
Malam itu senyuman tak lepas dari bibir dua insan yang sedang menikmati makan malam romantis pertama mereka. Baik Hans maupun Syara, menikmati makan malam dengan saling curi-curi pandang.
Membuat mereka tertawa sendiri dengan tingkah mereka. Hans menggenggam tangan Syara dan menciumnya beberapa kali. Seolah ia tak ingin melepaskan barang sejenak wanita yang sangat dicintainya itu. Setelah makan malam, mereka masih di atas rooftop. Duduk di sofa yang juga bertabur bunga.
Anggaplah kayak gini ya beb🤭😆.
Syara menyandarkan tubuhnya di dada suaminya. Jari-jemari keduanya masih saling terkait.
"Sayang, makasih sudah hadir dalam hidupku. Hadir menyapa menghijaukan kehidupan gersang yang selama ini menyelimutiku. Aku sekarang lebih tenang, seperti air yang mengalir di tenggorkan saat kehausan. Kau membuat hidupku makin berarti bagai huruf alif yang tegak berdiri, memberi makna awal hidupku, dan huruf ya menjadi akhirannya"
"Kak, Syara juga seorang Bunda khadijah yang mampu meluluhkan Baginda Nabi dengan kesempurnaan kasihnya. Syara juga bukan Bunda Aisyah, dengan kepintarannya mampu membuat hati Sang Baginda tertambat padanya. Syara hanya wanita sederhana yang ingin selalu melakukan yang terbaik dalam hidupnya"
Syara melihat wajah tampan Hans.
"Syara akan selalu menghargai semua usaha kakak untuk membangun kebahagian dalam keluarga kita. Lakukanlah semampu kakak, dan buat hati ini yakin sepenuhnya, jika kakak memang yang terbaik untuk Syara"
"Kau belum yakin akan cintaku"
Hans menatap sorot wajah sang istri, mempertanyakan apa yang barusan didengarnya.
"Aku yakin akan besarnya cinta kakak, tapi aku belum yakin sepenuhnya akan diriku sendiri untuk bisa menjadi yang terbaik untukmu"
"Apa yang membuatmu belum yakin hemm?"
Hans membelai wajah putih Syara yang tertunduk. Mengangkat dagunya, agar saling menatap. Syara membalas sorot mata Hans, mencari ruang kejujuran di mata itu, dan Syara menyadari jika Hans benar-benar mencintainya dan juga membuat hatinya bergetar sebagai tansa ia juga mulai mencintai laki-laki yang dihadapannya itu.
Cukup lama mereka saling tatap, Hans memajukan wajahnya, ia ingin menggapai bibir mungil di hadapannya. Dengan satu tarikan nafas ia mencobanya.
"Maaf"
Bisik Syara ditelinganya, menandakan Hans ditolak saat hendak mencium bibir penggoda itu. Kecewa jelas Hans kecewa, ia tertolak lagi untuk menyentuh lebih jauh.
"Tidak apa-apa, seperti yang sudah kakak bilang, kakak akan sabar menunggu sampai kau siap"
"Terima kasih"
Hans mengangkat tubuh mungil itu untuk ditenggelamkan dalam pelukannya. Syara tau Hans kecewa, namun sekali lagi hati belum sepenuhnya yakin akan dirinya sendiri mampu menerima masa lalu, dan bayangan masa depan yang akan dilaluinya.
Malam semakin larut, hawa dingin mulai menyerang.
"Kak"
"Iya"
"Aku ngantuk, balik ke kamar ya.
Hans merasa enggan untuk bangun, ia tahu malam ini ia masih tertolak. Membayangkan dekorasi kamar yang sudah disiapkan akan menemani malam hangatnya bersama istri, pudar sudah.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar"
Hans mengendong ala bridal tubuh Syara.
"Kak turunin, takut jatuh"
"Sudah tenang saja, kamu sangat ringan sayang, tidurlah aku tau kau lelah"
Syara tak protes lagi, ia menenggelamkan wajah dipundak suaminya, dan ke dua tangganya melingkari leher suaminya.
Sesampainya di kamar, Syara diletakkan di tas ranjang. Syara melihat ada banyak perubahan di kamar yang biasa ditempatinya itu.
"Kakak menghias kamar juga?"
Syara yang hanya berfikir mendapatkan perlakuan romantis telah selesai di rooftop, namun lagi-lagi ia mendapat surprise yang tak diduganya. Ia bangkit dari ranjang dan melihat sekelilingnya. Hans hanya menatap dengan senyum keterkejutan wajah istrinya itu.
Syara melihat ranjang tidur, ia menutup mulutnya untuk tak berteriak bahagia meskipun sangat ingin. Ia melihat wajah suaminya itu, tersenyum melihat tingkahnya.
Syara sangat menyukainya, Syara berjalan memutari ranjang namun ia terinjak sesuatu di lantai.
Taburan bunga melukiskan kata hati, membuatnya lagi-lagi terharu akan perjuangan suaminya. Ia mengambil beberapa kelompak bunga mawar merah itu dan menciumnya. Ia melihat di dinding, lagi ia mendapatkan kejutan di sana.
Syara berlari memeluk erat suaminya itu.
"Maaf"
"Tak apa, mandilah dengan air hangat. Ini sudah malam"
Hans melepaskan pelukan itu, ia mengusap air mata di pipi Syara.
"Tak apa, tenanglah. Aku hanya ingin membuatmu bahagia dengan membuat semua ini dengan seperfec mungkin. Akan tiba waktunya, dan aku tunggu dengan sabar sampai tiba kau siap"
"Maaf"
Ucap Syara sekali lagi.
"Tenanglah, kakak juga mau ganti baju, sudah sana mandi. Apa perlu kakak mandiin hemm"
Hans menggoda Syara, ia tersenyum melihat Syara yang malu-malu. Syara menggenggam jemari besar Hans, menuntunnya duduk di kasur.
"Mau ngapain, kamu berubah pikiran"
Tanya Hans yang heran dan tentunya saja berharap demikian. Namun melihat Syara menggeleng, ia tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya.
"Makasih, kakak sangat tampan"
Syara tiba-tiba mencium pipi kanan suaminya cukup lama. Membuat Hans kaget, dan tersenyum bahagia. Syara melepaskan ciumannya dan berlari ke arah kamar mandi dan langsung menutup pintu untuk menenangkan jantungnya yang terus cepat bertalu-talu dan menutup mata. Semburat merah di wajahnya tak bisa lagi ditutupi, rasa bahagia, hangat jelas menjalari dirinya.
"Sayang, yang kiri belum"
Ucap Hans mengetuk pintu kamar mandi.
"Iihh Kakak, nanti saja kalau dikasih surprise lagi"
"Ouhh benarkah, janji ya"
"Iya"
Hans yang bahagia berjingkrak-jingrak seperti anak kecil, hilang sudah Hans yang dingin, datar dan cuek jika melihatnya saat ini.
Sedang Syara, lagi-lagi menganga saat membuka matanya. Ia melihat ruang kamar mandi dengan seksama.
Syara benar-benar tak menyangka, Hans melakukan semuanya dengan begitu sempurna menurutnya. Semua sukses membuat hatinya terbang bahagia. Ia pun segera menikmati mandi malam dengan suasana romantis itu.
Di kamar Arindra, Hans duduk seperti biasa. Setelah mandi dan berganti baju dengan pakaian tidur. Ia mencium kening, dan perut istrinya itu.
"Maafkan Hans Mbak, bukan ingin mengkhianatimu. Namun Aku telah jatuh cinta padanya, meskipun ia masih menolakku. Mbak, apakah ini hukuman untukku, karena telah berlaku jahat padamu.
Kelak, aku akan berusaha mendapatkan hatimu jua dengan usaha yang lebih dari ini. Aku akan selalu membuatmu bahagia, meski berkali-kali kau menolaknya. Aku akan berusaha berlaku pada kalian berdua. Mbak, kuatlah, untuk anak kita.
Aku menunggumu selalu, kita akan saling menumbuhkan cinta di hati kita, saling memiliki dan belajar membuat hidup kita selalu bahagia. Mbak, maaf, jika beberapa malam ini dan ke depan aku meninggalkanmu, aku sedang berusaha mendapatkan hati Syara seutuhnya. Tolong doakan aku"
Hans mencium punggung tangan Arindra, bangkit dan mencium perut lalu kening kembali. Di sisi lain, Syara yang melihat itu tertunduk.
"Maaf kak, itulah salah satu yang membuat aku belum yakin, untuk bisa menerimamu seutuhnya meski aku sudah jatuh cinta padamu. Melihatmu saat bersamanya, membuat hatiku sakit"
Lirih Syara, lalu melangkah menuju ranjangnya.
########
**Alhamdulillah done chapter 39.
Uhhh Masya Allah, semangat.
Ayok yuk di like
di vote
dipoin and dikomentari
di fillow juga
lesta lestari
biar tambah semangat upnya
❤❤❤❤❤❤**