ARINDRA

ARINDRA
Chapter 23



Hans sudah terbaring di kamar Syara, luka di beberapa bagian sudah dibersihkan. Hans yang telah sadar, melihat adiknya menangis dan memegang tangannya.


"Kakak, kakak sudah sadar, Hana kan sudah bilang tahan emosi kenapa sih enggak dengerin"


Hans menghapus air mata di wajah adiknya, ia tersenyum melihat wajah khawatir adik tersayangnya itu.


"Kakak enggak enggak pa-pa, dasar cengeng"


Hans menyentil kening adiknya


"Kakak, ihh"


"Aduh..aduh..jangan dicubit dong"


"Abisnya kakak ngeselin"


"Hahaa, Han, kakak haus"


"Oh ya bentar, Hana ambilin dulu"


Syara masuk ke dalam membawa minuman dan makanan untuk Hana, namun ia melihat Hans sudah sadar.


"Aku keluar dulu, aku kangen sama umi"


Ucap Hana menepuk pundak sahabatnya itu, dan berlalu keluar kamar. Syara meletakkan makanan dan minuman di nakas.


"Kepala kamu enggak pa-pa?"


Tanya Hans pada Syara, Syara menggeleng dan melangkah hendak pergi keluar.


"Ra, aku haus"


Ucap Hans membuat Syara berbalik kembali, dengan masih diam ia menyodorkan minum ke tangan Hans,


"Terima kasih"


Hans mengambil minuman di tangan Syara, dan tanpa sengaja minuman itu tumpah di bajunya, karena tangannya masih terasa sakit akibat pukulan-pukulan yang diberikan Afdan.


"Maaf aku enggak sengaja"


Ucap Hans sambil mengibas-ngibaskan air yang mulai merembes di bajunya. Syara segera mengambil lap, dan mengelap tubuh yang terkena air. Membuat Hans terdiam dan memperhatikan Syara.


"Maaf"


Bisiknya di telingan Syara yang sangat dekat dengan di kepalanya. Syara yang terkejut refleks mengangkat kepala membuat dagu Hans terantuk kepala Syara.


"Aduuhh"


Hans mengusap-usap dagunya, dan melirik Syara, namun Syara seolah tak bersalah dan keluar dari kamarnya. Hans menghembuskan nafas berat, ia melihat jam. Sudah pukul dua siang, artinya ia cukup lama tak sadar. Untung ada dua dokter di sini, sehingga luka-lukanya segera tertangani.


Syara masuk kembali ke kamar dengan membawa gelas baru dan botol minum. Lalu ia duduk di sisi ranjang, dekat Hans.


"Minumlah"


"Biar aku saja"


Ucap Hans hendak meraih gelas di tangan Syara.


"Nanti tumpah lagi, cepatlah minum"


Hans menurut, ia minum dengan gelas yang dipengangi oleh Syara. Air dalam gelas itu langsung tandas.


"Lagi"


Tanya Syara,


"Aku lapar"


Syara mengambil makanan dan mulai menyuapi suaminya.


"Kau tidak kena pukul Afdan kan"


"Aku tidak kena pukul Afdan, tapi aku kena pukul dirimu"


"Benarkah, di mana aku memukulmu, bukankah aku melindungimu dari Afdan?"


"Maaf, aku tak berniat melakukannya"


"Sudahlah, cepat habiskan makananmu lalu segeralah pulang"


"Kau ikut denganku pulang"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Aku masih butuh waktu"


"Butuh waktu untuk berduaan dengan mantan calon suamimu itu"


"Kau tidak tau apa-apa tentangnya, aku butuh waktu untuk menerima pernikahan ini"


"Sampai kapan?"


"Tidak tahu"


"Terlihat sekali kau sangat ingin bersamanya"


"Ini bukan tentang Afdan, kau membuatku semakin kecewa dengan melakukan tindakan kekanak-kanakan, bodoh sekali berkelahi karena wanita"


"Dan wanita yang diperebutkan itu adalah kau, bukankah kau senang diperebutkan dua laki-laki apalagi laki-laki setampan diriku"


"Aku tak pernah bangga diperebutkan olehmu"


"Kau bangga diperebutkan olehnya"


"Hans"


"Apa, kau kesal padaku karena aku bicara fakta. Katanya kau perempuan sholehah tapi mana setelah menikah kau pergi tanpa ijin suamimu, dan diam-diam menemui mantan calon suami..."


"Cukup, aku butuh waktu. Sudah kubilang aku butuh waktu, dan jangan pernah berfikiran buruk padaku. Bagaimanapun aku belum ikhlas menerima pernikahan ini"


"Ikhlas tidak ikhlas kau sekarang istriku, aku tak peduli hari ini kau ikut pulang"


"Jangan memaksaku, aku bisa pergi lebih jauh dari ini"


Hans yang sudah kesal mencengkram tangan Syara.


"Dan aku bisa bertindak lebih jauh dari ini"


Ucap Hans menarik wajah istrinya, dan menahan dengan ke dua tangannya meskipun terasa sakit dan mencium kening Syara.


"Plakk"


Refleks Syara menampak wajah Hans yang sudah bengkak itu. Membuat Hans meringis menahan sakit.


"Kau...jika kau ingin pergi dengan laki-laki itu silahkan, tapi setelah anakku lahir, sebelum itu jangan harap bisa pergi dariku"


Ucap Hans marah, meninju dinding untuk menumpahkan amarahnya mengakibatkan luka dan darah keluar dari tangannya.


"Kau selalu kasar dan bertindak sesuka hatimu, bagaimana bisa aku hidup bersamamu jika kau sendiri selalu dipenuhi emosi"


Syara menarik tangan suaminya itu, segera ia membebat sementara dengan jilbabnya untuk menghentikan darah yang mengalir. Hans menarik Syara dalam pelukannya, Syara memberontak namun pelukan Hans makin kuat.


"Aku janji, aku janji takkan menyentuhmu, takkan memintamu melayaniku. Tak kan memaksamu melakukan kewajibanmu, aku hanya minta satu hal, tetaplah menjadi istriku sampai anakku lahir meskipun hanya status. Jika setelah tiba waktunya, aku akan menceraikanmu, kumohon ini hanya demi anakku, dan Mbak Arindra"


Hans menangis sesegekukan dipundak Syara, Syara yang memberontak akhirnya terdiam, Membiarkan Hans memeluknya.


"Aku tau, aku bukan pria impianmu. Aku tau aku bukan pria baik dan pantas untukmu. Aku tau aku pria brengsek dan menjijikkan bagimu, aku tau pria itu yang kau cintai dan ia mencintaimu, aku tau...aku tau kau dan aku terpaksa melakukan pernikahan ini. Aku tau aku membuat banyak orang tersakiti, aku tau aku layak mendapatkan perlakuan buruk ini. Tapi tau kah kau Syara, aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku, aku menyesali apa yang kulakukan pada Mbak Arindra, aku hanya ingin bertanggungjawab akan perbuatanku, aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi mereka, menjadi ayah dan suami. Apakah aku salah, apakah aku salah mengharapkan anakku lahir bukan dengan status anak haram, anak hasil perkosaan, atau anak dari seorang ******** sepertiku"


Hans menangis terisak-isak, pelukannya mulai mengendur. Syara pun melihat suaminya itu tertunduk, dengan air mata yang begitu deras. Tak pernah ia melihat seorang Hans menangis begitu dalam. Hans menangkup tangan Syara dengan ke dua tangannya.


"Beri aku kesempatan menjadi ayah yang baik, suami yang baik untuk Mbak Arindra. Aku janji padamu, takkan mengusikmu, takkan melakukan apapun padamu tapi kumohon tetaplah bersamaku sampai anakku lahir ke dua. Setelah itu aku bersedia berpisah darimu, dan apapun yang kau mau selama kau menjadi istriku aku akan berusaha menurutimu. Aku mohon, tak lebih setahun setelah itu kau boleh kembali bersamanya. Ikutlah denganku sementara ini"


"Aku bersedia, tapi ingat janjimu kau tidak boleh menyentuhku, aku akan merawat Mbak Arindra seperti sebelumnya, tapi jangan menuntutku melaksanakan kewajibanku sebagai istrimu"


"Iya Ra, aku janji"


Hans lega, akhirnya Syara bersedia bersamanya. Yang ia pikirkan saat ini adalah anak dikandungan Arindra. Syara, yang masih berkutat dengan cinta lamanya dan rasa kecewa pada Hans menerima, meskipun jauh dilubuk hatinya ia sedih, baginya pernikahan bukanlah permainan.