
Arindra sedang tiduran di kamarnya, setelah menidurkan Fattah. Peristiwa hari ini membuatnya terkejut, Jack kini menjadi adik iparnya. Ia memejamkan mata ingin melupakan kejadian hari ini, namun suara ketukan pintu kamar dan kemunculan Shania yang memutuskan menginap di rumah membuatnya urung.
Shania membawa laptop, dan meletakkan di meja dekat sofa. "Shania tau, kakak g bakalan bisa tidur malem ini. Shania harap ini bisa membuat hati kakak teguh dan tak goyah. Kakak belum membuka memory card yang Shania kasih kan?".
Arindra menggeleng, tapi tetap tak beranjak bangun dari tempat tidur.
"Sini mana memory cardnya?".
"Ada di tas". Shania membuka tas kakaknya dan mengambil kotak memory card itu.
"Maaf jika Shania memaksa kakak malam ini menonton isi dari memory card ini".
"Kakak sedang malas Shan, keluarlah kakak ingin sendiri". Ucap Suara Arindra lemah dan memejamkan mata. Shania tak menyerah ia buka vidio awal di memory card pertama, menghubungkannya dengan earphone kecil dan kemudian meletakkan laptop itu di samping Arindra yang terpejam, lalu ia memasangkan earphone itu ke telinga kakaknya.
"Sungguh Shan, kakak ingin sendir. Kakak tak mau menonton". Arindra mencoba melepaskan earphone itu di telinganya.
"Kakak g perlu nonton, cuma perlu denger aja". Shania tak menyerah tetap memaksa Arindra, dan memasangkan earphone ke telinga kakaknya. Meski berulang-ulang dicopot, namun berulang-ulang juga Shania pasang. Membuat Arindra jengah dan menyerah. Ia biarkan earphone itu terpasang di telinganya, ia memejamkan mata tanpa menatap laptop. Shania masih mengawasi kakaknya itu, suara dari laptop itu pun terdengar di telinganya. Suara yang cukup ia kenali, ia melihat Shania.
"Lihatlah kak, semoga ini bisa memantapkan hati kakak, jika kak Hans adalah laki-laki terbaik untuk kakak". Ucap Shania yang kemudian pergi meninggalkan Arindra, dan membawa Fattah ke kamarnya.
Arindra terdiam sebelum melihat vidio di dalam laptop yang sedang berputar. Arindra melihat vidio itu dan meraih earphone yang sempat terlepas.
Air matanya menetes saat melihat vidio itu, tampak wajah ayahnya yang sedang menikahkannya dengan Hans yang pernah dikirimkan Aldo padanya. Rangkaian kata-kata dalam penikahan dirinya dan Hans, dan setelah kepergian ayahnya (Ch 15 guys) membuatnya termangu. Namun setelah itu, setelah hanya tersisa dirinya dan Hans, ia mendengarkan laki-laki itu mengajaknya bicara saat dirinya koma.
"Mbak siapapun kamu, sekarang kita sudah suami istri. Hari ini hari pertama kita resmi menikah. Maafin aku yang tak setia padamu, baru menikah denganmu hari ini namun empat hari lagi aku menikahi dokter yang merawatmu, sahabat dari adikku sendiri, yang kini jadi adikmu juga.
Mbak, maafin aku karena dipaksa keadaan dan demi anak kita, anak yang kamu kandung saat ini meski mungkin kamu tidak mengetahuinya. Mbak, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, hanya yang aku mau, bangun dan sembuhlah, berjuanglah untuk hidup anak kita.
Aku akan terima kelak apapun hukumanmu padaku, tapi kau harus janji berjuanglah untuk sembuh dan bangun. Kita hadapi dunia bersama-sama. Mbak, Aku berusaha sebisa menjaga orang-orang yang berharga untukmu. Mulai hari ini, keluargamu menjadi tanggungjawabku"
Lalu arindra melihat Hans mencium kening, tangan dan perutnya Day pertama selesai. Ia kembali membuka vidio day ke 2 di mana Hans berbicara lagi padanya.
"Bagaimana kabarmu istriku, ini adalah hari ke dua pernikahan kita. Kau tahu anak kita tumbuh dengan baik di sini. Bangunlah, agar kau bisa merasakan dan menyentuh perutmu ini. Agar kau tau bahwa dalam rahimmu ini sudah tumbuh bayi yang lucu, aku harap dia mirip denganmu.
Mbak, aku tidak tau bunga kesukaanmu, tapi kuharap melati ini bisa menjadi perwakilanku untuk meminta maaf padamu. Semoga kau bisa menghirup wanginya bunga ini, agar kau tau betapa aku sangat menyesal atas apa yang kulakukan padamu".
Hans kembali mencium kening, tangan dan perut Arindra sebelum ia pergi digantikan oleh dua wanita yang dia kenal, Hana dan Syara.
Day 3.
"Assalamualaikum istriku, hari ke tiga aku kembali datang menemuimu. Kuharap kau merasakan kehadiranku, aku datang ingin mengatakan padamu, jika esok aku akan menikahi Syara. Maafkan aku, aku akan tetap menemuimu setelah pernikahanku selesai.
Tetaplah menjadi wanita kuat, berjuanglah karena aku dan anak kita menantikanmu. Kau tahu hari ini, hari terakhir aku tidak bekerja. Daddy memberiku waktu untukku pulih karena rasa sesal yang dalam kepadamu.
Kau tahu, setelah aku memperkosamu, dan tak sengaja menabrakmu karena fikiranku terlalu kalut, antara marah dan menyesal menguasai hatiku. Karina kekasihku, selama tujuh tahun kami menjalin asmara dan bahkan hendak menikahinya bulan ini berselingkuh dengan Zaki.
Kau tau Zaki, Zaki adalah orang yang dekat denganku, meski kami tak bersahabat tapi kami cukup dekat. Tapi mereka menghancurkan kepercayaanku, saat aku hendak memberikan cincin pada Karina...,hiks..hiks mereka malah bercinta.
Kau tau rasanya di khianati, sakit sekali di dadaku ini. Maafkan aku yang malah melampiaskan padamu, akibat ketidaksengajaan bertemu. Aku kalut, saat melihat kembali ke kamar hotel kau tak ada, maka aku memang berusaha mencarimu untuk meminta maaf. Tapi karena aku tak fokus malah aku menabrakmu.
Sungguh aku mencarimu ingin meminta maaf padamu, bukan untuk membunuhmu. Aku menyesali apa yang kuperbuat padamu. Aku membawamu yang bersimbah darah ke rumah sakit. Dan dengan pengecutnya aku bersembunyi dalam kamar selama dua minggu karena ketakutan, penyesalan yang menjadi satu.
Mbak, aku tak tau harus memanggilmu apa hari ini, namamu adalah Mutiara Arisha, tapi nama pasien yang tertera adalah Syabila Arindra. Kau tau siapa yang memberikan nama itu padamu, dia adikku Hana, Hanaira.
Untuk sementara bolehkah aku memanggil dengan nama Arindra, jika kelak kau bangun. Aku janji akan mengembalikan identitas aslimu kembali. Untuk hari ini, cukup di sini. Tapi tenang saja, seperti malam-malam kemarin setelah kita menikah. Aku akan tidur di ruangan yang sama denganmu.
Aku tidur di sana, kau tak bisa melihatnya. Aku akan jelaskan. Di sana ada kasur yang kupersiapkan untuk menemanimu. Bukankah sudah selayaknya sepasang suami istri tidur di ruang yang sama bukan.
Aku akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu, dan membuka hatiku untuk mencintaimu. Tolong ijinkan aku, untuk mencintaimu. Meski saat ini aku belum bisa mengatakan cinta padamu, tapi kuyakin suatu hari saat kau bangun, kau sudah tau jika aku mencintaimu, dan akan terus mencintaimu selamanya".
Arindra menutup bibirnya menahan suara tangisan di malam buta. Sungguh ia tak menyangka jika suara Hans begitu lekat dalam dirinya.
#############
Alhamdulillah chapter 116 done