Aldo menusuk hatinya, istri yang tak mau peduli.
"Ya Allah berilah petunjukmu"
Do'a-do'a dilantunkan Syara, ia memasrahkan pada takdir apa yang terjadi selanjutnya. Namun ia juga akan membuat benteng kokok, agar kelak hatinya tak lagi merasa lebih sakit.
######
Sedangkan Hans di ruangan berbeda memutuskan untuk mencoba kembali dengan Syara, menerima saran Aldo. Bagaimanapun Aldo benar, masing-masing harus belajar membuka diri.
Saat makan siang, Hans turun ke meja makan. Meja sudah dipenuhi lauk pauk kesukaaan Hans. Ia duduk di sana, namun tak lantas mengambil makanannya. Ia menunggu Syara, untuk makan bersama dan mengajaknya berbicara.
Tik...tik...tik..
Detik jam bergulir, sudah tiga puluh menit terlewati tak kunjung jua sosok Syara terlihat. Hans mengambil makanan di atas piring, membawa gelas dan beberapa buah yang sudah terpotong dan meletakkan di atas nampan.
Hans sudah bertekad memperbaiki semuanya dengan Syara, meski badannya masih lemah, tapi tekadnya tak membuatnya kalah. Perlahan namun pasti, langkahnya menuju kamar Syara. Tanpa mengetuk, ia masuk ke kamar yang dulu ia tempati itu.
Syara terlihat masih memegang kitab suci Al-Qur'an dan lengkap dengan mukenanya. Hans tertegun,
"Begitu sholehahnya dirimu, hingga membuatku malu pada diriku sendiri"
Gumam Hans dalam hati sambil meletakkan nampan yang ia bawa di nakas. Mendengar pintu terbuka, Syara menyudahi bacaannya, berbalik dan melihat Hans sedang meletakkan nampan di nakas.
"Kenapa membawa makanan ke kamarku, bukankah kakak yang sakit"
"Aku menunggumu di bawah, tapi tidak turun-turun. Aku fikir kau ketiduran hingga aku memutuskan membawa makanan ini ke kamarmu. Maaf jika mengganggumu"
"Kakak sendiri apakah sudah makan?"
Hans menggeleng,
"Kenapa memikirkan aku yang sehat, sedangkan kakak yang sakit?"
"Aku hanya membalas apa yang sudah kamu lakukan tadi padaku"
Syara lagi-lagi terhenyak dengan ucapan Hans.
"Benarkah tidak ada ruang lagi untuk memperbaiki pernikahan ini?" gumamnya
"Aduh salah bicara gue"
Gumam Hans dalam hati merutuki kebodohannya sendiri.
"Makanlah, aku makan di bawah"
Ayok tahan aku, ucapkan kita makan bersama. Ayolah...
Hans sangat menunggu ucapan itu, namun Syara hanya diam.
"Makasih kak, tapi besok lagi tak usah seperti ini. Aku bisa sendiri, aku sehat"
Syara yang biasanya lembut bernada tegas kali ini. Membuat seorang Hans mati gaya.
"Baiklah, aku turun dulu"
Ucap Hans dengan nada lemah, lalu melangkahkan kaki keluar menuju meja makan.
Ia menikmati makanannya tanpa semangat, harapannya makan bersama Syara pupus sudah. Ia menelpon Aldo untuk menjemputnya di rumah, meski terkejut dan enggan akhirnya Aldo datang juga. Siang itu Hans memaksakan dirinya tetap ke kantor, meski berulang kali dilarang Aldo.
"Apalah dayaku hanya seorang asisten"
Ucap Aldo akhirnya menuruti kemauan bossnya itu.
Syara yang tak tau menahu akan keberangkatan Hans, masih terdiam di kamar. Berusaha menikmati makanannya, namun ia lebih banyak terdiam dari pada menyuapkan makanan itu ke mulut manisnya.
"Tok..tok Non"
Suara ketukan pintu menyadarkannya, ia membuka dan melihat Mbok Nah berdiri di sana.
"Kenapa Mbok?"
"Anu non, selang infus no Arin udah mau habis"
"Oh iya Mbok, apa Kak Hans ada di kamarnya?"
"Tuan muda pergi non, tadi dijemput sama Tuan Aldo"
"Pergi, bukannya masih lemas badannya"
"Tadi pergi setelah makan siang non, tapi kayaknya enggak banyak juga makannya"
"Ya udah Mbok, tolong bereskan makanan di kamar saya ya, saya ke kamar Mbak Arindra dulu"
Syara membuka pintu kamar itu, kamar yang sudah tertata rapi kembali seperti biasa. Dengan cepat Syara mengganti Infus yang tinggal sedikit. Lalu memeriksa denyut nadi Mbak Arinda, di rasa aman ia melangkah melihat lagi foto yang berada di nakas.
"Wanita inikah yang bernama Karina?"
Syara lagi untuk kedua kalinya memperhatikan wajah wanita yang sedang tersenyum itu.
"Jika kau begitu menyukainnya mengapa aku yang kau nikahi. Mengapa harus rencana pernikahanku yang kau rusak, mengapa pernikahan ini yang jua kau nodai dengan tetap bersamanya"
Syara benar benar dibuat bingung,
"Apa yang membuat Abi tetap menikahkanku dengan Kak Hans, kenapa masih misteri. Abi tau betul aku menyukai Afdan, aku tau betul betapa Umi dan Abi sangat menyayangi Afdan. Tapi kenapa, mengapa?"
Ia kembali teringat betapa Abinya juga hancur setelah mengucapkan pembatalan acara khitbah dari Afdan. Abi mengurung diri di kamar, begitu juga Umi yang merasa tak mengerti alasan suami dan malu akan tingkah bodohnya.
Beberapa kali Syara meminta jawaban, kenapa dan alasan apa tapi hanya nasehat saja yang ia terima. Berulang kali Syara mencoba memaksa, namun berulang kali ia dapatkan jawaban yang sama.
Apalagi setelah Umi Hasan bercerita, jika Afdan masih bersedia menunggunya. Membuat ia semakin rumit terjebak dalam pernikahan ini. Satu-satunya harapan adalah bangunnya Mbak Arindra, namun sudah lima bulan berjalan mata itu masih saja terpejam. Belum ada tanda-tanda tubuh itu akan terbangun.
"Sungguh jika tiada Engkau di hati hambaMu ini Ya Robb, hamba sudah sangat frustasi menghadapi ini semua ya Allah"
"Assalamualaikum kakak ipar"
Syara menoleh, ia melihat Hana masuk mendekatinya.
"Walaikumsalam Han, katanya malem kok udah datang"
"Ihh kakak ipar suka gitu deh, enggak seneng apa adeknya dateng"
"Bukan gitu, tadikan kamu bilang sendiri"
"Oh itu, tadi Kak Hans minta aku dateng ke sini secepatnya, karena katanya kakak lagi butuh aku gitu buat teman curhat 😆"
"Enggak kok, kakak kamu itu aja ngada-ngada"
"Alhamdulillah ada kemajuan"
"Maksudnya"
"Ya kalian, udah saling perhatian gitu. Berarti bentar lagi dapet ponakan dong hehee"
"Kamu ini, itu mulu bahasannya"
"Semalem udah tidur berduakah"
"Mana ada, jangan mimpi"
"Mimpi boleh dong, semua kan berawal dari mimpi katanya mah gitu"
"Kamu udah makan?"
"Udah, nih beli rujakan tadi di jalan. Siapa tau ada ibu-ibu nyidam"
"Itumah maunya kamu kali Han"
"Lagian sih aneh kalian, apalagi kamu Ra, nikahmah g salah-salah tuh dah mau lima bulan. Ehheee masih perawan aja tuh gawang"
"Sok tau kamu tuh"
"Ehh berarti dah enggak perawan dong"
"Dasar, cepet nikah sana. Kamu sama Aldo tuh cocok banget"
"Dih cocok darimananya"
"Cocok, sama-sama kompor dan bawel haha"
##########
*Alhamdulillah dah sampai chapter 30
huh doakan tanganku tetap aman ya guys soalnya ngetik langsung nih di henphone hehee
maaf kalo banyak typo
oke lah guys langsung aja cuz
di like
di komen
di share
di poin
di follow Lesta Lestari
sosoooooo biar semangat Upnya. ❤❤❤❤❤❤*