ARINDRA

ARINDRA
Chapter 92



Malam ini Arindra memutuskan untuk tidur di rumah bersama Shania, meski Jack dan lain melarangnya namun karena Tuan Wijaya sudah menjadi buronan, akhirnya mereka mengijinkannya dengan tetap didampingi pengawal.


Berita tadi pagi mengejutkannya, Hans benar-benar melaporkan Tuan Wijaya ke pihak berwajib. Sontak pemberitaan kemudian semakin gencar.


Rencana jalan-jalan lagi-lagi batal, karena Paman James ada jadwal sidang perkara yang dimajukan, sehingga semua ikut untuk melihat langsung persidangan. Sedangkan Arindra lebih memilih diam di rumah Shania.


"Kak Tiara"


Panggil Shania saat keduanya duduk di depan televisi melihat perkembangan berita dari Perusahaan Wijaya.


"Hemm"


"Kakak menyesal?" Tanya Shania melihat wajah sendu kakaknya itu.


"Yang pasti Kakak tidak bahagia atas apa yang Kakak saksikan hari ini"


"Jangan salahkan diri Kakak, apa yang dilakukan Wijaya, memang pantas ia mendapatkan hukumannya. Tak selamanya yang berkuasa akan terus berkuasa, dan tak selamanya yang lemah akan terus lemah.


Roda hidup selalu berputar, saat ini adalah saatnya Wijaya menyadari setiap kesalahannya dan bertanggungjawab atas segala perbuatan yang dilakukan. Meski masih buron, tapi ia sudah tak bebas dalam melangkah ke manapun yang dia mau".


"Bagaimana hubunganmu dengan Aldo?"


"Kenapa Kakak tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"Apakah salah seorang Kakak menanyakan itu pada adiknya?"


"Hehee tidak sih Kak, hanya saja aku malu harus menjawab apa"


"Kau serius dengannya, apa cuma main-main?"


"Aku serius Kak, begitu juga dia. Beberapa kali mengutarakan ingin menikahiku tapi aku masih menolak karena saat ini kurasa waktunya tidak tepat"


"Apa hanya karena Kakak?"


"Bukan hanya itu, lihatlah dia semakin sibuk bahkan sekarang jarang sekali menghubungiku. Terlebih sekarang dia sedang konsentrasi terhadap kasus Tuan Wijaya, dan perusahaan.


Menangani tuntunan pegawai yang menolak PHK, karena perusahaan Wijaya beberapa sudah kolaps akibat dari pemberitaan yang terus menerus. Membuat harga saham jatuh, dan orang-orang yang dulu mengejar mereka untuk bekerjasama sekarang mereka yang mengejar orang-orang itu"


"Aldo bercerita banyak padamu?"


"Tidak banyak, mungkin hanya garis besarnya saja Kak"


"Segeralah menikah, tak baik berpacaran lama-lama. Kasihan Ayah dan Ibu di sana, menanggung dosa anak-anaknya meski sudah tiada. Satu lagi, tutuplah auratmu dengan benar bukan hanya untuk menjagamu tapi menjaga kedua orang tuamu, dan saudaramu dari api neraka.


Ingat dosa anak akan mengalir pada orang tuanya jika dia belum bersuami, terutama masalah aurat yang jelas-jelas begitu nampak"


"Duh, kakakku kembali jadi ustadzah. Nia fikir setelah amnesia Kakak tidak akan mengomeliku lagi seperti dulu, nyatanya kakak tidak berubah ya hahhaa"


Shania meledek Kakaknya itu, dengan tertawa bahagia, Arindra kesal nasehatnya ditertawakan adiknya, lalu melempar bantal sofa ke Shania.


"Dasar, adik sholehah banget kamu ya" Ujar Arindra yang masih melempari adiknya dengan bantal sofa.


"Bentar Kak, kayaknya ada tamu"


Shania ke depan membuka pintu, munculah sosok dua laki-laki, Aldo dan Hans. Tampilan Hans begitu buruk, wajah kusut pakaian berantakan, tapi tak mengubah wajah tampannya sih hehee๐Ÿ˜†.


(Abis Authormah suka sama luis ibrahim or Hans aslinya hehe).


Aldo menyerahkan paper bag dan kemudian pamit pada Shania. Sedangkan Hans masuk, tanpa banyak bicara langsung menuju kamar yang terakhir ia tempati bersama Arindra dan mengambil paper bag dari tangan Shania.


"Udah sana urusin suami kakak, dia pasti berat banget tuh bawa beban hidup. Secara ngelaporin sendiri ayahnya ke polisi"


Arindra terdiam sesaat, ia tahu pasti berat untuk Hans. Ini juga berat untuknya dan untuk siapapun pastinya. Shania memunguti bantal sofa yang tadi dilempar Kakaknya itu lalu duduk di samping Arindra.


"Kak, Shania tau hati kakak saat ini untuk Kak Jack. Tapi Kakak tau, Kak Hans suami Kakak saat ini. Suka tidak suka itu fakta yang g bisa dibantah. Cepet gih susulin, kalo dia bunuh diri gimana?"


"Shania, ngomong itu lebih baik yang baik"


"Iya udah sono, temenin. Siapa tau dia butuh sandaran buat nguatin dia. Pergi sono, udah untuk ada yang mau nikahin Kakakku ini, kalo enggak udah perawan tua aja nih statusnya hehhee"


Shania tersenyum dan berlari ke arah kamarnya dan segera menguncinya. Ia tak mau melihat mata tajam Kakaknya mengarah padanya.


"Maafin gue Kak"


Ucap Shania dalam hati akan tingkahnya pada Arindra.


Arindra akhirnya menuruti kata Shania, masuk ke kamar di mana Hans berada. Hans sedang berada pada posisi tengkurap di atas kasur. Jas, sepatu masih melekat di tubuhnya, Arindra mendekati Hans. Terdengar isak tangis tertahan di sana, ia duduk di samping laki-laki itu.


"Biarkan seperti ini"


Ucapnya saat membenamkan kepalanya di perut Arindra dan ke dua tangan melingkar memeluk dengan erat. Arindra menatap iba, laki-laki yang kepalanya ini ada di pangkuannya saat ini.


"Menangislah jika itu bisa melegakanmu, aku akan menemanimu malam ini" Ucapnya pada Hans.


Hans mendengar itu menangis tanpa bisa dijegah lagi. Arindra membiarkan Hans meski gamis tidurnya telah basah air mata.


"Maafkan aku Hans, jika kehadiranku dalam hidupmu membuat banyak luka"


Ucap Arindra sambil membelai kepala Hans untuk menenangkannya. Lama Hans larut dalam tangisnya, hingga berangsur-angsur nafasnya teratur meski masih ada sisa-sisa air mata di setiap sudut pipinya.


Ia baringkan Hans, dengan meletakkan kepalanya di atas bantal. Menghapus sisa air mata itu, dengan ke dua tangannya.


"Aku tau, ini berat untuk siapapun. Aku bangga padamu berani mengambil pilihan yang sulit. Fattah pasti bangga memilik Ayah sepertimu Hans"


Arindra melepaskan dasi, jas dan sepatu Hans. Ia letakkan itu di sisi kamar, kemudian ia menyelimutinya. Ia cukup lama memandang wajah Hans, dan melihat foto Fattah. Foto yang dikirimi Hans, setelah mereka pulang dari tempat Suster Hani.


"Aku yang hamil dan melahirkan, mengapa ia sangat mirip denganmu. Apakah sifatnya akan sama denganmu Hans, jika benar sungguh aku akan iri padamu. Dia mewarisi semua yang ada padamu, sedangkan aku hanya memiliki matanya saja"


Gumam Arindra saat membandingkan Fattah dengan Hans. Ia bangun dan duduk di sofa, membuka hanphone yang tak sempat dibukanya seharian ini.


Sebuah vidio dikirim oleh Aldo di aplikasi chat. Ia membukanya, dan mulutnya menganga saat melihat vidio itu.


"Ayah..., jadi kau yang benar-benar menikahkanku dengannya"


Arindra menangis memandangi wajah ayahnya di vidio itu. Saat mengucapkan proses ijab kabul dengan lantang, dan semakin menangis saat mendengar suara ayahnya yang berkata pada Hans.


"Tepati Janjimu Tuan Hans, untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk anak dan calon cucuku"


###########


Alhamdulillah Chapter 92 done


"***Jatuh bangun dalam usaha adalah jalan menuju hasil impian. Teruslah mencoba, agar kita tau nikmatnya sebuah keberhasilan"


Quote the Day by Arindra***