ARINDRA

ARINDRA
Chapter 42



Malam itu, seorang anak laki-laki tampan telah lahir ke dunia. Anak laki-laki itulah yang dilahirkan Arindra kini telah berpindah ke ruangan lain, dan sedang ditunggu oleh suster Hani, Tuan dan Nyonya Wijaya. Senyum bahagia tak pernah lepas dari Nyonya Wijaya yang sangat mengharapkan cucu itu.


Sedangkan kondisi Arindra semakin mengkhawatirkan, pasca menjahit kembali perutnya, mesin elektrokardiografi (EKG) menunjukkan tak ada gelombang. Beberapa dokter yang menangani segera memberitahu dokter Dea. dr Dea segela meminta alat Defibrillator untuk memacu jantung Arindra.


Ia terus melakukannya, berulang-ulang. Dalam hati kecilnya ia tak ingin menjadi pembunuh. Ia sangat berharap Arindra bangun dan hidup, untuk membalaskan rasa sakit yang di derita pada Tuan Hans, dan keluarga Wijaya.


Ia memerintahkan pada dr. Alex dan dokter lainnya untuk berusaha membuat Arindra hidup lagi. dr. Dea keluar menemui Tuan Wijaya, ia geram melihat Nyonya Wijaya begitu senang sedangkan Arindra berjuang menghadapi maut.


"Tuan"


Panggilnya membuat orang-orang yang ada di ruangan itu, menoleh padanya.


"Pasien telah meninggal"


Tuan Wijaya melirik istrinya, tak ada gurat kesedihan di wajahnya. Ia masih tetap tersenyum mendengar berita kematian Arindra. Ia mengerti, suaminya sedang meminta dukungannya. Kematian Arindra memang diharapkan Tuan Wijaya, tapi tidak dengan Hana, Hans dan Syara.


"Arindra telah lama mati, bukankah begitu Pa?"


Ucap Nyonya Diana tanpa rasa empati sama sekali, membuat dr. Dea tertunduk. Suster Hani, jangan ditanya lagi, ia adalah pengikut setia pasangan itu, sama seperti majikannya. Ia sama sekali tak bergeming mendengar kematian Arindra. Ia bahkan lelah megurusi Arindra hampir sembilan bulan lamanya.


"Mengurusi mayat hidup, menyebalkan sekali"


Begitu ucapnya setiap kali jika hendak pergi mengurusi Arindra.


"Yah, mama benar. Bahkan orang tuanya juga tau jika wanita itu telah mati. Bereskan saja mayatnya, suruh Jhon untuk membuang atau memakamkannya. Terserah saja"


"Baiklah tuan, saya permisi"


Dr. Dea bergegas menuju ruangan operasi. Ia melihat wajah-wajah kelu di dokter-dokter itu, wajah-wajah menyerah untuk berjuang menggembalikan nyawa pasiennya.


"Keluarlah, dan tinggalkan aku sendiri. Alex temani aku"


Dokter-dokter itu keluar, Alex mendekati dr. Dea.


"Pasien sudah meninggal dokter"


Ucap Alex yang melihat dr. Dea tertunduk lesu.


"Lakukan lagi Lex"


"Maksud dokter?"


Tanya Alex yang heran mendengar perintah dr. Dea, jelas-jelas mesin ekg sudah menunjukkan garis lurus. Beberapa kali saat dr. Dea pergi menemui Tuan Wijaya, defibrillator dilakukan, namun hasilnya nihil. Tinggal melepas alat-alat saja yang kini masih menempel di tubuh pasien.


"Lakukan saja Lex, aku tidak ingin jadi pembunuh. Lakukan saja, aku telah berdosa pada keluarganya.


Teriak dr. Dea histeris, Alex yang sangat ingin bertanya tentang Arindra. Menuruti keinginan dr. Dea. Alex kembali menggunakan alat pacu jantung itu ke tubuh Arindra. Terus beberapa kali ia lakukan, melihat itu dr. Dea makin histeris.


"Bangun, bangun bodoh. Kau harus bangun, mengapa kau mati dengan mudah. Bangun balaskan sakitmu pada wijaya. Hancurkan keangkuhannya, ayo bangun. Aku janji akan membantumu, jangan membuatku jadi pembunuh. Aku mohon bangunlah"


Teriak dr. Dea dengan memukul-mukul dada Arindra.


"Bangun, bangun. Lihatlah anakmu begitu tampan, bangunlah. Berjuanglah demi anakmu. Bangun"


Lagi dr. Dea memukul-mukul Arindra dengan histeris. Alex yang melihat itu, terdiam saja, ia tak menyangka dr. Dea akan sehisteris ini kehilangan seorang pasien yang bukan siapa-siapanya.


"Tuhan, aku mohon beri kesempatan wanita ini untuk hidup kembali. Bagaimana kau tega, membiarkan wanita yang begitu baik ini mati begitu saja. Tuhan biarkan ia hidup sekali lagi, tolong Tuhan"


Dr Dea masih saja memukul-mukul dada Arindra, di tengah keputusasaannya. Alex masih fokus melihat pada dr. Dea, yang luruh jatuh di lantai.


Suara mesin EGK membuat mereka terbangun, ada gelombang grafik di sana.


"Alex, dia bangun, lihatlah dia bangun Alex"


Ucap dr. Dea bahagianya. Alex pun memeriksa detak jantung di urat nadi pasien untuk memastikan apa yang dilihat.


"Ia dokter, ini keajaiban. Ia kembali, saya akan panggil yang lain"


"Jangan, jangan panggil. Tolong bantu aku Alex. Bantu aku"


Ucap dr. Dea menggenggam tangan Alex.


"Apa yang harus saya lakukan dr"


Tanyanya bingung,


"Sediakan ambulans secepatnya, bawa pasien ini sementara ke rumah sakit lain. Jangan sampai tau Tuan Wijaya"


"Bagaimana dengan Tuan Wijaya?"


"Ia akan menjadi urusanku, cepatlah, dan ingat jika ada yang menanyakan Arindra, katakan pasien ini telah meninggal"


"Baiklah dr"


dr. Dea menghubungi Jhon, ia tau akan sulit mengajak kerjasama pria itu. Namun ia harus mengambil resiko, ia tak mau menjadi pembunuh. Berkali-kali Jhon menolak rencananya, namun akhirnya Jhon menyetujui karena dr. Dea adalah wanita yang sangat Jhon cintai.


Seperti yang dilakukan pada orang tua Arindra, Jhon dan dr. Dea pun melakukan hal yang sama pada Tuan Wijaya. Mereka sepakat, untuk menerima konsekuensi jika Tuan Wijaya mengetahui rencana mereka.


dr. Dea memerintahkan Alex membawa Arindra ke sebuah rumah sakit, dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia membawa Arindra ke rumah sakit yang ada di Singapura. Sedangkan dr. Dea dan Jhon, melakukan proses pemakaman, sesuai perintah Tuan Wijaya. Semua bukti berkenaan dengan pindahnya Arindra sudah Jhon bereskan, ia cukup ahi dalam hal ini.


Namun ia tidak cukup ahli melihat musuh yang tak terlihat yang mengintainya. Sosok itu tersenyum melihat kebodohan seorang Jhon.


########


Di lain tempat, Hans saat pergi meninggalkan Arindra sudah gelisah. Tidurnya tidak nyenyak, bahkan ia berkali-kali terbangun. Malam itu sebelum operasi dilakukan, Hans melakukan vidio call dengan Suster Hani, untuk melihat kondisi Arindra dan berbicara padanya.


"Sayang, semakin hari kau semakin cantik. Lihat wajahmu, semakin segar. Aku yakin sayang, kau akan bangun dan sembuh. Kita akan menjalani hari-hari bahagia bersama putra kita. Sayang, aku akan menyambut kesembuhanmu dengan sambutan meriah.


Bertahanlah, sebentar lagi anak kita lahir ke dunia. Berjuanglah untuk anak kita sayang, berjuanglah. Aku menunggumu, aku merindukanmu, ingin sekali ku kecup keningmu saat ini seperti yang biasa kulakukan padamu, mengusap-usap perut buncitmu yang seksi.


Menggengam jari jemarimu, aku merasa ada yang hilang saat sehari saja tak menyapamu. Entah kenapa saat ini, aku ingin bilang padamu aku mencintaimu, aku merindukanmu Arindra Sabila"


Hans menangis saat mengatakan itu, ia meliha wajah Arindra lewat layar hanphonenya. Ia belai wajah itu, menciumnya dan mengusap-usap perutnya. Seperti biasa yang ia lakukan. Setelah melihat Arindra baik-baik saja seperti bisanya dan berbicara padanya membuat hati Hans sedikit tenang.


Kemudian ia memejamkan matanya untuk tidur. Di sisi lain, Syara yang telah berganti baju dengan lingerli di kamar mandi, ingin menyerahkan diri seutuhnya. Kelu, mendengar Hans sedang berbicara pada Arindra.


Ia yang sudah membuka pintu kamar mandi sedikit, setelah mendengar itu kemudian berbalik, memegang dadanya yang terasa amat sakit. Baru kali ini ia mendengar, Hans mengucap sayang, rindu dan cinta pada Arindra.


Wanita mana yang tak sakit, mendengar suaminya mengucapkan kata-kata mesra pada wanita lain meskipun wanita itu istrinya sendiri.


###########


Alhamdulillah chapter 42 kelar.


❤❤❤❤❤