ARINDRA

ARINDRA
Chapter 86



Arindra terus memasuki lorong, beberapa orang kemudian mengikutinya dari belakang. Ia menoleh dan melihat, namun petugas yang membawanya bergerak.


"Aaaaa"


Namun suara Arindra hilang dan tubuhnya melemas, ia pingsan karena pengaruh obat bius yang terhirup di hidungnya.


"Bawa dia ke markas"


Perintah Petugas itu pada empat orang laki-laki berseragam lapas. Mereka membawa Arindra lewat jalur khusus yang tak diketahui oleh Jack.


Sedangkan Jack dengan wajah gusar, berjalan mondar mandir menunggu kedatangan Arindra. Namun sudah tiga puluh menit berlalu Arindra tak kunjung muncul. Ia mulai tak sabar dan menghampiri Petugas.


"Pak, kenapa lama sekali bukankah waktu besuk tahanan tak selama ini"


Tanyanya dengan nada tak sabar, sedangkan Petugas yang ditanya melirik ke rekannya memberi perintah lewat matanya. Beberapa orang muncul dan mengepung Jack, Jenny dan para pengawal Arindra.


Terjadi perkelahian tidak seimbang antara mereka. Para pengawal Arindra satu persatu tumbang, Jack mulai kewalahan, Jenny sudah diikat oleh Petugas dengan kondisi pingsan karena terbius.


"Bukk-Bukk"


Jack berusaha terus memberikan perlawanan, namun akhirnya ia kalah karena jumlah yang tak sepadan, dua tangan Jack diikat.


"Masukkan ke mobil, dan bawa ke markas dua" Ucap seseorang memberi perintah.


"Hentikan dan lepaskan mereka"


Ucap sosok laki-laki dan dua puluhan orang di belakangnya.


"Tuan Hansel Wijaya"


Ucap Petugas itu terkejut dengan kedatangan Hans dan anggotanya.


"Lepaskan mereka"


Perintah Hans pada Petugas.


"Tapi Tuan, ini perintah Tuan..."


"Lepaskan mereka atau kubuat Kau kehilangan pekerjaanmu"


"Baik, baik Tuan"


Jack dikeluarkan dari mobil dan seseorang melepaskan talinya. Jenny juga dikeluarkan dan dibawa pengawal Hans ke dalam mobil mereka.


"Di mana Arindra?"


Tanya Hans pada Jack.


"Dia didalam, tapi tak kunjung keluar sejak tadi"


"Shitt kenapa kau bodoh sekali hah. Kau membiarkan Arindra sendirian masuk ke dalam sana tanpa pengawalan"


Hans marah pada Jack, ia lalu menatap petugas.


"Di mana dia"


Tanyanya dengan wajah marah.


"Sudah dibawa ke markas Tuan Besar, Tuan"


Jawab petugas dengan wajah takut dan bingung.


"Bukk"


Hans memukul Jack.


"Ini karena kebodohanmu, yang membiarkan Arindra hanya dikawal oleh empat pengawalmu. Padahal aku sudah menyediakan banyak pengawal untuknya, karena rasa cemburumu kau bahkan tak menggunakan akalmu hah"


"Bukk"


Lagi ia memukul Jack,


"Ini karena kebodohanmu, membiarkan Arindra tertangkap oleh ayahku. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, aku takkan pernah memaafkanmu. Bawa dia dan pengawalnya ke rumah aman"


Jack terdiam, ia menyadari kesalahannya itu, ia masuk ke dalam mobil. Ia melihat Jenny tak bergerak.


"Jen, Jen bangun. Jangan tinggalkan Kakak Jen, Jen bangun" Ucapnya berusaha membangunkan Jenny.


"Dia hanya pingsan karena pengaruh obat bius Tuan. Kata seorang pengawal Hans yang sedang melajukan mobil.


"Benarkah, adikku tidak apa-apa"


"Benar Tuan"


Mereka membawa Jack dan Jenny, serta empat pengawal ke rumah aman. Sedangkan Hans dan beberapa orang anak buahnya ke markas Ayahnya. Markas yang dimaksud adalah sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak terpakai terletak di pinggiran kota.


Sesampainya di sana, di langsung turun dan mendobrak pintu, namun markas itu kosong. Tak ada seorangpun yang ia temui.


"Shitt, cari sampai ketemu dimanapun Nona Arindra. Dan segera laporkan padaku hasilnya"


Ucap Hans pada anak buahnya, Hans mengepalkan tangan, menahan marah.


Hans berbalik dan berjalan ke mobil.


"Kita sekarang ke mana Tuan" tanya sopirnya


"Antarkan aku ke rumah Daddy" Jawab Hans


"Baik Tuan"


Mobil itu meluncur membelah jalanan, karena letak markas di pinggiran kota. Hans harus menempuh perjalanan dengan wajah tak sabar ingin segera menemui Daddynya.


"Do, bawa ke rumah Daddy rekamannya, aku sedang menuju ke sana" Ucap Hans pada Aldo.


############


Di rumah aman, semua kini memandang Jack dengan amarah. Karena Jack sudah diingatkan berkali-kali agar membawa pengawal lebih banyak, tapi Jack tak menurutinya. Ia hanya membawa pengawalnya yang memang sejak awal menjadi pengawal sejak tinggal di apartemen.


"Karena keegoisan Kakak, Kak Arindra kini menghilang. Hanya karena mereka pengawal yang diberikan Tuan Hans, Kakak tak mau membawanya. Di sini tak hanya Kak Arindra yang ceroboh, tapi Kakak juga ceroboh"


Alex marah pada Jack, Ia sangat kesal dan menyesali kecerobohan Jack dan Arindra. Jenny berada di kamar, masih dalam pengaruh obat bius.


"Sudahlah Lex, marahpun tak ada gunanya saat ini. Lebih baik kau periksa Jenny, dia masih dalam pengaruh obat bius. Lebih baik kau temani dia, agar saat sadar, kau bisa menenangkannya"


Ujar Paman James yang tahu berapa Alex sangat menyanyangi Arindra sebagai Kakaknya. Alex pergi meninggalkan mereka menuju kamar Jenny, dengan raut wajah masih kesal pada Jack.


"Dio, tolong bantu obati luka Kak Jack"


Ucap Paman James pada Dio.


"Baik Paman"


Dio mengambil obat-obatan dan mulai membersihkan luka-luka, dan lebam yang ada di tubuh Jack.


"Jadi bagaimana Arindra Paman, sungguh aku menyesal akan kecerobohanku"


Jack menangis menyesali perbuatannya.


"Paman akan menyiapkan pengacara untuk Arindra. Besok kita akan melaporkan berita kehilangannya"


"Apakah Paman akan melaporkan berita kehilangan Arindra di Lapas?"


"Paman akan konsultasikan ini dengan pengacara Paman, Jack. Dan kita akan minta bantuan kedutaan, bagaimanapun Arindra berstatus WNA di sini"


"Bagaimana jika Tuan Wijaya sudah membunuh Arindra Paman, sungguh selama hidup aku akan sangat menyesal karena tak bisa melindunginya"


"Tenanglah, jangan berfikir yang tidak-tidak. Berdoa saja, Tuhan melindunginya. Istirahatlah, tubuhmu harus segera pulih jika ingin menemukan Arindra"


Jack tertunduk, air mata di sudut pipinya masih keluar. Sakit yang dirasakan di tubuhnya, seolah tak dirasakannya. Kalah oleh rasa sesal dan khawatir yang dalam.


"Dio bawa Kak Jack ke kamarnya"


Ucap Paman yang melihat Jack hanya diam.


"Baik Paman"


Dio menuntun Jack membawa ke kamar miliknya.


############


Di rumah Wijaya, Nyonya Wijaya yang sudah membaik sedang bercengkrama dengan Hana, Syara dan baby Fattah. Sedangkan Wijaya berada di ruang kerja, sedang menantikan laporan anak buahnya yang membawa Arindra.


"Kenapa mereka belum juga memberi kabar, bukankah harusnya sudah sejak tadi mereka sampai di markas" Gumam Tuan Wijaya.


Aldo sudah datang ke rumah Wijaya.


"Eh Kak Aldo, tumben malem-malem gini datang ke rumah ada apa?"


Tanya Hana pada Aldo yang heran, karena tak biasanya Aldo datang sendirian ke rumah tanpa ada Hans di sampingnya. Namun pertanyaan itu belumlah di jawab Aldo karena Hans datang dengan tergesa-gesa dan wajah marah.


"Di mana Daddy?"


Tanyanya pada orang yang ada di sana.


"Ada apa sih Kak, datang-datang bukannya salam marah-marah gitu" Jawab Hana pada Kakaknya.


"Jawab saja di mana Daddy" Bentak Hans pada Hana.


"Kak, ada Fattah"


Ucap Syara karena Fattah menangis setelah mendengar bentakan Hans pada Hana. Syara pergi menenangkan Fattah, Nyonya Wijaya hanya menatap tajam ke arah putranya itu.


##############


Alhamdulillah chapter 86 done


**Voteee belum nambah nih, yuklah di vote yang buanyak ya 😆🙏


Like juga sekalian, poin, share and follow Lesta Lestari ya makasih❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤**