ARINDRA

ARINDRA
Chapter 91



Beberapa hari berlalu, pemberitaan tentang Wijaya group memenuhi halaman utama media massa nasional. Tak hanya itu media televisipun seakan tak bosan, mengangkat kejatuhan perusahaan ternama di negeri ini.


Ditambah kasus penuntutan terhadap perusahaan Wijaya yang dilakukan Paman James, sudah masuk tahap persidangan. Tentu membuat semua orang bergembira, hari ini Arindra cs merayakannya.


Arindra hanya tersenyum kecil, melihat tingkah orang-orang yang selama ini mengelilinginya. Mereka melakukan barbeque, bernyanyi, saling meledek. Dan membuat permainan-permainan yang melahirkan tingkah konyol mereka.


Hingga malam tiba pesta mereka masih berlanjut. Sedangkan Arindra menyingkir dan duduk di pinggiran taman dengan memandangi hujan.


"Kau suka sekali menyendiri dan melihat hujan" Suara Jack menyapanya, Arindra tersenyum dan menoleh pada Jack.


"Apakah aku menganggumu?" Tanyanya dijawab gelengan oleh Arindra.


"Setelah bertemu dengan anakmu, bisakah kita tetap bersama" Jack menatap Arindra lekat, meski Arindra memandang lurus ke arah air hujan yang turun.


"Seperti air hujan ini Kak, yang menyejukkan. Bagiku Kakak juga memberi kedamaian dalam hidupku"


"Lalu..."


"Sebagai wanita, aku tersanjung atas semua perlakuan Kakak padaku, jelas aku bahagia akan itu. Tapi aku harus berfikir fakta dan realita tengang kita yang takkan pernah bisa bersatu"


"Mengapa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu membahagiakanmu, kau tak mempercayaiku"


"Bukan Kakak yang tidak bisa kupercayai, tapi hatiku yang tak bisa mempercayai diriku sendiri"


"Begitu sulitkah hatimu terbuka, sesulit apapun aku selalu berusaha membukanya meski harus secara perlahan dan melukai diriku sendiri"


"Kita berbeda Kak"


"Apa yang membuat beda?"


"Apakah benar Kakak tidak menyadari selama ini?"


"Sungguh aku tidak mengerti arah bicaramu, kau selalu menolakku hanya karena hatimu saat ini tertuju pada putramu itu yang ku tahu"


"Itu juga jadi alasanku Kak, Aku juga menyukaimu Kak. Tapi perbedaan diantara kita takkan bisa menyatukannya"


Jack tersenyum saat mendengar Arindra menyukainya, namun kemudian terfikir perbedaan apa yang ada di antara mereka. Jack menatap Arindra, dan kemudian ia menepuk jidatnya. Arindra tersenyum melihat tingkah Jack.


"Kakak menyadarinya sekarang?" Tanya Arindra setelah melihat menyadari alasan penolakannya.


"Aku bisa mengikutimu Arin, menjadi muslim dan ayah bagi Fattah"


"Aku terharu mendengarnya Kak, tapi asal kau tau Kak, memilih pindah keyakinan karena wanita itu bagai mengharap embun di siang yang terik, jangankan menguap jejaknya pun takkan ada"


Jack diam menyelami kata-kata Arindra.


"Kau hanya akan mendapat cinta dan raga wanita itu, tanpa tau keyakinan seperti apa yang kau pilih. Agama itu menuntun dan menuntut, ia akan menuntun kita untuk mengetahui apa hakikat ajarannya, tapi kita juga dituntut untuk menjalankan, menerapkan ajarannya dalam keseharian kita"


Lanjut Arindra dengan berdiri mencoba mengenggenggam air yang mengalir dari atap.


"Seperti air yang terus mengalir, yang kita tak tau berapa waktu yang dibutuhkan olehnya untuk mengapai lautan. Dalam perjalanannya ada air yang tak sampai ke tujuannya, terhenti ditengah jalan karena kehabisan bensinnya, ada yang berbelok, entah itu ke kiri atau ke kanan.


"Aku janji takkan melakukan itu, percayalah aku akan berusaha menjadi seperti yang kau mau"


"Kak, aku ingin kau menjadi dirimu sendiri, jika kau berubah hanya karenaku suatu saat kau akan akan berada di titik lelah, jenuh dan bosan, dan tertekan hingga kau bisa meninggalkanku dengan mudah.


Jadilah dirimu sendiri, karena kakak tidak akan pernah bisa menjadi diri yang diinginkan orang lain. Jika ada orang yang seperti itu, maka dia hanya seorang yang egois, dan jelas itu bukan aku.


Jika kau ingin masuk pada keyakinanku, maka pelajari, dalami, dan fahami, dan ubahlah niatmu jika kau tetap memilih masuk mengikuti ajarannya setelah memahaminya. Maka itu karena Dia yang menggerakkan hatimu, dan itu bisa keyakinanmu semakin kuat.


Tapi jika hanya karena cinta pada mahlukNya, cinta itu takkan utuh selamanya, bisa memudar bahkan bisa menjadi hitam dan putih. Maafkan aku kak, jika aku mencintaimu tapi tak bisa bersamamu. Kurasa kau yang mengenalkan cinta padaku, dengan segala perhatianmu, tapi maafkan aku jika aku harus memilih untuk tak membalas cintamu. Kita saling mencintai, tapi takkan saling memiliki"


Jack tertunduk, begitu keras selama ini ia mencoba dan berhasil mendapatkan hati Arindra, tapi kenyataan pahit lainnya yang harus diterima. Arindra menolaknya meski dia mencintainya.


"Berikan kesempatan untukku membuktikannya Arindra atau Mutiara Arisha. Beri aku kesempatan, untuk hidup bersamamu dan mendampingimu. Mempelajari keyakinanmu bersama-sama, kita bisa menua bersama"


"Meski aku sangat ingin sekalipun, tapi mohon maafkan aku. Aku tidak ingin menjadi penyebab kau dimusuhi banyak rekanmu, keluargamu hanya karena kau memilih keyakinan yang sama denganku. Aku sayang padamu, biarlah rasa sayang itu tersimpan rapat dihatiku.


Bukalah hatimu untuk wanita yang pantas untukmu. Aku akan datang dengan senang, saat menghadiri hari bahagia itu. Dan jangan lupakan statusku saat ini, masih istri orang lain. Aku tak ingin namamu dicap sebagai pelakor, aku tak siap jika dirimu diriku dihujat banyak orang.


Bukankah kau tau, aku seorang artis sekarang meskipun dengan cara tampil yang tak menyenangkan"


Ucap Arindra tersenyum, meski hatinya terluka saat mengucapkan kata-kata itu. Jack tersenyum dan melihat Arindra.


"Biarkan aku tetap menjadi Ayah Fattah, meski ta ada ikatan antara kita. Tetaplah jadi adikku, teamku dan doktermu dan jangan menghindariku. Jika kau bahu untuk bersandar, maka bahuku ini akan tersedia 24 jam untukmu"


"Kau terus saja menggombal kak, terima kasih atas semuanya yang kau berikan padaku"


"Jangan bicara seperti itu, seolah-olah kau tak ingin bertemu lagi denganku. Lihatlah air hujan tak berhenti, seolah tanda jika hati juga sedang menangis saat ini"


Arindra dan Jack tersenyum, memandangi hujan yang semakin lebat. Lama mereka terdiam dalam perasaan masing-masing.


"Apakah kalian akan terus di sini?"


Tegur Paman James pada Jack dan Arindra.


"Tidak baik berada di luaran saat malam dan hujan begini, cepatlah masuk. Paman takut kalian nanti sakit, kita akan pergi jalan-jalan besok. Sudah lama sekali kita tak keluar dari tempat ini"


"Baiklah Paman"


Ucap Jack dan Paman pergi meninggalkan mereka yang belum beranjak dari tempatnya.


"Masuklah, seorang dokter sedang memperingatkanmu, jadilah pasien yang penurut"


"Baiklah Kak, seorang adik juga sedang memperingatkanmu jadilah Kakak yang penurut, masuk dan istirahatlah. Agar aku bisa melihat wajah kakak tampanku lagi, bukan seperti alien seperti saat ini heheee"


Mereka berdua pun masuk, membawa perasaan masing-masing dalam peraduan.


###########


Alhamdulillah chapter 91 done