
"G ngantor hari ini?" Tanya Arindra yang melihat Hans hanya duduk di teras belakang seperti sedang melamun.
"Sedang meliburkan diri dari hiruk pikuk duniawi" Ujar Hans sendu.
"Syara tau kamu ke sini Hans?" Arindra duduk mensejajari Hans.
"Aku pamit dengannya setiap kali mau bertemu denganmu"
"Dia mengijinkannya?"
Hans diam, Syara bahkan selalu menangis saat ia pamit hendak menemui Arindra.
"Maafkan jika membebanimu dengan pertanyaanku. Tapi kurasa sudah saatnya aku bertemu dengan anakku, meski berat untuk Syara yang kuyakin juga menyayangi Fattah. Tapi Aku juga perlu mengenal dan mendidik anak yang terlahir dari rahimku".
Hans menggenggam tangan Arindra, ia membawa tangan itu dan mengecup punggungnya.
"Bersabarlah hingga Syara bisa menerima semuanya"
"Tak kan pernah siap seorang wanita untuk diduakan Hans, meski yang diduakan sudah meninggal sekalipun. Kami wanita akhir jaman, mudah sekali rapuh apalagi untuk urusan berbagi suami dan kasih sayang anak. Jelas itu sangat berat, hanya orang-orang pilihan yang mampu menjalani itu"
"Kau tak menolak dipoligami?" Tanya Hans menatap Arindra dengan harapan jawabannya iya yang terlontar dari bibir istrinya itu.
"Secara pribadi, aku bukan orang yang menentang syariat tentang poligami. Itu merupakan hukum yang Allah turunkan bagi hamba-hambaNya yang sanggup melakukannya. Suatu ketetapan yang tak bisa diubah oleh hukum manusia.
Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36).
Dan sebagai hamba dan pengikut nabiaaNya, aku tidak bisa memilah ayat-ayat Allah berdasarkan pada kepentingan, dan egoku semata"
Arindra menatap Hans yang matanya sedikit berbinar mendengar jawabannya.
"Aku tidak menentang syariat Allah, tapi bukan berarti aku termasuk orang yang sanggup melakukannya. Meskipun saat ini, aku, kau dan Syara, kita pelaku poligami.
Aku penasaran tentang kisahmu dan Syara, bagaimana bisa kau menikahiku saat koma kemudian menikahi Syara. Kau seperti laki-laki yang tak bisa menahan belaian ternyata hehee"
Hans tersenyum mendengar kekehan Arindra, bersama Arindra ia seperti mendapat kekuatan baru. Ketenangan dalam menghadapi masalah, yang membuat Hans nyaman menceritakan banyak hal pada Arindra.
"Saat ini aku sedang memikirkan Daddy, entah bersembunyi di mana sekarang. Mengapa ia masih bertahan, saat semua sudah terbuka. Mengapa ini belum jua membuka mata hatinya untuk menyerahkan diri dan bertanggungjawab atas semua perbuatannya"
"Jaka sembung makan mengkudu, g nyambung suamiku, orang nanya apa jawab apa" Ucap Arindra.
Arindra lagi-lagi tertawa, meski ia belum mencintai Hans dan masih dipenuhi bayang-bayang Jack. Tetap baginya, saat ini status Hans suaminya.
"Bolehkah aku memelukmu?"
Ia butuh bahu Arindra sekarang, Ia belum berani menemui Mommynya yang pasti sangat kecewa padanya. Wajah sedih Hana, kecemasan Syara, membuat fikirannya berat. Tatapan memohon Hans, membuat Arindra mengangguk.
"Terima kasih" bisiknya di telinga Arindra dan memeluk tubuh Arindra dengan erat.
"Bersabarlah, pilihan yang telah kau pilih Insyaa Allah tidak akan membuatmu jatuh, tapi itu proses penguatanmu untuk menjadi orang yang lebih kuat ke depannya.
Ucapkanlah dzikir takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ingatlah Allah Maha besar atas segala sesuatunya. Ada Allah yang selalu menjaga dan melindungimu, menguatkanmu dikala lemah, membimbingmu dikala kau pasrah dan mulai kehilangan arah.
Kau orang yang beruntung Hans, melewati semua jalan berliku ini. Tak kan semua orang sanggup melewatinya, tapi kau mampu melakukannya. Atas nama keadilan, atas nama kebenaran kau tak pandang bulu meski itu adalah ayah kandungmu sendiri.
Aku senang, mungkin ini adalah salah satu hikmah Allah mempertemukan aku denganmu. Allah hadirkan Fattah antara kita, sebagai pengingat bahwa Fattah memiliki laki-laki yang hebat dan ayah yang kuat sepertimu"
Hans kembali menangis, mendengar kata-kata dari Arindra. Wanita yang telah ia rusak mahkotanya, masa depan, dan ingatannya.
"Terima kasih, terima kasih, ucapanmu menenangkan hati pria brengsek sepertiku. Maafkan aku atas semua kesalahan yang sudah kuperbuat padamu, sungguh aku tak layak mendapatkan maafmu.
Jika memang aku harus ke penjara untuk menanggung perbuatanku seperti Daddy. Maka aku akan berusaha ikhlas menjalaninya"
Arindra menarik tubuh Hans dari pelukannya, dan menatapnya.
"Aku tidak mencintaimu dan benci terhadap perbuatanmu yang dulu. Tapi melihat perjuanganmu selama ini, saat ini aku hanya melihatmu sebagai laki-laki yang penuh tanggungjawab dan kuat hehee. Aku tak membenci dirimu, cukup yang lalu, kau sudah memperbaikinya dan ke depan kau selalulah berusaha untuk memperbaikinya"
"Saat melihatmu berbicara seperti itu, aku rasa apa yang dulu kulakukan padamu tak jadi kusesali, malah sekarang aku ingin mengulangi tapi dengan penuh kelembutan"
Ucap Hans dengan kerlingan matanya, meski air di sudut mata itu masih ada. Tak mengurangi tingkat kenormalan seorang Hans. Arindra duduk dan melepaskan tangan Hans yang melingkar di pinggangnya.
"Maafkan aku Hans, meski kutahu kau suamiku dan berhak untuk itu. Tapi ijinkan hatiku dulu, untuk menetapkan pilihan. Bersama denganmu dan Fattah dengan pilihan hidup jua bersama Syara tentunya, atau berpisah denganmu dan hanya hidup bersama Fattah.
Bahkan sampai saat ini kau hanya memberiku foto Fattah, dan belum mengijinkan diriku bertemu dengannya"
Keduanya saling diam, menatap arah depan pandangan masing-masing. Kesunyian menyapa suasana pagi menjelang siang itu.
"Mbak..."
Ucap Hans menggantung kalimatnya.
"Seandainya Syara belum sanggup untuk menerima mbak kembali, apakah mbak akan tetap seperti ini padaku. Membiarkanku bebas menemuimu, dan tetap mengijinkanku bertanggungjawab padamu?"
Arindra menarik nafas dalam, mencoba memahami posisi Syara saat ini.
"Aku mencoba memahami apa yang dirasakan Syara, ketakutan akan kehilangamu dan Fattah membuatnya bertahan pada sikapnya. Karena itulah aku minta Fattah secara baik-baik padamu selama ini.
Selain rasa itu, dia jua sangat cemburu padamu, tak ada wanita yang tak cemburu jika suaminya memikirkan wanita lain. Jangankan Syara, seorang wanita biasa, seorang bunda umat Nabi Muhammad SAW, Bunda Aisyah ra, juga cemburu pada Bunda Khadijah ra meski bunda Khadijah sudah tiada.
Kisah kecemburuan Bunda Aisyah, begitu masyur dan membuat banyak orang tersenyum saat membacanya.
"Benarkah, apakah kau bisa memberitahuku seperti apa kisahnya, hingga aku bisa meneladani dan memahami kecemburuan wanita dan bagaimana menghadapinya?" Ucap Hans penuh harap.
"Yang aku tahu, ada lima kisah kecemburuan Bunda Aisyah, baik dalam tertuang dalam hadist ataupun riwayat para shalafus sholih.
Yang pertama.
"Tidakkah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi SAW sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya (Bukhari & Muslim).
Ke dua.
Bunda Aisyah ra juga pernah cemburu saat Rosulullah SAW mengenalkan Bunda Shafiyah pada kaum kerabat dan rekannya. Menyadari Aisyah yang cemburu, Rasulullah bertanya, "Apa yang kau lihat wahai wanita berambut pirang?"
Aisyah pun menjawab, "Aku melihat seorang wanita Yahudi."
Rasulullah kemudian bersabda, "Janganlah kau berkata demikian karena Shafiyah telah masuk Islam dan menjadi muslimah yang baik."
(Buku: '39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam'. Hal 297 sampai 302, karya Dr. Bassam Muhammad Hamami)
Yang ke tiga.
Kisah cemburu Bunda Aisyah juga pernah terjadi di depan para sahabat Nabi. Dalam suatu riwayat dari Anas bin Malik dikatakan,
"Beberapa orang menghadiahi sebuah nampan berisi roti kincah. Kala itu, beliau sedang berada di rumah salah seorang istrinya. Lalu istrinya memukul tangan pembantu yang membawa nampan tersebut hingga pecah."
Ternyata istri yang memukul nampan tersebut adalah Bunda Aisyah. Meski demikian, Rasulullah tidaklah marah. Beliau memungut roti kincah yang jatuh dan meletakkannya kembali ke atas nampan pecah.
Beliau berkata kepada para sahabatnya, "Makanlah, ibu kalian sedang cemburu." Sementara Rasulullah tetap memegang piring yang pecah tersebut hingga mereka selesai memakan makanannya.
Setelah itu, beliau mengganti nampan pecah dengan yang baru. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits riwayat at-Tirmidzi, "Merusak makanan diganti dengan makanan, bejana diganti dengan bejana."
(HR. Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i)
Yang ke empat.
Cerita lain ketika Bunda Aisyah ra cemburu karena bangun tengah malam dan melihat tak ada Nabi di sampingnya. Padahal sebelumnya, Rasulullah sedang tidur bersamanya.
Aisyah merasa curiga dan berpikir kalau Nabi keluar rumah untuk tidur dengan istri-istri lainnya. Ia merasa kalau malam ini menjadi haknya untuk tidur bersama Rasulullah.
Aisyah pun keluar rumah melihat ke rumah istri Rasulullah yang lain. Namun tak dijumpainya Nabi di sana sebelum akhirnya ditemukan di Masjid.
Rasulullah mengetahui apa yang terjadi. Mengetahui Aisyah cemburu, beliau berkata, "Kau cemburu lagi, Aisyah? Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan berbuat aniaya padamu? Ini malam Nisfu Sya'ban, Aisyah."
(Buku: 'Bilik-Bilik Cinta Muhammad'. Penulis: Nizar Abazhah)
Dan yang terakhir adalah kisah cemburu Bunda Aisyah ra pada adik Bunda Khadijah ra, Halah binti Khuwailid yang meminta ijin untuk menemui Nabi Muhammad SAW, Nabi kemudian menyambut Halah dengan hangat.
Meihat wajah Rasulullah tampak cerah berseri membuat Bunda Aisyah merasa cemburu. Setelah wanita itu pulang, Aisyah berkomentar, "Demi Allah, Anda bersikap berbeda kepada wanita tua ini, Anda tidak pernah bersikap seperti ini kepada siapa pun.
Rasulullah menjawab, "Dia dulu sering datang waktu masih ada Khadijah. Tidakkah kamu tahu bahwa memberi kasih sayang adalah bagian dari iman?"
(Buku: 'Saat-Saat Berkesan Bersama Rasulullah SAW. Penulis: Abdul Aziz Asy Syinawi)
Ingatlah Hans, kecemburuan wanita pada suaminya menunjukkan dia adalah wanita yang tulus mencintaimu, dan juga sebaliknya. Maka beruntunglah orang-orang yang masih memiliki rasa cemburu itu"
##########
Alhamdulillah done Chapter 94
Like, vote, komen, share, poin dan follow Lesta Lestari ya guys...❤❤❤❤❤
Bahasan tentang poligami bisa Klik https://muslim.or.id/1916\-poligami\-bukti\-keadilan\-hukum\-allah.html
dan tentang kisah kecemburuan Bunda Aisyah RA bisa dibaca di sini haibunda.com
Terima kasih