
Seperti kesepakatan awal, Hans dan Syara tinggal bersama menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Sedangkan Arindra mengurus Fattah dengan sangat baik, meski sering Hans dan Syara, Hana berkunjung untuk menemui keduanya.
Pernikahan Aldo juga berjalan dengan lancar, Shania sudah berhijab setelah proses lamaran dengan Aldo. Aldo pun kini juga ikut membantu Hans membangun kembali perusahaan Wijaya Group yang berubah nama menjadi Hansel Group.
Saat ini pesta pernikahan Aldo dan Shania usai, Shania dibawa ke apartemen Aldo, Arindra kembali menginap di rumahnya bersama Fattah ditemani salah satu karyawan kafe.
Di kamar Aldo dan Shania saling tatap, senyum merekah terlihat di wajah mereka. Kecanggungan terjadi, seolah menghilangkan sikap Aldo yang tengil.
"Kenapa jadi begini?".
Gumam Aldo yang di dengar Shania.
"Aa..ku mandi dulu". Ucap Aldo kemudian berlari ke kamar mandi. Shania terkekeh melihat Aldo yang canggung padanya untuk pertama kalinya.
Shania menghapus make up, selagi menunggu Aldo selesai mandi. Aldo yang lupa membawa handuk terpaksa memanggil Shania.
"Sayang tolong dong, handuk aku ketinggalan".
Shania kemudian berjalan mengambil handuk, dan mengetuk pintu kamar mandi. Ia julurkan handuk tanpa menoleh pada Aldo.
Kejailan Aldo seakan kembali, ia menarik tangan Shania dan membawanya masuk ke kamar mandi setelah itu ia menguncinya.
"Aldoooo"
Teriak Shania saat sadar Aldo tak mengunakan apapun. Aldo menarik Shania yang memejamkan mata dan memeluknya erat.
"Kenapa, nanti juga dilepas kok. Ayo aku mandiin sekalian".
"Lepasin Do, aku mau keluar. Ini aku harus lepasin gaun juga basah semua ini nanti".
Shania berusaha melepaskan Aldo dan setia dengan mata terpejamnya.
"Ga, aku g mau lepasin heee, ini malam pertama kita sayang". Aldo mengedus pipi Shania membuat Shania kegelian.
"Do, lepasin nanti kamu nyesel lho".
"Nyesel kenapa, emangnya kamu g perawan?".
"Bukan, aku lagi dapet". Ucap Shania terkikik melihat wajah Aldo yang terkejut sekaligus menampakkan wajah kecewa.
"Beneran, coba aku periksa". Aldo tak percaya dan berusaha menarik gaun Shania dari bawah. Shania memukul tangan Aldo, membuat Aldo mendongak ke atas.
"Aku g bercanda Do, baru tadi jadwalnya dateng".
"Berapa lama?"
"Tujuh hari"
"Hah, puasa dong. Terus kita ngapain?".
Aldo tak bisa menutupi wajah kecewanya, sedangkan Shania hanya tertawa dan meraih handuk untuk menutupi tubuh suaminya yang membuat hatinya berdebar-debar dan wajahnya merona.
"Pakai dulu anduknya, udah lepasin aku mau ganti baju dulu. Jangan macem-macem ya, aku g bisa tanggungjawab soalnya".
Shania terkikik dan melepaskan pelukan Aldo yang wajahnya lemas, lalu ia keluar kamar mandi dan tak lama Aldopun keluar.
"Yah gini amat ya, kok tepat banget datangnya. Padahal aku tuh dah siap-siap, sampe mama nyiapin jamu segala buat kamu sama aku".
"Udah jangan ngeromet, aku mandi dulu. Tuh bajunya dah aku siapin oke".
Shania menjawil hidung suaminya yang masih menunjukkan muka cemberut. Shania menahan nafas dan memegang dadanya, ia melihat tubuh suaminya.
"Duh kenapa jadi keingat terus sih, duhhh otak jangan gini dong".
Shania menggeleng-gelengkan kepalanya dan memukul-mukul kepalanya. Membuat Aldo mendekati dan memeluknya dari belakang.
"Kalo mau sekarang juga g pa-pa sayang, kan bisa pake cara yang lain". Bisik Aldo ke telinga Shania. Membuat wajah Shani merona, salah tingkah.
"G, udah lepas aku mau mandi".
Shania berlari membawa baju gantinya dan ke kamar mandi. Membuat Aldo tertawa terbahak-bahak senang telah menggoda wanita yang baru dinikahinya itu.
Malam ini pun mereka lalui dengan tidur, meski sudah larut karena mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol.
########
"Semua dah kelar, mau ngapain lagi ya gue?, ke kafe aja kali ya, tapi nanggung banget dan jam 11an gini. Mending nonton ajalah, hemm di mana laptop babang ganteng akuh ya hehe"
Shania bergumam sendiri dan mencari-cari laptop milik Aldo.
"Nah ini dia". Shania mengambil laptop dan melihat di laci-laci itu terdapat banyak memory card.
"Banyak banget memory cardnya, hemm penasaran nih isi memorynya. Boleh g ya dibuka, jangan-jangan penting lagi"
Shania bimbang meski pada akhirnya ia memutuskan untuk melihat isi memory card tersebut. Setelah meminta pasword laptop dari Aldo, Shania mulai berselancar membuka isi memory card tersebut.
"Kebanyakan isi cctv agaknya ini, ehh ini kan di kantor ".
Shania melihat vidio dirinya saat bekerja "Jadi selama ini dia ngawasin aku kerja diam-diam hehee g nyangka sampe segitunya". Shania senang melihat Aldo yang ternyata memperhatikannya sejak sebelum mereka pacaran.
Dua jam ia melihat memory card itu, ia hanya memperhatikan vidio-vidio yang ada dirinya selainnya ia hanya membuka kemudian menutupnya kembali. Ia makin penasaran untuk membuka memory card selanjutnya.
"Ayahhh"
Saat melihat vidio ayahnya sedang menikahkan kakaknya dengan Hans di rumah sakit. Shania menangis mengingat Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu Shania rindu".
Shania mengusap wajah ayahnya yang ada di layar.
"Ayah, cucu Ayah sangat lucu dan tampan". Shania mengingat ucapan ayahnya tentang cucu, lalu iya melihat foto Fattah yang banyak di hanphonenya.
Lalu ia membuka vidio selanjutnya, dan ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Ya Allah, Kak Hans..."
Ia terus menonton vidio-vidio itu, ia hanyut dan terlarut. Hingga tak sadar sudah berjam-jam ia menonton itu dan tak menyadari jika Aldo juga sudah kembali.
"Sayang, segitunya kamu nonton sampe g denger suami pulang dan jawab salam".
Aldo menarik earphone di telinga istrinya, dari depan istirnya tak melihat apa yang ditonton istrinya itu, Shania terkejut dan menoleh.
Ia langsung memeluk suaminya itu membuat Aldo bingung karena Shania menangis.
"Kenapa, kamu rindu sama aku dan sedih karena aku tinggalin?".
Shania menggeleng, "Kamu g rindu, kalo gitu aku g pulang aja sekalian tadi".
Shania mencebik dan memukul dada Aldo,
"Bukan itu". Ucapnya di tengah ia menahan tangisnya.
"Lalu kenapa kamu nangis, apa filmnya begitu romantis dan bikin kamu haru atau sedih banget gitu hemm".
"Iya, sedih dan romantis banget".
"Emang apa sih yang kamu tonton, bikin penasaran aja".
"G boleh, g boleh tau nanti kalo aku dah selesai nontonnya baru aku kasih tau. G boleh ngintip juga, laptop aku sita dulu ya sampe seminggu ke depan. Aku mau nonton full pokoknya dan g boleh diganggu".
"La..terus akunya dianggurin gitu, g mau. Masa iya penganten baru malah ditinggal nonton mulu, g boleh".
"Ya udah kalo g mau, minggu depan g ada jatah hehee, mumpung aku libur boleh ya?".
Shania menatap manja suaminya, dan akhirnya Aldo mengalah.
"Yah daripada gue g dapet jatah minggu depan, udah aja seminggu ini libur".
Aldo pun mengangguk membuat Shania senang dan mengeratkan pelukannya "makasih sayang, makin cinta deh". Shania mencium pipi suaminya dan kemudian melepaskan pelukannya, kembali pada laptopnya. Membawanya ke kamar sebelah, dan mengunci kamar itu, membuat Aldo geleng-geleng kepala melihat tingkah Shania
############
Alhamdulillah chapter 110 done.
Alhamdulillah karena kalian karya ini sudah lulus review awal kontrak. Terima kasih readers atas semua dukungannya. Author makin cinta sama kalian ❤❤❤❤❤❤❤
Dang lupa yo hehee😆🤲
Poin, vote, like, komen, share and Follow Lesta Lestari....