ARINDRA

ARINDRA
Chapter 90



Di sebuah ruangan yang cukup luas, Arindra kini sedang duduk berhadapan dengan seseorang yang memakai baju tahanan.


Orang itu terkejut saat melihat kedatangannya, tak percaya akan apa yang dilihatnya.


"Anda pasti sangat mengenal saya Suster Hani, meskipun Saya tak pernah merasa bertemu Anda"


Arindra sekarang sedang berhadapan dengan Suster Hani, ia datang bersama Hans dan banyak pengawal di belakangnya. Namun saat ini dia hanya berdua dengan Suster Hani.


"Apa maumu?" Suster Hani menatap dingin wajah Arindra.


"Aku tak suka basa basi Suster" Arindra menyerakan foto, vidio pada Suster Hani. Suster Hani terhenyak saat melihat foto dan vidio itu.


"Terserah Anda jika ingin tetap setia pada Tuan Wijaya, tapi apa yang Anda lindungi sudah dirusak oleh Wijaya"


"Tidak mungkin cucuku, tidak mungkin" Suster Hani menangis, tak menyangka jika cucu satu-satunya yang begitu ia lindungi keadaannya begitu menyedihkan.


"Suster, Anda seorang wanita, ibu dan seorang nenek. Betapa sedih dan sakit melihatnya bukan, begitu juga dengan ku Suster. Aku cuma ingin mau bertemu anakku dan hidup tenang. Sederhana bukan?"


"Apa yang kau mau?" Suster Hani menghapus air matanya.


"Aku hanya mau kejujuranmu, sebagai orang yang kusebutkan tadi"


"Apa jaminanku?"


"Aku tak bisa menjamin apa-apa, selain mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk cucumu"


"Hanya itu?"


"Untuk melindungi cucumu, Kau korbankan banyak orang, menghilangkan nyawa untuk penuhi ambisi gila Tuanmu. Tapi kau tau, setianya dirimu hanya membuat lubang dalam yang membuat karmamu pada orang yang sangat kau lindungi" Suster Hani menangis lagi.


"Jadi apa maumu sebenarnya"


"Tanyakan pada hati kecilmu, kau akan tahu jawaban apa dari pertanyaanmu"


Suster Hani terdiam cukup lama, sebelum ia meminta sebuah kertas dan pena lalu menuliskan sesuatu. Dan diberikan pada Arindra.


"Penuhi janjimu"


"Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untuknya" Arindra tersenyum mengiringi kepergian Suster Hani yang masuk kembali ke ruangannya.


"Mau kemana sekarang?" Hans bertanya pada Arindra ketika sudah ada di dalam mobil.


"Antarkan aku ke alamat ini" Arindra memberikan secarik kertas alamat yang dituliskan Suster Hani. Dalam perjalanan Arindra menatap jalanan, tak banyak pembicaraan antarkeduanya, meski Hans selalu curi-curi pandang.


Mereka sampai pada alamat yang dituju, sebuah rumah yatim piatu. Mereka masuk dan mencari ibu kepala panti.


"Silahkan masuk" Ucap Ibu panti dengan ramah setelah menjawab salam.


"Maaf jika mengganggu bu, kami datang ke sini karena diberi alamat ini oleh Suster Hani"


Ucap Arindra ketika mereka sudah duduk di bangku ruang tamu.


Ibu Panti itu lama terdiam dan menatap Arindra, Hans secara bergantian.


"Sebentar" Ucapnya lalu berdiri dan meninggalkan keduanya, tak berapa lama ia kembali.


"Saya tidak tahu ini apa dalam kotak ini, tapi Suster Hani bilang jika ada yang datang kemari membawa tulisan alamat yang ditulisnya maka ia meminta ini diberikan padanya"


Ibu panti menyerahkan kotak itu pada Arindra. Dan kemudian mereka pamit pada Ibu panti menuju rumah aman.


"Kau bicara apa tadi dengan Suster Hani?" Tanya Hans saat di dalam mobil.


"Hanya memberikan foto dan vidio tentang cucunya"


"Emang siapa cucunya Suster Hani kok aku g tau?"


"Mantan pacarmu"


"Lalu apa isi kotak itu?" Tanya Hans melirik kotak kecil yang ada digenggaman Arindra.


"Nanti kita buka sama-sama kalo sudah sampai rumah"


Mereka pun kembali diam, hanya terdengar suara musik pop yang mengiringi perjalanan mereka.


"Kak..." Jenny memeluk Arindra saat Arindra sudah sampai di rumah aman.


"Bagaimana keadaanmu, Kau baik-baik saja?"


"Aku baik Kak, justru aku yang sangat mengkhawatirkan kakak, tapi syukurlah semua tak apa-apa"


"Maafkan kakak atas kecerobohan kakak ya, maka Kak Jack"


Jenny mengangguk, tak lama Jack muncul tentu masih dengan wajah lebamnya namun ia tersenyum melihat Arindra.


"Maafkan aku kak, tak mendengarkan nasehatmu. Lain kali aku akan mendengarkanmu, ini yang pertama dan terakhir kalinya"


"Sudah lupakan, yang penting kau tak apa-apa. Aku senang melihatmu sehat begini"


"Tapi wajah Kakakku jadi bonyok begini"


"Hanya wajah Arin, jika nyawa yang kau minta maka aku akan memberikannya"


"Mulai bucinnya" Ucap Alex dan yang lain terkekeh, tapi tidak dengan Hans yang memasang wajah cemburu.


"Sudah, ayo ceritakan apa yang kau dapat hasil menemui Suster Hani" Ucap Paman James, Arindra pun duduk dan mengambil laptop.


"Aku tidak tau, tapi coba saja kita buka ini"


Arindra membuka kotak kecil itu, sebuah kartu memory card, yang isinya cukup banyak.


Satu persatu mereka buka isi dari memory card membuat semua yang ada di sana terperangah. Isi memory card itu tak hanya sebuah file, tapi juga riwayat chat, vidio, foto-foto bahkan yang termasuk siksaan pada Jhon dan Dokter Dea, membuat Dio mengeram marah.


Hans tertunduk lemas, itu semua adalah bukti kejahatan Daddynya. Setelah bukti yang diberikan Dio padanya, ini bukti yang membuatnya sedih, marah, kesal menjadi satu. Arindra melihat Hans, dengan wajah sendunya.


"Aku tau ini berat untukmu, biarkan kami yang akan melaporkannya" Ucap Arindra, diangguki yang lain. Hans terdiam cukup lama sebelum kemudian ia memandang wajah Arindra dan menghela nafas berat.


"Biarkan aku melakukannya, dengan tambahan bukti ini biar mengingatkan Daddyku, jika Ia tak bergeming maka aku sendiri yang akan menyerahkannya pada pihak yang berwajib".


"Kau yakin?" Tanya Jack yang belum sepenuhnya percaya pada Hans.


"Kau tunggu saja beberapa hari ini, jika dalam minggu ini tak ada kabar dariku maka kalian teruskan perjuangan kalian, Aku permisi"


Hans melangkah keluar dengan kepala tertunduk, ini sangat berat baginya. Melaporkan dan menyerahkan Ayahnya pada pihak yang berwajib. Disaat yang sama, perusahaannya pun sedang mengalami guncangan akibat pemberitaan tentang Proyek Teluk Jakarta yang terhenti.


Ditambah oleh ulah Tuan Wijaya yang mencoba menyuap pejabat setempat agar ijin bangunan diterbitkan lagi, tapi pejabat menolak membuat Tuan Wijaya murka hingga marah-marah ke pejabat tersebut. Di saat yang sama vidio kemarahannya menyebar di media sosial membuat citra yang selama ini dibangun runtuh.


Harga saham perusahaannya terus merosot, Hans tidak bisa membayangkan wajah Mommynya yang paling terguncang dengan peristiwa ini. Hans melangkah gontai menuju mobilnya, Arindra mengejar saat Hans sudah masuk ke mobil.


"Hans"


Panggilnya, Hans menoleh sekilas pada Arindra, tanpa senyuman seperti biasanya. Arindra mendekatinya wajah yang tengah duduk itu lewat kata jendela mobil yang terbuka.


"Datanglah padaku jika kau ingin berbagi denganku"


Ucap Arindra, namun padangan Hans lurus ke depan dan memerintahkan sopirnya untuk segera meninggalkan rumah aman.


#################


Alhamdulillah chapter 90 done


"***Mencoba terus mengais asa meski rasa lemah mulai mendera"


Salam bangkit dan semangat untuk semuanya😆❤❤❤❤❤❤***