
Hana tersenyum mendengar jawaban Arindra, ia menatap Arindra lalu melangkah mendekatinya. Ia peluk Arindra dengan tangisan haru, ribuan kata yang ingin ia ucapkan terpaku pada kebesaran hati dan ucapan Arindra yang menenangkan baginya.
"Maaf" Ucap Hana merangkul erat tubuh Arindra, tetesan air mata kembali mengalir. Arindra mengusap-usap punggung wanita yang tertutupi jilbabnya itu.
"Mbak Maafkan, mbak juga mohon maaf ya"
Ucapnya dan melihat Hana dan tersenyum. Arindra mengecup kening Hana dan menghapus air matanya.
"Mbak sungguh bersyukur, bisa kenal dengan wanita sholehah seperti kalian. Dekat dengan kalian, menjadi nikmat yang Allah anugrahkan pada Mbak. Kau mau kan, berteman dengan wanita tua ini?"
Hana tersenyum dan mengangguk "Mbak bukan temanku, tapi lebih tepatnya kakakku, Kakak iparku, jika kakak mengakui kak Hans suami kakak"
Arindra tersenyum mendengar perkataan Hana, ia kemudian mendepuk pundak Hana.
"Aku mengakuinya". Ucap Arindra. Syara tersenyum, meski hatinya bergejolak menahan cemburu, Hans tersenyum bahagia mendengar perkataan Arindra.
"Meski aku tidak mencintainya, maaf" Ucap Arindra lagi. Membuat Hans menarik sedikit senyumannya, dan menatap Arindra. Syara melihat Hans, ia memegang jemari tangan Hans dan tersenyum pada suaminya itu.
"Mbak Fattah menangis, mungkin dia haus" Ucap Hana, Syara yang mendengar itu langsung mengambil botol susu dan hendak membuatkan susu untuk Fattah.
Arindra menggendong Fattah, "Mbak bawa ke kamar dulu ya, boleh kan?". Diangguki Syara, Hana dan Hans. Arindra pun melangkah ke kamar, setelah membersihkan tangan dan da**nya.
Ia memangku Fattah, "Bismillah, minumlah semoga minuman ini selalu menyehatkanmu nak".
Arindra pun menyusuinya, Fattah langsung terdiam menikmati ASI pertama dari sang Ibu. Syara yang hendak memberi minuman formula di botol mengetuk pintu kamar.
"Masuk aja Ra" Ucap Arindra dari dalam.
"Ini susunya Mbak...". Syara hendak memberikan susu botol pada Arindra namun terdiam saat melihat apa yang terjadi di depannya, Arindra tersenyum.
"Maaf, aku melakukan ini. Setiap pagi aku memerah dan membuang ASI selama ini. Tapi kuharap setelah ini, aku tak melakukannya lagi. Kau tidak keberatan kan?"
Meski Syara terkejut, kemudian ia mengangguk. "Duduklah di sampingku, kau bundanya Fattah".
Syara duduk di samping Arindra "Makasih ya sudah mengurus Fattah dengan sangat baik. Dia tumbuh dengan sehat dan sangat tampan. Masya Allah nak, pelan-pelan sayang Ibu takkan melepasnya sebelum anak bunda ini kenyang"
Ucap Arindra mengelus pipi Fattah, dan kemudian melihat Syara.
"Kau sangat mencintainya kan?"
"Maksud Mbak?"
"Hans, kau sangat mencintainya?"
"Maaf" Syara tertunduk, ia merasa bersalah pada Arindra yang telah menjadi istri ke dua dari suaminya.
"Tak perlu minta maaf aku mengerti. Aku takkan memisahkanmu dengan Hans. Hans juga sangat mencintaimu, dia harusnya bersyukur dicintai oleh wanita sebaik dan sesholehah dirimu"
"Aku hanya madumu Mbak, Kak Hans juga sangat mencintaimu"
"Oh ya, selama ini aku berfikir aku adalah madumu hehe. Karena Hans tidak pernah menjawab ketika kutanya tentang kisah cinta kalian"
"Kami menikah setelah empat hari Kak Hans menikahi Mbak. Dua minggu setelah Mbak dinyatakan hamil. Tak lama setelah Mbak dibawa ke rumah sakit oleh Kak Hans".
"Itu bukan keputusannya Mbak, tapi keputusan Daddy Wijaya. Daddy yang memaksakan pernikahan kami saat aku sedang menerima pinangan laki-laki lain"
"Maksudnya, kalian dinikahkan paksa?"
"Iya Mbak, aku awalnya menolaknya. Lima bulan kami menjalin rumah tangga, kami pisah kamar. Namun akhirnya aku luluh atas apa yang dia lakukan padaku. Dia menjadi sosok yang berbeda sekarang daripada yang dulu"
Sorot mata Syara memancarkan kebahagiaan mengingat semua perlakuan manis Hans padanya.
"Dia begitu manis saat mengucapkan kata cinta, ia berusaha meluluhkan hatiku dengan berbagai cara dan dia begitu sabar menghadapiku yang selalu menolaknya".
"Menolak?"
"Aku menolak untuk disentuh olehnya meski aku sudah menyukainya. Rasa cemburu mengalahkan egoku untuk menerima dia seutuhnya sebagai suamiku. Aku sangat cemburu padamu Mbak, meski kau dalam keadaan koma, tapi dia memperlakukanmu begitu spesial.
Setiap malam dia selalu bercerita menumpahkan segala hal yang dia alami. Tentang pekerjaannya, tentangku, Hana dan lainnya. Aku cemburu karena ia tak pernah melakukan itu bahkan sampai saat ini.
Pagi hari dia memperlakukanmu dengan begitu manis. Mencium tangan, kening dan mengusap-usap perutmu yang buncit adalah rutinitas setiap hariβ° yang tak pernah ia lupakan.
Bahkan kami sering tidur di kamarmu, karena dia selalu ingin menjagamu setiap malam. Aku cemburu pada perlakuannya pada Mbak, cemburuku pula yang kemudian membuatku memiliki keberanian untuk menyerahkan diriku padanya.
Tapi sayang waktunya selalu tak tepat, saat aku sudah siap berita meninggalnya Mbak membuatnya banyak termenung sendiri. Mengunci diri di kamar, dan tidur dengan pakaian milik Mbak di atas kasur di mana selama ini Mbak tiduri.
Satu bulan lamanya, ia dalam keadaan seperti itu, ia menyesali dirinya sendiri yang tak berada di sisi Mbak saat Mbak dipaksa operasi oleh Daddy Wijaya".
"Dipaksa operasi maksudnya?"
"Jadwal mbak operasi caesar adalah dua minggu dari kami berangkat ke Jepang. Ada pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh Aldo sehingga membuat Hans membawaku serta ke Jepang karena permintaan Mommy dan Daddy. Untuk berbulan madu, tapi nyatanya dua hari kami di sana.
Kak Hans, selalu memikirkan Mbak, bahkan dalam mimpi sekalipun dia selalu memanggil-manggil nama Mbak. Aku marah dan memutuskan pulang, dan dia sama sekali tak menahanku dan membuatku semakin kecewa.
Saat sampai di Jakarta, aku mendapat chat dari suster rumah sakit, jika Mbak meninggal dunia saat operasi caesar sudah dilakukan. Hana dan Aldopun pada dua hari itu juga pergi ke luar negeri.
Akupun segera ke rumah sakit dan mengabari Kak Hans. Dia langsung pulang dan marah pada Daddynya. Apalagi setelah melakukan penyelidikan tentang jadwal yang dimajukan mendadak oleh Daddy.
Ia makin marah, bahkan kehadiran Fattah tak bisa meredam amarahnya. Satu minggu ia melakukan penyelidikan bersama Aldo. Dan kemudian dia mengurung diri karena menyesali kecerobohan dirinya yang meninggalkan Mbak sendirian.
Satu bulan meratap, Hana yang sudah berulangkali berusaha menyadarkan Kak Hans tapi belum berhasil kesal dan marah. Hari itu Hana menumpahkan kemarahan dan kekesalannya pada Kak Hans. Membuat Kak Hans sadar, setelah aku menyerah dan memilih pulang.
Aku tak menyangka jika dia segera menyusulku, dan barulah kami mengarungi rumah tangga sesungguhnya setelah Fattah berusia satu bulan lebih"
Arindra tersenyum getir mendengar ucapan Syara tentang perlakuan Hans. Sungguh ia terharu dan tak menyangka Hans akan sedemikian terluka saat dirinya dianggap telah tiada.
"Ya Allah, aku tidak tahu apa yang Kau rencanakan di masa depanku. Yang aku tahu saat ini hatiku bergetar saat mendengar apa yang Hans lakukan di masa lalu. Haruskan aku tetap menerimanya sebagai suamiku, dan menyakiti hati wanita baik yang ada di depanku?, Ya Robbku mohon petunjukmu, sesungguhnya hamba yakin, Engkaulah yang Maha Pemberi Petunjuk. Aamiin Ya Robbal Alamiin".
############
Alhamdulillah chapter 102 done
G jadi end ini mah, maafkeun ya π
Kalian membuatku terhura heheeπππππ€π€²πππβ€β€β€