
Hari itu juga, Hana, Aldo dan Hans sampai di rumah sakit. Aldo menyelidiki apa yang terjadi pada anak buahnya, dan mereka mengatakan sesuai dengan apa yang sudah diberitahukan pada mereka oleh Jhon.
Aldo terkesiap, ia sedang bersiap menerima kemarahan Hans. Hans yang datang dengan kemarahan, melihat wajah orang tuanya yang tenang. Ia juga melihat wajah Syara yang tertunduk, dan Suster Hani yang mengendong bayi. Hana mendekati Syara, dan mereka berpelukan.
Hans memukul Jhon yang ada di depannya, untuk melepas kemarahannya. Jhon dipukulnya bertubi-tubi, tiada yang berani mengehentikan seorang Hans.
"Brengsek, kau apakan istriku hah. Saat kutinggalkan dia segar, bahkan aku yakin ia akan bangun. Kau membunuhnya hah, bukk...buk..."
Dokter Dea yang datang melihat itu, menjerit. Bagaimanapun ia mencintai Jhon, ia tak ingin melihat pria yang dicintainya disakiti orang lain. Dokter Dea berusaha menarik tangan Hans yang masih memukuli Jhon yang sudah jatuh di lantai.
"Brengsek, kau..."
Tunjuk Hans pada Dokter Dea, ia menarik kerah baju dokter itu.
"Kau juga pasti membantunya kan, membunuh istriku. Iyakan, jawab"
Teriak Hans, tangannya mengepal bersiap memukul wajah dokter Dea. Namun Hana segera berlari menahan tangan itu dan menyiram Hans dengan air minum dari botol.
"Astaqfirullah kak, Astaqfirullah, Mbak Arindra sudah tenang. Tolong jangan begini, kita dengarkan penjelasannya. Jika penjelasannya masuk akal kita terima, kita tau kondisi Mbak Arindra bukan kondisi normal. Ia bertahan sejauh ini juga sebuah karunia Allah. Hana mohon, bersabarlah"
Hans luruh, ia menjatuhkan dirinya dilantai. Ia menangis pilu.
"Kenapa begini, kenapa dia meninggalkanku Han disaat aku belum sempat meminta maaf padanya. Sebelum ia melihat putra kami, kenapa Han, kenapa?"
Hana memeluk Hans, ia mengusap-usap punggung kakaknya itu. Ia juga bersedih dengan apa yang terjadi.
"Sabar kak, mungkin ini yang terbaik buat Mbak Arindra. Kita doakan saja, ia tenang di surga"
"Tidak Han, kakak menyesal, kenapa harus pergi meninggalkannya. Kakak sangat menyesal, kakak belum menebus kesalahan kakak. Kakak belum membuatnya tersenyum, kakak janji akan membuatnya bahagia. Tapi kenapa, kenapa Tuhan mengambilnya hiks...hikss...."
"Allah memberi tempat yang terbaik kak, buat Mbak Arindra Insyaa Allah. Kakak harus kuat, ada buah hati kalian. Lihatlah dia sangat tampan, ia mewarisi wajah kakak"
"Anakku..."
Hana mengangguk,
"Benarkah, di dalam ada putraku?"
Lagi Hana mengangguk. Hans bangkit, lalu masuk ke dalam. Ia melihat bayi mungil itu, seketika tangisnya pecah kembali.
"Sayang, ini Papa nak. Maafkan Papa...maafkan Papa yang tak bisa memenuhi janji padamu nak. Maafkan Papa"
Hans memegang tangan mungil itu dan menciuminya, bayi itu damai dalam tidurnya. Tak terusik orang-orang di sekitarnya. Jhon sudah dibawa ke ruang perawatan, di tunggui oleh dr Dea. Tuan Wijaya terdiam melihat keadaan putranya yang untuk kedua kalinya terlihat begitu hancur dan istrinya menangis, namun tak berani mendekati Hans.
Hana satu-satunya yang berada di dekat Han, sedangkan Syara tak tau harus berbuat apa. Ia bahagia karena Hans akan jadi miliknya seorang, di sisi lain ia bersedih bagaimanapun Arindra adalah pasiennya yang dijaga penuh setiap hari oleh dirinya.
Melihat Hans yang seperti ini, hatinya lagi-lagi pilu.
"Hebat kamu Mbak, bahkan dalam komapun kau mampu meluluhkan hati seorang Hans. Lihat bagaimana ia begitu sedih dan marah karena kau tinggalkan. Bahkan begitu ajaibnya, kau meninggalkan buah pernikahan yang bahkan kau tak mengetahuinya. Apakah kau bahagia sekarang di sana?"
"Sayang, jangan membenci Papa kelak ya. Papa telah berbuat jahat pada Mamamu, tapi sungguh Papa sangat menyesalinya nak. Maafkan Papa, yang telah membuatmu menjadi yatim di hari lahirmu. Maafkan Papa sayang hikss....hikss...."
"Kak, sekarang duduklah"
Hana menghapus air mata kakaknya itu. Meski mereka berdua sering bertengkar saat bertemu, namun Hana dan Hans saling menyayangi.
"Dengarkan Hana, Kakak sudah melakukan yang terbaik untuk Mbak Arindra. Kakak sudah maksimal menjaga dan merawatnya selama ini, lihatlah bagaimana kakak begitu protektif pada Mbak Arindra, bahkan setiap malam kakak tidur bersamanya, mengajaknya bicara dan lainnya. Mbak Arindra pasti merasakan kasih sayang kakak, seandainya ia bisa bicara, ia akan mengucapkan terima kasih yang teramat sangat pada Kakak, karena kakak sudah sangat baik menjaga dirinya dan anak kalian"
"Benarkah ia akan berterima kasih, kau sangat tau Hana, kakak yang membuat Arindra koma, kakak yang memperkosanya, kakak juga yang menambraknya. Kakak salah Han, Kakak penjahat"
"Kak, setiap orang pernah berbuat salah. Tapi kakak adalah kakakku yang hebat. Kakak mampu bangkit dan menyesali apa yang sudah kakak perbuat. Hebatnya, Kakak bertanggungjawab sepenuhnya pada Mbak Arindra hingga menikahinya. Mbak Arindra juga merasakan, meski ia tidak sadar. Merasakan kasih sayang kakak, cinta kakak yang besar padanya. Sekarang lihatlah di sana?"
Hana menunjuk box bayi di depannya.
"Ada keponakan Hana di sana, darah daging kakak. Dia butuh Kakak, Mbak Arindra secara tak langsung minta Kakak melanjutkan perjuangan Kakak, menjaga dan merawat putra kalian dengan cinta. Tak hanya itu, kakak juga masih ada Syara. Wanita yang tak kalah hebatnya dengan Mbak Arindra. Mohon bangkitlah demi Mbak Arindra dan keluarga kecil kalian"
Hana kembali menghapus air mata di kedua pipi sang kakak dengan jilbabnya. Ia memeluk tubuh kekar kakaknya itu.
"Kakak juga punya Hana, yang juga sangat mencintai kakak. Jika kakak terpuruk, Hana juga akan sangat sedih"
Hans menghapus air mata dengan jibab sang adik, bahkan ingus itu ia keluarkan dengan jilbab adiknya itu.
"Iihh jorok, kenapa melap ingus pake jilbab Hana sih Kak"
Hans tersenyum
"Habisnya sekalian Han, Kakak terharu mendengarmu bisa bicara begitu. Ternyata kau sudah bukan bocah lagi ya"
Ucap Hans mengelus kepala adiknya itu.
"Idih, Hana ini sudah dua puluh lima tahun, bukan bocah lagi tauu"
Ucap Hana dengan nada manjanya. Membuat yang di sana tersenyum kembali. Syara mendekari Hans, ia memegang pundak suaminya itu.
"Kak, maafin semua kesalahan Syara. Maaf, Syara akan berusaha akan menjadi Ibu yang baik buat anak kita yang di sana"
Hans melihat Syara, entah mengapa hatinya tiba-tiba berat melihat kesungguhan di wajah Syara. Ia merasa, gurat mata Syara bukan kesedihan yang terpancar di sana namun sorot mata kebahagiaan.
"Apakah dia bahagia dengan tiadanya Arindra. Apakah cemburu membutakan mata hatinya, pantaskah dia bahagia melihat Arindra tiada disaat seperti ini. Inikah Syara yang sebenarnya, bahagia di atas duka orang lain?"
Hans hanya menganggukkan kepala akhirnya, meski dalam hati ia kecewa pada Syara. Jelas matanya menunjukkan rona bahagia yang tak bisa ditutupi.
########
Alhamdulillah chapter 44 done
❤❤❤❤❤❤