
Hari ini Hans tak konsentrasi dalam bekerja, dia hanya membolak balikkan dokumen-dokumen yang ada di mejanya. Pikirannya buntu, tes DNA yang ia rencanakan pun pasti sudah diketahui Daddynya. Mau minta bantuan Aldo, jelas Aldo akan menolak jika berkaitan lagi dengan Arindra. Yang Aldo ketahui, Arindra sudah tiada dan Hans diminta fokus pada rumah tangganya bersama Syara.
Sorenya ia memutuskan pulang, ia sengaja meninggalkan hanphone di kantor dan banyak menghabiskan waktu di ruang kerja. Ia bingung, siapa lagi yang harus ia percayai untuk membantunya dalam mengungkap kebenaran tentang Arindra.
"Sayang..."
Panggil Syara dengan senyumnya, ia menghampiri Hans yang berdiri menghadap jendela. Hans tak menoleh, namun ia merasakan dua tangan melingkar di perutnya.
"Kau belum tidur?"
Tanya Hans pada Syara yang memeluknya dari belakang.
"Sejak pulang, wajahmu terlihat kusut. Ada apa?"
Hans menghela nafas berat, kemudian berbalik menghadap Syara dengan tersenyum. Syara masih memeluknya erat, mendongakkan kepala ke atas melihat wajah suami yang dicintainya itu.
"Aku sedang dikejar deadline perusahaan, sedangkan waktunya tidak cukup. Sehingga aku bingung harus memulai dari mana"
"Kau tidak berbohong?"
Hans mengajak Syara duduk di sofa, lalu ia menatap manik mata istrinya.
"Tidak"
Ucapnya, Syara tersenyum dan merebahkan kepalanya di paha Hans, mencoba percaya dan tak curiga pada ucapan Hans.
"Kak, aku lupa menyampaikan ini pada kakak saat di rumah Abi dan Umi?"
"Apa?"
"Tentang Hana"
"Apakah ada masalah dengan Hana, mengapa aku tidak tahu?"
"Tidak, hanya saja Umi berniat menjodohkan Afdan dengan Hana"
"Afdan?"
Tanya Hans seakan tak percaya, Syara bangkit duduk di pangkuan suaminya, melingkarkan ke dua tangan di leher Hans. Menatap dengan intens wajah Hans.
"Kenapa, kakak tak menyetujuinya?"
"Bukan, tapi apakah kau yakin Afdan orangnya?"
"Kakak meragukanku?"
"Entahlah, aku hanya khawatir..."
Syara tersenyum dan meraih dagu suaminya, memotong kata yang akan diucapkan Hans.
"Jika cintaku yang kakak khawatirkan, tenang saja cintaku sudah menjadi milikmu seutuhnya. Aku senang jika kakak cemburu"
Syara mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka beradu.
"Aku yakin, Afdan tak menolak seorang Hana"
Lirihnya,
"Bukan itu, Hana sedang dijodohkan dengan rekan bisnis Mommy. Dan sejauh ini Hana tak menolaknya"
Syara sedikit menjauhkan wajahnya, menatap terkejut atas ucapan Hans.
"Mengapa aku tak pernah tau, Hana tidak cerita. Sejak kapan?"
"Baru kemarin juga Kakak tau dari Mommy"
"Kakak tau siapa laki-laki yang sedang dijodohkan oleh Mommy?"
Hans menggeleng,
"Kakak tidak tau, nanti coba Kakak akan menyelidikinya"
"Aku berdoa semoga Hana mendapatkan jodoh yang terbaik"
"Aamiin Ya robbal alamin"
Syara memainkan kancing piyama Hans, ia menatap suaminya dengan tatapan begitu dalam.
"Kak"
"Hemm"
"Aku ingin"
"Apa?"
"Aku ingin Allah mengharamkan diriku dari neraka, mendapatkan pahala dua ratus ibadah haji dan umroh, dicatat melakukan dua ratus ribu kebaikan, dan diangkatnya dua ratus ribu derajat di surga.
Tak hanya itu kak, aku juga ingin Allah menghapus dosaku baik di masa lalu dan di masa yang akan datang, mendapatkan pahala seperti memerdekakan seratus budak, dan dicatat satu kebaikannya dalam setiap helai rambut yang dimilikinya"
"Apa maksudnya, kakak tidak mengerti?"
"Kakak tau, apa yang kukatakan barusan tertuang dalam sebuah buku adabun Nisa', karya Abdul Malik bin Habib (Abu Marwan) al Qurthubi"
"Terus..."
Tanya Hans yang masih belum mengerti arah pembicaraan Syara. Syara menempelkan bibirnya di telinga Hans.
Syara menatap Hans setelah mengatakan itu, Hans paham karena untuk pertama kalinya mereka melakukan itu di rumah Abi Hasan. Dan setelahnya mereka belum melakukannya lagi. Syara yang melihat suaminya terdiam, bertanya.
"Kakak menolakku?"
"Apakah kau tidak lelah setelah mengurus Fattah seharian?"
Syara mencium kening Hans,
"Tidak, aku sungguh menantikan dirimu yang memintaku. Sungguh aku menahan malu saat mengatakan ini padamu"
"Maaf"
Ucap Hans lalu menggendong tubuh mungil Syara ke kamar.
"Ya Allah aku pasrahkan padaMu, kelak yang akan menjadi takdirku. Arindra, maafkan aku, saat ini aku tidak ingin membuat istriku yang lain kecewa"
Malampun berlalu, Syara dan Hans hanyut dalam pusara cinta dalam mahligai rumah tangga mereka.
##########
Pagi datang, senyum selalu terukir di wajah Syara. Ia memandikan Fattah dengan begitu riang, menyiapkan segala kebutuhan suaminya dengan senyum yang terus mengembang.
Berbeda dengan Hans, meski ia turut bahagia merasakan kebahagian Syara. Di sisi lain, ia masih memikirkan Arindra.
"Apakah senyum itu akan tetap bertahan di bibirmu Ra, jika kamu tahu Arindra masih hidup, apakah kelak kamu akan tetap bertahan di sisiku, di saat yang sama aku mengejar cinta Arindra. Apakah Arindra akan memaafkanku dan hidup bersamaku. Aku berharap yang terbaik menurutMu ya Robbi"
Hans hanya memperhatikan Syara yang melakukan tugasnya dengan baik. Dia tersenyum saat Syara melihat ke arahnya.
"Kak, hanphone kakak enggak ada dari tadi Syara nyari kok enggak ketemu ya"
"Hanphone Kakak, ketinggalan di kantor kemarin. Oh ya Ra, nanti bisa minta tolong boleh?"
"Tolong apa sayang?"
Ucap Syara sambil merapihkan kemeja Hans dan memasangkan dasi miliknya.
"Belikan aku hanphone yang kecil merk s******, yang lipatan, beli dua ya"
"Untuk apa kakak butuh hanphone seperti itu?"
"Ada seorang pekerja di taman dia tak memiliki hanphone, jadi kakak berniat membelikannya. Kasihan dia ingin menghubungi keluarganya selalu meminjam hanphone temannya"
"Oh, lalu satunya?"
"Untuk kakak, jaga-jaga soalnya hanphonenya suka sering habis batrai. Sayang jika kakak harus beli yang baru, sedangkan yang itu masih bisa dipakai"
"Baru kali ini ada sultan bergaya bukan seperti anak sultan hehee"
Ucap Syara meledek suaminya itu.
"Kan aku ketularan kamu Ra, belilah yang dibutuhkan bukan yang diinginkan"
"Baiklah suamiku tercinta ini sudah pandai menghemat rupanya, cup...morning kiss"
"Maafkan aku Ra, jika aku membohongimu. Sungguh tak ada niat aku melakukan itu padamu. Aku ingin bilang, jika Arindra masih hidup, tapi pasti kau akan membantah dan mengatakan jika ia sudah tiada. Aku tau, kau tak ingin berbagi diriku dengannya"
Hans menghela nafas berat sesaat setelah Syara keluar dari kamar. Ia pun keluar menuju ruang makan, untuk sarapan pagi. Ia melihat Fattah yang sudah mandi.
Diciumnya pipi dan kening Fattah,
"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini, lihat anak Papa sudah tampan, segar dan wangi. Mau main dengan Papa, hemm sini main dengan Papa"
Hans memainkan jari jemari Fattah dengan terus menggoda babynya itu.
"Mbaaaaa ciluk mbaaaaa"
Ucapnya berulang-ulang.
"Sarapan dulu Kak, sini biar Baby Fattah sama bunda ya sayang"
Syara mengambil Fattah dalam gendongan Hans, kemudian menggendong Fattah dan duduk di samping suaminya itu.
"Tidak sarapan?"
Tanya Hans pada Syara
"Mauu"
"Berikan Fattah pada bibi, agar kau bisa sarapan
Ucap Hans lagi. Syara hanya tersenyum mendengar kata suaminya.
"Sungguh kau tidak peka suamiku"
Ucapnya terkekeh dalam hati.
"Aku mau sarapan, aku sangat lapar. Suapi aku ya, karena aku tak ingin melepaskan baby Fattah"
Hans tersenyum dan mengangguki permintaan istrinya itu.
############
Alhamdulillah chapter 61 done
uhhh maaf ye, kalo disajikan lagi keromantisan Syara ma Hans. ❤❤❤😁😁😁😁😁😁