
"Tuan, Adik Tuan Adam terlepas"
"Apa, kenapa bisa?"
"Ada sekelompok orang datang menyerbu markas Tuan, dan kami kalah jumlah, dan mereka membawa Tuan James"
Tuan Wijaya mematikan hanphonenya.
"Siapa yang berani melawanku hah?"
Geramnya
"Tuan, mereka membuat konten lagi"
Sebuah pesan masuk, Wijaya membuka isi konten.
"Brengsek, beraninya mereka"
Geramnya lagi lalu menghubungi seseorang.
"Bawa mereka semua ke markas"
Tuan Wijaya melihat istrinya, sejak pemberitaan Arindra muncul di konten. Nyonya Wijaya menjadi orang yang murung, ia banyak menghabiskan waktunya di kamar dengan melamum. Melihat kondisi istrinya itu, Tuan Wijaya marah dan menyalahkan semua kesalahan pada Arindra.
"Dia harus segera mati"
Ucapnya sambil mengepalkan ke dua tangannya.
#################
"Kak, mau kemana kenapa buru-buru. Lihat wajah kakak masih bengkak seperti ini"
Ucap Syara yang melihat Hans akan pergi.
"Aku harus pergi Ra, ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan"
"Pekerjaan, pekerjaan untuk menemui Mbak Arindra lagi, dan membiarkan diri kakak dihajar babak beluk lagi seperti ini"
"Kita sudah sering membahas ini Ra, Arindra juga istriku meski dia tak tau. Apa yang saat ini aku terima, aku pantas mendapatkannya. Kau istriku sama dengannya, aku takkan pernah membeda-bedakan kalian. Aku akan bersikap adil pada kalian, tapi tolong, tolong Ra, ikhlaskan di sini.."
Hans memegang dada
"Ikhlaskan diri, ijinkan aku untuk menghadirkan kembali Mbak Arindra dalam kehidupan kita, meski itu tak mudah untukmu dan untuk Arindra"
Ucap Hans sambil memeluk istrinya itu, ia kecup keningnya. Syara, sejak konten pertama yang menunjukkan Arindra masih hidup, ia begitu protektif pada Hans. Hans tau, itu karena rasa cemburu Syara yang besar pada sosok Arindra.
"Aku g tau Kak, apa aku akan sanggup atau tidak. Kau tau hatiku sangat sakit saat ini. Pergilah, jika itu baik menurutmu, aku sudah memutuskan tetap menunggumu apapun terjadi"
"Terima kasih sayang, terima kasih"
Hans berpamitan pada Syara dan melangkah pergi.
###########
Di apartemen Arindra sedang terjadi ketegangan. Arindra the geng sedang diringkus saat pagi-pagi sekali. 20han orang datang menyerbu mereka, hingga mereka tak mampu melawan. Kini mereka ada di ruang tengah.
"Ikat dan bawa mereka"
Ucap pemimpin rombongan membawa Arindra cs menuju mobil yang sudah disiapkan.
"Kak, bagaimana ini. Siapa mereka, kita mau dibawa kemana?"
Jenny bertanya pada Jack, dijawab gelengan kepala oleh Jack. Semua terlihat tegang, Arindra mengepalkan tangan di sela-sela ikatan tali yang mengikat tangannya.
"Aku yakin kau akan menolong kami Ya Robbi, tidak ada setiap kedzaliman akan menang melawan kebenaran, selama orang yang baik tak diam, bantu kami melawan kedzoliman yang telah Wijaya lakukan, Engkau akan menolong kami Ya Robb, aku yakin itu"
Sesampainya mobil itu, di sebuah rumah cukup besar dengan banyak bodyguard yang ada di sana. Arindra cs melihat sekeliling, membaca keadaan. Mereka terkejut, barang-barang mereka juga diturunkan di sana.
Arindra cs digiring masuk ke dalam rumah itu, setelah sampai di dalam tali pengikat tangan mereka dilepaskan.
"Paman James"
Ucap Alex melihat Paman James yang menghampiri mereka. Semua tersenyum, melihat Paman James yang sehat.
"Kalian apa kabar?"
Tanya Paman sambil memeluk mereka satu persatu, kecuali Arindra tentunya 😁.
"Kami semua baik Paman, jadi Paman yang melakukan ini pada kami?" Tanya Alex
Paman menggeleng, dia melihat ke arah belakang terlihat dua sosok yang mereka kenali datang menghampiri mereka
Seru Alex tak percaya, Jack melirik Arindra namun wajah tenang terlihat di sana, dan melihat Hans, cemburu itulah yang saat ini dirasakan Jack saat melihat tatapan kerinduan Hans pada Arindra.
"Mereka yang menolong Paman"
Ucap Paman James
Aldo serasa tak percaya, melihat sosok Arindra ada di hadapannya ini berdiri tegak dengan tenang. Karena baru kemarin Hans menceritakan, jika Arindra mendapatkan trauma yang cukup parah. Hans tersenyum melihat kedatangan mereka. Meski sorot matanya tak pernah lepas dari sosok Arindra.
Arindra maju ke depan, berhadapan langsung dengan Hans, bukan dengan wajah ketakutan yang ia tampilkan kemarin. Tapi Wajah tenang dan menampilkan sedikit senyuman.
"Kau melawan ayahmu sendiri?"
Tanyanya to the point, meski dengan suara lembut namun penuh ketegasan.
"Tidak"
Jawab Hans dengan tersenyum, ia senang melihat istrinya itu dekat dengannya.
"Lalu apa maksudnya ini"
"Hanya sebuah uluran tangan suami pada istrinya"
Jawab Hans tenang, membuat yang lain terkejut terutama Hans.
"Istri?, istri siapa yang anda maksud Tuan Hansel Wijaya"
"Kau..., Kau istriku Syabila Arindra. Istri pertama Hadinata Hansel Wijaya"
Arindra tersenyum mendengar itu
"Anda pasti sedang bermimpi Tuan"
"Tidak, apakah kau tidak ingat siapa dirimu, Masa lalumu?"
"Kau yang membuat aku melupakan semuanya Tuan. Tapi kelakuan bejat dan upaya pembunuhan yang kau lakukan padaku tentu tak bisa kulupakan dengan mudah"
Ucap Arindra dengan sorot mata tajam mengarah pada Hans. Membuat yang lain tegang, termasuk Aldo dan Paman James. Sedangkan Jack jangan ditanya lagi wajahnya saat ini, rasa cemburu mendera hatinya melihat Hans yang berbicara dengan Arindra. Apalagi setelah Hans mengakui jika Arindra istrinya.
"Bagus, jika kau masih ingat. Aku senang, jika kau seperti ini, artinya sesuai dengan dugaanku kau adalah wanita yang kuat"
Hans masih saja menunjukkan senyum manisnya.
"Kita lihat saja nanti, siapa yang paling kuat di antara kita, Kau atau Aku"
Tunjuk Arindra pada Hans
"Seorang suami akan selalu mengalah pada istrinya, apalagi jika mengingat apa sudah kulakukan padamu. Aku akan melakukan apa saja, agar membuatmu memberi maaf dan menerimaku kembali"
Arindra terkekeh mendengar ucapan Hans, tak menyangka seorang Hans berkata seperti itu.
"Anda, bersikap kita pasangan suami istri"
"Kau istriku, dan itu fakta. Aku tahu mungkin ini mengejutkanmu, lihat cincin di jari manismu itu adalah cincin pernikahan kita. Kita sudah menikah dua minggu setelah kejadian itu"
Arindra memperhatikan cincin itu, dan kemudian melepaskannya.
"Anda sedang membuat kisah yang mengagumkan Tuan, sayangnya cincin yang anda bilang sebagai ikatan ini tak ada lagi di jari manisku"
"Ting-ting"
Cincin itu dijatuhkan Arindra di lantai, dan menggelinding. Hans berjalan mengambil cincin itu, dan mendekati Arindra lagi.
"Saat ini, mungkin cincin ini tak berharga untukmu. Tapi bagiku, ini sangat berharga, aku akan memasangkannya kembali pada pemiliknya. Meski aku harus, mendapatkan penolakan berulang kali, aku takkan menyerah"
"Benarkah?, sungguh aku sangat tersanjung mendengar perkataan anda Tuan. Tapi sayangnya, anda hanya akan menjadi pemimpi yang takkan pernah mendapatkan mimpi itu"
Hans menatap Arindra begitu dekat, ia tersenyum manis. Sorot mata mereka beradu, mereka bertatap cukup lama membuat seorang Jack makin cemburu.
"Aku akan buktikan itu, Mutiara Arisha i love you"
Lirih Hans, namun terdengar jelas oleh Arindra.
#############
Alhamdulillah chapter 76 done
❤❤❤❤❤❤❤❤