ARINDRA

ARINDRA
Chapter 37



Tiga puluh menit Syara dan Suster Hani membersihkan Arindra. Syara kemudian bersiap turun untuk sarapan, namun sebelumnya ia masuk ke kamarnya dahulu. Ia melihat suaminya masih berkutat di depan cermin.


"Kirain sudah berangkat, ehh ternyata.."


Syara tertawa melihat suaminya yang seakan tidak percaya diri dengan penampilannya.


"Sudah pas, rapi dan wangi belum"


"Sudah pas semuanya kak, ini wangi banget agaknya. Enggak kebanyakan itu pake parfum sampe wamgi banget begini. Mau ketemu siapa sih?"


Syara menatap suaminya curiga, karena tak biasanya melihat Hans super rapi begini.


"Heheee, akhirnya dapet pujian juga dari istri. Seneng banget rasanya hati ini"


"Jadi selama ini ngarep pujian gitu"


"Iyalah, aku dandan perfec banget gini juga buat istri, biar cepat jatuh cinta padaku"


Hans mencolek dagu istrinya itu yang tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Ya udah, kita sarapan bareng yuk udah siang ini, aku cuci tangan dulu ya"


"Oke, aku tunggu sayang"


Syara dan Hans turun untuk sarapan. Aldo yang sudah diluar menunggu di mobil. Ia sudah lebih dari tiga puluh menit menunggu, ingin masuk ke dalam rumah, namun ia ingat jika ia tidak boleh sembarangan lagi masuk. Karena Hans melarangnya, ia takut melihat lelaki lain melihat Syara sedang tidak memakai jilbabnya. Meskipun Syara selalu menggunakan pakaian Syar'i lengkap, kecuali di dalam kamar pribadinya.


Yang ditunggu sedang santai dan senyum merekah tak lepas dari bibirnya. Ia sedang menikmati pelayanan sang istri. Syara mengambilkan makanan untuk sarapan suaminya, membuatkan minum dan mereka makan bersama dengan riang.


Setelah sarapan, syara mengantar Hans ke depan pintu. Ia mencium pungung tangan suaminya, dan Hans mencium keningnya membuat Aldo melongo.


"Sukses besar nih agaknya, baru kemarin minta tips eeh sekarang udah mantep aja, pantes lama lagi kasmaran sih, aduh baper nih jomblo"


Suara hati Aldo menggema tak percaya melihat pemandangan di depannya. Setelah mengucapkan salam Hans masuk ke mobil.


"Hey jalan, kenapa bengong"


Hans menepuk pundak Aldo yang terdiam cukup lama.


"Hebat banget loe boss, baru kemarin minta tips ehh sukses aja hari ini, pake kekuatan apa loe"


"Rahasia, jomblo jangan iri hehee"


"Widih wangi banget nih, lebih wangi dan rapi dari kemarin kayaknya nih. Ini jurus apaan lagi yang loe pake boss?"


"Jurus pujian istri, udah fokus aja loe nyetir. Jomblo mah mana tau beginian"


"Sukses dong boss bobol gawang semalem, soalnya aura loe seneng banget hari ini"


"Pingin tau aja loe"


"Pake gaya apa boss, gaya CR7, Paulo Dybala, Messi, Neymar, Salah apa Mbappe boss"


"Gaya loe, gue mah Juventini dong"


"Wow pake gaya CR7 dong, mantep boss besok-besok ajarin gue ya"


"Saa ae lo, pacar aja kagak ada. Sok-sokan minta ajarin gue"


"Ya elah boss, minta ilmu dikit aja loe pelit banget"


"Udah jalan aja napa, bawel banget jadi orang"


Sesampainya di kantor, Hans masih terbawa suasana di rumah. Ia menyunggingkan senyum yang tak biasa diperlihatkan pada karyawan-karyawannya.


Aldo yang berada di belakangnya hanya cengengesan melihat wajah-wajah heran rekan-rekan kerja di perusahaan Wijaya itu. Jangankan mereka, Aldo yang setiap hari selalu bersama Hans melihat perubahan Hans pun kaget.


Hans duduk di kursi kebesarannya, lalu ia segera berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Hari ini ia ingin memberi kejutan pada Syara, seperti rencananya kemarin. Ia ingin memasak makan malam, dan menikmati malam romantis di taman bersama Syara.


Dokumen demi dokumen ia baca dengan teliti, dan ia memanggil sekertarisnya untuk masuk ruangan.


"Tok-tok"


"Masuk"


Seorang wanita cantik bernama Citra masuk ke dalam ruangan Hans.


"Jadwal"


"Oh maaf Tuan, Tuan hari ini pukul sepuluh bertemu dengan Klien dari Kalimantan untuk urusan tambang, selanjutnya nanti pukul dua siang Tuan janji temu dengan Tuan Adam dari Adam Group"


"Adam Group"


Hans nampak berfikir,


"Kenapa tiba-tiba mereka mengajak kerjasama, bukankah mereka ada sengketa bersama Daddy" Gumamnya lirih


"Baiklah, berikan semua jadwal itu pada Aldo, dan katakan ini pada bagian keuangan. Jangan main-main dengan uang dan laporan perusahaan, jika mereka masih ingin hidup. Suruh mereka memperbaiki ini, satu jam dari sekarang laporan ini sudah harus selesai. Bilang dengan Aldo untuk mengantarkan ke rumah"


Hans yang biasanya kasar hari ini tegas namun lembur terdengar. Citra bagai menerima angin surga. Biasanya laporan salah akan langsung dirobek atau dilempar pada si pembuatnya. Tentu dengan kemarahan yang menyeramkan menurut mereka.


"Kenapa masih di sini"


Ucap Hans melihat sekertarisnya itu masih berdiri terpaku di tempatnya.


"Ba-baik Tuan, saya akan sampaikan ke bagian keuangan. Ada lagi yang Tuan butuhkan?"


"Tidak ada, panggil Aldo kemari"


"Baik Tuan, saya permisi"


Tak lama kemudian Aldo datang ke ruangan Hans.


"Ada apa boss"


"Selidiki Adam, apa motifnya mengajak perusahan kita untuk bekerja sama. Dan jangan lupakan Jhon, kau harus tetap mengawasinya"


"Baik Boss, ada lagi?"


"Oh ya, bagaimana membuat tempat yang romantis atau makan malam romantis"


"Maksud boss, makan malam dengan Syara?"


"Iya, aku ingin melakukannya malam ini. Dan aku akan memasak sesuai saranmu"


"Hah, boss yakin?"


"Iya, makanya aku ingin saran darimu. Ayo berikan saran"


"Aduh ****** gue, kalo ini gagal bakal gue nih kena semprot. Kenapa harus terlibat urusan percintaan sih, uhhh nasib asisten"


Gumam Aldo dalam hati


"Kenapa, kok bengong"


"Itu boss, buka aja di utobe disana bisa jadi referensi. Biasanya ada bunga dan lilin-lilin gitu, coba aja boss"


"Bagus, makasih sarannya. Gue pulang dulu, jangan lupa laporan keuangan bawa ke rumah satu jam dari sekarang, jadwal gue hari ini loe yang wakilin termasuk si Adam itu"


"Boss loe enggak salah, ini masih setengah sepuluh loe mau pulang?"


"Bukan urusan loe, gue bossnya"


Hans berlalu begitu saja membuat Aldo makin merasa konyol akan sikap Hans. Tak biasanya ia meninggalkan pekerjaan, apalagi masih terhitung pagi.


Setelah Hans menghilang dari pandangan, Citra yang penasaran bertanya dengan Aldo.


"Tuan kenapa hari ini, beda banget tak seperi biasanya"


"Lagi kena virus"


"Hah, virus apaan?"


"Virus cinta"


"Oh pantes beda, lebih lembut, dan banyak senyum"


"Dan konyol, awas kamu kalo kena virus itu juga"


"Lho memangnya salah Tuan"


"Salah, karena kamu bakal jadi gila senyum-senyum sendiri tidak jelas"


"Hahaa Tuan, makanya punya pacar biar ngerasain indahnya jatuh cinta"


Citra tersenyum melihat Aldo yang telah berlalu pergi ke ruangannya.


#########


Alhamdulillah done chapter 37


Vote vote vote ❤❤🙏🙏