ARINDRA

ARINDRA
Chapter 10



Pagi itu di kediaman Abi Syara, terlihat sangat jelas. Abi Hasan sedang duduk namun dengan wajah tak tenang. Setelah pembicaraannya dengan Tuan Wijaya semalam, membuat ia banyak terdiam.


Umi Hasan yang sejak dari pagi sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut calon besan. Hari ini adalah hari di mana putri kebanggaanya dilamar oleh laki-laki yang sholeh, yang tak lain adalah anak didik Abi Hasan dari pondok yang selama ini diasuhnya.


Seorang pria sholeh dan hafiz qur'an, tak hanya itu dia juga termasuk pengurus inti di pondok dan juga parasnya tampan. Sudah lama Abi dan Umi Hasan mengincar Afdan untuk dijadikan menantunya, bagi mereka afdan adalah sosok yang sangat pantas untuk bersanding dengan putri tunggalnya itu. Iya, Syara adalah anak tunggal Abi dan Umi Hasan karena Umi Hasan tak bisa melahirkan lagi karena rahimnya sangat lemah.


Ini adalah hari yang di tunggu-tunggu, setelah proses taaruf satu bulan yang lalu. Beberapa kerabat juga sudah berdatangan membantu persiapan proses khitbah tersebut. Meski tak mengundang banyak orang hanya keluarga terdekat saja.


"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh"


Syara memberi salam saat ia sudah sampai di rumah disambut Umi yang sudah menunggunya di depan.


"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, anak Umi yang sholehah sehat sayang"


Umi Hasan memeluk erat putrinya yang dirindukannya itu, Syara memang jarang pulang apalagi semenjak mengurus Mbak Arindra. Syara pun membalas pelukan Uminya dengan hangat, terlihat wajah bahagia di matanya.


"Alhamdulillah khoir Umi, Syara kangen banget sama Umi, Umi dan Abi sehat?"


"Alhamdulillah sehat semua nak, hayuk itu Abimu juga sudah menunggu"


Syara menghampiri Abinya, senyuman mengembang di wajah tuanya. Sorot mata Abinya memancarkan kesedihan, sungguh tak tega melihat pancaran wajah bahagia istri dan anaknya itu. Ia peluk dan kecup kening putrinya cukup lama, menyembunyikan kesedihan dan melepaskan kerinduan pada putri kesayangannya itu.


Syara putrinya yang patuh dan mandiri, ia tak pernah merasa gagal mendidik putrinya ini sehingga Syara menjadi sosok wanita sholehah menurutnya.


"Abi kangen banget ya sama Ara, pelukannya enggak mau lepas itu, banyak yang nungguin lho Bi "


Tegur umi tersenyum melihat suaminya yang cukup lama memeluk putrinya itu. Abi Hasan tersadar akan apa yang dilakukannya, kemudian ia segera melepas pelukannya pada putrinya itu.


"Ahh Umi, Ara juga kangen berat sama Abi Ara yang paling guanteng ini"


Syara tersenyum dan tangannya tetap bergelayut di pinggang Abinya.


"Sudah, masuk temui saudaramu yang lain dan mandi, udah bau ini putri Abi"


"Iihh Ara dah mandi tau Abi, ni udah wangi"


Syara tau Abinya hanya bercanda kemudian ia segera masuk ke dalam di sambut kerabat-kerabat yang sudah ada di dalam.


"Hemm bau-bau pengantin ini, makin tambah cakep aja Putri kesayangan bibi ini"


Bibi ani, adik kandung Uminya datang dan memeluk Syara, saat Syara menghampiri dan menyalami saudara perempuan yang lainnya.


"Bukan cuma kesayangan bi, tapi kebanggaan keluarga besar"


Sahut kerabat yang lain, Syara hanya tersenyum dan diam tertunduk malu melihat tingkah saudara-saudaranya yang mencoba meledeknya ini.


"Udah-udah, biar Ara dandan dulu ke kamar, ayok nak"


Umi segera menengahi ledekan kaum kerabat itu pada putrinya.


"Mandi dan dan dandan yang cakep neng, biar calon suami tambah kesemsem"


Masih saja suara-suara ledekan itu terdengar meski Syara sudah melangkah menuju kamar.


"Cocok banget sama si Afdan, udah ganteng sholeh, hafiz lagi dan Ara yang dokter, cantik Sholehah lagi, anak-anaknya pasti ganteng-ganteng dan cantik-cantik ya"


"Iya, kapan aku dapet menantu kayak Afdan ya"


"Mimpi jangan ketinggian, orang anak aja enggak ada yang perempuan"


Saling ledek masih terdengar membuat suasana makin hangat dan bahagia. Tak berapa lama rombongan keluarga Afdan pun hadir, hanya keluarga inti saja sepertinya.


Suasana makin riuh, namun terdiam saat tak berselang lama acara di mulai.


Sedangkan Syara masih berada di kamarnya, beberapa kali ia melihat ponselnya berharap Hana memberi kabar, namun belum ada juga kabar darinya. Pada akhirnya Syara menelpon


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh Han, ada di mana?, jadi dateng ke rumah?"


"Walaikumsalam Ra, iya ini baru mau jalan. Maaf terlambat soalnya ada yang harus diurus dulu, apa umi Ami ada di sana?"


"Iya ada Han, fii amanillah Han, Umi Ami ada kok udah dateng agaknya, oh ya acaranya sudah mau mulai Han"


"Ya udah aku jalan dulu ya, oh ya tolong bilang sama Umi Ami ada yang mau Hana tanyakan ke beliau. Tadi udah chat sih tapi belum di bales"


"Insyaa allah nanti disampaikan, ya udah aku tutup dulu ya. Assalamualaikum"


"Walaikumsalam iya Ra, lancar ya".


Acara perkenalan pun sudah dimulai oleh para tetua, dan tak berapa lama acara intipun dimulai. Syara juga sudah berada di tempat duduk bagian perempuan, dengan degup jantung yang cepat seakan berlari. Bagaimanapun momen ini cukup menengangkan untuknya.


Nampak seorang laki-laki paruh baya berbicara,


"Abi dan Umi Hasan sekeluarga, mohon maaf sebelumnya saya mewakili keluarga putra kami Muhammad Afdan al Aziz ingin menyampaikan maksud dan tujuan keluarga kami datang kemari. Seperti yang sudah dibicarakan tempo hari, bahwa kedatangan kami kemari untuk sebuah niat baik, tak hanya menyambung tali silaturahim di antara keluarga besar pondok saja, namun mempererat jalinan kekerabatan dengan keluarga besar Abi Hasan tentunya.


Dengan mengucap bismillahirohmanirohim saya mewakili putra kami atas nama Muhammad Afdan al Aziz melamar putri Abi bernama Aulia Syara Hanifa untuk dijadikan pendamping hidup putra kami. Apakah Abi Hasan menerima lamaran kami ini?"


Abi Hasan yang sepanjang acara hanya terdiam dan tertunduk, menghela nafas berat.


Apa yang harus dikatakannya, La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim selalu terucap dalam bibirnya. Berharap pada pertolongan dan kekuatan Allah hadir pada dirinya.


Ia menghembuskan nafas panjang dan kemudian menatap putrinya cukup lama. Wajah gugup dan sorot mata bahagia itu jelas terpancar di sana, kemudian ia melihat istrinya wajah bahagia itupun terlihat jelas di sana. Lalu ia memandang Afdan, sungguh ia sangat mengharapkan sosok itu menjadi suami putrinya.


Ia hanya manusia biasa yang juga mempunyai rasa takut, meski keyakinan akan kuasa Allah itu tetap ada. Suasana juga hening menanti jawaban yang sebenarnya sudah banyak yang bisa menebak, lamaran ini akan diterima.


Namun kemudian menjadi kasak-kusuk lantaran Abi Hasan selaku pemangku jawaban resmi lamaran tersebut terdiam cukup lama. Namun semuanya seakan lega saat Abi Hasan mendatangi Afdan dan memeluknya erat. Ditatapnya wajah laki-laki dihadapannya itu, dan ditepuk-tepuk pundaknya.


"Sungguh Abi bangga padamu, Abi selalu menganggapmu sebagai anak"


Kemudian Abi Hasan mundur kembali ke tempat di mana ia duduk awalnya.


"Dengan mengucap bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīm, dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada khalayak terutama keluarga Afdan dan Afdan sendiri tentunya. Ana mewakili putri ana yang bernama Aulia Syara Hanifa tidak bisa menerima lamaran ini"


Suasana pun menjadi riuh, Afdan yang kaget pun seketika mendongakkan kepala melihat Abi Hasan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Syara pun tak kalah terkejutnya, padahal jelas-jelas pada saat pembicaraan taaruf terakhir Abi dan Syara menerima Afdan.


#########


**Eng ing enggg Alhamdulillah chapter 10 kelar juga guys.


Makin seru nih gan....


makin penasaran kenapa sih Abi Hasan nolak, apa alasannya coba?


Terus bagaimana nasib Syara, marahkan dengan Abinya atau???


patut ditunggu kisah selanjutnya gan,


Nantikan selalu upnya gan...


dan lupo


Jejak-jejak cintamu selalu setia kutunggu


Voteee Comenee likeeee followeee and poineeee


❤❤❤❤❤❤❤


kuberikan tanda cinta buat kalian semua


Sehat selalu dan banyak rejekinya Aamiin ya robbal alamin**.