
"Jangan membentak adikmu, jika hanya ingin menemui Daddymu"
Tuan Wijaya keluar dari ruang kerja dengan wajah tenang, setelah mendengar kedatangan Hans.
"Di mana Arindra Dad?"
Tanya Hans dengan marah pada Daddynya itu.
"Bukankah kau yang menjaganya, kau tempatkan pengawal yang begitu banyak hanya untuk mengawal seorang wanita yang bukan siapa-siapa. Lalu mengapa kau tanyakan pada Daddy?"
Tuan Wijaya yang sudah berpengalaman mampu mengendalikan emosi dengan baik.
"Jangan mengalihkan pertanyaan dengan pertanyaan Daddy. Katakan saja, di mana Arindra sekarang?" Tanya Hans tak sabar.
"Tidakkah ini bisa dibicarakan baik-baik Kak, duduklah" Ucap Hana yang mencoba menasehati Kakaknya.
"Diam Hana, kau tak tau apapun yang dilakukan Daddymu. Kau tau, Daddy sudah menculik Mbak Arindra, bahkan dia juga mengancam akan membunuhku" Ucap Hans tanpa mengalihkan pandangannya pada Daddynya.
"Kak, bicara tanpa bukti hanya akan menimbulkan fitnah. Aku menyesal tidak percaya pada Kakak tentang Mbak Arindra yang masih hidup, Hana mohon maaf untuk itu. Tapi jika terus menerus Kakak menuduh Daddy, tanpa bukti Hana tetap akan menyadarkan Kakak" Ucap Hana yang tak percaya ucapan Kakaknya.
"Aldo berikan rekaman pada Hana, lihat dan perhatikan baik-baik sosok yang kau kagumi ini tak lebih dari seorang singa kelaparan yang tak peduli apapun, sebelum perutnya kenyang" Perintah Hans pada Aldo.
Aldo memberikan rekaman saat Tuan Wijaya datang ke perusahaan dan mengancam Hans di ruangan kerja Hans, lengkap dengan laptop pada Hana. Tuan Wijaya kaget mendengar perkataan Hans, ia mendekati Hana dan hendak meraih flashdisk dari tangan Aldo. Namun Aldo gerak cepat, hingga tangan Wijaya tak mendapatkan flashdisk itu.
Wijaya geram, berusaha mempengaruhi Hana, ia melihat istrinya tertunduk. Menangis melihat suami dan anaknya bertengkar. Ini yang pertama kalinya, dia melihat putranya Hans marah dan melawan suaminya.
"Jangan membuat cerita yang membuat adikmu dan Mommymu terluka. Begitu senangnya kau menghancurkan keluargamu hanya karena seorang wanita sialan itu"
Ucap Daddy yang masih berusaha mencegah Hana membuka rekaman yang diberikan Aldo padanya. Hans menghalangi usaha Daddy dengan tubuhnya. Hingga kini jarak mereka berdua sangat dekat.
"Bukan aku yang menghancurkan keluarga ini Dad, tapi tindakan dan sikap Daddy sendiri yang membuat keluarga ini hancur. Arogansi yang Daddy miliki terlalu besar, hingga mata hati Daddy tak merasakan lagi apa itu empati, simpati dan kasih sayang"
Hans berusaha menghalangi Daddynya untuk mendekati Hana yang sedang membuka file dibantu dengan Aldo.
"Hana jangan pernah dengarkan perkataan Kakakmu yang sudah dibutakan oleh wanita itu. Buang flashdisk itu, karena itu hanya rekayasa Kakakmu untuk membenci Daddy"
Tuan Wijaya masih berusaha memperngaruhi putrinya itu. Ia jelas kalah tenaga dengan Hans, meski ia mendorong tubuh Hans dengan kuat sekalipun. Tubuh itu tak bergeming dari tempatnya.
"Maafkan Hana Daddy, Hana akan membukanya terlebih dulu. Hana akan memutuskan mana yang benar, dan mana yang salah"
Ucap Hana yang mulai mendengarkan rekaman itu.
"Hana..." Ucap Tuan Wijaya namun belum selesai ia berkata, Hans memotongnya.
"Biarkan Dad, biarkan Hana tahu kebenaran tentang sosok seperti apa seorang Wijaya Putra" Ujar Hans yang menahan Daddynya itu dengan memegangi tangannya.
"Hana dengarkan Daddy, semua yang kau lihat dan dengar itu bohong. Daddy tak mungkin melakukan itu nak, Kakakmu, Kakakmu yang sudah hilang akal karena terlalu memperturutkan hawa nafsunya.
Lihatlah betapa serakahnya dia, ingin memiliki wanita lain sedangkan di sisinya sudah ada Syara. Ia tidak melepaskan wanita itu hanya karena rasa bersalah, bodoh...tindakannya menyakiti sahabatmu. Apakah kau akan diam saja Hana, sahabatmu di sakiti dan diduakan oleh Kakakmu yang brengsek ini"
Tuan Wijaya terus mencoba memperngaruhi Hana, namun Hana fokus mendengarkan rekaman itu. Hana tidak ingin kesalahan yang lalu dia ulangi lagi pada Kakaknya. Hana terkejut mendengar isi rekaman itu, ia melihat Daddynya.
Ia dekati Daddynya itu, melepaskan genggaman tangan Hans pada Daddy. Ia memeluk tubuh tua Tuan Wijaya dan menangis di sana. Hans terpaku melihat reaksi adiknya, ia tak melihat raut wajah kemarahan pada Hana. Ia melirik Aldo, Aldo mengangkat ke dua bahunya.
Hana meraih ke dua tangan Daddy dan mendekatkannya dengan Mommy. Mereka berdua duduk berhadapan, dengan Daddy dan Mommy yang duduk berdampingan.
"Dad, Daddy taukan betapa Hana sangat kagum, dan menyayangi Daddy dan Mommy. Betapa Hana selalu bangga terlahir di keluarga ini, kasih sayang, perhatian, canda tawa semua membuat Hana selalu bahagia ada di tengah-tengah keluarga ini.
Dad, tolong katakan pada Hana tentang kebenaran Mbak Arindra. Katakan sejujurnya Dad pada Hana, apa yang sebenarnya Daddy lakukan di luaran sana?"
Hana menangis di depan ke dua orang tuanya, berharap kejujuran dari Daddynya itu. Tuan Wijaya memegang lengan putrinya itu, dan menghapus air matanya.
Daddy ingin damai di masa tua Daddy, seperti para orang tua lainnya, bersenda gurai dengan cucu Daddy. Percayalah pada Daddy nak, Kakakmu saat ini hanya dibutakan oleh wanita itu. Semua yang dikatakannya tidaklah benar"
Hans masih geram, ia ingin bicara namun ditahan oleh Aldo.
"Jadi semua yang dikatakan Kakak salah?"
Tanya Hana pada Daddynya, membuat Hans tak percaya mendengarnya.
"Iya nak, Kakakmu salah. Hanya karena rasa bersalah, dia bahkan membiarkan musuh-musuh Daddy bekerja sama dengan perusahaan. Dan lihatlah hasilnya, kau mendengar projek Teluk Jakarta?"
Wijaya tersenyum dalam hatinya, ia bisa mempengaruhi Hana yang polos menurutnya.
"Projek itu dihentikan sekarang, karena apa. Karena kebodohan Kakakmu, yang membiarkan musuhnya bergerak bebas dan akhirnya dia tak mampu mengendalikannya.
Akibatnya perusahaan kita mengalami kerugian besar, dan membuat orang-orang mengunjingkan keluarga kita. Kau percaya sama Daddy kan sayang"
Tuan Wijaya, membelai lembut kepala putrinya itu. Hana menghapus air matanya, dan menatap Daddynya itu.
"Hana harap, apa yang dikatakan Daddy benar. Tapi Hana tidak serta merta bisa percaya dengan perkataan Daddy. Hana akan mencari bukti-bukti tentang kebenaran ucapan Daddy"
Ucap Hana dengan tegas, membuat Wijaya menatap marah pada putrinya itu.
"Kau ingin seperti Kakakmu menentang Daddy, Hana?" Bentak Wijaya membuat Hana terkejut.
Hans menarik Hana ke belakang tubuhnya dan menatap Wijaya dengan sorot mata tajam.
"Biarkan Hana mencari bukti, agar dia tahu kebusukan apa yang ada dalam diri Wijaya. Ingat Dad, kebenaran selalu akan menemukan jalannya, sepintar-pintarnya Daddy menyimpan bangkai, cepat atau lambat akan tercium juga"
Ucap Hans membuat Wijaya geram.
"Plakk"
Sebuah tamparan mendarat pada wajah tampan Hans. Membuat Hana takut melihat wajah Daddynya yang dipenuhi amarah. Wajah yang tidak pernah Hana lihat sepanjang hidupnya.
"Terima kasih Dad, mungkin kesendirian akan bisa menyadarkan Daddy dari segala kesalahan. Hana, Syara, Fattah dan Mommy akan Hans bawa. Jangan pernah menemui mereka sebelum Daddy sadar akan kesalahan Daddy"
Ucap Hans menarik lengan adiknya dan Mommy, untuk dibawa pergi olehnya. Wijaya terperangah melihat tindakan Hans.
"Jangan pernah membawa mereka keluar dari rumah ini, jika kau ingin Fattah selamat"
Ucap Wijaya tanpa menyadari ucapannya membuat Hana terperangah mendengarnya.
"Aku akan ikut Kak Hans untuk sementara Dad" putus Hana dan berlari memanggil Syara untuk pulang ke rumah Hans.
"Mommy akan tinggal di sini bersama Daddy, pergilah" Ucap Mom Diana.
"Tapi Mom?"
"Sudahlah, seorang istri akan selalu di samping suaminya apapun keadaannya" Ucap Mom membuat Hans kecewa.
Hans kemudian menggendong Fattah, dan menggandeng tangan Syara. Dan Hana mengikuti dari belakang dengan Aldo. Wijaya tak bisa mencegah kepergian Hans, Hana, Syara dan Fattah, meski ia sangat ingin.
###############
**Alhamdulillah chapter 87 done
Votee, like, poin, share, komen,
and Follow Lesta Lestari ya...dang lupa😆❤❤❤❤❤❤❤❤❤**