ARINDRA

ARINDRA
Chapter 114



Satu hari menjelang eksekusi Tuan Wijaya, Hans dan yang lainnya sudah berkumpul di rumah, Syara, Hana, Arindra, Shania, Aldo dan Dio juga sudah di sana.


Afdan yang semula menerima hendak dijodohkan dengan Hana, di hari pernikahan tidak datang dan menolak menikahi Hana. Orang tua Afdan tak memberi restu, sehingga Afdan tak bisa memaksa. Membuat yang di sana kebingungan.


Tuan Wijaya pun tertunduk, melihat putrinya yang sedang menatapnya sambil menangis. Waktu jam ijin keluar Tuan Wijaya sebentar lagi juga sudah habis, membuat semua tertunduk.


Aldo menatap Dio, dan kemudian membawanya ke belakang.


"Bisakah gue minta tolong sama loe, tolong nikahi Hana?". Ucap Aldo saat mereka sudah di belakang.


"Gue datang ke sini, buat Mbak Arindra yang gue anggap Kakak gue sendiri. Bukan menikahi anak dari seorang pembunuh".


"Gue tahu, loe g suka sama Tuan Wijaya, tapi Hana g tau apa-apa tentang kelakuan Daddynya. Jadi tolong, gue mohon banget sama loe nikahin Hana. Gue jamin loe g bakalan nyesel, nikah sama orang yang sholehah kayak Hana.


Hana itu istimewa, langka loe g lihat dia dari pakaiannya aja dah sama kayak Mbak Arindra. Gue tau banget tu anak g pernah pacaran, jadi loe bakalan dapetin sosok yang luar biasa deh". Aldo mencoba merayu Dio, bagaimanapun ia merasa iba pad Wijaya, yang telah banyak membantunya.


"Kenapa g loe aja yang nikahin dia kalo loe ngerasa iba".


"Gue udah punya Shania, kita aja masih gress loe nyuruh gue nikah lagi. Ayolah tolong kita kali ini".


"Sekali gue bilang enggak, ya enggak, sebaik apapun anak dari seorang pembunuh, tetap aja bapaknya pembunuh". Dio berlalu meninggalkan Aldo yang meremas kepalanya sendiri.


Aldo pun segera menyusul ke ruangan tengah, "Sorry gue g bisa bujuk Dio". Bisik Aldo pada Hans.


Hans maju ke depan menggenggam tangan Daddynya. "Maafkan Hans Dad, Hans sudah berusaha".


Tuan Wijaya menggangguk dan menepuk pundak Hans. "Maafkan Daddy, yang terlalu memaksakan. Jaga adikmu baik-baik, Daddy percaya sama kamu nak. Jaga juga ke dua istrimu dan cucu-cucu Daddy. Kau sangat beruntung memiliki istri-istri seperti mereka".


Tuan Wijaya memeluk Hans, dan tangannya melambai ke Hana, Hana menghampiri dan memeluk Daddynya.


"Maafkan Hana Dad, jika Hana belum bisa memenuhi permintaan terakhir Daddy".


"Iya sayang, maafkan Daddy juga ya, segeralah menikah jangan terlarut dalam kesedihan. Insyaa Allah Daddy sudah ikhlas menjalani hukuman Daddy. Jadi tolong ikhlaskan Daddy, biar Daddy tenang menemui Mommy kalian".


Hans, Hana dan Tuan Wijaya menangis dalam dengan saling berpelukan. Kemudian Tuan Wijaya melepaskan pelukannya dan menghampiri Arindra yang sedang memangku Fattah dan juga duduk di dekat Syara.


Tuan Wijaya menggendong Fattah dan menciuminya. "Maafkan Opamu nak, maaf jika tak bisa banyak bermain denganmu. Jadilah seperti ibumu, wanita kuat dan pemaaf".


Tuan Wijaya melihat Arindra "Maafkan Daddy ya sayang, maafkan. Daddy banyak salah. Daddy tidak tahu lagi harus berkata apa selain kata maaf. Karena begitu banyak kesalahan yang Daddy lakukan padamu. Tolong jaga cucuku dan putraku, Daddy bangga memiliki menantu sepertimu".


Arindra mengangguk dan menerima Fattah dari gendongan mertuanya itu. Ia lalu mencium tangan Tuan Wijaya "Arindra sudah memaafkan Daddy, terlepas apapun kesalahan Daddy. Arindra juga mohon maaf karena Arin juga banyak melakukan kesalahan pada Daddy dan keluarga".


"Sama-sama sayang". Ucap Tuan Wijaya kemudian beralih pada Syara.


"Maafkan Daddy, Daddy tau Daddy bukan ayah yang baik, dan mertua yang baik selama ini. Terima kasih masih bertahan dan mendampingi Hans dengans sangat baik. Jaga calon cucu Daddy, Daddy juga bangga padamu nak".


Syara memeluk Tuan Wijaya, ia tau selama ini Tuan Wijaya baik padanya terlepas ia yang memaksa pernikahannya dengan Hans. Tapi semenjak mengenal Daddy dari bangku SMA, Hana merasakan kehangatan sosok Ayah selain Abi.


"Maafkan Syara Dad, belum bisa membuat bahagia untuk Daddy".


"Hadirmu bersama Hans dan calon cucuku, membuat Daddy sangat bahagia".


Lalu Tuan Wijaya memeluk Aldo, melakukan permintaan maaf dilanjutkan pada Shania dan Dio. Setelah semuanya selesai, Tuan Wijaya kembali di borgol untuk dibawa kembali ke lapas.


"Assalamualaikum wr. wb, maafkan kami yang terlambat". Ucap Abi Hasan dan Umi Hasan yang baru tiba.


"Walaikumsalam wr. wb"


Semua mata mengarah pada Abi Hasan yang memeluk sahabat sekaligus besannya itu.


"Kembalilah duduk dan lakukan tugasmu, seseorang sudah bersedia menjadi menantumu hari ini".


"Maksudmu apa?".


"Ada seseorang yang bersedia menikah dengan Hana mengantikan Afdan".


"Dia ada di sini, hanya saja masih di depan. Ia memintaku untuk membicarakan dulu dengan kalian, terutama Hana".


"Baiklah, bicaralah"


Tuan Hans dan Abi Hasan pun duduk, diikuti yang lain, yang memang sudah berada pada posisi berdiri.


"Hana, maukah bersedia menikah dengan laki-laki ini. Dia adalah saudara jauh dari sahabat Abi dan Daddymu. Dia juga baru mualaf, tapi dilihat dari sikapnya Insyaa Allah dia baik, dan ia bersedia dituntun olehmu untuk mengenal islam lebih jauh".


"Hana ikhlas menerima siapapun laki-laki yang dipilihkan Daddy dan Abi untuk Hana, jika Daddy setuju maka Hana akan setuju".


"Bagaimana Jay, apakah kau bersedia".


Tanya Abi Hasan pada Wijaya sahabatnya.


"Baiklah, aku terima bawa laki-laki itu ke hadapanku, aku akan menikahkannya dengan Hana".


"Alhamdulillah, tolong nak Aldo panggilkan laki-laki yang ada di depan ya". Ucap Abi Hasan, semua memandang ke arah pintu penasaran siapa sosok laki-laki yang bersedia menikah dengan Hana.


Aldo termangu saat laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. Tak percaya dengan sosok laki-laki di hadapannya itu.


"Apa aku boleh masuk atau aku pergi?".


Tanya laki-laki itu tenang, membuat kesadaran Aldo kembali.


"Masuklah, semua sudah menanti dirimu".


Aldo memandang laki-laki yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Aldo mengela nafas panjang dan segera mengikuti langkah kaki ke arah ruang tengah rumah itu.


"Kak Jack...."


Seru Shania, Arindra dan mata terkejut melihat kedatangannya. Apalagi Hans, yang menatap tak percaya orang yang akan menikahi adiknya adalah Jack.


"Sini nak Jack, ini laki-laki yang aku katakan tadi Jay. Dia saudara jauh dari Adam sahabat kita". Ucap Abi yang mempersilahkan Jack duduk di hadapan Abi Hasan dan Tuan Wijaya.


"Apa alasannya kau mau menikahi putriku, bukankah kau juga yang mengobarkan dendam di hati Arindra untuk melawanku?".


Tanya Tuan Wijaya pada Jack.


"Masihkan anda tanyakan Tuan, sesuatu yang tak penting saat ini. Bukankah anda sudah bersedia menikahkan saya dengan putri anda, maka lakukanlah sesuai dengan permintaan terakhir anda bukan. Waktu Anda sudah tak banyak Tuan". Ucap Jack yang membuat kening Wijaya berkerut.


Tuan Wijaya tahu, waktunya tinggal sepuluh menit lagi untuk meninggalkan rumah ini kembali ke lapas. Ia melihat Hana yang menganggukkan kepala, tanda ia bersedia dinikahkan dengan Jack.


"Baiklah, dengan mengucap bismillah mari kita mulai pernikahan ini".


Pernikahan ini pun di mulai, ijab kabul dilakukan. Arindra melihat itu tertunduk, ada air mata di sudut matanya meski ia mencoba untuk menahan. Kondisi itu tak lepas dari pandangan Shania dan Hans.


############


Alhamdulillah chapter 114 done


***Voote dong Guys...


Like


komen


poin


share


and Follow Lesta Lestari tolong ya heheeπŸ™πŸ™πŸ€²πŸ€²


Makasih semuanya ❀❀❀❀😍😍😍😍😍***