ARINDRA

ARINDRA
Chapter 49



Setelah selesai makan, Arindra menatap Alex.


Alex yang ditatap pura-pura tidak tahu, dengan santai ia duduk kembali setelah meletakkan piring bekas makan di nakas. Beberapa alat pun sudah terlepas, hanya selang infus saja yang masih ada di tubuh Arindra. Alat-alat lain sudah dilepas saat Arindra tertidur.


"Kenapa?"


Tanya Alex pada Arindra.


"Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"


"Apa yang harus kukatakan?"


Tanya Alex balik bertanya, ia tahu Arindra sangat penasaran akan dirinya sendiri.


"Semuanya, tentang diriku, namaku, keluargaku"


"Baiklah, aku akan memulai bercerita dari namamu, dengarkan baik-baik dan jangan menyelaku"


"Oke"


Ucap Arindra berbinar, mendengar Alex bersedia menceritakan tentang dirinya.


"Namamu Arindra Adam Smith, kau kakakku, meski bukan kakak kandungku. Kau diangkat anak oleh mendiang ke dua orang tuaku"


Alex terdiam melihat respon Arindra, melihat Alex diam, membuat ia bicara.


"Arindra, namaku Arindra?"


"Iya, panggilanmu juga Arindra Kak. Usiamu 35 tahun, kau belum menikah karena kau begitu sibuk dengan karirmu. Kau wanita ambisius, sehingga kau selalu menolak laki-laki yang datang padamu"


"Benarkah, mengapa aku tak merasa seperti itu ya"


Gumam Arindra membuat Alex tertawa.


"Kenapa tertawa?"


"Bagaimana kau bisa melupakan seorang Jack, kakak Jenny yang selalu berusaha mendapatkan hatimu bahkan bertahun-tahun menunggumu tapi kau sama sekali tak meliriknya, bahkan Papa begitu kesal denganmu karena kau tak segera mengakhiri masa lajangmu"


"Sebegitu ambisiuskah diriku"


Alex mengangguk menyakinkan.


"Bahkan, begitu ambisiusnya dirimu, sehingga kau banyak membuat para pria patah hati. Yang kau tau hanya bekerja, bekerja dan bekerja untuk membuktikan pada Papa bahwa kau bisa diandalkan olehnya. Meski Papa sudah berulangkali mengatakan kau adalah anak gadisnya yang hebat. Tapi selalu saja, Kau ingin meraih apa yang kau inginkan"


"Apa yang sangat aku inginkan?"


Alex terdiam, ia melihat sorot mata itu penuh penasaran.


"Maafkan aku, terpaksa melakukan ini padamu"


Ucap Alex dalam hati, kemudian berkata,


"Menghancurkan perusahaan dan keluarga Wijaya"


Arindra terdiam sesaat mendengar kalimat yang baru saja Alex ucapkan. Ia melirik Alex berkali-kali, untuk menyakinkan diri, menimbang apakah benar apa yang diucapkan laki-laki di hadapannya ini.


"Kau ragu?"


Tanya Alex yang melihat keraguan di mata Arindra.


"Entahlah, aku merasa ini mengejutkan untukku. Kau sangat asing bagiku, begitu juga Jenny, jika kalian adalah orang-orang yang selama ini di sekitarku, kenapa hatiku tak merasakannya"


Deg...Deg...


"Apakah aku tak cukup pandai berakting, hingga ia tahu jika aku baru hadir dalam hidupnya, jelas saja asing aku saja baru melihatmu sedekat ini belum sampai seminggu"


Namun Alex berusaha tenang, dan kemudian tersenyum pada Arindra. Ia tidak ingin Arindra tau, ceritanay hanya sandiwara belaka.


"Mungkin itu pengaruh dari koma. Kau tau, kau koma selama sembilan bulan lamanya"


"Sembilan bulan?"


"Iya, kau begitu ambisinya untuk menghancurkan mereka, hingga mereka menyadari dan kemudian mereka membakar rumah kita. Semua jejak kenangan masa lalu kita hilang tak berbekas, tak cukup sampai di sana orang tua kita juga ikut menjadi korban keganasan mereka. Mereka membunuh Papa dan Mama dengan sadis, setelah itu mereka membuang mayatnya ke jurang"


Alex menangis mengingat betapa sedihnya ia melihat kondisi orang tuanya yang mengenaskan akibat perlakukan Wijaya. Membuat Arindra iba, dibelainya kepala Alex.


"Maaf.."


Hanya itu yang mampu ia ucapkan, ia tak menyangka jika ambisinya harus menjadikan ke dua orang tua angkatnya tiada.


"Tidak apa-apa"


Alex segera menghapus air matanya menatap Arindra.


"Kak, kau tau siapa yang memperkosa dan mencoba membunuhmu?"


Arindra menggeleng,


"Mereka geram, karena kakak akhirnya berhasil menurunkan harga saham perusahaan mereka, dengan merusak nama dan menyebarkan gosip jika Hansel Wijaya, putra Wijaya adalah seorang pemerkosa dan pembunuh"


"Lalu..."


"Hansel tak terima, dan gosip itu kemudian hilang tapi kakak tak lama kemudian diperkosanya dengan sadis, dan tak cukup sampai di sana kakak juga ditabraknya"


"Jadi, mereka juga yang melakukan ini sama kakak?"


Alex mengangguk, menyakinkan Arindra.


"Tapi kakak tenang saja, perusahaan kita mampu bangkit. Aku melanjutkan usaha kakak, bodohnya mereka. Mereka mau bekerja sama dengan perusahaan kita sekitar empat bulan ini. Aku bekerja keras, lewat paman untuk bisa memasukkan orang-orangku di perusahaan mereka. Kita tunggu waktu yang tepat, untuk menghancurkan mereka Kak"


"Mereka mau bekerja sama denganmu?"


Lagi Alex mengangguk, ia menyakinkan Arindra dengan sorot matanya yang tanpa keraguan berbicara melanjutkan kisah yang sudah ia persiapkan dengan matang.


"Mereka tau perusahaan Adam, tapi mereka tidak tau jika aku dan kakak adalah anak Adam Smith. Selama ini aku menyamar sebagai dokter di rumah sakitnya, dan Kakak juga tak menggunakan nama Adam di belakang nama kakak"


"Maksudmu?"


"Yang mereka tahu, nama kakak adalah Syabila Arindra bukan Arindra Adam Smith yang berhubungan dengan Papa. Kakak melakukan penyamaran yang luar biasa, hingga mereka tak mengenali kakak. Apa yang kakak lakukan juga aku lakukan, namaku juga berubah menjadi Adam Alexsandro Putra, bukan Alexsandro Adam Smith. Untuk menghilangkan jejak Adam dalam diri kita"


Arindra menghela nafas berat, semua terasa membingungkan dan asing baginya. Ia kembali melihat sorot mata Alex, menyelaminya. Namun sorot mata itu mengatakan ada kepedihan di sana. Haruskah ia mempercayai apa yang didengar dengan mudah ataukah menyelidikinya terlebih dahulu. Jika menyelidiki, dari mana ia memulai.


"Aku tau, kakak masih bingung dan tak yakin dengan apa aku ceritakan. Aku akan memberikan bukti-buktinya jika kakak tidak mempercayainya. Untuk sekarang, kakak istirahat dan jangan terlalu difikirkan apa yang aku katakan tadi. Pulihkan dulu diri kakak, aku akan dengan senang hati, menceritakan semua yang kutahu"


Alex menyelimuti tubuh Arindra, ia tahu butuh waktu untuk membuat Arindra berpihak padanya, dan ia tak mau terburu-buru.


"Kau juga tidurlah, lihat dirimu. Kau nampak begitu lelah karena mengurusku"


Alex tersenyum mendengar perhatian Arindra padanya.


"Kakak keluargaku satu-satunya, jangan pedulikan aku. Aku hanya ingin kakak cantikku ini segera sembuh"


"Baiklah, terima kasih. Tapi jangan lupakan juga kesehatanmu. Kakak akan merasa bersalah jika kau sakit karena mengurus Kakak"


"Ya..baiklah, jika kakak butuh apa-apa, aku ada di sana"


Alex menunjuk ranjang di dekat sofa kamar itu. Arindra mengangguk, dan melihat Alex berjalan ke arah ranjang itu, ia memperhatikan hingga Alex terlihat memejamkan mata di sana.


Arindra kembali berkutat dengan pemikirannya. Ia ingin memejamkan matanya namun mata itu tak jua terpejam, ia mencoba mengingat-ingat masa lalunya, namun seperti sebelumnya ia hanya ingat kejadian itu dan ia juga merasa nama Arindra asing di telinganya.


#########


Alhamdulillah chapter 49 done


Selamat membaca bagi readers


Vote koment poin like komen and follow Lesta Lestari dang lupa yooo


❤❤❤❤❤