ARINDRA

ARINDRA
Chapter 53



Hans dan Abi pulang dari berkeliling, namun hanya mandi berganti baju dan kemudian pergi ke masjid hingga sholat isya selesai, begitu juga dengan Umi Hasan yang pergi ke masjid. Sedangkan Syara menunaikan sholat di rumah, saat ia membaca Alqur'an suara pintu kamarnya di ketuk.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam, kak sudah pulang"


Syara mencium punggung tangan suaminya, dibalas ciuman singkat Hans dikening Syara.


"Kakak mau makan?"


"Kakak masih kenyang Ra"


Hans melepas baju koko, sarungnya dan peci meletakkannya di tempatnya. Sedangkan Syara melipat mukena dan membereskan sajadah. Setelah itu ia ke dapur mengambilkan air minum untuk Hans membawanya ke kamar.


"Minum Kak"


Hans yang duduk di sisi ranjang melihat Syara tersenyum.


"Letakkan saja di situ, nanti kakak minum saat haus. Terima kasih ya"


"Iya Kak"


Syara menghampiri suaminya dan meletakkan kepalanya di dada. Hans kemudian membelai rambut yang tak lagi tertutupi jilbab.


"Ra, maafkan Kakak ya"


"Iya Kak, kita mulai lagi dari awal ya"


"Iya"


Hans mengangkat wajah Syara, mereka saling berpandangan.


"Kak, ijinkan Syara menunaikan hak kakak selama ini yang tertunda"


"Kamu yakin?"


Syara mengangguk, Hans menunduk.


"Arindra, maafkan aku. Dia istriku, sama sepertimu meski kita tak pernah bicara hingga maut memisahkan kita. Tapi dihatiku terdalam, namamu selalu ada di hatiku. Maafkan aku"


Syara yang melihat Hans tertunduk membawanya dalam pelukan.


"Ra, entah mengapa hati kecilku selalu berkata jika Arindra masih hidup"


Syara terdiam, ini untuk kesekian kalinya ia dengar dari Hans. Yang selalu bicara jika Arindra masih hidup.


"Jika benar ia masih hidup, apakah kau akan menerimanya Ra?"


Syara mengendurkan pelukannya, duduk disamping suaminya itu.


"Kenapa harus selalu dibahas kak, apa yang harus aku jawab?"


"Ra, jika Arindra masih hidup bisakah kau ikhlas menerimanya kembali?"


"Syara tidak tahu Kak, yang Syara tau. Mbak Arindra sudah tiada bahkan kita sudah ke makamnya beberapa kali"


"Jika Arindra...?"


"Cukup Kak, aku tidak ingin berandai-andai. Sekarang, hanya ada aku, kakak dan Fattah. Tolong, aku tidak meminta kakak melupakan Mbak Arindra. Karena kutahu, di hati kakak tersimpan namanya, namun sekarang tolong bisakah kita membicarakan tentang kita saja, antara kakak dan aku. Ku mohon, bisakah?"


"Maaf"


Ucap Hans, Syara bangkit duduk dipangkuan Hans.


"Bisakah, malam ini kita menghabiskan malam tanpa gangguan?"


Syara menatap Hans penuh harap, tak tega melihat itu Hans kemudian mengangguk. Malam itu, Hans dan Syara hidup dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri.


##########


Di tempat lain di malam yang sama, Arindra yang baru selesai mengaji, dan hendak minum. Namun tiba-tiba minuman itu terjatuh.


"Prang"


"Kenapa terasa sesak begini, ada apa ini. Apakah aku salah minum obat, tapi obat yang kuminum adalah obat yang sama seperti kemarin-kemarin. Tapi kenapa efeknya berbeda sekali malam ini. Auhhhh sakit sekali ya Allah"


Arindra memegang dadanya, ia membaringkan tubuhnya. Entah mengapa, air mata lolos begitu saja dari pipinya. Arindra mencoba menenangkan kembali dirinya dengan obat penenang, namun itu tak cukup membuatnya tenang. Tubuhnya gelisah, yang dia lakukan berguling kesana kemari tak mengerti akan kegelisahan hati yang datang tiba-tiba.


"*Ya Allah, aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku atau orang-orang di sekitarku baik dulu maupun sekarang. Mengapa aku merasa seperti kehilangan, aku kehilangan siapa ya Robb, tolong berikan petunjukMu sebenarnya siapa aku.


Pertemukanlah aku segera dengan orang-orang yang ada di masa laluku jika memang itu baik menurutMu untukku, tapi jika memang belum baik dan belum tepat waktunya menurutMu, maka berilah hamba kesabaran agar hamba kuat menjalani jalan hidup yang telah Engkau gariskan*"


Namun hingga pagi menjelang, Arindra tak mampu memejamkan matanya. Kemudian ia memutuskan untuk mandi, sholat subuh dan memasak.


Alex yang sudah bersiap ke kantor bertemu pamannya melihat mata panda kakaknya yang sedang menyiapkan sarapan.


"Kenapa wajah kakak, seram sekali"


"Aku tak bisa tidur semalaman"


"Memikirkan siapa?"


Alex bertanya sambil menyuapkan sarapan rotinya.


"Entahlah, bahkan Kakak tak tau siapa yang harus Kakak fikirkan"


"Oh ya Kak, hari ini aku akan ke kantor menemui paman. Apakah kakak akan ikut?"


Arindra menatap Alex yang masih santai menikmati sarapannya.


"Ceritakan apa yang kau tahu tentangku"


Alex tersedak, Arindra segera mengambilkan minum dan memberikannya pada Alex.


"Aku sudah menceritakan semuanya pada kakak"


Alex mencoba tenang, ia tahu Arindra cukup cerdik untuk bisa ia kelabui.


"Baiklah, jika kau terus saja kukuh pada kisahmu itu. Kau sangat dekat denganku kan?"


"Kenapa kakak tanyakan lagi, aku sudah mengatakannya berulang-ulang. Apakah kakak sekarang jadi pelupa?"


"Mungkin iya, aku lupa atau mungkin kisah yang kau ceritakan hanya karangan belaka"


Lagi Alex hampir tersedak, tapi kemudian dia cepat minum.


"Kenapa kakak bisa bicara seperti itu, jangan bilang hanya alasan konyol tentang perasaan kakak yang merasa tidak seperti ini, tidak seperti itu?"


Alex tau berbagai alasan dikemukakan Arindra jika ia menolak apa yang dilakukan Alex untuknya. Waktu itu masalah makanan, kemarin pakaian. Pakaian yang sudah dibelikan Alex semua tak dipakai Arindra dan meminta dibelikan pakaian yang kolot menurutnya. Gamis dan jilbab, serta pakaian-pakaian panjang lainnya. Pada akhirnya Alex mengalah, dan berbelanja kembali membeli pakaian yang sesuai selera Arindra.


Dan lihat kini, setelah menolak bersentuhan dengan Alex atau laki-laki lainnya, Arindra pun kemanapun memakai jilbabnya. Dan hanya alasan perasaan inilah pakaian yang selama ini aku pakai. Membuat Alex geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh kakak angkatnya ini.


"Kau adikku yang sudah lama tinggal bersamaku, konyol sekali dirimu jika selera berpakaianku saja tak tau. Dan Anehnya bahkan kau tak tahu, makanan mana yang tak kusukai dan yang kusukai. Haruskah aku menghubungi Tuan Wijaya, mengatakan jika aku masih hidup dan sekarang menjadi tawanan seorang putra Adam yang ingin balas dendam padanya?"


"Jangan konyol Kak, kalau Kakak menghubungi pembunuh itu, sama saja kita semua bunuh diri. Rencana yang sudah kupersiapkan dengan matang, akan gagal"


Alex tak terima dengan apa yang Arindra ucapkan, sedangkan Arindra dengan santainya tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Melihat wajah panik Alex dengan sorot mata tajamnya.


"Ohh jadi kau sudah punya rencana balas dendam, dan aku jadi bagian dari rencana balas dendam itu begitu"


"Bu..kan, bukan maksudku begitu kak. Aku hanya salah bicara tadi"


"Alex, dengarkan baik-baik. Aku saat ini tak tau siapapun baik tentang diriku sendiri ataupun orang-orang yang ada di sekitarku. Tapi aku punya hati, fikiran dan perasaan yang menuntunku. Saat ini, itulah yang kuandalkan, kau tau mengapa aku selalu bertanya apakah benar kau dan aku sangat dekat dahulu. Kau selalu menjawab dengan penuh keyakinan jika dulu kita sangat dekat sebagai adik kakak. Tahukah kau, jika awalnya aku mempercayaimu?"


Alex melihat tatapan Arindra yang teduh, ia menghentikan makannya.


"Apakah aku harus jujur padanya, ahhh kenapa aku merasa ia sedang mengintimidasiku, bukankah aku yang seharusnya melakukan itu. Jika aku jujur, bagaimana rencanaku. Akankah ia mau membantuku setelah ia tahu aku membohonginya?"


Alex terdiam bimbang dengan apa yang harus diputuskannya.


###########


Alhamdulillah chapter 53 donee