ARINDRA

ARINDRA
Chapter 64



Alex dan Jenny mengikuti langkah laki-laki itu, menuju sebuah Kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Mereka duduk dan saling berhadapan.


"Kau menyebut dokter Dea, apakah dokter Dea yang kau maksud bekerja di rumah sakit Wijaya?"


Tanya laki-laki itu tho the point. Alex memicingkan mata menatap curiga. Laki-laki itu meperlihatkan sebuah foto dari saku bajunya.


"Jika dokter ini yang kau maksud, maka dia adalah kakakku"


Alex melihat foto itu, dan memperhatikan wajah laki-laki itu, ada kemiripan tapi tak banyak.


"Aku sudah kehilangan kontak dengannya selama sebulan lebih. Kakakku pamit dengan pacarnya untuk ke Eropa, mereka bilang ingin menikah dan bulan madu di sana. Tapi hingga kini belum juga ada kabar. Aku sudah melaporkan kehilangan ke pihak berwajib, sudah entah berapa rumah sakit aku datangi untuk mencari tau adakah kakakku di sana. Tapi di sekian mayat yang ku tes DNA, belum ada satupun yang cocok dengan kakakku"


Laki-laki itu mengeluarkan beberapa kertas hasil tes DNA, memberikannya pada Alex. Alex melirik Jenny minta pendapatnya.


"Aku belum percaya kau adiknya?"


Laki-laki itu kemudian mengeluarkan hanphonenya, ia memperlihatkan chat dan beberapa rekaman suara dokter dea. Barulah Alex mulai percaya.


"Aku Alex, rekan kerja saat di rumah sakit Wijaya"


"Kau percaya sekarang, Aku Dio. Aku hanya penasaran padamu mengapa kau begitu yakin jika itu kakakku?"


"Silahkan lakukan tes DNA, tapi kusarankan jangan di rumah sakit yang masih ada kaitannya dengan Wijaya. Gelang yang dipakai kakakmu adalah pemberianku"


"Maksudmu?"


Alex menceritakan awal mula ia mendekati dokter Dea dan kenapa memberikan gelang itu.


"Kau yakin sekali itu Kakakku hanya dari sebuah gelang?"


"Lakukan tes DNA jika kau meragukanku, gunakan sampel darah agar tesnya segera keluar, setidaknya jika kau melakukan hari ini maka besok atau lusa kau sudah mendapatkan hasilnya"


"Akan aku lakukan, tapi jika itu benar kakakku siapa yang melakukan itu. Sungguh kejam sekali, betapa menyakitkan melihat tubuh tersiksa seperti itu"


"Kau mau tahu?"


"Ya"


"Kau tau apartemen dokter Dea, dan punya kode akses untuk masuk"


Dio mengangguk,


"Ayo kita cari buktinya, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu di apartemen kakakmu"


Dio melihat sekali lagi wajah Alex dan Jenny, untuk memastikan kemantapan hatinya. Jujur ia sudah putus asa mencari jejak kakaknya itu.


"Baiklah, ayo"


"Kau tidak mengambil sampel untuk tes DNA kakakmu?"


"Aku sudah melakukannya saat kalian belum datang"


"Baiklah, aku mengikutimu dari belakang"


Alex dan Jenny mengikuti mobil Dio dari belakang, butuh waktu satu jam untuk mereka sampai di apartemen dokter Dea. Mereka masuk, dan melihat sekeliling apartemen.


"Sepertinya, apartemen ini di huni orang lain"


Alex menunjukkan asbak dan beberapa gelas kopi yang ada di meja. Dio dan Jenny menghampiri, ya bekas itu masih baru.


"Bagaimana mungkin ada orang bisa masuk, ini apartemen mewah. Kode akses ada padaku, dan aku tidak pernah kemari karena sibuk kerja dan mencari kakakku?"


"Apakah gedung ini juga milik Wijaya Group?"


"Ya, kakakku mendapatkannya saat menjadi dokter rumah sakit Wijaya"


Alex pun menceritakan kejadian saat malam, dimana ada penyusup di apartemen mereka.


"Shit"


Dio mengeram menahan marah. Alex menepuk bahunya.


"Kita harus cepat cari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan barang bukti. Sebelum mereka kembali"


Dio mengangguk, Jenny dan Alex mulai melakukan pencarian, sesuatu yang bisa dijadikan barang buktinya. Mereka sibuk mencari ke sana kemarin, hingga buku-buku dibuka satu-satu, laci, kasur, lemari, dibawah ranjang, brangkas, dapur, sofa, hingga vas bunga mereka cari. Namun tak menemukan sesuatu yang mereka butuhkan.


Beberapa jam mereka berkutat di apartemen itu, hingga lelah, ketiganya duduk di sofa dan sambil meneguk air minum.


"Apakah kau tidak mengingat sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk?"


Tanya Jenny dengan wajah lelahnya, Alex menatap Dio, yang ditatap menggeleng.


"Baiklah, kalau begitu kita fikirkan lagi kira-kira dimana kakakmu menyimpan petunjuk kejahatan Wijaya. Saat ini, sudah sore, kami pulang dulu. Kita tukar nomor, agar mudah saling menghubungi"


Dio memberikan nomornya, ia bangkit membereskan apartemen kakaknya itu, mengunci pintu-pintu dan membawanya.


Ucap Dio mengajak keduanya keluar apartemen, tak lupa ia mengubah kata sandi apartemen kakaknya itu. Sampai di dalam mobil, Dio meletakkan kunci-kunci itu di dasboard. Namun salah satu kunci itu di ujungnya terbuka.


Dio mengambil kunci itu dan membukanya, sebuah memory card tersimpan di sana. Ia segera menghubungi Alex, dan kemudian melakukan pertemuan di apartemen Alex.


Alex, Dio dan Jenny masuk ke apartemen, terlihat Arindra dan Jack di sana sedang duduk dengan laptop di hadapan masing-masing.


"Kalian sudah pulang?"


Tanya Arindra, dan melirik laki-laki yang ada di samping Alex.


"Iya Kak, ini Dio adik dokter Dea"


Ucap Alex, dan kemudian ijin meminjam laptop milik Jack. Tak lagi banyak bertanya, ke empatnya fokus melihat apa yang dilakukan Alex.


Beberapa tulisan berupa cerita awal dokter Dea masuk di kerajaan bisnis Wijaya, lanjut vidio-vidio pembunuhan.


"Shit, jadi kakakku dibunuh Wijaya karena kakakku banyak menyimpan kejahatannya"


Dio terlihat frustasi melihat kakaknya selama ini terlibat kejahatan yang diluar nalarnya.


"Jadi benar dokter Dea sudah meninggal?"


Tanya Arindra,


"Dio sedang melakukan tes DNA kak, kemungkinan besok hasilnya sudah kita dapatkan"


Jack bertanya tentang Dio, dan Alex menceritakan awal pertemuan dan sampai menemukan memory card itu.


"Dio, jadi apa rencanamu sekarang?"


Tanya Jack pada Dio yang tertunduk.


"Apa rencana kalian?"


Dio bertanya balik, dan Jack menceritakan rencana dalam menghadapi Wijaya.


"Aku akan mencari siapa pembunuh Kakakku, jika memang Wijaya. Maka aku akan melawannya"


"Kau yakin, Wijaya adalah lambang raja di negeri ini, sedangkan kami adalah kurcacinya"


"Aku tidak peduli meski aku kurcaci, aku akan berusaha semampuku untuk membalas Wijaya"


"Baiklah, selamat bergabung di team kecil kami. Sungguh kami sangat berterima kasih atas bantuannya. Lalu kau ada rencana lain"


"Perlukah kita bawa bukti ini pada pihak berwajib?"


Tanya Dio


"Laporan kita hanya akan jadi sampah, karena Wijaya masih begitu kuat. Kita perlahan goyahkan dulu dengan membuat konten mengenai apartemen ini yang tidak aman. Ini sedikit akan merusak reputasi property Wijaya"


"Aku bersedia melakukan kolab dengan Kak Arindra, dengan kak Arindra seorang bintang tamu. Sekalian aku juga sudah memfoto dan vidio apartemen kakak, sebeluma melakukan pencarian. Aku harap itu bisa menambah bahan untuk konten kita"


"Kau tau soutuber yang bisa diajak kerjasama, aku sudah selesai membuat skripnya"


Arindra menatap Dio, yang lain juga ikut menatap Dio.


"Aku seorang soutuber"


"Benarkah?"


Tanya Jenny girang, karena dia dan Alex sudah menemui beberapa soutuber namun semua menolak saat mendengar nama Wijaya yang menjadi sasaran tembak.


Alex memeluk Dio, dan yang lain tersenyum senang.


"Baiklah, menginaplah di sini. Kurasa kau perlu keamananan mulai saat ini"


Ucap Jack pada Dio.


"Bukankah ini apartemen property Wijaya juga"


Tanya Dio, diangguki yang lain.


"Tenang saja, lihat di sana, di sana dan kami juga sudah memasang kamera tersembunyi. Mereka akan berfikir ribuan kali jika akan bertindak saat ini. Setelah konten selesai, kita bisa pindah ke rumah. Saat ini aku sedang mempersiapkan rumah itu, dan mencari bodyguard-bodyguard handal untuk keamananan bersama"


"Baiklah kalau begitu, aku meminta orangku dulu untuk membawa barang-barangku kemari"


################


Alhamdulillah chapter 64 done


❤❤❤❤❤❤❤❤😁😁😁