ARINDRA

ARINDRA
Chapter 100



"Menjadi muslim adalah kebanggaan, kematiannya dalam menegakkan kebenaran adalah kesyahidan dan hidup dalam tuntunanNya adalah kemuliaan"


Quote the Day by Arindra


#########


"Benarkah Hans sampai seperti itu?"


Tanya Arindra seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Benar Mbak, sungguh aku sangat malu saat ini, selama ini aku berfikir Mbak orang yang egois, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Fattah. Tapi apa yang kudengar dan kulihat saat ini, sungguh jauh berbeda.


Justru aku yang begitu egois, mempertahankan sikapku karena cemburunya aku dulu saat Kak Hans begitu memperhatikan Mbak, meskipun saat itu Mbak dalam keadaan koma".


"Sungguh aku terkejut mendengarnya, Aku tidak tau harus bilang apa yang jelas hatiku saat ini hanya tertuju pada Fattah".


Ucap Arindra tersenyum melihat Syara, ia mengambil tisu dan memberikannya pada Syara.


"Aku hanya seorang Ibu yang berjuang untuk mendapatkan anaknya, cara yang kugunakan Insyaa Allah tak ada yang melanggar hukum.


Aku tak ingin mendapatkan anakku dengan cara yang salah, maka dari itu meski berbulan-bulan aku harus menunggu, Insyaa Allah akan ada hasil dari kesabaranku.


Aku datang dengan sebuah niat baik, maka cara yang ingin kulakukan juga dengan cara yang baik. Pertemuanku dengan Fattah akan menjadi indah, tak ternoda jika caraku benar.


Namun jika sebaliknya, meski aku mendapatkan Fattah, Aku tak yakin akan berakhir dengan baik. Meski mungkin ada banyak orang diluaran sana mengatakan aku menjatuhkan Tuan Wijaya karena dendam.


Sedikitpun di hatiku tak terbersit rasa itu, sejauh caraku untuk mencapai tujuanku, itu hanya caraku untuk bertahan, karena Tuan Wijaya menyambutku dengan cara yang kurang bijak".


Syara diam tertunduk, menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.


"Minumlah, airnya dingin. Aku tahu banyak sekali yang ingin aku dan kau bicarakan. Tapi tak perlu buru-buru, Kau sudah datang ke sini sungguh aku sangat senang.


Aku bersyukur selama ini Fattah mendapatkan Bunda terbaik yang mendidik dan mencintainya dengan tulus. Aku yakin kelak, ia pasti bangga memiliki Bunda sepertimu".


Lagi-lagi Syara terharu mendengar perkataan Arindra. Air mata yang sudah dihapusnya mengalir lagi tanpa bisa dicegah. Air mata haru dan penyesalan akan sikapnya selama ini.


"Jika selama ini Aku tak egois, mungkin peristiwa mengenaskan itu tak kan terjadi. Mommy begitu senang dengan kehadiran Fattah, dan selama ini Mommylah yang begitu semangat menanti kehadiran Fattah.


Sayang, sungguh amat disayangkan, karena keegoisanku akhirnya aku ditinggalkan Mommy yang juga begitu menyayangiku"


Arindra menatap Syara, ia memegang pundak wanita di hadapannya itu dengan ke dua tangannya.


"Aku yakin kau lebih tau bagaimana Allah mengatur setiap perjalanan hamba-hambaNya. Jodoh, rejeki, dan kematian takkan ada satupun manusia di muka bumi ini bisa memajukan, memundurkan, mengurangi ataupun melebihkan.


Tak pernah ada yang namanya kebetulan, Kau dan Aku dipertemukan atas rencanaNya. Baik atau kurang baik itu tergantung kita yang melihatnya. Jika kita tatap segala sesuatunya dengan keimanan, dan keyakinan penuh atas kuasa Allah, maka yang ada di hati kita adalah keikhlasan untuk menerima segala sesuatunya yang Allah hadirkan untuk kita.


Namun jika sebaliknya, kita meratapi apa yang terjadi. Kita hanya akan mendapatkan kegelisahan, ketidaktenangan hidup dan berbuah hasil yang mengecewakan.


Maafkan aku bundanya Fattah, aku bukan ahli agama ataupun ahli qur'an. Tapi kuyakin ketetapan dan janji Allah itu benar, termasuk soal kematian semua sudah Allah tuliskan dalam lembar perjalanan hidup kita"


Syara makin terisak, ia kembali memeluk Arindra.


"Ya Robbku, sungguh baik orang yang ada dalam pelukanku saat ini. Mengapa selama ini aku selalu menutup mata, tak mau mendengarkan masukan-masukan dari orang lain. Aku hanya mengikuti nafsuku, atas nama kecemburuan. Padahal itu adalah egoku yang memperturutkan setan. Ya Allah ampunilah aku, atas kesalahanku".


"Ops, maaf aku ke belakang dulu"


Ucap Shania yang datang tiba-tiba karena Aldo menceritakan jika Syara datang. Ia khawatir kakaknya itu diapa-apakan oleh Syara. (Eits dan suudzhon aja ni bocah) 😆✌.


Arindra dan Syara tersenyum dan melepaskan pelukan mereka.


"Shan, tolong kemarilah"


Arindra memanggil Shania, Shania mendatangi ke duanya, dan melirik bergantian di antara dua wanita itu.


"Kalian g pada berantem kan?"


"Kami mah hobinya damai dek, oh ya Syar kenalkan ini Shania adikku. Maaf jika ia agak berbeda denganku, meski kami satu ayah dan satu ibu". Ucap Arindra yang mengacak rambut Shania.


"Kakaaak, rambut Shania jadi berantakan kan"


Ucap Shania pura-pura kesal dengan tingkah kakaknya, membuat Syara tersenyum.


"G pa-pa Mbak, aku Syara"


"Gue tau kok, gue mantan karyawan boss Hans soalnya. Meski kita g pernah ketemu tapi foto Kakak kan ada di ruangan boss. Jadi tau deh fotonya hehee" Ucap Shania dengan cengirannya.


"Oh ya, sungguh Hans sangat mencintaimu berarti bundanya Fattah, kau sangat beruntung dicintai laki-laki seperti Hans" Ucap Arindra tersenyum, membuat Syara tertunduk malu.


"Kau juga beruntung Mbak, sangat dicintai oleh kak Hans. Bahkan Aku merasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya padaku"


"Deile, Kak Syara jadi malu gitu. Berasa penganten baru lagi nih hehehee" Shania masih meledek Syara. Membuat Arindra hanya geleng-geleng kepala. Lalu Shania duduk, tanpa permisi meminum tandas teh yang ada di depannya.


"Shania..."


Ucap Arindra menjewer ringan telinga Shania.


"Sopan banget adik Kakak satu ini ya, tolong isi lagi sana. Kakak aja belum minum dah habis aja"


"Duh...duh Kak"


Ucap Shania pura-pura sakit.


"Jadi enak kalo gini kan tinggal minum hehee"


Ucap Shania lagi setelah jeweran Arindra terlepas.


"Shania..."


"Hehee pisss, Shania ambilin lagi ok"


Shania pergi menuju dapur, dan membuatkan teh untuk Kakaknya.


"Maafkan Shania ya, orangnya selalu ceria, maaf atas kurang sopannya dia" Ucap Arindra pada Syara.


"G pa-pa Mbak, aku senang melihatnya. Aku sangat menginginkan adik, tapi sampai kini tak pernah kesampaian. Keakraban kalian mengingatkanku akan hal itu"


"Kak Syara bisa menganggapku adik jika mau, tapi ya gini Shania keadaannya hehe"


Shania meletakkan gelas tehnya di meja dan ikut duduk di sana.


"Minum dan makanlah, dari tadi bahkan kita tidak menyentuhnya". Arindra mempersilahkan Syara untuk meminum tehnya.


Syara mengambil teh dan meminumnya, ia melirik Arindra dan Shania. Dua kakak beradik yang cukup unik menurutnya.


"Kak dimakan kuenya, bukan buatan sendiri sih hehe. Soalnya Shania g bisa buat kue termasuk kak Tiara. Kita mah dari dulu terima jadi aja, soalnya Ibu yang selalu buat dan kita cuma bantuin ngacakin doang hehee"


Menyebut kata Ibu, Arindra menatap Shania. Ada kerinduan di hatinya akan hadirnya sosok Ibu yang selalu diceritakan Shania padanya.


"*Ibu, Aku merindukanmu"


##############


Alhamdulillah banget Masya Allah sampe juga di chapter 100.


Meski awalnya done, tapi karena komen-komen kalian. Semangatku tumbuh kembali....


terima kasih untuk readers tercinta ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤*