ARINDRA

ARINDRA
Chapter 109



Dua pekan Arindra dan Syara ada di pesantren, Arindra pun bertemu dengan Umi Ami yang ternyata adalah teman sekolah semasa SMA dulu. Hans menjemput ke dua istrinya itu, atas permintaan Abi Hasan, kini mereka sudah ada di rumah Arindra.


Kini mereka duduk bertiga di teras belakang.


"Dua pekan tidak bertemu kalian membuatku sangat rindu, aku menahannya dan bersyukur pada saat ini kalian sudah mau bertemu denganku. Dua pekan ini juga Abi Hasan banyak memberi saran, dan membeli buku-buku tentang poligami, dan sudah kubaca.


Insyaa Allah saat ini sebagai suami, aku berpasrah diri kepada Allah untuk menerima keputusan terbaik dan berusaha ikhlas menerima semuanya. Jika memang keputusan kalian memilih berpisah denganku, maka aku akan menerimanya".


Hans menatap ke dua istrinya dengan wajah sendu dan kerinduan, Syara mengambil sesuatu di dalam tasnya dan memberikan pada Hans.


"Apa ini?"


"Lihat saja itu ada garis berapa?".


Jawab Syara,


"Kau hamil?". Tanya Hans pada Syara dan diangguki oleh Syara.


"Alhamdulillah ya Allah".


Hans tersenyum senang, matanya berkaca-kaca. Tapi kemudian ia menarik senyumnya takkala ingat perkataan Syara jika ia ingin bercerai jika sudah hamil.


"Apa artinya ini juga, kau ingin bercerai denganku setelah mendapatkan apa yang kau mau?". Tanya Hans lesu dan memainkan tespack di tangannya.


Syara tersenyum dan mendekati Hans, ia belai pipi suami yang sangat dirindukannya itu. Arindra yang menyadari itu memilih berdiri dan meninggalkan mereka. Memberi ruang bagi Hans dan Syara berbagi kebahagiaan.


"Bicaralah setelah selesai, maka kita bicara lagi". Ucap Arindra kemudian masuk ke kamar menemui Fattah yang sedang tidur.


Syara dan Hans saling berpandangan, Hans merengkuh tubuh Syara dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Apa artinya kau tidak minta berpisah denganku?".


Syara mengangguk, dan membuat Hans tersenyum lebar. Ia memeluk Syara dan menciumi seluruh wajahnya.


"Kenapa?" Tanyanya kemudian pada Syara.


"Aku mencintaimu, aku sungguh merindukanmu saat dua minggu tak bertemu denganmu. Aku memandangi fotomu untuk meluapkan rasa itu"


Syara meraih tangan Hans dan membawanya ke perutnya "Aku tak ingin buah hatiku dididik oleh laki-laki yang bukan ayah kandungnya. Seorang laki-laki yang membuatku jatuh cinta dan merupakan cinta pertamanya"


"Kau tahu, kau cinta pertamaku?"


"Ya, dari Hana dan aku tak menyangka gadis yang kau bilang cupu ini telah membuatmu jatuh hati".


"Karena kau satu-satu gadis saat itu yang tak melirikku, padahal banyak wanita yang berlari dan memohon untuk dijadikan kekasihku".


Syara mencubit hidung suaminya "Aku percaya". Ucapnya dan memeluk suaminya erat.


"Terima kasih, kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya". Ucap Hans.


"Berjanjilah untuk bersikap adil pada kami ya, aku menerimanya setelah Abi memberiku banyak buku tentang poligami dan nasehat panjang lebar dari Umi dan Abi".


"Insyaa Allah, ingatkan aku jika memang aku salah. Apakah itu artinya Arindra menerima Kakak jadi suaminya?".


"Mbak Arindra menerima Kakak sebagai suaminya, tapi keputusan lanjut apa tidaknya tanyakan sendiri padanya. Aku menerima apapun keputusannya, semoga ini jadi pahala surga untuk kami berdua kelak".


"Aamiin Ya Robbal alamin"


"Syara panggil Mbak Arindra dulu ya".


"Sudah?". Tanya Arindra, diangguki oleh Syara yang kemudian duduk di samping Fattah.


"Aku harap Mbak menerima Kak Hans menjadi suami Mbak seutuhnya, dan meraih pahala bersamaku. Aku ingin bersama Fattah, dan berharap kita bisa mendidiknya bersama-sama".


Arindra hanya tersenyum dan kemudian keluar menemui Hans.


"Barokallah, semoga rumah tangga kalian menjadi lebih berkah apalagi akan hadirnya buah hati di antara kalian".


"Terima kasih"


Sesaat keheningan menyapa mereka, Hans berdebar-debar melihat Arindra yang duduk tenang melihatnya.


"Bismillah, keputusanku masih tetap sama seperti dulu. Kau kuberi kesempatan membuatku jatuh cinta, dan melihat dirimu apakah bisa berlaku adil atau tidak untuk kami berdua.


Tapi aku mohon maaf, jika aku belum bisa melayanimu sebagai suami seutuhnya. Bagaimanapun kau harus menyingkirkan sosok Jack dalam hatiku dan menggantinya denganmu. Dengan begitu, aku baru bisa menerimanya secara utuh kau menjadi suamiku".


Hans tersenyum senang, "Insyaa Allah aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk rumah tangga kita. Aku tau aku tak seharusnya mendapat kesempatan ini, jika mengingat apa yang sudah kulakukan padamu.


Sungguh Allah Maha Baik, melapangkan hatimu dan memberi kesempatan padaku untuk memperbaikinya. Jika bukan kau korbannya, saat ini mungkin aku sudah ada di penjara bersama Daddy. Terima kasih, sungguh aku sangat berterima kasih".


"Aku juga ikhlas dan ridhomu, aku mengakuimu sebagai suami tapi belum bisa menjalankan hak dan kewajiban sebagai istri. Mohon maafkan aku, untuk sementara hak kewajiban istri yang tertanam padaku aku berikan sepenuhnya pada Syara.


Apalagi saat ini dia sedang hamil, pasti banyak membutuhkan dirimu. Aku bebaskan dirimu bertemu denganku tapi tanpa mengurangi dan melanggar hak-hak dan kewajibanmu pada Syara.


Aku sudah membicarakan ini dengan Syara perihal Fattah, aku harap kau juga mengijinkannya. Ijinkan Fattah bersamaku dan tinggal di sini, kalian bisa menjenguk dan membawanya bermain. Tapi ijinkan aku sepenuhnya yang merawatnya selama dia ada di sini".


"Jika Syara sudah mengijinkannya, aku juga mengijinkanmu. Tapi ijinkan aku juga untuk melaksanakan kewajibanku sebagai ayah Fattah dan suami untukmu. Memberikan perhatian, kasih sayang dan nafkah lahir padamu.


Meski aku bukan pengusaha kaya seperti dulu tapi aku masih bisa Insyaa Allah memberimu dan Syara nafkah lahir yang terbaik. Lewat rumah sakit yang masih berdiri, dan mencoba kembali membangkitkan perusahaan, dan menjalankannya dengan lurus dan baik.


Aku pasti memerlukan bantuanmu, kau dulu seorang wanita karir, kemampuanmu dalam memahami managemen perusahaan juga cukup baik. Aku ingin kau menjadi sekertaris pribadiku, ku harap kau bersedia".


"Aku akan memikirkan tawaranmu, aku membicarakan hal ini dengan Shania. Bagaimanapun saat ini, Shania adalah bosku dan aku karyawannya meski tak sepenuhnya".


"Baiklah, aku tunggu kabar baik darimu tak hanya masalah pekerjaan tapi juga rumah tangga kita".


"Berdoa saja yang terbaik, Allah takkan pernah memberi keputusan yang salah".


"Bolehkah aku memelukmu, sungguh aku merindukanmu?".


Hans menatap Arindra penuh harap, kerinduan membuncah di dadanya seakan ingin meledak. Arindra menarik nafas panjang, sesaat ia terdiam dan sedang berfikir.


"Tak apa jika kau menolak saat ini, aku akan sabar menunggu dan membuktikan sampai hari itu tiba. Aku sungguh mencintaimu, meski di hatiku juga mencintai Syara.


Mungkin untuk kebanyakan orang aku adalah orang yang serakah, tapi jatuh cinta pada dua wanita tak bisa kucegah, karena cinta tak pernah memilih di mana ia akan tumbuh".


##############


Alhamdulillah chapter 109 done


Poin, like, vote, komen, share and follow Lesta Lestari.


Jejak kalian jadi semangat untuk daya juangku tumbuh. Terima kasih


❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍