
Pada hari yang telah dijanjikan Hans pada Syara, akhirnya Hans membawa Syara ke rumah Shania untuk bertemu Arindra. Hana melihat Syara yang selama perjalanan hanya menatap ke arah luar lewat kaca jendela.
"Maafkan aku Ra, sungguh aku ingin menemanimu namun saat ini aku belum bisa"
Ucap Hana memegang pundak Syara yang duduk di depannya.
"G pa-pa Han, Aku mengerti kamu masih kecewa atas semua yang terjadi. Aku takkan menambah bebanmu dengan masalahku, dan aku tau kau perlu menata hatimu untuk bisa menerima semuanya"
"Yah kau benar, saat ini aku pun harus memulihkan kondisi mentalku dulu sebelum bertemu dengan Mbak Arindra. Meski tak tau kapan akan pulih, tapi Insyaa Allah pertemuan itu akan tiba. Di mana semuanya sudah saling menerima dengan ikhlas keberadaan masing-masing"
"Aamiin Han"
"Kak, kakak yakin hari ini tak mau bertemu Mbak Arindra?" Tanya Hana
"Kakak malu Hana, sama sepertimu sepertinya kakak juga harus memulihkan mental kakak dulu" Ucap Hans yang mencoba tersenyum.
"Biarlah saat ini Syara dan Mbak Arindra yang bertemu dulu, biar saling mengenal dan mengetahui sifat masing-masing. Sebelum kita mendapatkan keputusan yang terbaik. Apakah kakak akan diceraikan keduanya atau diceraikan salah satunya, kakak menerima segala konsekuensinya" Ucap Hans lagi.
Syara dan Hana menatap Hans yang berkaca-kaca, meski matanya terlihat fokus ke depan tapi mereka tahu Hans terluka saat mengatakan itu.
"Yah, seperti kata Abi Hasan. Kita hanya perlu sabar dan sholat agar mendapat keputusan yang terbaik. Dan semoga Allah memberikan keputusan sesuai dengan do'a-do'a kita"
"Aamiin ya robbal alamin"
Ucap ketiganya, kemudian perjalanan pun hening hingga sampai di rumah Shania.
#########
"Do, tolong ini sekalian dibawa ke kafe ya. Tadi Shania minta dianter soalnya, dia kelupaan jadi minta tolong sama kamu"
Ucap Aldo yang kini sibuk membantu Shania di kafe.
Saat Aldo keluar membawa barang-barang yanv diminta Shania, ia meliha Syara dan Hans turun dari mobilnya.
"Ehh Assalamualaikum boss apa kabar?"
Ucap Aldo segera meletakkan barang-barangnya di mobil dan memeluk sahabat sekaligus mantan bossnya itu.
"Walaikumsalam wr.wb, G usah gue boss lagi, gue bukan boss loe"
Ucap Hans membalas pelukan sahabatnya itu.
"Kangen gue ama kerewelan loe hehe"
Ucap Aldo sambil mengatupkan tangan pada Syara dan Hana.
"Loe ngapain, beneran jadi loe sama Shania" Tanya Hans
"Lagi usaha boss, Shania masih nolak soalnya, takut dia hehe doain ya"
"Semoga yang terbaik Do, Arindra ada kan?"
"Oh ada dia di dalam, masuk aja lagi beres-beres buat kebutuhan kafe"
"Ok"
"Ya udah gue ke kafe dulu, ntar Shania gue ngambek kalo kelamaan hehe. Dah masuk aja sono, tenang aja dia baik kok orangnya dan pasti mahfum. Assalamualaikum gue pergi dulu ya, Hana, Syara"
"Walaikumsalam wr. wb" jawab ketiganya.
"Masuklah Ra, Kakak pamit dulu. Kalo udah selesai telpon aja". Ucap Hans, diangguki oleh Syara.
"Kami berangkat dulu ya, Assalamualaikum wr.wb" Ucap Hana sambil memeluk saahabatnya itu.
"Walaikumsalam wr. wb"
Jawab Syara dan mencium punggung tangan Hans, tak lupa Hans mencium keningnya.
Arindra yang mendengar suara mobil, keluar dan terkejut saat melihat Syara di depan yang menatap kepergian mobil yang baru keluar dari pagar.
"Syara..."
"Mbak Arindra"
Keduanya terdiam cukup lama, canggung antar keduanya jelas terlihat di wajah masing-masing.
"Assalamualaikum Mbak"
Ucap Syara mengulurkan tangannya, setelah beberapa kali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Walaikumsalam Wr. Wb"
"Bolehkah aku masuk Mbak?"
Tanya Syara setelah keterdiaman mereka yang cukup lama.
"Oh ya, silahkan masuk maaf jika rumahnya berantakan" Ucap Arindra berbasa-basi.
"G pa-pa Mbak"
"Duduklah, sebentar aku ambilkan minum dulu"
"Tidak usah merepotkan Mbak"
"Tidak merepotkan, aku senang akhirnya kita bisa bertemu" Ucap Arindra tersenyum tulus, membuat Syara merasa getir di hatinya.
"Tunggu sebentar ya"
Ucap Arindra yang ke dapur, untuk membuatkan teh dan mengambil cemilan biskuit. Syara berulang kali membaca surat Al ikhlas untuk menenangkan hati dan kegugupannya.
"Silahkan, maaf seadanya"
Ucap Arindra sambil meletakkan dua air teh dan snack ringan di beberapa toples. (Kayak lebaran punya banyak kue hehe๐)
"Makasih Mbak" Syara mencoba tersenyum dengan wajah gugupnya.
"Santai saja, aku bersyukur akhirnya kau mau menemuiku setelah kejadian itu. Padahal aku sangat ingin ke sana menemui kalian, tapi aku tau, aku dan kalian butuh waktu untuk bisa menerima semuanya"
"Maafkan kami Mbak, jika keluarga kami menyusahkan Mbak selama ini"
"Lupakanlah masa lalu, sungguh aku tidak ingin membahasnya. Aku juga turut bersalah atas apa yang terjadi terutama pada Mamanya Hans, maafkan aku. Karena rasa keinginan yang besar untuk Fattah, telah banyak menjatuhkan korban.
Sungguh semua di luar dugaanku, maaf jika aku baru menyampaikan turut berbela sungkawa atas meninggalnya beliau"
"Terima kasih Mbak"
Syara menangis haru mendengar apa yang dikatakan Arindra, ia tak menyangka Arindra yang notabene korban tapi begitu pemaaf bahkan menyesali apa yang terjadi.
"Mbak..."
"Ya.."
"Bolehkah aku memelukmu?"
Tanya Syara dengan tangisnya, Arindra mengangguk, tersenyum dan merentangkan ke dua tanggannya menyambut pelukan Syara.
"Maafkan kami Mbak, maafkan kami. Terutama diriku yang begitu egois, hingga tak mengijinkanmu bertemu dengan putramu sendiri. Sungguh aku benar-benar minta maaf, aku sangat menyesal".
"Seperti yang sudah kukatakan padamu bundanya Fattah, lupakan yang telah lalu. Kita membuka lembaran baru dengan lembaran yang penuh arti dan manfaat. Kita tidak pada posisi untuk saling menghakimi satu sama lain.
Saat ini yang kita butuhkan adalah intropeksi diri, kelapangan dan keikhlasan untuk menerima jalan yang Allah pada kita"
"Mbak..."
Ucapan Arindra membuat Syara semakin menangis.
"Ya Allah, pantas saja Kak Hans begitu memuja Mbak Arindra. Ternyata Mbak Arindra begitu luas pintu maafnya dan tak seegois diriku. Ya Allah ampunilah aku yang telah memisahkan Fattah, dengan Ibu yang sebaik Mbak Arindra"
"Mbak, menganggap aku bundanya Fattah, sedangkan aku selalu menghalangi kalian untuk bertemu"
Arindra melonggarkan pelukan mereka, ia menghapus air mata Syata dengan ke dua tangannya.
"Aku pernah menghadapi maut, dan itu membuatku sadar jika Fattah sangat beruntung memiliki Bunda sepertimu. Fattah adalah putramu, meskipun kelak aku yang mengurusnya. Bolehkan"
Syara mengangguk dan tersenyum.
"Aku ikhlas sekarang Mbak, jika melepas Kak Hans dan Fattah pada Mbak. Pantas saja, Kak Hans begitu teguh pada pendiriannya saat Mbak dinyatakan meninggal, bahkan beberapa kali melakukan tes DNA untuk menyakinkan hatinya bahwa Mbak belum meninggal.
Meski semua orang menentangnya, dan menganggapnya aneh. Tapi dia tetap kukuh pada kata hatinya meski tes DNA mengatakan itu adalah jasad Mbak. Tapi dia tetap mencari Mbak, sendirian dan lebih memilih kata hatinya.
Dan aku tau mengapa ia melakukan itu, karena Mbak ternyata memang sangat pantas untuk diperjuangkan olehnya"
################
Alhamdulillah chapter 99 done
Vooote, like, poin, koment, share dan follow Lesta Lestari ya
terima kasih